Aku lahir dari debu bintang. Dari unsur-unsur yang pernah membara di jantung supernova. Aku adalah besi, karbon, silikon, oksigen, dan semuanya bersatu lagi di satu titik kecil di ruang yang teramat luas.
Aku bukanlah suatu keajaiban, aku adalah kelanjutan dari hal yang sama yang menyalakan bintang dan menghadirkan kehidupan.
Aku berasal dari laut purba yang bergolak, dari tabrakan cahaya kosmik yang mengacak rantai kimia, yang kemudian melahirkan napas bernama kehidupan.
Dan entah bagaimana, miliaran tahun kemudian, kehidupan itu menatap langit dan mulai berpikir tentang dirinya sendiri.
"Dari situlah aku berasal!" Kataku dulu.
Kesadaran itu muncul dari materi yang dulu tak sadar, menatap langit yang sama yang melahirkannya dan bertanya:
“Mengapa aku ada?”
Ketika agama datang, aku mendengarnya dengan hormat. Aku tahu agama lahir dari rasa kagum yang sama, tentang rasa tunduk manusia pada sesuatu yang tak bisa dijelaskan. Tapi, keyakinanku lebih tua dari nama-nama yang kemudian diciptakan. Lebih tua dari kitab, dan lebih tua dari doa.
Aku tidak menolak agama, tapi aku juga tidak terikat padanya. Karena yang aku yakini tidak berbicara lewat suara, tidak menuntut penyembahan, dan tidak membutuhkan pengakuan.
Aku tidak menyembah, karena Dia yang menciptakan segala tidak butuh itu. Aku hanya mengakui bahwa Ia ada bukan sebagai sosok pria serba putih di atas awan, tapi sebagai hukum yang membuat segalanya bekerja, yang membuat bintang berputar, yang mengizinkan waktu mengalir, dan yang membawa hidup kembali dari kematian.
Bagiku, Sang Pencipta adalah keseimbangan itu sendiri. Keteraturan yang diam, netral tapi indah.
Ia tidak menjanjikan apa pun, dan justru di situlah kedamaian berada karena semua yang ada telah diberi: hidup, kesadaran, dan kesempatan untuk mengagumi langit tempat aku berasal.
Dan ketika waktuku selesai, aku tahu aku tidak akan pergi ke mana pun. Tubuhku akan kembali ke tanah, unsurku ke udara, energi hidupku kembali menyatu dengan arus besar semesta yang sama yang dulu melahirkanku. Aku akan larut ke dalam keheningan yang lebih besar dariku. Aku tidak akan lenyap, hanya kembali. Menjadi sesuatu yang lain, menjadi apa pun menurut kehendaknya.
Aku tidak tunduk dalam doa, tapi aku tenang dalam pengakuan. Karena aku tahu bahwa keberadaanku sendiri sudah merupakan bentuk ibadah yang paling jujur.
Dan ketika aku kembali nanti, itu bukan akhir.
Namun kepulangan kepada hukum yang kekal,
kepada Sang Pencipta yang tak berwujud, kepada semesta yang menulis diriku dalam bintang-bintang, dan membiarkanku menyadari keindahan-Nya, sekali, dengan penuh kesadaran, sebelum aku larut kembali menjadi bagian dari-Nya.
Komentar
Posting Komentar