Siang itu, hujan baru reda.
Jalanan masih berkilau oleh sisa air hujan, menyisakan genangan dan pantulan langit yang belum sepenuhnya biru. Orang-orang berlalu dengan langkah cepat, payung-payung sudah ditutup, tetapi aku diam sejenak di tepi trotoar, karena di antara keramaian itu, ada satu wajah yang selalu hidup di dalam ingatan.
Kamu masih sama. Atau mungkin, aku yang masih membaca dirimu dengan cara lama. Parfum yang sama, hal sederhana, tapi cukup untuk memecah lima tahun jarak yang pernah kusebut sebut sebagai kenangan.
Kita berjalan tanpa arah. Tidak menuju mana pun, tapi juga aku tidak ingin segera berhenti. Kamu tidak berubah, langkahmu masih punya ritme yang kukenal. Kita bicara tentang hal-hal remeh, lalu tentang masa lalu, dan akhirnya di dalam kedai itu, kamu tertawa pelan, dan aku baru sadar; aku bukan rindu padamu yang duduk di hadapanku, tapi pada dirimu yang tertinggal di tahun itu dan pada diriku yang dulu masih percaya semuanya bisa diulang.
Lalu malamnya aku bermimpi, mimpi di mana aku mati dan melihat tubuhku sendiri jatuh, lalu menjadi sesuatu yang melayang di antara dunia dan kehampaan. Dalam mimpi itu juga aku mendatangimu. Melihatmu tersenyum. Tanpa menyadari kehadiranku.
Mungkin mimpi itu bukan tentang mati, tapi tentang usai. Tentang menerima bahwa beberapa hal tidak harus dan mungkin tidak harus kembali lagi, dan mungkin juga itu adalah yang terbaik. Sekarang, aku ingin mengingat kamu begini: di tengah keramaian, setelah hujan, dengan harum yang sama, serta hati yang akhirnya bertemu.
Komentar
Posting Komentar