7000

 


Aku masih ingat suara dengung mesin kriogenik di lorong bawah tanah CERN, tepat di samping gelang LHC yang panjangnya dua puluh-tujuh kilometer—bukan diameter, cuma keliling. Malam itu, neon di langit-langit memantulkan kilau dingin ke logam silinder. Alat itu pernah dan berjasa dalam perjalanan yang kelak akan kulalui - lintas waktu.

“Bayangin, bro,” temanku nyeletuk,

“gamma = 7 450. Buat proton, 27 km itu kayak cuma beberapa meter.”

Dan otakku langsung ngeri. Kalau panjang bisa mengkerut bagi partikel, lalu bagaimana bagiku? Apa susahnya? Kenapa jarak 2,5 juta tahun cahaya ke Andromeda tak bisa disulap jadi sekadar lompatan menit? Saat itu aku belum paham: persamaan Lorentz mungkin mengizinkan perjalanan lintas waktu, tapi tidak pernah menyebut soal pulang.

Lantas aku duduk di platform injeksi - benda berbentuk kapsul dengan kursi kemudi di tengah. Seolah hewan yang hendak disembelih, menatap lorong kosong masih hampa.  Di layar, angka-angka naik, lalu melonjak: 0.0, 1.0, 20.4, 56.7, 89.9, lalu 99,9999991 % c. Faktor Gamma bahkan melebihi tujuh ribu. Siap lepas landas.

“selama aku duduk di sini,” gumamku, “Bumi akan, dan sudah pasti terlewat jutaan tahun. Tapi untukku? Hanya detak jantung dan kedipan mata.”

Aku menutup mata, bersiap mengucap selamat tinggal kepada semua yang telah aku tahu.

Pintu kapsul tertutup rapat sejam lalu, aku simpan beberapa hal: laut di pantai selatan, segenggam tanah dari belakang rumah di dalam wadah kaca, suara ombak yang terekam samar, dan pemandangan megah dari puncak Merbabu. Kurasa itu bekal paling masuk akal untuk menempuh kehampaan.

Lalu, tombol ditekan. Aku tak sempat merasakan percepatan. inertial dampers bekerja sempurna. Jamku seperti malas bergerak. Di luar jendela, bintang menjulur menjadi garis putih.

“Ini keren atau seram?” tanya diriku sendiri.

“Keduanya,” jawab bayangan dari pantulan kaca.

Layar navigasi menghitung lonjakkan jarak, 2,5 juta tahun cahaya hanya menjadi kurang lebih 20 jam perjalanan, menurut subjektifku. Aku tersenyum; aku benar-benar telah menipu ruang.

Tiba.

Kata “tiba” bahkan terdengar nyaris sombong: aku melayang di antara bintang biru raksasa dan gas magenta yang bergelayut spiral. Tapi pertama kali yang kurasakan bukan kagum—melainkan hampa. Keindahan ini terasa seperti pesta megah yang kuhadiri terlambat jutaan tahun, semua undangan lain sudah pergi.

Aku terdiam, percepatanku telah usai, kini aku berada di pinggiran galaksi: kabut ungu dan debu es menari pelan. Kuregangkan kaki dan, untuk sesaat, pura-pura ini kemenangan.

“Entah… apa yang sebenarnya kucari.”

Noise tipis dari radio komunikasi tak menjawab.

Aku nyalakan teleskop kuantum, mengarahkannya balik—menatap titik di mana Matahari seharusnya berada. Hasil spektroskopi datang dan dingin: garis hidrogen menebal, suhu permukaan naik, radius lima ratus kali lipat.

Matahariku kini sudah menjadi raksasa merah.

Bumi? Sudah pasti tertelan. Laut asin di foto kecil itu kini telah bertransformasi menjadi flare plasma. Tak ada reruntuhan, tak akan ada suara. Semua ingatan tentang siapa pun yang pernah memanggil namaku telah lama terbakar menjadi abu dan sup atomik.

Saat itulah aku sadar “pulang” bukan lagi tentang koordinat atau waktu. Ia sudah berubah jadi mitos.

 “Lihat, Semesta. Aku sudah sejauh ini. Apa hadiahmu?”

Semesta seakan menjawab, “Hadiahmu adalah kesunyian. Supaya yang bisa kau dengar adalah dirimu sendiri.”

Aku tertegun, bicara sendiri lagi, “Berarti perjalananku sia-sia?”

 “Tidak." Jawab kesunyian itu, "Setidaknya kau membawa satu-satunya Bumi yang tersisa, kenangan.”

“Kenangan tak bisa kupeluk.” sergahku,

“Tapi ia satu-satunya yang tak bisa kau lenyapkan.” Pungkkasnya,

Aku tertawa kering, lalu menangis tanpa air mata—karena di ruang vakum, air mata seolah menguap sebelum sempat jatuh.

Aku menyalakan pemancar yang bahkan mungkin takkan pernah diterima siapa-siapa.  Gelombang radio lemah mengalir ke seluruh kekosongan langit. Dalam hening aku bicara:

“Alam semesta ini luas banget, tapi aku nggak diizinkan pergi tanpa konsekuensi. Entah apa yang sebenarnya kucari.” Aku terdiam sesaat. Tak kukira, pipiku basah.

“Di dalam kehampaan kosmik yang kejam, aku berharap menemukan sesuatu… tapi yang kuinginkan ternyata sudah tertinggal jauh 2,5 juta tahun cahaya di belakang, hilang untuk selamanya.”

Lalu kubiarkan sinyal itu terus memancar seperti proton pertama yang kubayangkan di LH, mengitari galaksi tanpa akhir.

Dan aku diam di sini, menjadi saksi bisu bahwa manusia bisa menipu jarak, menaklukkan waktu, tetapi tak pernah bebas dari harga: kehilangan semua yang akrab.

Di antara cahaya tua bintang Andromeda, aku menutup mata dan berbisik:

“Aku nggak nyesel pernah mencintai dunia,meskipun dunia nggak sempat nunggu aku pulang.”

Komentar