2023
Jalanan
lengang. Aku memacu kendaraan beroda dua ini dengan santai. Pagi tadi gadis
yang biasa kusapa dengan manis itu memberitahu bahwa ia akan pulang ke Bandung,
tanpa mengatakan alasan apa pun.
TING,
suara khas itu berdenting.
“Sore
ini aku mau pulang ke Bandung, kamu lagi di kosan, kan?”
Pesan
teks itu ku terima di tengah keramaian kelas, kebetulan dosen pembimbing
akademikku mengabari bahawa beliau tidak bisa masuk karena rapat, meninggalkan
kecewa untukku yang telah menunggu satu jam lebih. Ini kali kesekian beliau
melakukan hal ini.
“Iya
nih, aku lagi di kampus, bimbingannya gak jadi kok. Nanti aku nyusul, ya. Kabarin
aja kalo kamu udah di Bandung.” Jawabku.
Tidak
lama centang abu-abu pesan tersebut berganti menjadi biru, dan status online
berubah menjadi typing dengan cepat.
“Iya.
Aku masih nunggu kereta di stasiun kok. Aku mau nyobain naik Woosh. Kamu
hati-hati nanti di jalannya, ya. Kabarin aku kalo kamu mau berangkat!” jawabnya.
Kembali
senyuman terkembang di wajahku.
Gadis
yang sangat perhatian.
Hampir
tiga jam sudah perjalanan kulalui, jalan panjang bergaris kuning ini nampaknya
tiada berakhir. Gadis itu sudah pasti sampai dalam 30 menit. Atau dua setengah
jam lalu. Sampai akhirnya gapura selamat datang milik Kota Bandung terlihat
berdiri megah menyambutku – dan macetnya Cibiru. Aku memperlambat laju motorku
sembari berhati-hati menyalip rentetan kendaran yang ada di depan. Jalanan padat
dan ramai. Macet tak dapat dihindari dengan mudah.
Mentari
semakin tergelincir ketika aku sampai di depan gapura lain. Kali ini gapura komplek
perumahannya yang bergaya seperti gerbang kraton Majapahit. Gadis itu mengabari
bahwa ia sudah lebih dulu tiba di rumah dan menyuruhku untuk datang. Aku kembali
melajukan motorku memasuki kawasan elit perumahan itu. Suasana Bandung yang
panas berubah sejuk ketika jalanan yang kulewati berganti dipenuhi deretan
pepohonan yang rimbun, bayangannya menutupi jalan aspal komplek perumahan ini.
“Aku
udah di depan.” Kataku melalui pesan teks tanpa sempat melihat rumahnya.
Seketika pesanku dibalas, “Coba lihat ke atas.” Aku mengerenyitkan dahi, mengangkat
kepalaku perlahan ke atas, ke lantai dua rumahnya.
“Ngagetin
aja.” kejutku dalam batin.
Bagaimana tidak. Gadis itu sedang berdiri di
balik jendela kamarnya yang lebar dengan senyuman menyerigai seperti
hantu-hantu di film horror. Ia mengenakan kaos putih dan wajahnya yang sama
putihnya itu memantulkan cahaya matahari senja menambah kesan horror ditambah
tangan kanannya yang entah kenapa ia tempelkan di jendela.
Benar-benar
seperti hantu.
Tidak
lama kemudian gadis itu turun kebawah, aku memasukan motorku kebawah kanopi
garasi rumahnya. Tidak lama seetelah kunci kontak ku cabut, gadis itu memutar
daun pintu dari dalam dan keluar dengan senyuman yang ia tutupi dengan tangan
kanannya.
“Kenapa
kamu nutupin mulut?” tanyaku heran dengan senyuman menahan tawa melihat
ekspresinya yang aneh.
“Ahah,
aku ga nyangka kamu beneran datang.” ia melepas tutupan mulutnya, kini tangan
itu mengipas-ngipas wajahnya seperti kepanasan,
“Iya
dong, kan ada yang kangen sama aku.” Kataku penuh percaya diri.
“Ih,
geer banget.” ekspresinya berubah garang seketika,
“Huh,
ngaku aja.” Kataku menggodanya,
“Gak!”
katanya sambil balik badan meninggalkanku sendiri di bawah kanopi,
“Sini
masuk, malah ngelamun.” ia itu menoleh lalu berseru dari dalam, aku yang tengah
melepas helm dan merapihkan rambut seketika melihat ke dalam, di ujung lorong
dekat pintu jati gadis itu menatapku. Entah mengapa ada yang aneh dari
perempuan itu.
Aku
berjalan menyusulnya, ia mendahuluiku berjalan ke arah dapur yang memang
terhubung langsung dengan lorong berpintu jati yang tingginya menyamai tinggi
ruangan.
“Aku
buatin matcha latte, ya?” gadis itu berseru lembut, aku mendekatinya
sambil mengangguk.
“Kayanya aku gak harus bilang deh.”
Gadis
itu haya tertawa,
“Formalitas,
haha.”
“Dasar.”
“Jadi,
tumben kamu ke Bandung. Padahal libur semester masih beberapa minggu lagi?”
tanyaku sambil mengambil mug hijau keramik dari lemari transparan setelah
melihat tunjukan tangannya ke salah satu mug.
“Yang
ini?” tanyaku menayakan, ia mengangguk,
“Iya
yang itu, by.”
“Aku
cuma pengen ketemu kamu.” Jawabnya. Aku menyerahkan mug sementara ia tengah
membuat matcha latte miliku lalu mengambil satu sachet minuman lain dari
laci dan menuangkannya ke dalam mug.
“Ah,
masa.” Jawabku tidak percaya. Untunglah ia tidak melihat wajahku yang memerah menahan
malu.
“Beneran,
yaudah kalo gak percaya.” Katanya singkat.
“Percaya,
sih. Hanya saja kek too good to be true, gitu.” Kataku,
“Itu
artinya kamu gak percaya.” Jawabnya sambil cekatan membuat minuman kedua,
cokelat panas kesukaanya.
“Kamu
ada urusan, udah beres?” tanyaku mengalihkan.
“Udah
dibilang aku cuma pengen ketemu kamu.” ia berhenti mengaduk minuman panas,
menatapku.
“Eh..”
aku tidak bisa berkata lagi.
“Aku
kira kamu bercanda.” Gadis itu tidak menjawab, ia hanya menggeleng sambil
menaruh kedua mug diatas nampan tebal berwarna hijau muda.
“Yuk,
kita minum di atas!” gadis itu tersenyum mengajak dengan matanya yang sipit itu
semakin menyipit tertutup senyuman, lucu sekali.
“Yuk.”
Jawabku mengikuti langkah kakinya berjalan lebih dulu meninggalkan dapur dan menyusuri
anak tangga. Entah kemana ia hendak membawaku.
Aku
menyusuri anak tangga, dengan pandanganku menatap punggungnya yang berada
beberapa langkah didepan. Tidak lama kemudian ia berjalan menghampiri dua kursi di dekat jendela lebar tempatnya berdiri
sewaktu aku datang tadi. ia meletakan nampan minuman yang masih mengepulkan uap
itu di atas meja, diantara apitan kursi, lalu duduk di salah satu kursi.
“Aku
baru ngeuh kalo kamu ngubah gaya rambut.” Ungkapnya lalu mengambil gelas
cokelat dan menatap keatas wajahku.
“Aneh,
ya?” tanyaku sambil mengampiri kursi disebelah meja. Gadis itu menggeleng lalu
menyeruput cokelat panas itu perlahan.
“Ngga,
lho. Justru aku suka.”
“Eh,
kirain aneh.” Jawabku sedikit tidak percaya.
“Kamu
udah bosen sama rambut poni lempar itu ya?”
Aku
menggeleng, “Ngga, mau aku ceritain?”
“Mau!”
ia sigap menjawab.
“Jadi
gini..” aku terdiam sejenak, menunggu gadis itu penasaran. benar saja, tidak
lama kemudian ia mulai terlihat kesal.
“Apa,
ih?”
“Sabar,
cinta.” Jawabku singkat.
“Jadi,
suatu hari waktu aku lagi di barber aku bingung tuh mau pangkas gaya apa. Terus
aku buka browser dan nemu di web Tokopaedi ada gaya rambut yang keren.
Jadi pas bagian pangkas, aku kasih lihat aja fotonya ke mamang barber dan dia
bilang ‘Gampang!’ dan gini deh rambut aku jadinya. Udah mirip oppa-oppa korea
kamu belum?” pungkasku.
“Lebih
mirip Cina, sih. Tapi beneran deh aku suka, hehe.” Jawabnya cengingisan.
“Aku
emang punya kharisma kokoh-kokoh yang menarik sih.” Kataku membanggakan diri.
“Iya,
kamu kan Hitachi,” ia balik mengejekku.
“Mulaii..”
Hari
beranjak gelap. Aku bisa melihat matahari mulai tertutup pepohonan yang rimbun
menutupi pinggiran jalan kompleks. Minuman telah tandas dan camilan yang gadis
itu bawa nyaris habis. Kita berdua memang dikenal sebagai penghabis makanan
sejak dulu.
“Kamu
di Bandung sampai kapan, nanti malam pulang?” tanyaku sambil mengambil cookies
terakhir dari wadah kaca. Gadis itu menggeleng.
“Ngga,
aku belum beli tiket. Paling besok aja deh, kan, kamu juga pulang ke
Tasikmalaya besok.”
Aku
tersedak mendengarnya,
“Maksud
mbaknya apa yak?”
“Yakin
bisa pulang?” gadis situ balik bertanya.
“Yakin
lah, Tasik deket.”
“Oh,
gitu?” ia hanya ber-oh,
“Lihat
aja nanti ban motor kamu aku tusuk piso kalo berani pulang!”
“Gak-gak-gak,
kali ini gak akan. Ban motor luar dalem mahal. Please jangan ditusuk
pisau lagi.” Aku mengiba, gadis itu tersenyum puas menyerigai.
“Makanya
jangan pulang atau aku sobek-sobek depan belakang!”
“Iyaaa,
iyaa.” Aku hanya bisa pasrah.
“Nah,
gitu dong. Nurut.” Gadis itu tertawa puas.
Hening.
“Eh,
ngomong-ngomong aku lihat tadi di garasi ada mobil ibu atau ayah kamu deh?” aku
teringat sesuatu, mobil putih tipe SUV yang terparkir di garasi rumahnya
mengingatkanku sesuatu.
“Oh, itu mobil ibu. Ibu gak di rumah kok, cuma
bayar pajak aja sama ganti plat.”
“Eh,
aku kirain. Tapi bukannya bisa online?” tanyaku lagi memastikan. Yang ditanya
hanya mengangkat bahu,
“Gak
tahu, katanya sih sekalian servis rutin di bengkel langganan ayah.”
“Terus
ibu ke kantornya gimana?”
“Kan
ada ojek online, ibu juga jarang pake mobil dan malas juga katanya.”
“Iya
juga, sih.” Kataku mengakhiri pertanyaan.
“Oiya,
kita mau ke mana. Kita punya banyak waktu sampai besok, loh?” tanyaku lagi.
Gadis itu terlihat berpikir,
“Kita
jalan keluar aja yuk, pakai mobil?”
“By,
kamu tau aku gak bisa bawa mobil, kan?” aku menolak usulannya tapi gadis itu malah
menyipitkan mata.
“Emang
aku bilang kamu yang bawa mobil?” tanyanya tajam.
“Ngga,
sih.
“Nah,
kan.”
“Tapi…”
jawabanku tercekat,
“Apa,
hah. Mau bilang aku gak bisa bawa mobil?”
“Ehehehe..”
aku hanya bisa cengengesan.
“Enak
aja!”
“Gaada
komen lagi pokonya.” Jelas, artinya ia tidak mau ada perdebatan lagi dan aku
harus mengalah.
“Yaudah
iyaa. Dasar bawel.” Jawabaku, gadis itu hanya tertawa.
“Oh,
iya.” Aku teringat sesuatu. Gadis itu menoleh kearahku lalu mengangkat dagu, apa?
“Aku
butuh bantuan ibu buat ngambil data penelitian, hehe.” Aku teringat ibu gadis
ini bekerja di kantor perusahaan listrik negara dan memang aku membutuhkan data
itu untuk menyelesaikan tugas akhirku nanti.
“Huh,
gak boleh curang.” Nada gadis itu renyah mengejek, aku menggeleng.
“Kamu
ga tau sih taun lalu aku minta data yang sama dan butuh waktu hampir sebulan
bolak-balik baru dikasih.” Aku mendengus mengingat momen itu, gadis itu tahu
dan dia hanya tertawa.
“Gapapa, anggap aja pengorbanan.” Jawabnya
santai.
“Gak,
cukup sudah.” Kataku singkat.
“Yaudah,
nanti aku bilang ke ibu.” Jawabnya,
“Sekalian
aja nanti kamu yang ambil ya, biar
ketemu ibu juga.” Katanya lagi dan aku hanya tersenyum mendengarnya.
***
Matahari
telah sampai di tempat peristirahatannya. Sore hendak berganti menjadi malam.
Matahari tengah menyerahkan tugasnya menemani bumi menjelajahi semesta yang
luas ini kepada bulan agar bumi tidak merasa kesepian. Seperti aku, yang
kuharap hadirku tidak membuatmu merasa sendiri di bumi ini.
Gadis
itu bolak-balik keluar masuk kamar berganti pakaian beberapa kali sambil
memaksaku menilai setiap pakaian yang ia kenakan. Bawel. Sampai akhirnya ia
kembali menggunakan pakaian yang ia kenakan di awal; celana jeans dan kaos
hitam yang dibalut kemeja kotak-kotak. Ia membiarkannya tak terkancing. Aku
mengenakan setelan yang sama sebenarnya, hanya saja celana dan baju kita
berbeda warna.
Pukul
tujuh malam. Kita keluar dari rumah, gadis itu terampil mengendarai mobil putih milik ibunya. Entahlah kapan ia belajar
mengendarai kendaraan.
“Kamu
harus bisa bawa mobil, by!” ocehnya sambil mengklaskon penjaga perumahannya ketika kita keluar dari gerbang,
seketika disambut jalanan yang ramai.
Ini
malam sabtu, cukup bodoh sebenarnya keluar di malam weekend seperti
sekarang.
“Iya,
bawel.”
“Harus,
ya!” katanya lagi
“Dulu
aku mau belajar kok cuma kan mobilnya keburu dijual.”
“Mau
belajar sekarang?” gadis itu menatapku sekilas,
“Next
time aja, deh.”
“Oiya.”
Aku teringat sesuatu. Aku melepas seat beltku lalu beranjak sedikit ke kursi
pengemudi. Gadis itu terkejut. Aku membungkuk agar tidak menghalangi
pandangannya.
“Eh, ngapain?”
aku
tidak menjawab lalu menarik tali seat belt yang lupa ia pasang dan
memasangkannya.
“Oh,
haha. Aku lupa.”
“Hihih,
iki lipi!” Kataku mengejek.
Jalan
ramai malam itu. Bandung memang selalu ramai pagi ataupun malam. Lebih-lebih
ketika weekend seperti sekarang. Gadis itu banyak bercerita seperti
biasanya. Dia mungkin mempunyai 1001 cerita yang ingin ia ceritakan. Padahal
dalam pesan chat sendiri, gadis itu sudah banyak bercerita juga.
“Plat
B ini jauh-jauh datang dari Jakarta
hanya buat bikin macet jalan aja!” katanya mendengus kesal setelah terjebak
macet.
“By,
mobil kamu platnya B, dan kamu juga dari Jakarta.” Kataku, hening gadis itu
tidak menjawab.
“Nanti
aku mau kamu yang bawa mobil.” Gadis itu nyeletuk random seperti biasa. Mengalihkan
perhatian.
Aku
mengangguk,
“Iya,
nanti aku belajar.” Kataku sambil tersenyum.
“Tapi,
kalo misalkan di masa depan aku ga mampu beli mobil..” suaraku tercekat.
Gadis
itu menatapku perlahan.
“Aku
gak masalah kok.” Ia tersenyum. Senyuman yang amat manis.
“Emang
kamu pernah denger aku ngeluh diajak jalan naik motor antik kamu?” ia balik
bertanya.
Aku
menggeleng,
“Ngga pernah sekalipun malah. Harusnya aku
lebih berusaha supaya bisa provide kamu yang lebih.”
Gadis
itu menggeleng.
“Aku
tau kamu inscure, tapi selama ini aku nyaman sama kamu kok. It
doesn’t matter, lagi pula masa depan kita masih panjang, kan. Aku tahu
suatu hari kamu bisa kok.”
“Tapi
tetap, aku mau berusaha. Supaya kamu ga menyesal kelak.”
“Dan
aku akan dukung kamu.” Gadis itu tersenyum lagi.
Lampu
lalu lintas berubah hijau. Perlahan mobilnya beranjak melaju menuju tempat
makan favorit kita. Rumah makan yang tidak akan pernah aku tuliskan disini
namanya.
“Kamu
yang biasa?” seperti biasa, gadis itu segera pergi berjalan ke arah pelayan
tanpa menunggu jawabanku.
“Dasar
pembaca pikiran!” celotehku.
Malam
terus beranjak. Kita menikmati makan malam ini dengan lahap. Sesekali aku
mencoba makanan yang dia pesan dan ia melakukan hal yang sama. Meskipun tengah
makan, ia masih saja bercerita tentang teman dan kuliah di kampusnya.
Menyenangkan
rasanya bisa hidup dan menikmati makan malam ini bersamanya.
Makan
malam telah tandas. Aku tidak punya tujuan yang hendak dituju, pun gadis itu
tidak ingin pergi ke tempat lain karena macet membuatnya kesal saat berangkat
tadi.
“Udah
aku bilang naik motor aja, bebal huh.”
“Gak
gak gak, kali ini biarkan aku yang bawa kamu!”
“Dasar
gak mau kalah, huu!” Ejeku semakin menjadi.
“Ngaca,
pak!” Jawabnya kesal.
“Eh,
iya!” gadis itu mendadak berseru, ia sepertinya teringat sesuatu.
“Apa?”
tanyaku tanpa menoleh. Aku tengah menutup jendela ketika gadis itu berseru.
“Mantan
kamu kan udah kuliah di Jatinangor bukan? Jurusan Kedokteran kalo gak salah,
kita ke sana yuk?”
“Heh,
siapa?”
“Heleh,
pura-pura lupa lagi!”
“Gak
tahu.” jawabku berusaha menghentikan obrolannya yang semakin random.
“Ihh
mau yaa, ini kita tinggal lurus aja ke Cibiru terus nyampe deh Jatinangor. Ya
ya ya mau ya?” gadis itu mengiba.
“Gak,
aku tahu Cibiru jam segini macet banget dari bunderan sampe keluar dari Bandung
kota. Lagian mau apa sih?”
“Mau
beli minuman kesukaan kamu itu doang, kok, mau ya?”
“Yang
bener aja, udah ayo pulang.” Kali ini aku yang mengiba, tapi nampaknya gadis
itu semakin bersemangat mengerjaiku.
“Eh,
lupa. Kan aku yang bawa mobil, haha.”
“Kita
ke Jatinangor mau gak mau!” jawabnya semakin menyebalkan, ditambah tawa yang
rasanya mengejek.
Malam
itu ia terus melajukan kendaraan putih keluaran pabrik Jepang ini tanpa menghiraukan
mohonku. Benar saja, belum sempat keluar dari Bandung Kota, macet parah
menyambut.
“Udah
aku bilang, ini weekend. Pasti macet.” Kataku ketus, gadis itu hanya
menoleh sekilas,
“biarin.”
Dan
syukurlah dia menyerah.
Pukul
9 malam gadis itu putar balik di suatu pom bensin menuju rumahnya yang berada
di pinggiran kota. Hanya membutuhkan waktu sedikit lebih cepat karena kemacetan
tidak terlalu parah dari arah balik menuju kota. Karenannya gadis itu
menunjukkan skill mengemudinya dengan menaikan sedikit kecepatan yang
tentu saja membuatku ketakutan.
“Pelan
aja, by. Aku belum pengen masuk detik dot kom karena tewas nabrak pantat truk.”
“Hahah,
kan mati barengan, by.”
“Gak
gitu konsepnya!”
***
Setengah
jam berlalu.
Mobil
telah masuk kedalam garasi, tidak lama kemudian ia keluar selagi aku kembali
sehabis menutup gerbang.
“Tetangga
kamu gak masalah ada cowok asing main di rumah cewek malam-malam begini?”
tanyaku sembari berjalan. Gadis itu menekan tombol kunci mobil dan menoleh
kearahku.
“Tetangga,
makhluk macam apa itu?”
Seketika
aku tersadar.
“Komplek
perumahan orang kaya emang beda.”
“Haha,
makannya pindah kesini, by.”
“Iya
nanti ku bawa terbang rumahku.” Jawabku sambil memeragakan.
Aku
membantu gadis itu menutup pintu lipat garasi. Tidak lama kemudian ia berjalan
masuk mendahuluiku untuk membuka kunci pintu dapur.
“Kayanya
kamu jarang pake pintu depan, ya?”
“Iya,
aku lebih suka lewat dapur soalnya bisa langsung naik ke atas.”
“Oiya,
tangga kamu di belakang.”
“Mas
Oci masih ada?” tanya ku random.
“Mau liat?” gadis itu meliriku perlahan
sembari membuka pintu. Seketika hawa dingin dari dapur menguar menerpa tubuh
kita berdua.
“Eh..”
“Sekarang
bukan Cuma Mas Oci tau.” Gadis itu terdiam.
“Nice
info gais. Udah jangan diterusin atau aku pulang, hehe.”
“Hehe,
tau gak piso dapur aku buatan Jepang, tajem banget loh.”
“Hehe..”
aku hanya cengengesan.
Gadis
itu berjalan menuju lemari pendingin, mengambil minum pikirku. Tidak lama ia
menoleh kearaku dengan tatapan menyelidik seolah mencari sesuatu.
“Latte
dingin, minuman yang biasa kamu beli, nih?” tebaknya mengagetkan.
Aku
hanya memutar bola mata.
“Haha
benar. Aku beli tadi di Alfa stasiun.” Gadis itu tertawa puas.
“Kita
bakalan begadang ini, mah!” kataku menerima kaleng latte itu.
Malam
semakin larut. Jam digital di pinggir foto masa kecilnya menunjukan pukul sebelas
lebih. Tapi ada enggan yang menyelubungi kita untuk terlelap tidur. Pertemuan
kita tidak sesering sewaktu kita sekolah dulu. Aku bahkan bisa menghitung
dengan jari berapa kali kita bertemu dalam setahun. Terakhir hitunganku adalah
tiga kali dengan hari ini di tahun ini.
“Kamu
akhir tahun ini mau pulang ke Kuningan?” tanyaku sedikit berteriak. Gadis itu
tengah berada di dalam kamarnya, hendak berganti pakaian.
Sunyi,
gadis itu tidak menjawab. Tak lama kemudian suara pintu terbuka pelan. Gadis
itu keluar menggunakan baju tidur biru dengan motif doraemon kesukaanya. Ia
mengikat rambutnya kebelakang membiarkan poninya menutupi dahi.
Gadis
itu selalu berhasil membuatku terpaku kagum.
“Heh,
malah ngiler.” Ia mendekati kursi di dekat jendela tempatku duduk.
“Hehe,
aku lagi lihat bidadari soalnya.”
“Dih,
ngga jelas!”
“Kamu
nanya apa tadi?” gadis itu balik bertanya.
“Kamu
bakalan pulang ke Kuningan?”
Hening
menguasai ruangan. Ia menatapku.
“Rumah
aku kan udah terjual…”
“Eh,
aku gak salah lihat ternyata.”
“Maaf,
aku gak kasih tahu kamu.”
“Iya,
gapapa kok.”
“Jadi,
kamu gak akan kembali lagi ke Kuningan?”
Ia
menggeleng, “Ngga.”
“Aku
bakalan pulang ke Singkawang setelah lulus.” Katanya.
“Sampai
kapan kamu di sana?”
“Mungkin
selamanya…”
Aku
tercekat. Malam semakin sunyi, selain itu, aku merasakan jarak mulai membentang
diantara kita.
“Ini tujuan aku ngajak ketemu kamu.
Untuk ngasih tahu hal itu.”
“Ini bukan perpisahan, kan?”
tanyaku.
Ia menggeleng, “Semoga.”
Suara
acara televisi mengisi keheningan. Gadis itu menonton tv dengan tatapan kosong.
Entahlah apa yang ada di dalam pikirannya.
“Kamu masih memendam rasa ya sama
mantan kamu itu?”
Gadis
itu memecahkan keheningan dengan pertanyaan random seperti bisa. Namun, kali
ini aga menyebalkan.
“Maksudnya?”
“Kamu masih suka kan sama dia?”
“Ngga.” Kataku singkat
“Buat apa ngebohong?” jawabnya.
“Kenapa kita bahas hal ini lagi sih,
by?”
“Karena ternyata kamu belum
sepenuhnya move-on.”
“Tau
dari mana coba, huu!” kataku lagi setengah mengejek.
“Aku
ga perlu nanya deh kalo itu.”
“Mau
tau ga, terkadang aku kesal ketika kamu mulai menebak-nebak pikiran orang.” aku
belum selesai berbicara, ia memotongku.
“Karena
tebakan aku benar?” katanya.
“Karena
kamu ngga selamanya benar.”
“Sekali
ini aja jujur sama aku. Jangan bikin aku menebak-nebak terus.”
“Capek
tau punya ability gini.” Tambahnya.
Aku
terdiam, benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa.
“Jawab,
by.”
“Iya,
tapi juga kamu salah.”
“Aku
memang belum sepenuhnya move-on. Tapi bukan berarti aku masih berharap
atau ingin kembali.”
“Tetep
aja.”
“Itu
beda, by. Aku udah ngga ada keinginan apa pun untuk kembali.”
“Kenapa,
bukannya cinta kamu udah abis di dia?”
“Was,
people changes. So do I.” jawabku.
“Kamu
bakalan pindah, by. Jangan bikin pertemuan terakhir kita kayak begini.”
“Iya.”
Ucapnya singkat.
(cerita
ini belum bisa author teruskan, maaf)
Komentar
Posting Komentar