Angin
gunung berhembus pelan. Membawa sejuk dari alam seolah menyambut tombongan
Tian. Rambut berantakan Alvin yang kurang tidur tersibak. Ia segera menyisirnya
dengan tangan. Langit siang menuju sore pada hari pertama liburan tampak cerah.
Alina memeriksa ulang isi ransel besar miliknya, masing-masing Echa, Alvin, dan
Tian juga melakukan hal yang sama. Ia melihat lagi daftar bawaan hasil rapat yang
mereka tulis kemarin, mencocokan dengan alat yang ada di dalam tas.
“Okay,
sudah, lengkap semua.” Gumam Alina kepada dirinya sendiri sambil menutup
reseleting ransel.
“Aku
juga.” Echa menimpali, padahal suara Alina lebih terdengar seperti bisikan.
Alvin
dan Tian cepat-cepat menoleh kepada Echa.
“Alina
nggak tanya kamu, Cha.” Kata Alvin,
“Ge’er
banget,” Alvin seperti biasa mencoba membuat Echa gusar.
“Setidaknya
kalian tahu kalau isi ransel gue sudah lengkap.” Jawabnya, berusaha tidak
memperdulikan celotehan Alvin.
“Isi
tas gue ini logistik kalian, loh!” sindir Echa.
“Kalau
isi tas gue nggak lengkap, kalian bakalan kelaparan, lho.” Katanya lagi.
Tian
hanya cengar-cengir mendengar Echa menggerutu.
“Iya,
deh.” Alvin masih dengan nada menggoda Echa
“Lihat,
siapa yang bocah!” Tian berseru. Alina hanya tersenyum melihat ketiga temannya saling
sindir.
“Jadi,
sudah lengkap semua, kan?” tanya Alina, kali ini bertanya langsung agar teman-temannya
tidak saling merundung lagi. Tian dan Echa mengangguk serempak.
Alvin
mengangkat kertas berisi list barang bawaan,
“Gue
bawa alat tambahan di luar yang kemarin kita diskusikan, Na.”
“Oh,
ya, apa itu?” tanya Alina.
“Nanti
juga kalian tahu.” Jawabnya terkesan misterius.
“Sok
misterius.” Celetuk Echa.
“Perjalanan
baru mau mulai dan kamu udah berhasil bikin Echa kesal, Vin.” Tian tertawa.
“Pemanasan,”
Alvin hanya cengengesan.
“Jadi,
kita berangkat?” tanya Tian menatap wajah teman-temannya satu per satu.
“Yuk!”
ajak Alina.
Sebelum
berangkat, Tian meminta teman-temannya untuk melingkar, ada yang ingin ia
sampaikan.
“Dari
kita berempat, hanya Alina yang punya pengalaman mendaki gunung ini, sesuai voting
kemarin, Alina leader kita. Echa, Alvin kalian bawa logistik, dan aku sweeper
di belakang.” Tian memulai briefing singkat sekalian meningatkan peran
mereka masing-masing
“Ingat,
kita nggak tahu apa yang akan kita temui nanti. Apa pun tujuan kita, jika
menyangkut pendakian, kematian adalah risiko terburuk.” Tian menatap wajah
temannya satu per satu.
“Empat
hari hanya untuk ke puncak. Gunung ini bukan buat pemula kayak kita.” Tian
terdiam,
Tian
menatap wajah Alvin dan Echa bergantian.
Alina
mendengarkan dengan seksama. Ada ketakutan bersembunyi dalam raut wajah Echa.
Ia berusaha tetap tegar, tetapi Alina tahu yang ia rasakan, juga Tian. Alvin
lebih percaya diri, meskipun sama-sama belum pernah mendaki sebelumnya.
“Track
yang bakalan kita datangi nanti bakalan keluar dari jalur resmi. Setahuku, belum
pernah ada yang menjamah sisi belakang gunung ini sebelumnya.”
“Termasuk
kalian?” Echa terlihat gelisah, dia lupa menanyakan itu tadi malam.
Tian
hanya mengangguk sebagai jawaban.
”Segala
kemungkinan bisa aja terjadi.” Kali ini ucapannya terdengar seperti peringatan.
“Jika
kalian berubah pikiran...” Tian terdiam sejenak.
“Dan
beneran, deh, lebih baik kalo kalian pikirin lagi.”
“Kalian
boleh tetap tinggal.” Kata Tian lagi.
Alvin
yang berada di tengah melirik Alina dan Echa.
“Gue
tahu resikonya sejak melawan Si Kelam di atap rumah lu, gue tetap ikut.” Ujar Alvin
penuh rasa percaya diri. Tian tersenyum melihat Alvin.
“Udah,
deh, mendingan kita berangkat sekarang nggak, sih?” Kini Echa menjawab dengan
semangat yang dibuat-buat.
Sedikit
gemetar padahal.
“Okay..”
“Semoga kita temukan apa yang akan kita
temukan. Dan, tetap bersama, ya, teman-teman.” Ucap Tian dengan nada gemetar.
Alvin
berjalan lebih dulu. Disusul Alina memberi arahan dari tengah rombongan dan Echa
kemudian. Tian berjalan di belakang sebagai sweeper. Mereka memasuki pos
pemeriksaan di muka hutan. Semuanya berjalan lancar. Beberapa orang petugas
yang berjaga menukikan alis ketika sedang memeriksa barang bawaan rombongan
Tian. Apalagi ketika membuka isi tas milik Alvin.
Tidak
lama kemudian mereka diizinkan melanjutkan perjalanan.
Suara
burung dan serangga hutan yang bermacam memenuhi udara. Dedaunan yang ditiup
angin bergesekan, suaranya mengingatkan Tian kepada lompatan Alina yang
bersuara mirip.
Hidung
mereka dipenuhi wangi hutan yang menyegarkan.
“Lu
pada dengar nggak kata petugas jaga tadi?” kata Echa dari tengah barisan. Hutan
lebat mengelilingi mereka. Rombongan lain di depan mereka tidak lagi terlihat
karena tertutup rimbunan pohon. Udara dingin disertai kabut tipis melingkupi,
tetapi bagi mereka, hawa dingin adalah teman sehari-hari.
“Gue
denger, kok.” Alvin menjawab dari depan.
“Bawaan
mereka banyak banget, kayak mau mendaki himalaya aja!” Alvin menirukan petugas
jaga tadi.
“Hei,
mirip banget suaranya.” Alina tertawa mendengar mimik suara Alvin.
“Dia
itu paling jago kalau ngeledek orang, Na.” Kata Echa.
“Bener,
Na. Jangan ketipu.”
“Biar
Alvin kelihatan kayak anak baik-baik, dia itu rasis, tahu!” Tian ikut menimpali
dari belakang.
“Dan
cabul!” seru Echa.
Alvin
yang sedang cengengesan mendadak menoleh ke belakang.
“Itu
si Tian sama si Echa lagi ngomongin dirinya sendiri, Na!” Alvin mendengus, ia
membela diri, disambut tawa ketiga temannya.
“Tapi
sebenarnya bukan itu.” Ecah kini meralat.
“Apa?”
tanya Tian dari belakang.
“Mereka
ngoongin Alina.” Jawab Echa.
“Gue
denger tadi sebelum kita cabut.”
“Eh,
beneran?” tanya Tian lagi, ia memang tidak peduli dengan apa yang terjadi di
pos. Bahkan, Tian itu apatis.
“Aku
nggak dengar apa-apa tadi?”
“Makannya,
peduli sedikit sama sekitar!” Echa berseru.
“Iya,
iya..” kata Tian mengalah.
“Bukan
apa-apa, kok. Mereka cuman mengira aku sama Tian itu dua turis asing.” Kata
Alina, ia tertawa setelahnya.
“Terus
petugasnya kaget pas kalian ngomong pakai logat sini.” Echa tertawa.
“Kalian
emang suka banget bikin orang bingung.” Celetuk Alvin dari depan.
“Normalnya,
butuh waktu berapa lama untuk sampai ke puncak, Na?” tanya Echa mengalihkan.
“Normalnya
kalau mau ke puncak itu butuh empat hari, sih.” Jawab Alina, ia mengingat
pendakian terakhirnya di gunung ini.
“Ah,
baiklah.” Echa sepertinya menyesal sudah bertanya. Tetapi Tian bisa lihat dari
belakang, segaris senyuman terukir di wajahnya.
“Tenang,
tujuan kita bukan puncak, Cha!” Alvin nyaut dari depan.
“Nyasarin
diri sendiri.” Katanya lagi.
“Alvin
kalo ngomong sembarangan!” Sergah Echa dari belakang.
Track
mulai menanjak sedikit demi sedikit.
Langit
di atas kepala mereka sudah sulit dilihat karena tertutup ribun pepohonan.
Sudah hampir dua jam mereka berjalan, obrolan santai yang dilontarkan sudah
berkurang, tergantikan oleh nafas berat berusaha mengirup udara dingin.
“Kalian
tahu, gue nggak pernah punya niat buat mendaki gunung ini.” Echa seperti biasa
memulai obrolan setelah hening yang panjang. Seolah tak mengizinkan keheningan
menguasai.
“Padahal
gue selalu suka lihat puncaknya dari teras rumah tiap mau berangkat sekolah.”
Lanjutnya lagi.
“Puncak
tertinggi di pulau ini gasih?”
“Tapi tetap, indah untuk dilihat.” Kata Echa, sembari melihat rambut Alina yang
diikat ke belakang. Entah keindahan yang mana maksudnya.
“Sayang
sekali, Cha, kalau kamu gak ikut, kan.” Tian melanjutkan percakapan.
“Iya,
makannya gue ikut.”
“Alasan.”
Celetuk Alvin dari depan.
“Gue
sama Tian tahu, kok, apa motivasi elu , Cha.” Kata Alvin, mulai menggoda Echa
lagi.
“Mulai..”
kata Echa singkat, ia memutar kedua bola matanya.
“Iya,
kan?” Alvin bersemangat.
Alina
tetap diam, sesekali ia memang melihat ke belakang, entah melihat Echa atau
Tian. Echa lebih sering tersenyum ketika Alina menengok ke belakang. Sementara
Tian tidak menyadarinya, ia lebih sering melihat sekeliling, hutan pinus
itu lebih menarik untuk Tian.
“Na,
kapan kita keluar dari jalur resmi?” tanya Tian dari belakang. Suasana mulai
meremang, Tian merasa mereka sudah berjalan cukup jauh.
“Nanti
setelah pos ke dua, Tian. Masih jauh banget.” Jawab Alina lembut.
“Ah,
baiklah.” Tian pasrah.
Jalan
setapak semakin menanjak. Akar tanaman menyembul di beberapa sisi. Gelap mulai
turun perlahan diikuti kabut. Tian memakai headlamp dan menyalakannya, cahaya
kuning menembus kabut tipis dengan mudah.
“Hati-hati,
jalanan mulai gelap!” seru Alina dari tengah. Ketiga temannya bergegas
menyalakan headlamp setelah melihat sorot lampu gadis itu.
“Kita
hampir sampai pos ke dua.” Kata Alina setelah melewati sabana yang luas.
Echa sudah beberapa kali rebahan. Alvin yang
lihat tak mau kalah, ia ikut rebahan juga.
“Hati-hati,
banyak ranjau, tahu!” seru alina sambil tertawa, ranjau maksudnya adalah bekas
orang buang hajat. Alvin dan Echa bergegas bangun lagi,
“Vin,
bau tai nggak jaket gue?”
“Idih,
cium sendiri!”
Dari
kejauhan di balik semak belukar dan pepohonan, tenda berwarna orange yang
mencolok terlihat. Kabut perlahan tersibak ketika mereka mendekati camping
ground pos kedua. Beberapa tenda telah berdiri lebih dulu. Pos dua
adalah tanah datar di ketinggian beberapa ribu meter di atas permukaan laut,
Tian melihat altimeter dari jam digitalnya. Udara dingin kian menusuk.
“Kita
istirahat di sini?” Alina menyarankan sekaligus bertanya.
“Iya,
kita harus istirahat. Gue udah nggak kuat!” jawab Echa tanpa ragu.
Alvin
mengangguk, ia bergegas mencari lahan kosong untuk mendirikan tenda. Echa
segera menurunkan ransel berat yang sedari sore menggantung di pundaknya.
“Kenapa
kita nggak bikin tenda di sabana tadi saja, Na?” tanya Avin penasaran.
“Nanti
malam anginnya bakalan kencang banget, Vin.” Jawab Alina lembut.
“Hah,
berat benget, sih!” kata Echa tiba-tiba, sambil duduk bersandar di pokok pinus.
Tenda lain tenang, beberapa orang yang sedang beristirahat melihat kepada Echa.
“Tas
lu isinya cuman makanan, ya!” Alvin mengingatkan,
“Mana
ada barang berat, huh.” Katanya lagi.
“Enak
aja!” Echa seperti biasa tidak terima. Ia berjalan menghampiri Alvin sambil
menyeret ransel biru itu. Entah apa yang akan ia lakukan.
“Ini
isinya kebutuhan hidup kalian, tahu!”
“Tian,
lihat ransel lu diseret si Echaaa!” Alvin berteriak mencari perlindungan kepada
Tian setelah melihat Echa nyaris marah, sepertinya Echa sudah kepalang kesal
kepada Alvin setelah seharian dirundung.
“Yang
bener aja!” Tian bertolak pinggang.
“Hei,
jangan berisik, kasihan orang lain yang lagi istirahat!” Alina berseru pelan
tapi tegas.
Echa
berhenti demi mendengar seruan Alina, lalu menarik tas olive itu, membawanya ke
dekat Alina yang mulai mengeluarkan tenda dari ikatan ransel.
Alvin
memberi isyarat tempat untuk mendirikan tenda.
“Cuk,
di sini!” kata Alvin ke Tian. “Nanti
tenda Alina bisa di seberang kita, tanahnya datar, kok!”
Tian
menyusul Alvin di tempatnya berdiri. Tian mendirikan tenda bersama Alvin.
Sementara Echa membantu Alina. Echa terlihat sangat antusias meskipun belum
pernah mendirikan tenda sebelumnya. Dengan kikuk, Echa membantu. Alina
sesekali tertawa melihat tingkah konyol Echa yang terlalu inisiatif, padahal
tidak tahu cara.
“Itu
namanya frame, Cha.” Ucap Alina. Ia tahu Echa bingung dengan benda
berwarna hitam mirip tongkat di tangannya itu.
“Oh,
aku kirain apa.” Jawab Echa sambil tersenyum gerogi.
“Ini
aku masukin ke mana, Na?”
“Lubang
di atas jahitan tenda, Cha.” Alina menunjuk jahitan tempat memasukkan frame.
“Ah,
i see.”
“Lihat
siapa yang lagi berbahagia!” celetuk Alvin lagi.
Echa
hanya melihat ke belakang, kepada Alvin lalu mengacungkan jari tengah. Setelah
itu balik mengobrol dengan Alina.
Malam
turun dengan cepat. Angin bertambah kencang. Pepohonan yang rimbun tidak
menjadi halangan bagi angin menerobos. Echa duduk sambil memeluk lututnya
didalam sleeping bag, di depan tenda mereka yang berwarna oranye, sesekali
matanya menatap ke depan. Di sampingnya Alvin sedang nikmat memakan mie instan
cup yang ia seduh beberapa menit lalu. Tian tidak jauh di depan Echa, sedang
duduk disamping Alina. Keduanya diam tanpa obrolan.
“Kita
nggak boleh nyalain api unggun, ya, Na?” Tanya Echa sambil menggesekan kedua
telapak tangannya.
Alina
menggeleng pelan, matanya tertuju kepada GPS digital, sepertinya ia sedang
menyusun track.
“Sayangnya,
nggak boleh, Cha.” Kata Alina, ia lalu mematikan GPS digital itu. Melihat Echa.
“Ah,
sayang sekali.” Tian terdiam,
“Padahal
kita tinggal di desa yang sama aja dinginnya, deh.” Kata Echa menimpali.
“Tapi
di sini kerasa beda..” Echa belum selesai bicara, Alvin menyela lebih dulu.
“Ya
beda lah, Cha.” Kata Alvin sambil menyeruput kuah mie instan dari cupnya.
“Maksud?”
Jawab Echa penasaran.
“Tanya
Tian, Cha. Dia jago fisika!” dagu Alvin menunjuk Tian di seberangnya. Tian yang
sedang diam lantas menyipit melihat Alvin.
“Tiba-tiba…”
“Singkatnya,
sih, semakin kita naik, tekanan udara berkurang, kepadatan juga berkurang, jadi
udara lebih dingin.” Jawab Tian singkat.
“Ah,
terlalu simple.” Alvin mengipaskan tangan ke udara.
“Tapi,
kan, padahal di gunung lebih dekat ke matahari?” tanya Echa ikut nimbrung.
“Nggak
gitu, Cha.” Alvin menggeleng tegas.
“Cuman
karena gunung itu tinggi, bukan berarti dekat ke matahari.”
“Jelasin
coba jangan cuman ngoceh aja!” Echa kesal.
“Hehe,”
Alvin cengengesan. “Tar si Tian jelasin.”
Tian
melirik Alina di sebelahnya, hanya tersenyum, tidak ikut bicara.
“Jadi
begini, Cha.” Tian mulai menjelaskan, ia mengambil ranting pohon di dekatnya
lalu menggambar sesuatu di tanah,
“Anggap
lingkaran yang aku buat ini adalah kepadatan udara, atau kita menyebutnya
molekul udara.” Tian menggambar banyak bulatan kecil, ia membuat banyak bulatan
di bawah dan semakin sedikit bulatan di atasnya.
“Kelereng
di bawah lebih banyak karena tekanan atmosfer menekan ke bawah, kan?” Tanya
Tian.
Echa
mengangguk mengerti. Alvin di dekatnya manggut-manggut menunggu Tian salah
bicara. Alina mengoreskan tanda panah ke atas dan ke bawah di dekat
kelereng-kelereng yang Tian gambar.
Echa
melirik Alina sebentar, lalu segera membuang lirikannya.
“Eh,
iya, makasih, Na.” Kata Tian sadar ada yang kurang. Alina mengangguk,
“Padahal
mau gue ingetin, tuh!” kata Alvin.
“Sutt!”
jawab Echa sambil mengisyaratkan jari telunjuk di depan bibir.
“Sama-sama,
Tian.”
Echa
menatap alina sebentar sebelum memalingkan lagi pandangannya ke gambar buatan Tian.
“Kepadatan
udara itu kayak nahan panas dari matahari, ini disebut kalor.”
“Kalor
ya, Cha, bukan kolor.” Tambah Alvin, mencoba menggoda Echa lagi
“Bacot,
ya, Vin!” Echa menyergah.
“Karena
banyak yang nge-keep, panas itu bisa bertahan lebih lama, atau bahkan
bertambah, makanya di tempat rendah kayak pantai misalnya, cenderung lebih
panas.”
“Atau
kasus yang lebih parah, Venus.” Alvin menambahkan.
“Apa
lagi, itu!” Echa mendengus.
“Tapi
lihat, semakin ke atas, tekanan udara semakin berkurang. Karena tekanan
atmosfernya berkurang. Hasilnya adalah kepadatan udara semakin sedikit.”
“Nah,
kamu pasti tau kelanjutannya.” Pungkas Tian, ia tersenyum kepada Echa.
“I
see…” kata Echa,
“Aku
mau bikin mie deh, biar nggak terasa semakin dingin.”
“Si
Echa...” Alvin spechless setelahnya. Sementara itu, Alina tertawa melihat
ketiga temannya.
“Tapi
Echa benar, semakin dingin...” Ucap Alina, tiba-tiba, suaranya terdengar
misterius.
“Iya
lagi.” Alvin tidak tahu harus menjawab apa.
“Semakin
ingin aku makan mie.” Kata Alina bercanda, lalu tertawa lagi.
“Heuh.”
Alvin membuang nafas.
***
Pukul
dua malam.
Alina
membuka resleting tenda. Kepalanya melihat keluar, mata cerahnya melihat jauh
ke angkasa, bintang gemintang berpendar dalam kegelapan malam. Berputar
mengelilingi alam dengan teratur di dalam kekacauan angkasa yang tersembunyi di
balik debu dan gelap. Tenda Tian ada di depan tendanya. Mereka bertiga
sepertinya masih tertidur. Alina tidak ingin membangunkan mereka dulu.
Tidak
untuk saat ini. Alina tahu ada sesuatu.
Tidak
lama kemudian ia keluar, seolah tidak peduli dengan udara sedingin es. Alina
berjalan pelan menyusuri hamparan rumput seolah mencari sesuatu. Suara
rerumputan yang basah oleh embun menyambut langkahnya.
“Aku
tahu kamu di sini, ayah.” Ucapnya kepada keheningan malam. Indera peka Elyijsierlijen-nya
mengatakan ada tamu tidak diundang yang sedang mengawasi.
Benar
saja.
Bayangan
hitam keluar dari celah pepohonan, lebih tinggi dari Alvin. Cahaya rembulan
yang lembut menyinari wajah yang mirip wajah Alina.
“Kamu
tidak seharusnya mencari, Na.” Ucap Edvin. Ayah Alina yang entah bagaimana tahu
keberadaan mereka.
“Itu
karena Ayah tidak pernah menceritakannya dengan jujur kepadaku.”
“Kau
tahu, aku selalu punya alasan untuk tidak bercerita.” Katanya dingin,
mengalahkan dinginnya udara.
“Bahkan
setelah ribuan tahun?” Alina menatap ayahnya dengan tatapan tidak
percaya. Seolah-olah dirinya tidak layak dipercaya.
“Iya.”
Edvin mengangguk pelan, tetapi tegas.
“Beberapa
hal sebaiknya kubawa sendiri ke dalam kubur.” Katanya lagi. Ucapannya bagaikan
petir di siang bolong bagi Alina.
“Jangan
salahkan aku jika mencarinya sendiri.” Ucap Alina tegas. Menepiskan kekecewaan
yang ia rasakan.
“Sayangnya,
kamu tidak akan bisa.” Jawabnya singkat, lalu menghilang lenyap dalam kegelapan
meninggalkan hati alina yang hancur berkeping-keping.
Teleportasi
Edvin sangat halus, tidak seperti teleportasi Alina yang masih menimbulkan
desir angin, atau teleportasi Tian yang membuat lingkungan sekitarnya
bergemuruh. Edvin menghilang tanpa jejak, seperti tidak pernah ada Edvin di
tempat itu. Dia menghilang dengan keyakinan jika Alina tidak akan bisa pergi ke
mana-mana.
Alina
sudah hidup di bumi sejak 223 masehi. Tidak banyak yang ia tahu mengenai waktu
sebelum itu. Alina telah melewati banyak zaman dan sejarah. sayangnya, gadis
itu hidup dalam lindungan protektif ayahnya yang menyembunyikan dirinya dari
kebenaran tentang siapa dirinya sendiri. Alina tidak pernah tahu makhluk macam
apa dia dan edivn sebenarnya.
Sampai
akhirnya usia panjang tidak lagi bisa dijelaskan dan Edvin kehabisan jawaban. Ribuan
tahun berlalu hingga akhirnya Alina memutuskan untuk mencari tahu sendiri.
Sampai
pada suatu hari di luar perkiraan Edvin, Tian hadir. Ia datang setelah
panjangnya hidup dan banyaknya identitas yang dipenuhi oleh duka, luka, dan
ditinggalkan. Tak terhitung lagi jumlahnya. Bagi Alina, Tian adalah sebagian jawaban
atas pencariannya, Tian adalah seseorang yang tidak akan pernah meninggalkannya
lagi seperti manusia lain.
Untuk
saat ini, itulah harapnya.
Harapan
paling tulus dari makhluk yang sudah tidak lagi menaruh harapan.
Suara
berisik menyadarkan Alina dari lamunan. Beberapa penghuni tenda di sekitar
tenda mereka tiba-tiba bangun. Alina tahu waktu mereka untuk bergerak sudah
dekat. Dia melompat dan muncul di dalam tendanya. Tidak lama Alina keluar
sambil mengeluarkan ransel besarnya. Ia membuka resleting tenda Tian.
Alvin
dan Tian tidur berdesakan di pojok dekat kanvas tenda, sementara Echa tidur
merentangan kedua tangan dan kaki seolah tidur di atas kasurnya di rumah,
membuatnya menguasai hampir seluruh tenda. Alina tertawa melihat tingkah
mereka. Ia mengambil kamera yang mengantung di strap tas, mengabadikan momen
lucu itu sebelum akhirnya membangunkan mereka bertiga.
“Hei,
bangun!” Alina menggerak-gerakan kaki mereka bertiga bergantian. Alvin bangun
lebih dulu. Ia mengedip-ngedip beberapa kali sebelum akhirnya menguap lebar.
“Jam
berapa ini?” tanya Alvin mengangkat kepalanya
“2
lebih 15 menit. Pendaki lain sudah bangun, Vin.”
“Untuk
apa mereka bangun sepagi ini, puncak masih jauh...” Alvin terdengar seperti
mengigau.”
“Aku
ngga tahu, vin.” Kata Alina.
“Kita
nggak hendak summit, kan?” Alvin kembali merebahkan kepalanya ke bantal
udara.
“Karena
itu kalian harus bangun!”
“Eh,
iya!” Alvin tersadar.
Kesadarannya
seketika pulih. Ia menoleh kepada Tian dan Echa yang masih terlelap.
“Dasar
kebo!” lalu mengguncang tubuh mereka berdua sekaligus.
“Ah,
iya, Bu, kasbon saya di kantin bakalan saya bayar, kok.” Gumam Echa dalam
tidurnya.
Alvin
dan Alina saling tatap.
“Anak
dokter tapi ngutang!” Kata Alvin.
Tian
bangun setelah guncangan keras Alvin. Ia duduk sambil mengucek-ucek matanya
yang masih mengantuk.
“Ada
apa?” tanya Tian, lalu menguap.
“time
to go, chief.” Jawab Alvin singkat.
“Ayo kita packing dan menyelinap sebelum ada
pendaki lain yang melihat!” ajak Alina. Alvin menatap Echa yang malah
mendengkur.
“ECHA,
BANGUN ATAU LU DAN TENDA INI GUE GULUNG!” Umpat Alvin kesal.
Alvin
dan Tian tidak bisa membangunkan Echa dengan mudah, jadi sebagai gantinya
mereka mengangkat badan berat Echa ke luar tenda untuk melipat tenda,
membiarkan Echa tidur diatas rumput basah. Echa bangun tidak lama setelah semua
tenda selesai dilipat. Ia menguap lebar.
“Susah
banget ngebangunin elu, Cha!” kata Alvin ketus.
“Kalian
ngebangunin?” ucapnya polos.
“Ah,
sudahlah ayo bergegas!” Alvin tidak ingin meneruskan perdebatan di gelap gulita
malam, ia mengalah.
Mereka
menyelinap keluar dari jalur utama, menyusuri turunan curam di sisi belakang
gunung, mengikuti insting Alina yang kini menjadi kompas.
“Kamu
sudah merasakan tarikan itu, Na?” tanya Tian dari belakang.
“Sudah,
makanya kita jalan sekarang.”
“Aku
semakin merasakannya sejak keluar dari jalur utama.”
“jadi,
ini jalan yang benar?” tanya Alvin ragu.
“Kayaknya.”
Jawab Alina singkat. Kata ‘kayaknya’ itu membuat Wajah Alvin seketika berubah
pucat.
“Alamak!”
Jalan
yang mereka lalui mulai menurun, lalu mendatar. Tidak ada jejak manusia pernah melewati
jalur ini sebelumnya. Tidak ada sampah. Hanya jalur yang benar-benar asli.
Rerumputan rapat menghalangi langkah kaki mereka. Beberapa kali Echa dan Alvin
nyaris jatuh karena tersandung batu yang tidak terlihat.
“Pukul
empat, seharusnya cahaya fajar sudah terlihat.” Ucap Tian dari belakang
rombongan. Alvin seketika melihat ke atas, tetapi pandangannya tertutup kanopi
pepohonan yang rimbun.
“Nggak
kelihatan.”
“Kalau
dari balkon rumah lu kelihatan keren banget sunrise-nya, Tian.” Kata Echa
mengingat pemandangan pagi dari rumah Tian.
“Iya
bener, pendaki itu nggak harus naik ke gunung setinggi ini padahal. Tinggal
mampir doang ke rumah si Tian.” Jawab Alvin
“Enak
aja!”sergah Tian.
“Ide
bagus, nanti aku yang jaga loket masuk, ya.” Alina ikut nimbrung dari depan.
“Setuju!”
Alvin ngegas.
“Malah
makin-makin, dong.” Ucap Tian pasrah.
Dua
jam perjalanan berlalu. Alina yang berjalan di depan berhenti di tanah datar
tiba-tiba. Ia menurunkan ranselnya. Echa dan Alvin bergegas mendekat, ingin
tahu ada apa.
“Kenapa,
Na? “ tanya Echa sigap.
Alina
tidak menjawab. Dia mengeluarkan tablet transparan dari dalam ranselnya.
Seolah sudah mengerti dengan aksara runcing berbahasa aneh itu, ia mengulir
proyeksi menu 3D di depan wajahnya. Alvin melongo terkesima dari kali pertama
melihat tablet itu. Seolah seperti seorang bajak laut yang baru saja melihat
tumpukan koin emas.
“A-apa
ini...” mata Alvin berbinar, dengan mulut menganga.
“Tablet
transparan, milik Tian.” Jawab Alina menjelaskan singkat, masih menggulir. Ia
lalu duduk di atas tanah lembab. Diikuti oleh mereka bertiga.
“Proyeksi
ini sungguhan?” tanya Alvin tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Mencoba
menyentuh proyeksi yang mengambang di udara. Echa dengan sigap menepis tangan
penasaran Alvin.
“Masih
aja nanya.” Jawab Echa kesal. Tetapi dalam hatinya juga penasaran.
“Ada
apa, Na?” tanya Tian ingin tahu alasan Alina berhenti.
“Aku
ingin tahu apakah gema itu bisa dideteksi melalui perangkat ini, Tian.” Jawab Alina.
“Gema?”
kata Echa dengan raut wajah penasaran.
“Aku
nggak tahu, sih, Cha.” Kata Alina pelan, seolah berbisik karena ragu tidak mau
memberi jawaban yang tidak pasti.
“Sejujurnya
aku juga nggak tahu apa yang sedang kita cari, Cha. Tapi di dalam baris puisi
yang kutemukan jelas banget bilang tentang jalan, Ilum mire ilurij qijaz,
aku nggak tahu jalan apa yang dimaksud, bisa saja pintu, kan?”
“Ah,
aku lupa.” Kata Echa,
“Kita
bertualang berdasarkan puisi aneh yang kamu temukan.” Katanya pasrah.
“Lu
masih bisa pulang kok, Cha.” Kata Alvin santai.
“Mau
gue anterin sampe pos pertama?”
“Enak
aja, diem, deh!” sergah Echa.
“Kayanya
tablet ini nggak dibuat untuk mendeteksi sesuatu itu, Tian.” Nada Alina
terdengar kecewa. Ia mematikan lagi tablet transparan, seketika proyeksi 3D
lenyap dari udara. Alvin mengangga melihat proyeksi yang sangat nyata itu
hilang seperti menguap.
“Ngga
apa-apa, Na. Bekal kita masih cukup untuk beberapa hari ke depan sembari
mencari apa yang puisi itu coba tunjukkan.” Kata Tian.
“Wajar
jika apa yang kita cari itu sulit ditemukan, Na.” Ucap Tian lagi,
“Karena
apa yang sulit ditemukan biasanya sangat berharga.”
Alina
menatap Tian, dengan senyuman sayu yang sedikit dipaksakan.
“Atau
berbahaya.” Jawab Echa asal.
“Ayo
gue antar turun ke pos pertama.” Senyum Alvin lebar mengejek.
“Bacot!”
seru Echa.
Komentar
Posting Komentar