Yang Pergi dan Tak Kembali: Bagian 1 - Yudea

 

Yudea, Abad Pertama.

Lucius tidak pernah diberi pilihan untuk berada di sini. Lucius hanyalah bidak yang digerakkan oleh perintah sang kaisar yang tak pernah dilihatnya. Jauh dari rumah, jauh dari segala yang pernah ia kenal. Di Yudea, bahkan tanah yang dia injakmembencinya. Bukan hanya karena terik matahari yang membakar kulit atau pasir yang sesekali menyesakkan napas, tetapi karena tatapan penduduknya. Mereka melihat Lucius seolah ia adalah kecoak menjijikan yang tak seharusnya ada di sana.

Di barak, para prajurit ditempa untuk menjadi mesin perang; jangan berpikir, jangan ragu, dan yang terpenting jangan peduli. Karena sekali kau membiarkan rasa empati menyelinap, beban di pundakmu akan terasa sepuluh kali lebih berat.

Di usia sembilan belas tahun, Lucius belajar dengan cepat. Bukan untuk menjadi pahlawan, melainkan untuk bertahan hidup. Hari-harinya adalah siklus membosankan antara patroli, jaga malam, dan keheningan yang mencekam. Sesekali ada keributan kecil; sedikit hiburan, namun lebih banyak kematian. Lama-kelamaan, darah dan jeritan hanya sekadar latar belakang biasa.

“Semua ini hanya untuk beberapa ratus keping denarii1 pertahun.”

Lalu suatu hari yang tak terduga tiba.

"Lucius! Ikut regu eksekusi!" bentak Kenturion Antonio.

Lucius tidak bertanya, ia segera bergerak. Tidak ada ruang untuk rasa penasaran dalam disiplin Romawi. Baginya, eksekusi di tanah asing seperti ini hanyalah rutinitas pagi yang tidak menyenangkan.

Ada tiga terhukum hari itu. Dua di antaranya meronta, memaki, dan melawan dengan sisa tenaga yang mereka masih miliki.

Namun, orang yang ketiga berbeda. Ia diam, tidak melawan, tenang.

Lucius biasanya tidak peduli pada wajah-wajah yang akan dieksekusi. Baginya, wajah mereka semua terlihat sama.

“Para kriminal ini terlihat sama”, kata Gaius.

Namun, ketika ia berada cukup dekat untuk memegang lengan orang itu, ia tertegun. Di mata pria itu, tidak ada kilatan dendam atau rona ketakutan. Hanya ada ketenangan yang ganjil di tengah hiruk-pikuk eksekusi.

Lucius membenci tatapan itu. Baginya, maut seharusnya disambut dengan kengerian.

Tangannya bertugas mencengkeram lengan pria itu. Temannya yang lain mengangkat palu tinggi. Biasanya, pada detik ini, terhukum akan menarik tangan atau berteriak histeris. Namun, tangan itu tetap tenang.

TAK

Logam paku menembus daging dan tulang, menghantam kayu. Lucius segera membuang muka, tak sanggup menatap mata itu lebih lama lagi.

Eksekusi usai. Langit mulai meredup dengan cara yang aneh; angin berhembus membawa firasat buruk. Namun, bukan alam yang mengganggu pikiran Lucius. Tetapi karena ia mendengar pria itu berbisik, sangat lirih di akhir napasnya yang tersengal,

"Ampuni mereka..." katanya dalam bahasa Aramic

Lucius mengepalkan tangan. Dadanya sesak oleh ketidakmengertian,

 "Orang macam apa ini?" gerutunya dalam hati, mencoba mengusir rasa tidak nyaman yang sudah mengakar.

Malam itu, bayangan eksekusi tadi pagi menganggu tidurnya. Kalimat itu muncul algi seperti hantu yang menolak pergi.

Ampuni mereka. Kalimat itu terngiang-ngiang.

Ia memaksa matanya terpejam, tahu bahwa patroli esok hari akan menguras tenaga.

Beberapa hari kemudian, sebuah kerusuhan pecah di pasar. Lucius berdiri berhadapan dengan seorang pria lokal yang penuh emosi. Refleksnya sebagai prajurit adalah memukulnya dengan pentungan atau langsung menghunus pedang. Tetapi, tangan Lucius tertahan di gagang senjatanya. Ia ragu. Ada sesuatu yang berubah dalam dirinya, sebuah rantai kepatuhan buta kini telah berubah menjadi sedikit pertimbangan.

Beberapa minggu berlalu hingga tiba hari yang nahas.

Dalam sebuah penyergapan mendadak, Lucius kalah cepat. Bilah pedang berkarat musuh menembus zirah, merobek diafragmanya, menusuk hingga ke perut.

Rasa perih yang dingin menjalar seketika.

Lucius ambruk. Langit di atasnya memucat. Tanah Yudea yang panas kini terasa dingin di pipinya. Lorica segmentata2 kebanggaannya itu kini terasa seperti peti yang menghimpit sisa napasnya.

Lucius terlentang, bermandikan darahnya sendiri, ia menatap cakrawala yang kian buram dan menggelap. Anehnya, tidak ada amarah dalam hatinya. Tidak juga ada rasa menyesal. Hanya satu bayangan yang muncul di benaknya: sepasang mata dari hari eksekusi itu. Mata yang melihatnya bukan sebagai musuh, melainkan sebagai manusia yang butuh diampuni.

"Jadi, begini rasanya mati," bisik Lucius pelan. Di sekelilingnya, suara dentingan pedang dan pertempuran mulai menjauh saat pemberontak dipukul mundur.

Napasnya terhenti. Kemenangan Romawi pada hari itu tak lagi berarti baginya.

Di tanah yang bukan miliknya, jauh dari gang-gang sempit kota Roma tempat ia dilahirkan, Lucius terkubur sebagai penjajah asing. Sejarah tidak pernah mencatat namanya. Tidak ada monumen peringatan untuknya. Hanya Gaius, temannya yang setia, yang sesekali datang membawa hening ke bawah pohon zaitun tempat Lucius beristirahat dalam damai yang tak pernah ia sangka akan ia temukan di tanah musuh.

 

1.       Denarii: koin perak romawi

2.       Lorica Segmentata: baju besi prajurit romawi.

Komentar