Langit - Keberangkatan (BAB XV)


Angin gunung berhembus pelan. Membawa sejuk dari alam seolah menyambut tombongan Tian. Rambut berantakan Alvin yang kurang tidur tersibak. Ia segera menyisirnya dengan tangan. Langit siang menuju sore pada hari pertama liburan tampak cerah. Alina memeriksa ulang isi ransel besar miliknya, masing-masing Echa, Alvin, dan Tian juga melakukan hal yang sama. Ia melihat lagi daftar bawaan hasil rapat yang mereka tulis kemarin, mencocokan dengan alat yang ada di dalam tas. 

“Okay, sudah, lengkap semua.” Gumam Alina kepada dirinya sendiri sambil menutup reseleting ransel.

“Aku juga.” Echa menimpali, padahal suara Alina lebih terdengar seperti bisikan.

Alvin dan Tian cepat-cepat menoleh kepada Echa.

“Alina nggak tanya kamu, Cha.” Kata Alvin, 

“Ge’er banget,” Alvin seperti biasa mencoba membuat Echa gusar.

“Setidaknya kalian tahu kalau isi ransel gue sudah lengkap.” Jawabnya, berusaha tidak memperdulikan celotehan Alvin.

“Isi tas gue ini logistik kalian, loh!” sindir Echa.

“Kalau isi tas gue nggak lengkap, kalian bakalan kelaparan, lho.” Katanya lagi.

Tian hanya cengar-cengir mendengar Echa menggerutu.

“Iya, deh.” Alvin masih dengan nada menggoda Echa

“Lihat, siapa yang bocah!” Tian berseru. Alina hanya tersenyum melihat ketiga temannya saling sindir.

“Jadi, sudah lengkap semua, kan?” tanya Alina, kali ini bertanya langsung agar teman-temannya tidak saling merundung lagi. Tian dan Echa mengangguk serempak. 

Alvin mengangkat kertas berisi list barang bawaan, 

“Gue bawa alat tambahan di luar yang kemarin kita diskusikan, Na.”

“Oh, ya, apa itu?” tanya Alina.

“Nanti juga kalian tahu.” Jawabnya terkesan misterius.

“Sok misterius.” Celetuk Echa.

“Perjalanan baru mau mulai dan kamu udah berhasil bikin Echa kesal, Vin.” Tian tertawa.

“Pemanasan,” Alvin hanya cengengesan.

“Jadi, kita berangkat?” tanya Tian menatap wajah teman-temannya satu per satu. 

“Yuk!” ajak Alina.

Sebelum berangkat, Tian meminta teman-temannya untuk melingkar, ada yang ingin ia sampaikan.

“Dari kita berempat, hanya Alina yang punya pengalaman mendaki gunung ini, sesuai voting kemarin, Alina leader kita. Echa, Alvin kalian bawa logistik, dan aku sweeper di belakang.” Tian memulai briefing singkat sekalian meningatkan peran mereka masing-masing

“Ingat, kita nggak tahu apa yang akan kita temui nanti. Apa pun tujuan kita, jika menyangkut pendakian, kematian adalah risiko terburuk.” Tian menatap wajah temannya satu per satu.

“Empat hari hanya untuk ke puncak. Gunung ini bukan buat pemula kayak kita.” Tian terdiam, 

Tian menatap wajah Alvin dan Echa bergantian. 

Alina mendengarkan dengan seksama. Ada ketakutan bersembunyi dalam raut wajah Echa. Ia berusaha tetap tegar, tetapi Alina tahu yang ia rasakan, juga Tian. Alvin lebih percaya diri, meskipun sama-sama belum pernah mendaki sebelumnya.

Track yang bakalan kita datangi nanti bakalan keluar dari jalur resmi. Setahuku, belum pernah ada yang menjamah sisi belakang gunung ini sebelumnya.”

“Termasuk kalian?” Echa terlihat gelisah, dia lupa menanyakan itu tadi malam.

Tian hanya mengangguk sebagai jawaban.

”Segala kemungkinan bisa aja terjadi.” Kali ini ucapannya terdengar seperti peringatan.

“Jika kalian berubah pikiran...” Tian terdiam sejenak.

 “Dan beneran, deh, lebih baik kalo kalian pikirin lagi.”

“Kalian boleh tetap tinggal.” Kata Tian lagi. 

Alvin yang berada di tengah melirik Alina dan Echa.

“Gue tahu resikonya sejak melawan Si Kelam di atap rumah lu, gue tetap ikut.” Ujar Alvin penuh rasa percaya diri. Tian tersenyum melihat Alvin.

“Udah, deh, mendingan kita berangkat sekarang nggak, sih?” Kini Echa menjawab dengan semangat yang dibuat-buat.

 Sedikit gemetar padahal.

“Okay..”

 “Semoga kita temukan apa yang akan kita temukan. Dan, tetap bersama, ya, teman-teman.” Ucap Tian dengan nada gemetar.

Alvin berjalan lebih dulu. Disusul Alina memberi arahan dari tengah rombongan dan Echa kemudian. Tian berjalan di belakang sebagai sweeper. Mereka memasuki pos pemeriksaan di muka hutan. Semuanya berjalan lancar. Beberapa orang petugas yang berjaga menukikan alis ketika sedang memeriksa barang bawaan rombongan Tian. Apalagi ketika membuka isi tas milik Alvin.

Tidak lama kemudian mereka diizinkan melanjutkan perjalanan.

Suara burung dan serangga hutan yang bermacam memenuhi udara. Dedaunan yang ditiup angin bergesekan, suaranya mengingatkan Tian kepada lompatan Alina yang bersuara mirip.

Hidung mereka dipenuhi wangi hutan yang menyegarkan.

“Lu pada dengar nggak kata petugas jaga tadi?” kata Echa dari tengah barisan. Hutan lebat mengelilingi mereka. Rombongan lain di depan mereka tidak lagi terlihat karena tertutup rimbunan pohon. Udara dingin disertai kabut tipis melingkupi, tetapi bagi mereka, hawa dingin adalah teman sehari-hari. 

“Gue denger, kok.” Alvin menjawab dari depan. 

“Bawaan mereka banyak banget, kayak mau mendaki himalaya aja!” Alvin menirukan petugas jaga tadi.

“Hei, mirip banget suaranya.” Alina tertawa mendengar mimik suara Alvin.

“Dia itu paling jago kalau ngeledek orang, Na.” Kata Echa.

“Bener, Na. Jangan ketipu.”

“Biar Alvin kelihatan kayak anak baik-baik, dia itu rasis, tahu!” Tian ikut menimpali dari belakang.

“Dan cabul!” seru Echa.

Alvin yang sedang cengengesan mendadak menoleh ke belakang.

“Itu si Tian sama si Echa lagi ngomongin dirinya sendiri, Na!” Alvin mendengus, ia membela diri, disambut tawa ketiga temannya.

“Tapi sebenarnya bukan itu.” Ecah kini meralat.

“Apa?” tanya Tian dari belakang.

“Mereka ngoongin Alina.” Jawab Echa.

“Gue denger tadi sebelum kita cabut.”

“Eh, beneran?” tanya Tian lagi, ia memang tidak peduli dengan apa yang terjadi di pos. Bahkan, Tian itu apatis.

“Aku nggak dengar apa-apa tadi?”

“Makannya, peduli sedikit sama sekitar!” Echa berseru.

“Iya, iya..” kata Tian mengalah.

“Bukan apa-apa, kok. Mereka cuman mengira aku sama Tian itu dua turis asing.” Kata Alina, ia tertawa setelahnya.

“Terus petugasnya kaget pas kalian ngomong pakai logat sini.” Echa tertawa.

“Kalian emang suka banget bikin orang bingung.” Celetuk Alvin dari depan.

“Normalnya, butuh waktu berapa lama untuk sampai ke puncak, Na?” tanya Echa mengalihkan.

“Normalnya kalau mau ke puncak itu butuh empat hari, sih.” Jawab Alina, ia mengingat pendakian terakhirnya di gunung ini.

“Ah, baiklah.” Echa sepertinya menyesal sudah bertanya. Tetapi Tian bisa lihat dari belakang, segaris senyuman terukir di wajahnya.

“Tenang, tujuan kita bukan puncak, Cha!” Alvin nyaut dari depan.

“Nyasarin diri sendiri.” Katanya lagi.

“Alvin kalo ngomong sembarangan!” Sergah Echa dari belakang.

Track mulai menanjak sedikit demi sedikit.

Langit di atas kepala mereka sudah sulit dilihat karena tertutup ribun pepohonan. Sudah hampir dua jam mereka berjalan, obrolan santai yang dilontarkan sudah berkurang, tergantikan oleh nafas berat berusaha mengirup udara dingin. 

“Kalian tahu, gue nggak pernah punya niat buat mendaki gunung ini.” Echa seperti biasa memulai obrolan setelah hening yang panjang. Seolah tak mengizinkan keheningan menguasai.

 “Padahal gue selalu suka lihat puncaknya dari teras rumah tiap mau berangkat sekolah.” Lanjutnya lagi.

 “Puncak tertinggi di pulau ini gasih?”

  “Tapi tetap, indah untuk dilihat.” Kata Echa, sembari melihat rambut Alina yang diikat ke belakang. Entah keindahan yang mana maksudnya.

“Sayang sekali, Cha, kalau kamu gak ikut, kan.” Tian melanjutkan percakapan.

“Iya, makannya gue ikut.”

“Alasan.” Celetuk Alvin dari depan.

“Gue sama Tian tahu, kok, apa motivasi elu , Cha.” Kata Alvin, mulai menggoda Echa lagi.

“Mulai..” kata Echa singkat, ia memutar kedua bola matanya.

“Iya, kan?” Alvin bersemangat.

Alina tetap diam, sesekali ia memang melihat ke belakang, entah melihat Echa atau Tian. Echa lebih sering tersenyum ketika Alina menengok ke belakang. Sementara Tian  tidak menyadarinya, ia lebih sering melihat sekeliling, hutan pinus itu lebih menarik untuk Tian.

“Na, kapan kita keluar dari jalur resmi?” tanya Tian dari belakang. Suasana mulai meremang, Tian merasa mereka sudah berjalan cukup jauh.

“Nanti setelah pos ke dua, Tian. Masih jauh banget.” Jawab Alina lembut.

“Ah, baiklah.” Tian pasrah.

Jalan setapak semakin menanjak. Akar tanaman menyembul di beberapa sisi. Gelap mulai turun perlahan diikuti kabut. Tian memakai headlamp dan menyalakannya, cahaya kuning menembus kabut tipis dengan mudah.

“Hati-hati, jalanan mulai gelap!” seru Alina dari tengah. Ketiga temannya bergegas menyalakan headlamp setelah melihat sorot lampu gadis itu.

“Kita hampir sampai pos ke dua.” Kata Alina setelah melewati sabana yang luas.

 Echa sudah beberapa kali rebahan. Alvin yang lihat tak mau kalah, ia ikut rebahan juga.

“Hati-hati, banyak ranjau, tahu!” seru alina sambil tertawa, ranjau maksudnya adalah bekas orang buang hajat. Alvin dan Echa bergegas bangun lagi,

“Vin, bau tai nggak jaket gue?”

“Idih, cium sendiri!”

 Dari kejauhan di balik semak belukar dan pepohonan, tenda berwarna orange yang mencolok terlihat. Kabut perlahan tersibak ketika mereka mendekati camping ground pos kedua.  Beberapa tenda telah berdiri lebih dulu. Pos dua adalah tanah datar di ketinggian beberapa ribu meter di atas permukaan laut, Tian melihat altimeter dari jam digitalnya. Udara dingin kian menusuk. 

“Kita istirahat di sini?” Alina menyarankan sekaligus bertanya.  

“Iya, kita harus istirahat. Gue udah nggak kuat!” jawab Echa tanpa ragu.

Alvin mengangguk, ia bergegas mencari lahan kosong untuk mendirikan tenda. Echa segera menurunkan ransel berat yang sedari sore menggantung di pundaknya.

“Kenapa kita nggak bikin tenda di sabana tadi saja, Na?” tanya Avin penasaran.

“Nanti malam anginnya bakalan kencang banget, Vin.” Jawab Alina lembut.

“Hah, berat benget, sih!” kata Echa tiba-tiba, sambil duduk bersandar di pokok pinus. Tenda lain tenang, beberapa orang yang sedang beristirahat melihat kepada Echa.

“Tas lu isinya cuman makanan, ya!” Alvin mengingatkan,

“Mana ada barang berat, huh.” Katanya lagi.

“Enak aja!” Echa seperti biasa tidak terima. Ia berjalan menghampiri Alvin sambil menyeret ransel biru itu. Entah apa yang akan ia lakukan.

“Ini isinya kebutuhan hidup kalian, tahu!”

“Tian, lihat ransel lu diseret si Echaaa!” Alvin berteriak mencari perlindungan kepada Tian setelah melihat Echa nyaris marah, sepertinya Echa sudah kepalang kesal kepada Alvin setelah seharian dirundung.

“Yang bener aja!” Tian bertolak pinggang.

“Hei, jangan berisik, kasihan orang lain yang lagi istirahat!” Alina berseru pelan tapi tegas.

Echa berhenti demi mendengar seruan Alina, lalu menarik tas olive itu, membawanya ke dekat Alina yang mulai mengeluarkan tenda dari ikatan ransel. 

Alvin memberi isyarat tempat untuk mendirikan tenda.

“Cuk, di sini!” kata Alvin ke Tian.  “Nanti tenda Alina bisa di seberang kita, tanahnya datar, kok!”

Tian menyusul Alvin di tempatnya berdiri. Tian mendirikan tenda bersama Alvin. Sementara Echa membantu Alina. Echa terlihat sangat antusias meskipun belum pernah mendirikan tenda sebelumnya. Dengan kikuk, Echa membantu. Alina sesekali tertawa melihat tingkah konyol Echa yang terlalu inisiatif, padahal tidak tahu cara.

“Itu namanya frame, Cha.” Ucap Alina. Ia tahu Echa bingung dengan benda berwarna hitam mirip tongkat di tangannya itu.

“Oh, aku kirain apa.” Jawab Echa sambil tersenyum gerogi. 

“Ini aku masukin ke mana, Na?”

“Lubang di atas jahitan tenda, Cha.” Alina menunjuk jahitan tempat memasukkan frame.

“Ah, i see.” 

“Lihat siapa yang lagi berbahagia!” celetuk Alvin lagi.

Echa hanya melihat ke belakang, kepada Alvin lalu mengacungkan jari tengah. Setelah itu balik mengobrol dengan Alina.

Malam turun dengan cepat. Angin bertambah kencang. Pepohonan yang rimbun tidak menjadi halangan bagi angin menerobos. Echa duduk sambil memeluk lututnya didalam sleeping bag, di depan tenda mereka yang berwarna oranye, sesekali matanya menatap ke depan. Di sampingnya Alvin sedang nikmat memakan mie instan cup yang ia seduh beberapa menit lalu. Tian tidak jauh di depan Echa, sedang duduk disamping Alina. Keduanya diam tanpa obrolan.

“Kita nggak boleh nyalain api unggun, ya, Na?” Tanya Echa sambil menggesekan kedua telapak tangannya.

Alina menggeleng pelan, matanya tertuju kepada GPS digital, sepertinya ia sedang menyusun track.

“Sayangnya, nggak boleh, Cha.” Kata Alina, ia lalu mematikan GPS digital itu. Melihat Echa.

“Ah, sayang sekali.”  Tian terdiam, 

“Padahal kita tinggal di desa yang sama aja dinginnya, deh.” Kata Echa menimpali.

“Tapi di sini kerasa beda..” Echa belum selesai bicara, Alvin menyela lebih dulu.

“Ya beda lah, Cha.” Kata Alvin sambil menyeruput kuah mie instan dari cupnya.

“Maksud?” Jawab Echa penasaran.

“Tanya Tian, Cha. Dia jago fisika!” dagu Alvin menunjuk Tian di seberangnya. Tian yang sedang diam lantas menyipit melihat Alvin.

“Tiba-tiba…”

“Singkatnya, sih, semakin kita naik, tekanan udara berkurang, kepadatan juga berkurang, jadi udara lebih dingin.” Jawab Tian singkat.

“Ah, terlalu simple.” Alvin mengipaskan tangan ke udara.

“Tapi, kan, padahal di gunung lebih dekat ke matahari?” tanya Echa ikut nimbrung.

“Nggak gitu, Cha.” Alvin menggeleng tegas.

“Cuman karena gunung itu tinggi, bukan berarti dekat ke matahari.”

“Jelasin coba jangan cuman ngoceh aja!” Echa kesal.

“Hehe,” Alvin cengengesan. “Tar si Tian jelasin.”

Tian melirik Alina di sebelahnya, hanya tersenyum, tidak ikut bicara.

“Jadi begini, Cha.” Tian mulai menjelaskan, ia mengambil ranting pohon di dekatnya lalu menggambar sesuatu di tanah, 

“Anggap lingkaran yang aku buat ini adalah kepadatan udara, atau kita menyebutnya molekul udara.” Tian menggambar banyak bulatan kecil, ia membuat banyak bulatan di bawah dan semakin sedikit bulatan di atasnya.

“Kelereng di bawah lebih banyak karena tekanan atmosfer menekan ke bawah, kan?” Tanya Tian. 

Echa mengangguk mengerti. Alvin di dekatnya manggut-manggut menunggu Tian salah bicara. Alina mengoreskan tanda panah ke atas dan ke bawah di dekat kelereng-kelereng yang Tian gambar.

Echa melirik Alina sebentar, lalu segera membuang lirikannya.

“Eh, iya, makasih, Na.” Kata Tian sadar ada yang kurang. Alina mengangguk, 

“Padahal mau gue ingetin, tuh!” kata Alvin.

“Sutt!” jawab Echa sambil mengisyaratkan jari telunjuk di depan bibir.

“Sama-sama, Tian.”

Echa menatap alina sebentar sebelum memalingkan lagi pandangannya ke gambar buatan Tian.

“Kepadatan udara itu kayak nahan panas dari matahari, ini disebut kalor.”

“Kalor ya, Cha, bukan kolor.” Tambah Alvin, mencoba menggoda Echa lagi 

“Bacot, ya, Vin!” Echa menyergah.

“Karena banyak yang nge-keep, panas itu bisa bertahan lebih lama, atau bahkan bertambah, makanya di tempat rendah kayak pantai misalnya, cenderung lebih panas.”

“Atau kasus yang lebih parah, Venus.”  Alvin menambahkan.

“Apa lagi, itu!” Echa mendengus.

“Tapi lihat, semakin ke atas, tekanan udara semakin berkurang. Karena tekanan atmosfernya berkurang. Hasilnya adalah kepadatan udara semakin sedikit.” 

“Nah, kamu pasti tau kelanjutannya.” Pungkas Tian, ia tersenyum kepada Echa. 

“I see…” kata Echa, 

“Aku mau bikin mie deh, biar nggak terasa semakin dingin.”

“Si Echa...” Alvin spechless setelahnya. Sementara itu, Alina tertawa melihat ketiga temannya.

“Tapi Echa benar, semakin dingin...” Ucap Alina, tiba-tiba, suaranya terdengar misterius.

“Iya lagi.” Alvin tidak tahu harus menjawab apa.

“Semakin ingin aku makan mie.” Kata Alina bercanda, lalu tertawa lagi.

“Heuh.” Alvin membuang nafas.

 

***

 

Pukul dua malam. 

Alina membuka resleting tenda. Kepalanya melihat keluar, mata cerahnya melihat jauh ke angkasa, bintang gemintang berpendar dalam kegelapan malam. Berputar mengelilingi alam dengan teratur di dalam kekacauan angkasa yang tersembunyi di balik debu dan gelap. Tenda Tian ada di depan tendanya. Mereka bertiga sepertinya masih tertidur. Alina tidak ingin membangunkan mereka dulu.

Tidak untuk saat ini. Alina tahu ada sesuatu.

 Tidak lama kemudian ia keluar, seolah tidak peduli dengan udara sedingin es. Alina berjalan pelan menyusuri hamparan rumput seolah mencari sesuatu. Suara rerumputan yang basah oleh embun menyambut langkahnya.

“Aku tahu kamu di sini, ayah.” Ucapnya kepada keheningan malam. Indera peka  Elyijsierlijen-nya mengatakan ada tamu tidak diundang yang sedang mengawasi.

Benar saja. 

Bayangan hitam keluar dari celah pepohonan, lebih tinggi dari Alvin. Cahaya rembulan yang lembut menyinari wajah yang mirip wajah Alina.

“Kamu tidak seharusnya mencari, Na.” Ucap Edvin. Ayah Alina yang entah bagaimana tahu keberadaan mereka.

“Itu karena Ayah tidak pernah menceritakannya dengan jujur kepadaku.”

“Kau tahu, aku selalu punya alasan untuk tidak bercerita.” Katanya dingin, mengalahkan dinginnya udara.

“Bahkan setelah ribuan tahun?” Alina menatap ayahnya dengan tatapan tidak percaya. Seolah-olah dirinya tidak layak dipercaya.

“Iya.” Edvin mengangguk pelan, tetapi tegas. 

“Beberapa hal sebaiknya kubawa sendiri ke dalam kubur.” Katanya lagi. Ucapannya bagaikan petir di siang bolong bagi Alina.

“Jangan salahkan aku jika mencarinya sendiri.” Ucap Alina tegas. Menepiskan kekecewaan yang ia rasakan.

“Sayangnya, kamu tidak akan bisa.” Jawabnya singkat, lalu menghilang lenyap dalam kegelapan meninggalkan hati alina yang hancur berkeping-keping. 

Teleportasi Edvin sangat halus, tidak seperti teleportasi Alina yang masih menimbulkan desir angin, atau teleportasi Tian yang membuat lingkungan sekitarnya bergemuruh. Edvin menghilang tanpa jejak, seperti tidak pernah ada Edvin di tempat itu. Dia menghilang dengan keyakinan jika Alina tidak akan bisa pergi ke mana-mana.

Alina sudah hidup di bumi sejak 223 masehi.  Tidak banyak yang ia tahu mengenai waktu sebelum itu. Alina telah melewati banyak zaman dan sejarah. sayangnya, gadis itu hidup dalam lindungan protektif ayahnya yang menyembunyikan dirinya dari kebenaran tentang siapa dirinya sendiri. Alina tidak pernah tahu makhluk macam apa dia dan edivn sebenarnya.

Sampai akhirnya usia panjang tidak lagi bisa dijelaskan dan Edvin kehabisan jawaban. Ribuan tahun berlalu hingga akhirnya Alina memutuskan untuk mencari tahu sendiri.

Sampai pada suatu hari di luar perkiraan Edvin, Tian hadir. Ia datang setelah panjangnya hidup dan banyaknya identitas yang dipenuhi oleh duka, luka, dan ditinggalkan. Tak terhitung lagi jumlahnya. Bagi Alina, Tian adalah sebagian jawaban atas pencariannya, Tian adalah seseorang yang tidak akan pernah meninggalkannya lagi seperti manusia lain. 

Untuk saat ini, itulah harapnya.

Harapan paling tulus dari makhluk yang sudah tidak lagi menaruh harapan.

Suara berisik menyadarkan Alina dari lamunan. Beberapa penghuni tenda di sekitar tenda mereka tiba-tiba bangun. Alina tahu waktu mereka untuk bergerak sudah dekat. Dia melompat dan muncul di dalam tendanya. Tidak lama Alina keluar sambil mengeluarkan ransel besarnya. Ia membuka resleting tenda Tian. 

Alvin dan Tian tidur berdesakan di pojok dekat kanvas tenda, sementara Echa tidur merentangan kedua tangan dan kaki seolah tidur di atas kasurnya di rumah, membuatnya menguasai hampir seluruh tenda. Alina tertawa melihat tingkah mereka. Ia mengambil kamera yang mengantung di strap tas, mengabadikan momen lucu itu sebelum akhirnya membangunkan mereka bertiga.

“Hei, bangun!” Alina menggerak-gerakan kaki mereka bertiga bergantian. Alvin bangun lebih dulu. Ia mengedip-ngedip beberapa kali sebelum akhirnya menguap lebar.

“Jam berapa ini?” tanya Alvin mengangkat kepalanya

“2 lebih 15 menit. Pendaki lain sudah bangun, Vin.”

“Untuk apa mereka bangun sepagi ini, puncak masih jauh...” Alvin terdengar seperti mengigau.”

“Aku ngga tahu, vin.” Kata Alina.

“Kita nggak hendak summit, kan?” Alvin kembali merebahkan kepalanya ke bantal udara.

“Karena itu kalian harus bangun!”

“Eh, iya!” Alvin tersadar.

Kesadarannya seketika pulih. Ia menoleh kepada Tian dan Echa yang masih terlelap.

“Dasar kebo!” lalu mengguncang tubuh mereka berdua sekaligus.

“Ah, iya, Bu, kasbon saya di kantin bakalan saya bayar, kok.” Gumam Echa dalam tidurnya. 

Alvin dan Alina saling tatap. 

“Anak dokter tapi ngutang!” Kata Alvin.

Tian bangun setelah guncangan keras Alvin. Ia duduk sambil mengucek-ucek matanya yang masih mengantuk.

“Ada apa?” tanya Tian, lalu menguap.

time to go, chief.” Jawab Alvin singkat.

 “Ayo kita packing dan menyelinap sebelum ada pendaki lain yang melihat!” ajak Alina. Alvin menatap Echa yang malah mendengkur.

“ECHA, BANGUN ATAU LU DAN TENDA INI GUE GULUNG!” Umpat Alvin kesal.

Alvin dan Tian tidak bisa membangunkan Echa dengan mudah, jadi sebagai gantinya mereka mengangkat badan berat Echa ke luar tenda untuk melipat tenda, membiarkan Echa tidur diatas rumput basah. Echa bangun tidak lama setelah semua tenda selesai dilipat. Ia menguap lebar.

“Susah banget ngebangunin elu, Cha!” kata Alvin ketus.

“Kalian ngebangunin?” ucapnya polos.

“Ah, sudahlah ayo bergegas!” Alvin tidak ingin meneruskan perdebatan di gelap gulita malam, ia mengalah.

Mereka menyelinap keluar dari jalur utama, menyusuri turunan curam di sisi belakang gunung, mengikuti insting Alina yang kini menjadi kompas.

“Kamu sudah merasakan tarikan itu, Na?” tanya Tian dari belakang. 

“Sudah, makanya kita jalan sekarang.” 

“Aku semakin merasakannya sejak keluar dari jalur utama.”

“jadi, ini jalan yang benar?” tanya Alvin ragu.

“Kayaknya.” Jawab Alina singkat. Kata ‘kayaknya’ itu membuat Wajah Alvin seketika berubah pucat.

“Alamak!”

Jalan yang mereka lalui mulai menurun, lalu mendatar. Tidak ada jejak manusia pernah melewati jalur ini sebelumnya. Tidak ada sampah. Hanya jalur yang benar-benar asli. Rerumputan rapat menghalangi langkah kaki mereka. Beberapa kali Echa dan Alvin nyaris jatuh karena tersandung batu yang tidak terlihat.

“Pukul empat, seharusnya cahaya fajar sudah terlihat.” Ucap Tian dari belakang rombongan. Alvin seketika melihat ke atas, tetapi pandangannya tertutup kanopi pepohonan yang rimbun.

“Nggak kelihatan.”

“Kalau dari balkon rumah lu kelihatan keren banget sunrise-nya, Tian.” Kata Echa mengingat pemandangan pagi dari rumah Tian.

“Iya bener, pendaki itu nggak harus naik ke gunung setinggi ini padahal. Tinggal mampir doang ke rumah si Tian.” Jawab Alvin

“Enak aja!”sergah Tian.

“Ide bagus, nanti aku yang jaga loket masuk, ya.” Alina ikut nimbrung dari depan.

“Setuju!” Alvin ngegas.

“Malah makin-makin, dong.” Ucap Tian pasrah.

Dua jam perjalanan berlalu. Alina yang berjalan di depan berhenti di tanah datar tiba-tiba. Ia menurunkan ranselnya. Echa dan Alvin bergegas mendekat, ingin tahu ada apa.

“Kenapa, Na? “ tanya Echa sigap.

Alina tidak menjawab. Dia mengeluarkan tablet transparan dari dalam ranselnya. Seolah sudah mengerti dengan aksara runcing berbahasa aneh itu, ia mengulir proyeksi menu 3D di depan wajahnya. Alvin melongo terkesima dari kali pertama melihat tablet itu. Seolah seperti seorang bajak laut yang baru saja melihat tumpukan koin emas.

“A-apa ini...” mata Alvin berbinar, dengan mulut menganga.

“Tablet transparan, milik Tian.” Jawab Alina menjelaskan singkat, masih menggulir. Ia lalu duduk di atas tanah lembab. Diikuti oleh mereka bertiga.

“Proyeksi ini sungguhan?” tanya Alvin tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Mencoba menyentuh proyeksi yang mengambang di udara. Echa dengan sigap menepis tangan penasaran Alvin.

“Masih aja nanya.” Jawab Echa kesal. Tetapi dalam hatinya juga penasaran.

“Ada apa, Na?” tanya Tian ingin tahu alasan Alina berhenti.

“Aku ingin tahu apakah gema itu bisa dideteksi melalui perangkat ini, Tian.” Jawab Alina.

“Gema?” kata Echa dengan raut wajah penasaran.

“Aku nggak tahu, sih, Cha.” Kata Alina pelan, seolah berbisik karena ragu tidak mau memberi jawaban yang tidak pasti.

“Sejujurnya aku juga nggak tahu apa yang sedang kita cari, Cha. Tapi di dalam baris puisi yang kutemukan jelas banget bilang tentang jalan, Ilum mire ilurij qijaz, aku nggak tahu jalan apa yang dimaksud, bisa saja pintu, kan?”

“Ah, aku lupa.” Kata Echa, 

“Kita bertualang berdasarkan puisi aneh yang kamu temukan.” Katanya pasrah.

“Lu masih bisa pulang kok, Cha.” Kata Alvin santai. 

“Mau gue anterin sampe pos pertama?”

“Enak aja, diem, deh!” sergah Echa.

“Kayanya tablet ini nggak dibuat untuk mendeteksi sesuatu itu, Tian.” Nada Alina terdengar kecewa. Ia mematikan lagi tablet transparan, seketika proyeksi 3D lenyap dari udara. Alvin mengangga melihat proyeksi yang sangat nyata itu hilang seperti menguap.

“Ngga apa-apa, Na. Bekal kita masih cukup untuk beberapa hari ke depan sembari mencari apa yang puisi itu coba tunjukkan.” Kata Tian.

“Wajar jika apa yang kita cari itu sulit ditemukan, Na.” Ucap Tian lagi, 

“Karena apa yang sulit ditemukan biasanya sangat berharga.” 

Alina menatap Tian, dengan senyuman sayu yang sedikit dipaksakan.

“Atau berbahaya.” Jawab Echa asal.

“Ayo gue antar turun ke pos pertama.” Senyum Alvin lebar mengejek.

“Bacot!” seru Echa.

“Kita istirahat dulu di sini.” Kata Alina akhirnya. Tanah landai yang mereka datangi itu masih tertutup kabut, jauh dari jalur resmi. Tertutup rimbunan pohon. Sayup-sayup suara hutan perlahan berkurang, semakin lama semakin pelan. Seperti badai yang hendak mengamuk.

Komentar