Februari - Pukul Dua Siang

 


2023


Jalanan lengang. Aku memacu kendaraan beroda dua ini dengan santai. Pagi tadi gadis yang biasa kusapa dengan manis itu memberitahu bahwa ia akan pulang ke Bandung, tanpa mengatakan alasan apa pun.

TING, suara khas itu berdenting.

“Sore ini aku mau pulang ke Bandung, kamu lagi di kosan, kan?”

Pesan teks itu ku terima di tengah keramaian kelas, kebetulan dosen pembimbing akademikku mengabari bahawa beliau tidak bisa masuk karena rapat, meninggalkan kecewa untukku yang telah menunggu satu jam lebih. Ini kali kesekian beliau melakukan hal ini.

“Iya nih, aku lagi di kampus, bimbingannya gak jadi kok. Nanti aku nyusul, ya. Kabarin aja kalo kamu udah di Bandung.” Jawabku.

Tidak lama centang abu-abu pesan tersebut berganti menjadi biru, dan status online berubah menjadi typing dengan cepat.

“Iya. Aku masih nunggu kereta di stasiun kok. Aku mau nyobain naik Woosh. Kamu hati-hati nanti di jalannya, ya. Kabarin aku kalo kamu mau berangkat!” jawabnya.

Kembali senyuman terkembang di wajahku.

Gadis yang sangat perhatian.

Hampir tiga jam sudah perjalanan kulalui, jalan panjang bergaris kuning ini nampaknya tiada berakhir. Gadis itu sudah pasti sampai dalam 30 menit. Atau dua setengah jam lalu. Sampai akhirnya gapura selamat datang milik Kota Bandung terlihat berdiri megah menyambutku – dan macetnya Cibiru. Aku memperlambat laju motorku sembari berhati-hati menyalip rentetan kendaran yang ada di depan. Jalanan padat dan ramai. Macet tak dapat dihindari dengan mudah.

Mentari semakin tergelincir ketika aku sampai di depan gapura lain. Kali ini gapura komplek perumahannya yang bergaya seperti gerbang kraton Majapahit. Gadis itu mengabari bahwa ia sudah lebih dulu tiba di rumah dan menyuruhku untuk datang. Aku kembali melajukan motorku memasuki kawasan elit perumahan itu. Suasana Bandung yang panas berubah sejuk ketika jalanan yang kulewati berganti dipenuhi deretan pepohonan yang rimbun, bayangannya menutupi jalan aspal komplek perumahan ini.

“Aku udah di depan.” Kataku melalui pesan teks tanpa sempat melihat rumahnya. Seketika pesanku dibalas, “Coba lihat ke atas.” Aku mengerenyitkan dahi, mengangkat kepalaku perlahan ke atas, ke lantai dua rumahnya.

“Ngagetin aja.” kejutku dalam batin.

 Bagaimana tidak. Gadis itu sedang berdiri di balik jendela kamarnya yang lebar dengan senyuman menyerigai seperti hantu-hantu di film horror. Ia mengenakan kaos putih dan wajahnya yang sama putihnya itu memantulkan cahaya matahari senja menambah kesan horror ditambah tangan kanannya yang entah kenapa ia tempelkan di jendela.

Benar-benar seperti hantu.

Tidak lama kemudian gadis itu turun kebawah, aku memasukan motorku kebawah kanopi garasi rumahnya. Tidak lama seetelah kunci kontak ku cabut, gadis itu memutar daun pintu dari dalam dan keluar dengan senyuman yang ia tutupi dengan tangan kanannya.

“Kenapa kamu nutupin mulut?” tanyaku heran dengan senyuman menahan tawa melihat ekspresinya yang aneh.

“Ahah, aku ga nyangka kamu beneran datang.” ia melepas tutupan mulutnya, kini tangan itu mengipas-ngipas wajahnya seperti kepanasan,

“Iya dong, kan ada yang kangen sama aku.” Kataku penuh percaya diri.

“Ih, geer banget.” ekspresinya berubah garang seketika,

“Huh, ngaku aja.” Kataku menggodanya,

“Gak!” katanya sambil balik badan meninggalkanku sendiri di bawah kanopi,

“Sini masuk, malah ngelamun.” ia itu menoleh lalu berseru dari dalam, aku yang tengah melepas helm dan merapihkan rambut seketika melihat ke dalam, di ujung lorong dekat pintu jati gadis itu menatapku. Entah mengapa ada yang aneh dari perempuan itu.

Aku berjalan menyusulnya, ia mendahuluiku berjalan ke arah dapur yang memang terhubung langsung dengan lorong berpintu jati yang tingginya menyamai tinggi ruangan.

“Aku buatin matcha latte, ya?” gadis itu berseru lembut, aku mendekatinya sambil mengangguk.

 “Kayanya aku gak harus bilang deh.”

Gadis itu haya tertawa,

“Formalitas, haha.”

“Dasar.”

“Jadi, tumben kamu ke Bandung. Padahal libur semester masih beberapa minggu lagi?” tanyaku sambil mengambil mug hijau keramik dari lemari transparan setelah melihat tunjukan tangannya ke salah satu mug.

“Yang ini?” tanyaku menayakan, ia mengangguk,

“Iya yang itu, by.”

“Aku cuma pengen ketemu kamu.” Jawabnya. Aku menyerahkan mug sementara ia tengah membuat matcha latte miliku lalu mengambil satu sachet minuman lain dari laci dan menuangkannya ke dalam mug.

“Ah, masa.” Jawabku tidak percaya. Untunglah ia tidak melihat wajahku yang memerah menahan malu.

“Beneran, yaudah kalo gak percaya.” Katanya singkat.

“Percaya, sih. Hanya saja kek too good to be true, gitu.” Kataku,

“Itu artinya kamu gak percaya.” Jawabnya sambil cekatan membuat minuman kedua, cokelat panas kesukaanya.

“Kamu ada urusan, udah beres?” tanyaku mengalihkan.

“Udah dibilang aku cuma pengen ketemu kamu.” ia berhenti mengaduk minuman panas, menatapku.

“Eh..” aku tidak bisa berkata lagi.

“Aku kira kamu bercanda.” Gadis itu tidak menjawab, ia hanya menggeleng sambil menaruh kedua mug diatas nampan tebal berwarna hijau muda.

“Yuk, kita minum di atas!” gadis itu tersenyum mengajak dengan matanya yang sipit itu semakin menyipit tertutup senyuman, lucu sekali.

“Yuk.” Jawabku mengikuti langkah kakinya berjalan lebih dulu meninggalkan dapur dan menyusuri anak tangga. Entah kemana ia hendak membawaku.

Aku menyusuri anak tangga, dengan pandanganku menatap punggungnya yang berada beberapa langkah didepan. Tidak lama kemudian ia berjalan menghampiri dua  kursi di dekat jendela lebar tempatnya berdiri sewaktu aku datang tadi. ia meletakan nampan minuman yang masih mengepulkan uap itu di atas meja, diantara apitan kursi, lalu duduk di salah satu kursi.

“Aku baru ngeuh kalo kamu ngubah gaya rambut.” Ungkapnya lalu mengambil gelas cokelat dan menatap keatas wajahku.

“Aneh, ya?” tanyaku sambil mengampiri kursi disebelah meja. Gadis itu menggeleng lalu menyeruput cokelat panas itu perlahan.

“Ngga, lho. Justru aku suka.”

“Eh, kirain aneh.” Jawabku sedikit tidak percaya.

“Kamu udah bosen sama rambut poni lempar itu ya?”

Aku menggeleng, “Ngga, mau aku ceritain?”

“Mau!” ia sigap menjawab.

“Jadi gini..” aku terdiam sejenak, menunggu gadis itu penasaran. benar saja, tidak lama kemudian ia mulai terlihat kesal.

“Apa, ih?”

“Sabar, cinta.” Jawabku singkat.

“Jadi, suatu hari waktu aku lagi di barber aku bingung tuh mau pangkas gaya apa. Terus aku buka browser dan nemu di web Tokopaedi ada gaya rambut yang keren. Jadi pas bagian pangkas, aku kasih lihat aja fotonya ke mamang barber dan dia bilang ‘Gampang!’ dan gini deh rambut aku jadinya. Udah mirip oppa-oppa korea kamu belum?” pungkasku.

“Lebih mirip Cina, sih. Tapi beneran deh aku suka, hehe.” Jawabnya cengingisan.

“Aku emang punya kharisma kokoh-kokoh yang menarik sih.” Kataku membanggakan diri.

“Iya, kamu kan Hitachi,” ia balik mengejekku.

“Mulaii..”

Hari beranjak gelap. Aku bisa melihat matahari mulai tertutup pepohonan yang rimbun menutupi pinggiran jalan kompleks. Minuman telah tandas dan camilan yang gadis itu bawa nyaris habis. Kita berdua memang dikenal sebagai penghabis makanan sejak dulu.

“Kamu di Bandung sampai kapan, nanti malam pulang?” tanyaku sambil mengambil cookies terakhir dari wadah kaca. Gadis itu menggeleng.

“Ngga, aku belum beli tiket. Paling besok aja deh, kan, kamu juga pulang ke Tasikmalaya besok.”

Aku tersedak mendengarnya,

“Maksud mbaknya apa yak?”

“Yakin bisa pulang?” gadis situ balik bertanya.

“Yakin lah, Tasik deket.”

“Oh, gitu?” ia hanya ber-oh,

“Lihat aja nanti ban motor kamu aku tusuk piso kalo berani pulang!”

“Gak-gak-gak, kali ini gak akan. Ban motor luar dalem mahal. Please jangan ditusuk pisau lagi.” Aku mengiba, gadis itu tersenyum puas menyerigai.

“Makanya jangan pulang atau aku sobek-sobek depan belakang!”

“Iyaaa, iyaa.” Aku hanya bisa pasrah.

“Nah, gitu dong. Nurut.” Gadis itu tertawa puas.

Hening.

“Eh, ngomong-ngomong aku lihat tadi di garasi ada mobil ibu atau ayah kamu deh?” aku teringat sesuatu, mobil putih tipe SUV yang terparkir di garasi rumahnya mengingatkanku sesuatu.

 “Oh, itu mobil ibu. Ibu gak di rumah kok, cuma bayar pajak aja sama ganti plat.”

“Eh, aku kirain. Tapi bukannya bisa online?” tanyaku lagi memastikan. Yang ditanya hanya mengangkat bahu,

“Gak tahu, katanya sih sekalian servis rutin di bengkel langganan ayah.”

“Terus ibu ke kantornya gimana?”

“Kan ada ojek online, ibu juga jarang pake mobil dan malas juga katanya.”

“Iya juga, sih.” Kataku mengakhiri pertanyaan.

“Oiya, kita mau ke mana. Kita punya banyak waktu sampai besok, loh?” tanyaku lagi. Gadis itu terlihat berpikir,

“Kita jalan keluar aja yuk, pakai mobil?”

“By, kamu tau aku gak bisa bawa mobil, kan?” aku menolak usulannya tapi gadis itu malah menyipitkan mata.

“Emang aku bilang kamu yang bawa mobil?” tanyanya tajam.

“Ngga, sih.

“Nah, kan.”

“Tapi…” jawabanku tercekat,

“Apa, hah. Mau bilang aku gak bisa bawa mobil?”

“Ehehehe..” aku hanya bisa cengengesan.

“Enak aja!”

“Gaada komen lagi pokonya.” Jelas, artinya ia tidak mau ada perdebatan lagi dan aku harus mengalah.

“Yaudah iyaa. Dasar bawel.” Jawabaku, gadis itu hanya tertawa.

“Oh, iya.” Aku teringat sesuatu. Gadis itu menoleh kearahku lalu mengangkat dagu, apa?

“Aku butuh bantuan ibu buat ngambil data penelitian, hehe.” Aku teringat ibu gadis ini bekerja di kantor perusahaan listrik negara dan memang aku membutuhkan data itu untuk menyelesaikan tugas akhirku nanti.

“Huh, gak boleh curang.” Nada gadis itu renyah mengejek, aku menggeleng.

“Kamu ga tau sih taun lalu aku minta data yang sama dan butuh waktu hampir sebulan bolak-balik baru dikasih.” Aku mendengus mengingat momen itu, gadis itu tahu dan dia hanya tertawa.

 “Gapapa, anggap aja pengorbanan.” Jawabnya santai.

“Gak, cukup sudah.” Kataku singkat.

“Yaudah, nanti aku bilang ke ibu.” Jawabnya,

“Sekalian aja nanti kamu yang  ambil ya, biar ketemu ibu juga.” Katanya lagi dan aku hanya tersenyum mendengarnya.

 

***

 

Matahari telah sampai di tempat peristirahatannya. Sore hendak berganti menjadi malam. Matahari tengah menyerahkan tugasnya menemani bumi menjelajahi semesta yang luas ini kepada bulan agar bumi tidak merasa kesepian. Seperti aku, yang kuharap hadirku tidak membuatmu merasa sendiri di bumi ini.

Gadis itu bolak-balik keluar masuk kamar berganti pakaian beberapa kali sambil memaksaku menilai setiap pakaian yang ia kenakan. Bawel. Sampai akhirnya ia kembali menggunakan pakaian yang ia kenakan di awal; celana jeans dan kaos hitam yang dibalut kemeja kotak-kotak. Ia membiarkannya tak terkancing. Aku mengenakan setelan yang sama sebenarnya, hanya saja celana dan baju kita berbeda warna.

Pukul tujuh malam. Kita keluar dari rumah, gadis itu terampil mengendarai mobil  putih milik ibunya. Entahlah kapan ia belajar mengendarai kendaraan.

“Kamu harus bisa bawa mobil, by!” ocehnya sambil mengklaskon penjaga  perumahannya ketika kita keluar dari gerbang, seketika disambut jalanan yang ramai.

Ini malam sabtu, cukup bodoh sebenarnya keluar di malam weekend seperti sekarang.

“Iya, bawel.”

“Harus, ya!” katanya lagi

“Dulu aku mau belajar kok cuma kan mobilnya keburu dijual.”

“Mau belajar sekarang?” gadis itu menatapku sekilas,

Next time aja, deh.”

“Oiya.” Aku teringat sesuatu. Aku melepas seat beltku lalu beranjak sedikit ke kursi pengemudi. Gadis itu terkejut. Aku membungkuk agar tidak menghalangi pandangannya.

 “Eh, ngapain?”

aku tidak menjawab lalu menarik tali seat belt yang lupa ia pasang dan memasangkannya.

“Oh, haha. Aku lupa.”

“Hihih, iki lipi!” Kataku mengejek.

Jalan ramai malam itu. Bandung memang selalu ramai pagi ataupun malam. Lebih-lebih ketika weekend seperti sekarang. Gadis itu banyak bercerita seperti biasanya. Dia mungkin mempunyai 1001 cerita yang ingin ia ceritakan. Padahal dalam pesan chat sendiri, gadis itu sudah banyak bercerita juga.

“Plat B ini jauh-jauh  datang dari Jakarta hanya buat bikin macet jalan aja!” katanya mendengus kesal setelah terjebak macet.

“By, mobil kamu platnya B, dan kamu juga dari Jakarta.” Kataku, hening gadis itu tidak menjawab.

“Nanti aku mau kamu yang bawa mobil.” Gadis itu nyeletuk random seperti biasa. Mengalihkan perhatian.

Aku mengangguk,

“Iya, nanti aku belajar.” Kataku sambil tersenyum.

“Tapi, kalo misalkan di masa depan aku ga mampu beli mobil..” suaraku tercekat.

Gadis itu menatapku perlahan.

“Aku gak masalah kok.” Ia tersenyum. Senyuman yang amat manis.

“Emang kamu pernah denger aku ngeluh diajak jalan naik motor antik kamu?” ia balik bertanya.

Aku menggeleng,

 “Ngga pernah sekalipun malah. Harusnya aku lebih berusaha supaya bisa provide kamu yang lebih.”

Gadis itu menggeleng.

“Aku tau kamu inscure, tapi selama ini aku nyaman sama kamu kok. It doesn’t matter, lagi pula masa depan kita masih panjang, kan. Aku tahu suatu hari kamu bisa kok.”

“Tapi tetap, aku mau berusaha. Supaya kamu ga menyesal kelak.”

“Dan aku akan dukung kamu.” Gadis itu tersenyum lagi.

Lampu lalu lintas berubah hijau. Perlahan mobilnya beranjak melaju menuju tempat makan favorit kita. Rumah makan yang tidak akan pernah aku tuliskan disini namanya.

“Kamu yang biasa?” seperti biasa, gadis itu segera pergi berjalan ke arah pelayan tanpa menunggu jawabanku.

“Dasar pembaca pikiran!” celotehku.

Malam terus beranjak. Kita menikmati makan malam ini dengan lahap. Sesekali aku mencoba makanan yang dia pesan dan ia melakukan hal yang sama. Meskipun tengah makan, ia masih saja bercerita tentang teman dan kuliah di kampusnya.

Menyenangkan rasanya bisa hidup dan menikmati makan malam ini bersamanya.

Makan malam telah tandas. Aku tidak punya tujuan yang hendak dituju, pun gadis itu tidak ingin pergi ke tempat lain karena macet membuatnya kesal saat berangkat tadi.

“Udah aku bilang naik motor aja, bebal huh.”

“Gak gak gak, kali ini biarkan aku yang bawa kamu!”

“Dasar gak mau kalah, huu!” Ejeku semakin menjadi.

“Ngaca, pak!” Jawabnya kesal.

“Eh, iya!” gadis itu mendadak berseru, ia sepertinya teringat sesuatu.

“Apa?” tanyaku tanpa menoleh. Aku tengah menutup jendela ketika gadis itu berseru.

“Mantan kamu kan udah kuliah di Jatinangor bukan? Jurusan Kedokteran kalo gak salah, kita ke sana yuk?”

“Heh, siapa?”

“Heleh, pura-pura lupa lagi!”

“Gak tahu.” jawabku berusaha menghentikan obrolannya yang semakin random.

“Ihh mau yaa, ini kita tinggal lurus aja ke Cibiru terus nyampe deh Jatinangor. Ya ya ya mau ya?” gadis itu mengiba.

“Gak, aku tahu Cibiru jam segini macet banget dari bunderan sampe keluar dari Bandung kota. Lagian mau apa sih?”

“Mau beli minuman kesukaan kamu itu doang, kok, mau ya?”

“Yang bener aja, udah ayo pulang.” Kali ini aku yang mengiba, tapi nampaknya gadis itu semakin bersemangat mengerjaiku.

“Eh, lupa. Kan aku yang bawa mobil, haha.”

“Kita ke Jatinangor mau gak mau!” jawabnya semakin menyebalkan, ditambah tawa yang rasanya mengejek.

Malam itu ia terus melajukan kendaraan putih keluaran pabrik Jepang ini tanpa menghiraukan mohonku. Benar saja, belum sempat keluar dari Bandung Kota, macet parah menyambut.

“Udah aku bilang, ini weekend. Pasti macet.” Kataku ketus, gadis itu hanya menoleh sekilas,

“biarin.”

Dan syukurlah dia menyerah.

Pukul 9 malam gadis itu putar balik di suatu pom bensin menuju rumahnya yang berada di pinggiran kota. Hanya membutuhkan waktu sedikit lebih cepat karena kemacetan tidak terlalu parah dari arah balik menuju kota. Karenannya gadis itu menunjukkan skill mengemudinya dengan menaikan sedikit kecepatan yang tentu saja membuatku ketakutan.

“Pelan aja, by. Aku belum pengen masuk detik dot kom karena tewas nabrak pantat truk.”

“Hahah, kan mati barengan, by.”

“Gak gitu konsepnya!”

***

Setengah jam berlalu.

Mobil telah masuk kedalam garasi, tidak lama kemudian ia keluar selagi aku kembali sehabis menutup gerbang.

“Tetangga kamu gak masalah ada cowok asing main di rumah cewek malam-malam begini?” tanyaku sembari berjalan. Gadis itu menekan tombol kunci mobil dan menoleh kearahku.

“Tetangga, makhluk macam apa itu?”

Seketika aku tersadar.

“Komplek perumahan orang kaya emang beda.”

“Haha, makannya pindah kesini, by.”

“Iya nanti ku bawa terbang rumahku.” Jawabku sambil memeragakan.

Aku membantu gadis itu menutup pintu lipat garasi. Tidak lama kemudian ia berjalan masuk mendahuluiku untuk membuka kunci pintu dapur.

“Kayanya kamu jarang pake pintu depan, ya?”

“Iya, aku lebih suka lewat dapur soalnya bisa langsung naik ke atas.”

“Oiya, tangga kamu di belakang.”

“Mas Oci masih ada?” tanya ku random.

 “Mau liat?” gadis itu meliriku perlahan sembari membuka pintu. Seketika hawa dingin dari dapur menguar menerpa tubuh kita berdua.

“Eh..”

“Sekarang bukan Cuma Mas Oci tau.” Gadis itu terdiam.

“Nice info gais. Udah jangan diterusin atau aku pulang, hehe.”

“Hehe, tau gak piso dapur aku buatan Jepang, tajem banget loh.”

“Hehe..” aku hanya cengengesan.

Gadis itu berjalan menuju lemari pendingin, mengambil minum pikirku. Tidak lama ia menoleh kearaku dengan tatapan menyelidik seolah mencari sesuatu.

“Latte dingin, minuman yang biasa kamu beli, nih?” tebaknya mengagetkan.

Aku hanya memutar bola mata.

“Haha benar. Aku beli tadi di Alfa stasiun.” Gadis itu tertawa puas.

“Kita bakalan begadang ini, mah!” kataku menerima kaleng latte itu.

Malam semakin larut. Jam digital di pinggir foto masa kecilnya menunjukan pukul sebelas lebih. Tapi ada enggan yang menyelubungi kita untuk terlelap tidur. Pertemuan kita tidak sesering sewaktu kita sekolah dulu. Aku bahkan bisa menghitung dengan jari berapa kali kita bertemu dalam setahun. Terakhir hitunganku adalah tiga kali dengan hari ini di tahun ini.

“Kamu akhir tahun ini mau pulang ke Kuningan?” tanyaku sedikit berteriak. Gadis itu tengah berada di dalam kamarnya, hendak berganti pakaian.

Sunyi, gadis itu tidak menjawab. Tak lama kemudian suara pintu terbuka pelan. Gadis itu keluar menggunakan baju tidur biru dengan motif doraemon kesukaanya. Ia mengikat rambutnya kebelakang membiarkan poninya menutupi dahi.

Gadis itu selalu berhasil membuatku terpaku kagum.

“Heh, malah ngiler.” Ia mendekati kursi di dekat jendela tempatku duduk.

“Hehe, aku lagi lihat bidadari soalnya.”

“Dih, ngga jelas!”

“Kamu nanya apa tadi?” gadis itu balik bertanya.

“Kamu bakalan pulang ke Kuningan?”

Hening menguasai ruangan. Ia menatapku.

“Rumah aku kan udah terjual…”

“Eh, aku gak salah lihat ternyata.”

“Maaf, aku gak kasih tahu kamu.”

“Iya, gapapa kok.”

“Jadi, kamu gak akan kembali lagi ke Kuningan?”

Ia menggeleng, “Ngga.”

“Aku bakalan pulang ke Singkawang setelah lulus.” Katanya.

“Sampai kapan kamu di sana?”

“Mungkin selamanya…”

Aku tercekat. Malam semakin sunyi, selain itu, aku merasakan jarak mulai membentang diantara kita.

            “Ini tujuan aku ngajak ketemu kamu. Untuk ngasih tahu hal itu.”

            “Ini bukan perpisahan, kan?” tanyaku.

            Ia menggeleng, “Semoga.”

Suara acara televisi mengisi keheningan. Gadis itu menonton tv dengan tatapan kosong. Entahlah apa yang ada di dalam pikirannya.

            “Kamu masih memendam rasa ya sama mantan kamu itu?”

Gadis itu memecahkan keheningan dengan pertanyaan random seperti bisa. Namun, kali ini aga menyebalkan.

            “Maksudnya?”

            “Kamu masih suka kan sama dia?”

            “Ngga.” Kataku singkat

            “Buat apa ngebohong?” jawabnya.

            “Kenapa kita bahas hal ini lagi sih, by?”

            “Karena ternyata kamu belum sepenuhnya move-on.”

“Tau dari mana coba, huu!” kataku lagi setengah mengejek.

“Aku ga perlu nanya deh kalo itu.”

“Mau tau ga, terkadang aku kesal ketika kamu mulai menebak-nebak pikiran orang.” aku belum selesai berbicara, ia memotongku.

“Karena tebakan aku benar?” katanya.

“Karena kamu ngga selamanya benar.”

“Sekali ini aja jujur sama aku. Jangan bikin aku menebak-nebak terus.”

“Capek tau punya ability gini.” Tambahnya.

Aku terdiam, benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa.

“Jawab, by.”

“Iya, tapi juga kamu salah.”

“Aku memang belum sepenuhnya move-on. Tapi bukan berarti aku masih berharap atau ingin kembali.”

“Tetep aja.”

“Itu beda, by. Aku udah ngga ada keinginan apa pun untuk kembali.”

“Kenapa, bukannya cinta kamu udah abis di dia?”

Was, people changes. So do I.” jawabku.

“Kamu bakalan pindah, by. Jangan bikin pertemuan terakhir kita kayak begini.”

“Iya.” Ucapnya singkat.

 

(cerita ini belum bisa author teruskan, maaf)

Komentar