Puisi itu dengan gamblang mengatakan jika petunjuk
yang mereka harus temukan berada di sebelah timur. Di suatu kota. Tetapi, bukannya
petunjuk yang mereka temukan, malah
misteri lain yang membuat kepala Tian nyaris meledak.
“Semuanya seperti...” ia bergumam, lalu berhenti
sejenak.
“Semakin tidak masuk akal.” Ucapnya
Alina diam, melirik sekilas, lalu kembali menatap
jauh ke depan. Pikirannya juga dipenuhi oleh pertanyaan yang sama.
“Aku semakin bingung. Apa yang harus aku lakukan
sekarang?” Tian bergumam, setengah berbisik.
“Kamu nggak harus memikirkannya sendiri, Tian.” Alina
mendengar gumaman pemuda itu. Tian melirik sebentar,
“Aku tidak bisa hanya pasrah, Na.” Tian menatap
wajah Alina.
“Ada petunjuk lain di puisi itu, kan?” ujar Alina
mengingatkan..
“Selain sosok asing, puisi itu juga berbicara
tentang tempat, sih, Na.” Tian mencoba mengingat bait puisi itu lagi. Ia ingat
betul ada frasa ‘paku’ di salah satu baitnya.
“Iya, puisi itu membicarakan tentang pasak.”
“Tapi, pasak apa?”
“Gunung, Tian. Pasak yang dimaksud itu gunung.”
“Aku tahu, Na.” Tian terdiam sebentar, ia memandangi
gelap langit malam dari atas gedung acak yang mereka datangi setelah pergi dari
adventain.
“Tapi, gunung apa.” Lanjutnya.
“Rasanya, itu inti dari puisinya, kan?” tanya Tian
lagi.
Alina yang biasanya selalu mempunyai jawaban pun,
kini ikut terdiam. Ia menggeleng pelan. Rambutnya yang pendek sebahu bergerak
mengikuti hembusan angin yang terasa hangat di kulit pucatnya.
Suara hembusan angin mengisi kekosongan di antara
mereka. Tian memandangi jalanan di bawah. Jalan lebar itu masih dipenuhi
kendaraan. Meskipun waktu telah menunjukkan pukul 2 dini hari. Mereka belum
pulang ke rumah, pertemuan dengan Pak Herr menyisakan perasaan yang mengganjal.
“Kamu pernah merasa aneh nggak, Tian.” Ucap Alina
memecahkan kekosongan.
“Apa yang aneh, Na?”
Alina kini melihat Tian, matanya yang cerah diterpa
cahaya samar dari bawah mereka.
Ia tersenyum seperti mendapat jawaban.
“Tentang mengapa Ibu kamu membangun rumah di dekat
gunung itu...” Alina terdiam sebentar,
“Sama seperti ayahku, yang juga melakukan hal yang
sama.”
“Aku tidak pernah kepikiran, sih, Na.” Tian
berpikir.
“Tapi, bukankah memang kaum kita menyukai tempat
tinggi, ya?”
“Mungkin,” Alina mengangkat kedua bahunya,
“Aku tidak tahu banyak tentang ‘kita’.”
“Aku rasa pasti ada alasan yang kuat mengapa dua Elyjisierlijen
secara random membangun rumah di tempat yang nyaris berdekatan.” Kata Alina.
Ia memalingkan wajahnya ke angkasa. Bulan tertutup
sempurna oleh awan dan polusi yang menggantung.
“Iya juga, sih, Na..”
“Terlalu aneh untuk dikatakan kebetulan.”
“Nah, kan!” Alina berseru sembari menatap wajah Tian.
“Menurutmu, ada apa di atas sana?” ucap Alina lagi.
Tian mendongakkan kepalanya, menatap arah yang sama
dengan Alina.
“Entahlah, yang ku lihat di sini hanyalah kegelapan,
Na.”
“Karena kita belum mencari tahu, makanya semua
terlihat gelap.” jawab Alina cepat. Ia mengerti maksud jawaban Tian.
“Gunung itu juga agak aneh sebenarnya.” Lanjutnya.
Tian menatap Alina kini,
“Maksudnya?”
“Kamu nggak pernah merasakannya, ya?” tanya Alina,
mereka kini saling tatap.
Tian menggeleng pelan. Tidak tahu.
“Aku menjadikan gunung itu sebagai tempat berlatih
beberapa tahun yang lalu.”
“Kamu tahu,” Alina mulai bercerita,
“Ada hal aneh yang kurasakan kali pertama mendakinya...”
katanya, alina terdiam.
“Kurasa, ada sesuatu yang bersembunyi di balik hutan
lebatnya.”
“Seperti sesuatu memanggilku.” Tatapan Alina kosong,
pikirannya terbang melayang menyusuri memori beberapa tahun yang lalu.
“Tapi, bukannya gunung itu banyak didaki, Na?” tanya
Tian.
Memang, gunung tertinggi di provinsi itu ramai
didaki oleh banyak petualang karena puncaknya yang eksotis dan treknya yang
menantang. Keindahan dan kengerian dalam satu tempat.
“Iya, memang.” Jawab Alina memyetujui,
“Tapi ada satu sisi yang tidak pernah bisa ditaklukan.”
Alina tersenyum sebentar sebelum matanya menatap Tian perlahan.
“Sisi yang bahkan ranger gunung juga nggak
bisa tembus.
“Dan itu bukan kali pertama aku merasakannya.”
“Tempat kita latihan?” tanya Tian pelan. Alina
menggeleng,
“Bukan, tempat kita berlatih jauh di bawah.”
“Dan perasaan aneh itu berasal dari sisi belakang
gunung.” Alina menerka.
“Sisi yang tidak pernah dijamah pendaki lain
sebelumnya...”
Tian terdiam, ia nampak berpikir,
“Lantas, bagaimana kamu tahu adanya tempat itu, Na?”
“Seperti sesuatu berusaha menarik aku ke sana waktu
itu.”
“Kapan dan bagaiman bisa?”
“Kamu tahu, Tian. Gunung itu sangat memikat.” Alina
tidak langsung menjawab.
“Kali pertama aku dan ayah pindah ke desa. Aku sudah
berencana untuk mendaki gunung itu.” Gadis itu mulai bercerita.
“Aku pergi sendiri, awalnya. Tapi ada aturan minimal
empat orang untuk bbisa mendaki, untungnya di gerbang pemberangkatan, aku
bertemu dengan sekelompok orang yang juga hendak mendaki. Mereka juga
kekurangan orang.” Alina mengingat momen beberapa tahun itu.
“Seperti dugaanku, mereka mengajakku mendaki
bersama.”
“Kita sampai di pos keempat pada malam hari.”
“Orang-orang yang kutemui itu hendak mendirikan
tenda, aku membantu mereka tentu saja. Aku tahu mengapa mereka mengajakku, hanya
ada satu orang perempuan dalam rombongan itu. Jadi kurasa akan lebih aman jika
ada perempuan lain untuk menemaninya.”
“Di sana, pada malam itu,, aku merasa sesuatu
seperti memanggilku dari kejauhan.” Alina terdiam, tatapannya kembali kosong.
“Sesuatu yang terasa seperti... ‘rumah’.” Kata Alina.
“Perasaan aneh itu terus menggangguku, terlebih pada
saat kita sedang membuat makan malam. Obrolan rombongan itu terasa seperti terganggu
ssuatu yang aneh.”
“Aneh seperti apa, Na?” tanya Tian penasaran.
“Suara mereka seperti ‘terganggu’.”
“Hah?” Tian hanya bisa ber-hah seperti orang
kepedasan.
“Iya, aku bisa melihat mulut mereka berceloteh,
tetapi suara mereka seperti bergema ganda dan bertabrakan.” Alina menjelaskan.
“Aku mengira itu kebetulan, atau aku hanya sedang
kelelahan.”
“Kamu nggak mungkin lelah,” ucap Tian menyela.
“Nah, kan!” Alina berseru.
“Perasaan aneh itu terus terasa sepanjang malam,
membuatku nggak bisa tidur.”
“Malam itu, aku keluar dari tenda, beberapa orang
masih asyik mengobrol di depan tenda. Mereka mengajakku bergabung, tetapi, hal
yang sama terjadi lagi. Ucapan mereka seperti bertabrakan.”
“Ada sesuatu yang aneh, aku yakin ada sesuatu yang
aneh di tempat itu.” Ujar Alina.
“Memangnya, kamu nggak pernah mengalami hal semacam
itu sebelumnya?” tanya Tian.
“Selama ribuan tahun, nggak!” Alina menggeleng.
“Tapi, kita berlatih di tempat yang sama, kan?
Apakah hal yang sama masih terjadi?”
“Ngga, kita berlatih di sisi lain, Tian.” Tian
terdiam. Ia lupa.
Jalanan lenggang di bawah sana, kehidupan mulai
berkurang sebelum nanti subuh akan kembali ramai.
“Ayo kita selidiki, Na!” Tian mengajak.
“Siapa tahu, itu adalah gunung yang puisi itu
maksud.” Lanjutnya.
Alina mengangguk, ia mengiyakan ajakan Tian.
“Mungkin saja, sih.”
Langit malam semakin pekat. Tian melihat sekilas jam
tangan di lengannya. Pukul 3 pagi, sebentar lagi subuh.
“Kapan kita akan ke sana, Na?” tanya Tian. Alina
mengeluarkan ponsel dari saku baju seragamnya, ia melihat kalender.
“Libur sekolah masih beberapa minggu, sih.” Alina
menatap layar ponselnya, “Kita berangkat nanti ketika libur.” Kata Alina
memutuskan.
“Noted, aku akan mempersiapkan hal yang perlu dibawa
nanti.”
“Aku akan bantu kamu nanti, Tian.” Alina tersenyum.
“Eh, bagaimana dengan Echa dan Alvin, Na?”
Alina terdiam sebentar, menimbang-nimbang.
“Aku sebenarnya tidak ingin ada orang lain yang
ikut...” katanya.
“Tapi mereka secara nggak langsung sudah terlibat,
sih...” Alina agak terpaksa.
“Karena Si Kelam...” Tian terdiam kemudian. Nama itu
selalu berhasil membuatnya merinding.
“Datangnya Si Kelam itu tidak pernah karena salah
kamu, Tian.” Alina menyentuh punggung tangan Tian, sekilas, tetapi suatu energi
hangat seolah mengalir ke seluruh tubuhnya sesaat tangan mereka bersentuhan.
“Ajak mereka, ya.” Alina tersenyum.
“Baiklah, Na.” Tian mengangguk mengiyakan.
***
Libur sekolah sudah di depan mata. Ujian semester
pertama selesai hari ini. Tian masih duduk di kursinya setelah ujian terakhir
selesai. Murid lain bergegas keluar dari kelas. Alina berdiri dari mejanya di
depan. Karena selama ujian, meja mereka dipisah dan duduk sendiri-sendiri.
Alina berjalan menghampiri Tian di mejanya. Tian sedang
sibuk menyusun daftar barang yang hendak mereka bawa.
“Main gear” tulis Tian, ia
mengambil penggaris tanpa menghiraukan kehadiran Alina, lalu membuat tabel.
Mata cokelatnya teliti meniti garis.
“Aku akan butuh beberapa backpack ukuran
besar, tenda, dan alat masak.” Tian bicara sendiri. Alina yang sedang berdiri
di sampingnya masih tidak dihiraukan. Ia tersenyum melihat pemuda itu serius
menulis.
“Backpack aku butuh empat buah, tenda ukuran
besar untuk empat orang dan satu tenda ukuran sedang untuk dua orang, jadi aku
bawa dua tenda. Alat masak portabel satu, beberapa canister gas untuk
memasak...” Tian menulis.
“Kamera jangan lupa, sleeping bag, baju
ganti, solar panel portable, filter air..”
“Ah, apa lagi, ya?”
“Haruskah aku membawa pisau? Atau kapak sekalian?” Tian
bicara sendiri lagi.
“Air, Tian.” Alina akhirnya bicara.
Tian tersentak kaget, ia tidak menyadari Alina telah
berdiri sepanjang ia mencatat.
“Astaga, Na. Sejak kapan kamu berdiri di sebelahku?”
Tian menoleh, ia kaget dengan mata melotot dan mulut sedikit mengangga.
“Sejak kamu membuat garis itu.” Jawabnya santai.
Alina menarik kursi kosong dari sebelah meja, lalu
duduk di samping pemuda itu.
“Sepertinya list ini belum selesai, ya?”
tanya Alina menunjuk notepad Tian.
Tian mengangguk,
“Iya, Na, aku sedang memikirkan apa saja yang
seharusnya aku bawa.”
“Peralatan utama sepertinya sudah kamu tulis..” jari
Alina mengurut tiap-tiap peralatan yang sudah Tian tulis.
“Bawa beberapa botol air, itu pasti. Kompas dan bawa
GPS lebih baik, sih.” Jawab Alina, ia ikut membantu.
“Aku sudah punya GPS dan kompas portabel, selalu aku
bawa.” Tian mengangkat tangan kanannya, menunjukkan jam tangan. Alina memutar
bola matanya,
“Iya, deh.” Ia tertawa.
“Bercanda, Na.” Ucap Tian cengengesan.
“Aku masukkan kompas dan GPS juga, ya.” Katanya.
“Bawa senter, baterai cadangan, emergency blanket
untuk jaga-jaga, first aid kit, bawa lightweight harness kalau
ada sekalian dengan tali dan karabiner juga, water purification kit itu wajib,”
Alina menyebutkan peralatan satu per satu,
“Eh kamu sudah tulis water filter, deh.” Alina
meralat.
“Alat makan dan makanan,” Alina menambahkan,
“Bawa makanan yang banyak!” Alina berseru antusias
kali ini. Tian tertawa mendengar gadis itu berseru renyah.
“Tenang,” ujar Tian santai sambil mengipaskan tangan
ke udara.
“Kita serahkan bagian makanan kepada Echa, Na.” katanya,
ia mengingat Echa, temannya itu hobi sekali makan.
“Oh, iya...” Tian teringat sesuatu,
“Untuk apa kita membawa semua ini, Na?”, “Bukankah
kita bisa saja tinggal teleportasi dan pulang?”
“Kita ngga boleh terus-terusan berteleportasi,
Tian.” Alina menggeleng.
“Kenapa?”
“Teleportasi butuh energi yang besar, kamu bakalan lebih
cepat kelelahan, tahu!”
“Dan kurasa kita nggak bisa menggandeng manusia
biasa...” kata Alina mengantung.
“Kenapa?”
“Tubuh mereka kurasa nggak pernah didesain untuk
perpindahan mendadak...” Alina terdiam lagi. Matanya terlihat kosong, seperti
ia sedang mengelana kembali ke masa lalu, entah momen seperti apa.
“Pasti ada sesuatu yang terjadi sampai kamu bisa
bilang begitu, jadi yaudah kita prepare sebaik mungkin.” Kata Tian
pasrah.
“Echa akan datang sebentar lagi kayaknya, dia ke
kantin bareng sama Alvin tadi.” Kata Tian lagi mengalihkan.
“Baiklah...” Alina seperti tidak tahu harus menjawab
apa.
“Okay, semuanya sudah beres!” Tian akhirnya berseru.
Ia memberikan daftar barang bawaan itu kepada Alina supaya gadis itu bisa
melihatnya. Padahal, Alina sudah tahu sejak tadi, ia ikut membaca. Tetapi tetap
saja gadis itu menerimanya dengan senang hati.
“Aku rasa sudah semua, deh?” Alina kembali memberikan
kertas itu kepada Tian.
“Ah, syukurlah.” Tian merentangkan kedua tangan ke
udara,
“Aku akan ke AdvenTain malam ini untuk
mengambil semua yang kita butuhkan...” Tian belum sempat menyelesaikan
ucapannya ketika dari ambang pintu, Echa dan Alvin tiba-tiba menyelonong masuk.
Echa datang dengan membawa satu kantong plastik penuh makanan.
Tian dan Alina serempak menoleh ke pintu,
“Tuh, kan, Na. Kita nggak usah khawatir soal
makanan.” Ucap Tian, Alina tersenyum mengiyakan.
“Wah, lagi pada ngomongin apa ini?” Echa seketika
bertanya setelah ia menaruh kantong plastik itu di atas meja, di sebelah
catatan Tian.
Alvin melihat sekilas catatan itu, dengan sigap ia
mengambil dan membacanya,
“Main gear?” Alvin membaca setengah
bergumam,
“Untuk apa semua ini?” tanyanya. Matanya membaca list
yang Tian tulis.
“Untuk mencari tahu tujuan dari pesan rahasia itu.”
Jawab Tian singkat, ia menyenderkan tubuhnya ke kursi sementara kedua temannya
menarik kursi lain, ikut bergabung.
Mereka duduk melingkari meja.
“Oh, iya.” Alvin mengangguk paham.
“Tapi hampir semua ini peralatan untuk mendaki?” Alvin
menaikkan alis saat membaca baris demi baris list itu.
“Iya, nanti aku jelasin.” Jawab Tian.
“Cuk, ada Alina!” Echa menyikut pinggang Alvin.
Alvin menoleh cepat, ia lupa. Tentu saja Echa belum
tahu jika sejak awal Alina ikut dalam perjalanan ini.
“Aku sudah tahu, Cha.” Jawab Alina,
“Nggak aneh, Tian telalu sentimentil buat nggak
cerita hal subtil kayak kemarin ke Alina.” Celetuk Alvin tiba-tiba.
“Ah, bener juga.” Echa mengangguk setuju.
“Alina akan ikut, aku sengaja nggak ngasih tahu
kalian sebelumnya.” Jawab Tian meluruskan celetuk Alvin tadi.
Echa tersenyum sebentar sambil melirik Alvin,
anehnya tanpa dikomandoi mereka berdua melirik satu sama lain secara bersamaan.
“Jadi, gimana plan-nya?” tanya Alvin langsung
ke inti.
Tian menatap Alina sebentar, Alina lalu menganggukan
kepalanya seolah memberi izin Tian untuk meneruskan plan perjalanan itu kepada
kedua temannya.
“Okay, jadi begini rencananya teman-teman.” Tian
membuka pembicaraan.
Echa membuka bungkus cokelat dari keresek, memberi
satu ke Alvin dan Alina.
“Kamu mau gak, Tian?” tanya Echa menyela sambil
menyodorkan sebungkus makanan.
“Boleh deh.” Tian terdistraksi.
“Gampang banget diacaukan konsentrasinya.” Alvin
menggeleng.
“Hehe,”
“Aku lapar, Vin.” Jawab Tian cengengesan.
“Aku dan Alina menemukan clue yang mungkin menyiratkan
ke mana pesan misterius itu ‘sepertinya’ mengarah.” Tian melanjutkan
pembicaraan, sesekali tanganya berusaha membuka bungkus cokelat tadi, susah
dibuka.
“Kamu ikhlas nggak, sih, ngasihnya, Cha!” Tian
berseru kesal karena bungkusnya sulit dibuka.
“Enak saja, ikhlas, lah. Kan yang beli Alvin!” ucap
Echa sama-sama ngegas. Alvin hanya menggelengkan kepalanya. Kedua temannya itu
pasti akan menjadi bocah jika disatukan.
“Heh, aku kira ini punya kamu, Cha?!” Alina berseru
kali ini.
Ia
menyodorkan cokelat yang sudah dimakan setengah kepada Alvin.
“Makan aja. Memang sengaja gue beli banyak, kok.”
Kata Alvin santai.
“Parah banget Echa.” Kata Alina lagi.
“Hehe...” Echa hanya cengengesan sebagai jawaban.
Wajahnya memerah. Entah karena malu, atau karena berada terlalu dekat dengan Alina.
“Jadi?” Alvin kembai bertanya. Karena memang dari
antara mereka berdua, Alvin yang paling antusias dengan rencana perajalanan
ini.
“Ada clue, seperti yang kubilang, yang
mengarah ke gunung yang berada di belakang rumahku, tahu, kan?” Tian melempar
pandangan ketiga teman di depannya.
Alvin mengangguk, tetapi wajahnya seperti sudah
dipenuhi banyak pertanyaan, padahal Tian baru mulai berbicara.
“Clue itu bilang kalau ada sesuatu yang
berada di suatu gunung yang dapat membawa ‘kita’ pulang.” Tangan Tian mengutip
kata ‘kita’ sambil menyentuh dadanya seolah memberi penekanan bahwa ‘kita’
berarti hanya dia sendiri. Alvin menyipit sebentar, tahu maksud isyarat itu.
“Kenapa gunung itu?” Alvin tidak bisa menahan diri
untuk tidak bertanya.
“Tahan sebentar, Vin.” Jawab Tian,
“Kalian setuju, kan, aku bukan sepenuhnya manusia?” Tian
bertanya retroris.
“Aneh ngga kalau orang tuaku, yang juga bukan
manusia secara random membuat rumah di dekat sesuatu yang kemudian disebutkan
dalam puisi berbahasa aneh?”
“Masuk akal.” Jawab Alvin singkat.
“Nah!”
“Lagipula, Cha, memang kamu mau ikut?” tanya Tian
menguji, ia sudah tahu apa yang akan Echa jawab. Lebih-lebih setelah tahu Alina
ikut. Echa tidak akan bisa diam saja.
“Tentu saja!” Echa berseru lantang.
“Gue tidak bisa biarin kalian pergi tanpa gue.”
Jawabnya penuh percaya diri.
“Dia nggak pernah peduli sama kita, Tian.” Celetuk Alvin.
“Enak saja!” sergah Echa menyerigai Alvin.
“Iya, aku ngerti kok.” Kata Alvin lalu tertawa.
Alina yang
sendari tadi diam hanya terseyum. Menyisakan Echa dengan wajah memerah.
“Diam kalian!” sergah Echa lagi. Wajahnya semakin
memerah, ia menahan malu di depan Alina.
“Baiklah mari kembali serius.” Kata Tian lagi,
“Tapi kali ini, Alina yang akan mejelaskan.” Tian
menatap Alina,
“Alina, silahkan paparkan plan kita nanti.”
“Eh?” Alvin heran,
“Kok?” ucapnya lagi.
Tian hanya mengangkat kedua bahu.
“Dengerin saja.” Tian menjawab santai.
“Okay, teman-teman.” Alina mengawali, suaranya manis
terdengar di telinga ketiga temannya itu.
“Maaf sebelumnya, aku nggak ngasih tahu kalian sejak
awal.” Ucapnya hangat,
“Aku dan Tian sudah berhasil memecahkan pesan
rahasia yang dia temukan beberapa bulan lalu.” Alina berhenti sejenak.
“Seperti yang Tian katakan di awal, akan aneh bukan kalau
orang tuanya membangun rumah di dekat sesuatu yang akhinya di ungkit dalam
pesan misterius?”
Ketiga pemuda di depan Alina mengangguk. Echa
menyimak dengan seksama, lebih seksama daripada saat dia mendengarkan guru di
kelas.
“Dan aku...” Alina berhenti lagi, ada keraguan dalam
hatinya untuk melanjutkan. Mata abu-abunya melirik Tian sebentar.
Tian mengerti arti tatapan itu, ia mengangguk. Katakan
saja. Tian menjawab lewat hati.
“Aku merasakan hal aneh ketika mendaki gunung
itu...”
“Seperti?” Alvin menyela cepat, Echa menyikut
pinggang Alvin, membuat Alvin meringis,
“Gak sopan!” seru Echa.
Alvin menatapnya sinis, tidak menjawab.
“Seperti ada gema yang menumpuk.” Jawab Alina, ia
tersenyum sedikit.
“Maksudnya?” Echa bertanya, tidak tahu maksud Alina.
Alvin dengan sigap mengambil buku catatan Tian,
membuka halaman terakhir yang ternyata banyak coretan. Ia menatap Tian
sebentar, Tian hanya menaikkan dagu, apa? Mungkin itu arti ekspresi Tian.
Alvin lalu
mengambar dua titik, kemudian membuat lingkaran di salah satu titiknya, setelah
itu dia membuat lingkaran lain lagi di luar ingkaran pertama, semakin ke luar,
semakin besar lingkarannya.
Alvin menunjuk titik yang ia lingkari.
“Anggap ini adalah orang atau suasana yang Alina
rasakan. Normal dan tenang.” Sembari bicara, ia membuat lingkaran lain di titik
kedua, lingkaran kedua titik itu akhirnya saling beririsan seolah-olah
menumpuk.
“Ini yang ia maksud sebagai gema bertumpuk.” Kata Alvin.
Tian melihat sekilas, mengangguk,
“Yap, begitu.”
Echa menggeleng.
“Entahlah apa yang kamu gambar, Vin.”
Alvin menyipitkan mata,
“Yang benar saja!”
“Jadi sederhananya begini, Cha.” Kali ini Tian yang
menjelaskan.
“Misal ada danau yang tenang, lalu aku melempar satu
batu, kita tahu akan ada ombak, kan?”
Echa
mengangguk.
“Nah, sekarang bayangkan jika aku melempar banyak
batu sekaligus, apa yang akan terjadi?”
“Ombaknya bertabrakan...” Echa terdiam,
“Oh.” Jawabnya singkat setelah mengerti.
“Anak ini memang menyebalkan.” Celetuk Alvin.
“Makannya ngajarin orang yang bener!” Echa membalas
Alvin.
Alvin mendengus pelan, lalu ia memalingkan pandang
kepada Alina,
“Bodo amat, Cha!”
“Jadi, Na, itu yang kamu rasakan?” tanya Alvin
mengalihkan, ia sudah malas berdebat dengan Echa sepertinya.
Alina mengangguk.
“Tapi, gimana mungkin kamu dapat merasakan hal
semacam itu, Na?” kini Alvin yang bertanya.
“Bisa jadi, itu hanya perasaan kamu saja?” tanyanya
lagi, Alina menggeleng.
“Bukan, aku tahu itu bukan sekadar perasaanku.”
Jawabnya,
“Karena, hal yang ku alami waktu itu, dan waktu-waktu
yang lain, berbeda dari semua hal yang pernah aku alami selama aku hidup.”
“Berbeda?” tanya Echa.
“Iya.”
“Rasanya, seperti sesuatu memanggilku pulang.”
“Tapi, kamu bilang itu seperti interferensi, gema,
Na?” tanya Alvin penuh rasa penasaran.
“Dan, bukankah itu hanya bisa dideteksi oleh alat
khusus?”
Alina mengangguk,
“Iya, gema itu terasa seperti kamu mendengar lonceng
pulang sekolah. Dan saat itu aku nggak bisa ngerti apa yang orang-orang
bicarakan, seperti suara mereka tertimpa oleh sesuatu yang lain. Tetapi, di
saat yang sama seolah-olah pikirannku diajak kembali ke rumah, tetapi bukan di
sini, entah di mana...”
“Aku makin nggak mengerti.” Jawab Alvin menggaruk
kelapanya yang tidak gatal,
“Sama, vin.” Echa juga sama tidak mengerti.
“Aku sama seperti Tian.” Jawab Alina kini, jujur. Seketika
pernyataanya mengagetkan ketiga temannya.
“Itu sebabnya aku bisa merasakan gema itu.”
“Na...” Tian terbata. Alvin dan Echa saling tatap.
Komentar
Posting Komentar