Aku masih
ingat dengan suara dengung mesin-mesin pendingin di lorong bawah tanah CERN, tepat di
samping gelang LHC yang panjangnya dua puluh-tujuh kilometer, bukan diameter, tapi keliling. Malam itu, lampu yang menggantung di langit-langit silinder biru ini memantulkan kilau dingin. Alat itu sangat berjasa dalam perjalanan yang kelak akan
ku lalui; melintasi waktu.
“Bayangin,
bro,” temanku nyeletuk,
“Faktor gammanya sampai tembus 7000, lho!"
"Buat proton, 27 km itu kayak cuma beberapa meter.” katanya lagi dengan penuh antusias, setelah percobaan demi percobaan percepatan proton berhasil gemilang.
Dan otakku langsung membayangkan hal itu dengan ngeri. Kalau jarak bisa mengkerut bagi partikel, lalu bagaimana bagiku?
"Apa susahnya?" tanyaku kepada diriku sendiri.
"Kenapa jarak 2,5 juta tahun cahaya ke Andromeda tak bisa disulap jadi sekadar lompatan menit?" gumamku lagi. Saat itu aku belum paham jika persamaan Lorentz mungkin mengizinkan perjalanan lintas waktu, tetapi persamaan itu tidak pernah menyebut tentang pulang.
Lantas aku duduk di platform injeksi, sebuah benda berbentuk kapsul dengan kursi kemudi di tengah. Mirip command module program Apollo. Aku terikat di kursi, seolah hewan yang hendak disembelih, menatap lorong kosong di depanku yang terlihat hampa. Di layar, angka-angka naik, dan melonjak tinggi:
0.0,
1.0,
20.4,
56.7,
89.9,
Hingga akhirnya 99,9999991 % c.
Faktor Gamma bahkan
melebihi tujuh ribu. Siap lepas landas.
“Selama aku duduk di sini,” gumamku,
“Bumi sudah pasti terlewat jutaan tahun. Tapi untukku? rasanya hanya akan seperti detakan jantung atau kedipan mata.”
Aku menutup mata, bersiap mengucap selamat tinggal kepada semua yang telah aku tahu.
Pintu kapsul tertutup rapat sejam lalu, aku simpan beberapa hal bersamaku: sebotol air laut dari pantai selatan, segenggam tanah dari belakang rumah di dalam wadah kaca, rekaman suara ombak yang terekam samar, suara gesekan dedaunan pinus yang diterpa angin dan pemandangan megah dari puncak Merbabu. Kurasa itu bekal paling masuk akal untuk menempuh kehampaan.
"Perhatian seluruh kru!" gema speaker menembus radio di dalam kapsul, CAPCOM misi memulai siaran urutan peluncuran. Memecahkan lamunan.
"Semua sistem dalam keadaan nominal, siap lepas landas." katanya setelah pengecekan terakhir dilakukan.
"Sudah mengatakan selamat tinggal kepada semua yang kau kenal, wanderer?" radio masuk ke kabin.
"Copy, sudah, Mike." jawabku singkat.
"Urutan pelepasan akan dimulai dalam 10,"
"9..."
"8..."
"Godspeed, wanderer sampai berjumpa di sisi lain semesta!" ucap sang CAPCOM.
"Pelepasan dimulai, t-3 detik. sampai jumpa lagi!"
Dan begitu angka menyentuh nol, pelepasan otoamtis terjadi. Tubuhku terhentak ke belakang seperti airbag seberat gajah menindihku. Aku tak sempat merasakan percepatan. Inertial dampers bekerja sempurna. Jamku seperti malas bergerak. Di luar jendela, bintang menjulur panjang seperti garis putih.
“Ini keren
atau seram?” tanya diriku sendiri.
“Keduanya,”
jawab bayangan dari pantulan kaca didepanku. pantulan diriku yang pucat seperti hantu dari masa lalu.
Layar navigasi menghitung lonjakkan jarak yang tak masuk akal, 2,5 juta tahun cahaya kutempuh dalam kurang dari 20 jam perjalanan, menurut subjektifku.
Aku tersenyum, aku benar-benar
telah menipu ruang.
Lalu, aku tiba.
Kata “tiba”
bahkan terdengar nyaris sombong. Aku melayang dengan percepatan yang sama, di antara bintang biru raksasa
dan gas magenta yang bergelayut spiral. Tapi pertama kali yang kurasakan bukan
kagum, melainkan hampa. Keindahan ini terasa seperti pesta megah yang kuhadiri
terlambat jutaan tahun, semua undangan lain sudah pergi.
Aku terdiam, percepatanku telah usai, kini aku melayang di pinggiran galaksi: kabut ungu dan debu es menari pelan. Kuregangkan kaki dan, untuk sesaat, pura-pura ini kemenangan.
Noise tipis
dari radio komunikasi menemaniku. Tak ada lagi suara serak Mike yang sejam terakhir pelepasan mengoceh tak henti.
Aku
nyalakan teleskop spektrografi, mengarahkannya balik ke rumah, menatap titik di mana matahari
seharusnya berada. Hasil spektroskopi datang dengan perasaanku yang dingin; garis hidrogen
menebal, suhu permukaan naik, radius lima ratus kali lipat.
Matahariku sudah menjadi raksasa merah.
Bumi sudah
pasti tertelan. Laut asin di foto kecil itu telah berubah menjadi plasma. Tak akan ada reruntuhan, tak akan ada suara. Semua ingatan tentang
siapa pun yang pernah memanggil namaku telah lama terbakar menjadi abu dan sup
atomik.
Saat itulah
aku sadar “pulang” bukan lagi tentang koordinat atau waktu. Pulang sudah berubah
menjadi mitos.
“Lihat, Semesta. Aku sudah sejauh ini. Apa
hadiahmu?”
Semesta seakan menjawab,
“Hadiahmu adalah kesunyian. Supaya yang bisa kau dengar adalah
dirimu sendiri.”
Aku tertegun,
bicara sendiri lagi, “Berarti perjalananku sia-sia?”
“Tidak." Jawab kesunyian itu,
"Setidaknya
kau membawa satu-satunya bumi yang tersisa, kenangan dan dirimu sendiri.”
“Kenangan
tak bisa kupeluk.” sergahku,
“Tapi ia juga satu-satunya yang tak bisa kau lenyapkan.” Pungkasnya,
Aku tertawa, lalu menangis tanpa air mata, karena di ruang vakum, air mata seolah
menguap sebelum sempat jatuh.
Aku
menyalakan pemancar yang bahkan mungkin takkan pernah diterima
siapa-siapa. Gelombang radio mengalir ke seluruh kekosongan langit. Dalam hening itu aku bicara,
“Alam
semesta ini luas sekali, ada keindahan yang tak dapat kujelaskan hanya dengan kata ataupun bahasa manusia manapun, tetapi sayangnya aku tidak diizinkan lagi untuk pulang dan menceritakan semua yang sudah ku saksikan. Kurasa, ini adalah harga yang harus ku bayar.” Aku terdiam sesaat. Tak kukira, pipiku
basah.
“Di dalam
kehampaan kosmik yang kejam, aku berharap menemukan sesuatu, tapi yang
kuinginkan ternyata sudah tertinggal jauh 2,5 juta tahun cahaya di belakang,
hilang untuk selamanya.”
"Dan tak ada jalan lagi untuk pulang."
Lalu
kubiarkan sinyal itu terus memancar, seperti proton pertama yang lihat di Large Hadron, mengitari galaksi tanpa akhir.
Dan aku
diam di sini, menjadi saksi bisu bahwa manusia bisa menipu jarak, menaklukkan
waktu, tetapi tak pernah bebas dari konsekuensi: kehilangan semua yang pernah dikenal.
Di antara
cahaya tua bintang di pinggiran galaksi Andromeda, aku menutup mata dan berbisik:
“Sayangnya, dunia nggak bisa nunggu aku pulang.”
Komentar
Posting Komentar