Bab XIV - Permulaan

 

Puisi itu dengan gamblang mengatakan jika petunjuk yang mereka harus temukan berada di sebelah timur. Di suatu kota. Tetapi, bukannya petunjuk yang mereka temukan,  malah misteri lain yang membuat kepala Tian nyaris meledak.

“Semuanya seperti...” ia bergumam, lalu berhenti sejenak.

“Semakin tidak masuk akal.” Ucapnya

Alina diam, melirik sekilas, lalu kembali menatap jauh ke depan. Pikirannya juga dipenuhi oleh pertanyaan yang sama.

“Aku semakin bingung. Apa yang harus aku lakukan sekarang?” Tian bergumam, setengah berbisik.

“Kamu nggak harus memikirkannya sendiri, Tian.” Alina mendengar gumaman pemuda itu. Tian melirik sebentar,

“Aku tidak bisa hanya pasrah, Na.” Tian menatap wajah Alina.

“Ada petunjuk lain di puisi itu, kan?” ujar Alina mengingatkan..

“Selain sosok asing, puisi itu juga berbicara tentang tempat, sih, Na.” Tian mencoba mengingat bait puisi itu lagi. Ia ingat betul ada frasa ‘paku’ di salah satu baitnya.

“Iya, puisi itu membicarakan tentang pasak.”

“Tapi, pasak apa?”

“Gunung, Tian. Pasak yang dimaksud itu gunung.”

“Aku tahu, Na.” Tian terdiam sebentar, ia memandangi gelap langit malam dari atas gedung random yang mereka datangi setelah pergi dari adventain.

“Tapi, gunung apa.” Lanjutnya.

“Rasanya, itu inti dari puisinya, kan?” tanya Tian lagi.

Alina yang biasanya selalu mempunyai jawaban pun, kini ikut terdiam. Ia menggeleng pelan. Rambutnya yang pendek sebahu bergerak mengikuti hembusan angin yang terasa hangat di kulit pucatnya.

Suara hembusan angin mengisi kekosongan obrolan mereka. Tian memandangi jalanan di bawah. Jalan lebar itu masih dipenuhi kendaraan meskipun waktu telah menunjukkan pukul 2 dini hari. Mereka belum pulang ke rumah, pertemuan dengan pak Herr menyisakan perasaan yang mengganjal.

“Kamu pernah merasa aneh nggak, Tian.” Ucap Alina memecahkan kekosongan.

“Apa yang aneh, Na?”

Alina kini melihat Tian, matanya yang cerah diterpa cahaya samar dari bawah mereka.

Ia tersenyum seperti mendapat jawaban.

“Tentang mengapa Ibu kamu membangun rumah di dekat gunung itu...” Alina terdiam sebentar,

“Sama seperti ayahku yang juga melakukan hal yang sama.”

“Aku tidak pernah kepikiran, sih, Na.” Tian nampak berpikir.

“Tapi, bukankah memang kaum kita menyukai tempat tinggi, ya?”

“Mungkin,” Alina mengangkat kedua bahunya, “Aku tidak tahu banyak tentang ‘kita’, Tian.”

“Tapi, aku rasa pasti ada alasan yang kuat mengapa dua Elyjisierlijen secara random membangun rumah di tempat yang nyaris sama.” Kata Alina. Ia memalingkan wajahnya ke angkasa. Bulan tertutup sempurna oleh awan dan polusi yang menggantung.

“Iya juga, sih, Na..”

“Terlalu aneh untuk dikatakan kebetulan.”

“Nah, kan!” Alina berseru.

“Menurutmu, ada apa di atas sana?” ucap Alina lagi.

Tian mendongakkan kepalanya, menatap arah yang sama dengan Alina.

“Entahlah, yang ku lihat di sini adalah kegelapan, Na.”

“Karena kita belum mencari tahu, makanya semua terlihat gelap.” jawab Alina cepat. Ia mengerti maksud jawaban Tian.

“Gunung itu juga agak aneh sebenarnya.” Lanjutnya.

Tian menatap Alina kini, “Maksudnya?”

“Kamu tidak pernah merasakannya, ya?” tanya Alina, mereka kini saling tatap.

Tian menggeleng pelan. Tidak tahu. Itu jawabnya.

“Aku menjadikan gunung itu sebagai tempat berlatih beberapa tahun yang lalu.”

“Kamu tahu,” Alina mulai bercerita, “Ada hal aneh yang kurasakan kali pertama mendakinya...” katanya, “Seperti ada sesuatu yang bersembunyi di balik hutan lebatnya.” Alina bercerita.

“Seperti sesuatu memanggilku.” Tatapan Alina kosong, pikirannya terbang melayang menyusuri memori beberapa tahun yang lalu.

“Tapi, bukankah gunung itu ramai didaki, Na?” tanya Tian. Memang, gunung tertinggi di provinsi itu ramai didaki oleh banyak petualang karena puncaknya yang eksotis dan treknya yang menantang. Keindahan dan kengerian dalam satu tempat.

“Iya, memang.” Jawab Alina memyetujui, “Tapi ada satu sisi yang tidak pernah bisa terjamah.” Alina tersenyum sebentar sebelum matanya menatap Tian perlahan.

“Dan itu bukan kali pertama aku merasakannya.”

“Tempat kita latihan?” tanya Tian pelan. Alina menggeleng, “Bukan, tempat kita berlatih jauh di bawah.”

“Tapi kurasa perasaan aneh itu berasal dari sisi belakang gunung, deh.” Alina menerka. “Sisi yang tidak pernah dijamah pendaki lain sebelumnya,,.”

Tian terdiam, ia nampak berpikir, “Lantas, bagaimana kamu tahu adanya tempat itu, Na?”

“Seperti sesuatu berusaha menarik aku ke sana waktu itu.”

“Kapan dan bagaiman bisa?”

“Kamu tahu, Tian. Gunung itu sangat memikat.” Alina tidak langsung menjawab.

“Kali pertama aku dan ayah pindah ke desa. Aku sudah berencana untuk mendaki gunung itu.” Gadis itu mulai bercerita.

“Aku pergi sendiri, awalnya. Kemudian di gerbang pemberangkatan, aku bertemu dengan sekelompok orang yang juga hendak mendaki.” Alina mengingat momen beberapa tahun itu.

“Seperti dugaanku, mereka mengajakku mendaki bersama.”

“Kita sampai di pos keempat pada malam hari. Orang-orang yang kutemui itu hendak mendirikan tenda, aku membantu mereka tentu saja. Aku tahu mengapa mereka mengajakku, hanya ada satu orang perempuan dalam rombongan itu. Jadi kurasa akan lebih aman jika ada perempuan lain untuk menemaninya.”

“Di sana, pada malam itu,, aku merasa sesuatu seperti memanggilku dari kejauhan.” Alina terdiam, tatapannya kembali kosong.

“Sesuatu yang terasa seperti... ‘rumah’.” Kata Alina.

“Perasaan aneh itu terus menggangguku, terlebih pada saat kita sedang membuat makan malam. Obrolan rombongan itu terasa seperti terganggu ssuatu yang aneh.”

“Aneh seperti apa, Na?” tanya Tian penasaran.

“Suara mereka seperti ‘terganggu’.”

“Hah?” Tian hanya bisa ber-hah seperti orang kepedasan.

“Iya, aku dapat melihat mulut mereka berceloteh, tetapi suara mereka seperti bergema ganda dan bertabrakan.” Alina menjelaskan.

“Aku mengira itu kebetulan, atau aku hanya sedang kelelahan.”

“Kamu tidak mungkin lelah,” ucap Tian menyela.

“Nah, kan!” Alina berseru.

“Perasaan aneh itu terus terasa sepanjang malam, membuatku tidak bisa tidur. Aku keluar dari tenda, beberapa orang masih asyik mengobrol di sekitar api unggun yang kita buat tadi. Mereka mengajakku bergabung, tetapi, hal yang sama terjadi lagi. Ucapan mereka seperti bertabrakan.”

“Ada sesuatu yang aneh, aku yakin ada sesuatu yang aneh di tempat itu.” Ujar Alina.

“Memangnya, kamu tidak pernah mengalami hal semacam itu sebelumnya?” tanya Tian.

“Selama ribuan tahun, tidak.” Alina menggeleng.

“Tapi, kita berlatih di tempat yang sama, bukan? Apakah hal yang sama masih terjadi?”

“Tidak, kita berlatih di sisi lain, Tian.” Tian terdiam. Ia lupa.

Jalanan lenggang di bawah sana, kehidupan mulai berkurang sebelum nanti subuh akan kembali ramai.

“Ayo kita selidiki, Na!” Tian mengajak. “Siapa tahu, itu adalah gunung yang puisi itu maksud.” Lanjutnya.

Alina mengangguk, ia mengiyakan ajakan Tian.

“Mungkin saja, sih.”

Langit malam semakin pekat. Tian melihat sekilas jam tangan di lengannya. Pukul 3 pagi, sebentar lagi subuh. “Kapan kita akan ke sana, Na?” tanya Tian. Alina mengeluarkan ponsel dari saku baju seragamnya, ia melihat kalender.

“Libur sekolah masih beberapa minggu, sih.” Alina menatap layar ponselnya, “Kita berangkat nanti ketika libur.” Kata Alina memutuskan.

“Noted, aku akan mempersiapkan hal yang perlu dibawa nanti.”

“Aku akan bantu kamu nanti, Tian.” Alina tersenyum.

“Eh, bagaimana dengan Echa dan Alvin, Na?”

Alina terdiam sebentar, menimbang-nimbang. “Aku sebenarnya tidak ingin ada orang lain yang ikut...” katanya.

“Tapi mereka secara nggak langsung sudah terlibat, sih...” Alina agak terpaksa.

“Karena Si Kelam...” Tian terdiam kemudian. Nama itu selalu berhasil membuatnya merinding.

“Datangnya Si Kelam itu tidak pernah karena salah kamu, Tian.” Alina menyentuh punggung tangan Tian, sekilas, tetapi suatu energi hangat seolah mengalir ke seluruh tubuhnya sesaat tangan mereka bersentuhan.

“Ajak mereka, ya.” Alina tersenyum.

“Baiklah, Na.” Tian mengangguk mengiyakan.

 

***


 

Libur sekolah sudah di depan mata. Ujian semester pertama selesai hari ini. Tian masih duduk di bangkunya setelah ujian terakhir selesai. Murid lain bergegas keluar dari kelas. Alina berdiri dari mejanya di depan. Karena selama ujian, meja mereka dipisah dan duduk sendiri-sendiri.  Alina berjalan menghampiri Tian di mejanya. Ia sedang menyusun daftar barang yang hendak mereka bawa.

“Main gear” tulis Tian, ia mengambil penggaris tanpa menghiraukan kehadiran Alina. Tian lalu membuat tabel. Mata cokelatnya teliti meniti garis.

“Aku akan butuh backpack ukuran besar, tenda, dan alat masak.” Tian bicara sendiri. Alina yang sedang berdiri di sampingnya masih tidak dihiraukan. Ia tersenyum melihat pemuda itu serius menulis.

Backpack aku butuh lima buah, tenda ukuran besar untuk empat orang dan satu tenda ukuran sedang untuk dua orang, jadi aku bawa dua tenda. Alat masak portabel satu, beberapa canister gas untuk memasak...” Tian menulis.

“Kamera jangan lupa, sleeping bag, baju ganti, solar panel portable, filter air..”

“Ah, apa lagi, ya?”

“Haruskah aku membawa pisau? Atau kapak sekalian?” Tian bicara sendiri lagi.

“Air, Tian.” Alina akhirnya bicara. Tian tersentak kaget, ia tidak menyadari Alina telah berdiri sepanjang ia mencatat.

“Astaga, Na. Sejak kapan kamu berdiri di sebelahku?” Tian menoleh, ia kaget dengan mata melotot dan mulut sedikit mengangga.

“Sejak kamu membuat garis itu.” Jawabnya santai. Alina menarik kursi kosong dari sebelah meja, lalu duduk di samping pemuda itu.

“Sepertinya list ini belum selesai, ya?” tanya Alina menunjuk notepad Tian.

Tian mengangguk, “Iya, Na, aku sedang memikirkan apa saja yang seharusnya aku bawa.”

“Peralatan utama sepertinya sudah kamu tulis..” jari Alina mengurut tiap-tiap peralatan yang sudah Tian tulis.

“Bawa beberapa botol air, itu pasti. Kompas dan bawa GPS lebih baik, sih.” Jawab Alina, ia ikut membantu.

“Aku sudah punya GPS dan kompas portabel, selalu aku bawa.” Tian mengangkat tangan kanannya, menunjukkan jam tangan. Alina memutar bola matanya,

“Iya, deh.” Ia tertawa.

“Bercanda, Na.” Ucap Tian cengengesan. “Aku masukkan kompas dan GPS juga, ya.” Katanya.

“Bawa senter, baterai cadangan, emergency blanket untuk jaga-jaga, first aid kit, bawa lightweight harness kalau ada sekalian dengan tali dan karabiner juga, water purification kit itu harus,” Alina menyebutkan peralatan satu per satu, “Eh kamu sudah tulis water filter, deh.” Alina meralat. “Alat makan dan makanan,” Alina menambahkan,  

“Bawa makanan yang banyak!” Alina berseru antusias kali ini. Tian tertawa mendengar gadis itu berseru renyah.

“Tenang,” ujar Tian santai sambil mengipaskan tangan ke udara. “Kita serahkan bagian makanan kepada Echa, Na.” katanya, ia mengingat Echa, temannya itu hobi sekali makan.

“Oh, iya...” Tian teringat sesuatu, “Echa akan datang sebentar lagi kayaknya, dia ke kantin bareng sama Alvin tadi.”

“Baiklah...” Alina seperti tidak tahu harus menjawab apa.

“Okay, semuanya sudah beres!” Tian akhirnya berseru. Ia memberikan daftar barang bawaan itu kepada Alina supaya gadis itu bisa melihatnya. Padahal, Alina sudah tahu sejak tadi, ia ikut membaca. Tetapi tetap saja gadis itu menerimanya dengan senang hati.

“Aku rasa sudah semua, deh.” Alina kembali menyerahkan kertas itu kepada Tian.

“Ahh, syukurlah.” Tian merentangkan kedua tangan ke udara, “Aku akan ke AdvenTain malam ini untuk mengambil semua yang kita butuhkan...” Tian belum sempat menyelesaikan ucapannya ketika dari ambang pintu, Echa dan Alvin menyelonong masuk. Echa datang membawa satu kantong plastik penuh makanan.

Tian dan Alina serempak menoleh ke pintu,

“Tuh, kan, Na. Kita nggak usah khawatir soal makanan.” Ucap Tian, Alina tersenyum mengiyakan.

“Wah, lagi pada ngomongin apa ini?” Echa seketika bertanya setelah ia menaruh kantong plastik itu di atas meja, di sebelah catatan Tian. Alvin melihat sekilas catatan itu, dengan sigap ia mengambil dan membacanya,

“Main gear?” Alvin membaca setengah bergumam, “Untuk apa semua ini?” tanyanya. Matanya eliti membaca list yang Tian tulis.

“Untuk mencari tahu tujuan dari pesan rahasia itu.” Jawab Tian singkat, ia menyenderkan tubuhnya ke kursi sementara kedua temannya menarik kursi lain, ikut bergabung. Mereka duduk melingkari meja.

“Eh, ada Alina...” Echa mencoba mengingatkan, tentu saja Echa belum tahu jika sejak awal Alina akan ikut dalam perjalanan ini.

“Aku sudah tahu, Cha.” Jawab Alina,

“Nggak aneh, Tian telalu sentimentil buat nggak cerita hal subtil kayak kemarin ke Alina.” Celetuk Alvin tiba-tiba.

“Ah, bener juga.” Echa mengangguk setuju.

“Alina akan ikut, aku sengaja nggak ngasih tahu kalian sebelumnya.” Jawab Tian meluruskan celetuk Alvin tadi. Echa tersenyum sebentar sambil melirik Alvin, anehnya mereka berdua melirik satu sama lain secara bersamaan.

“Jadi, bagaimana plan-nya?” tanya Alvin langsung ke intinya.

Tian menatap Alina sebentar, Alina lalu menganggukan kepalanya seolah memberi izin Tian untuk meneruskan plan perjalanan itu kepada kedua temannya.

“Okay, jadi begini plannya teman-teman.” Tian membuka pembicaraan. Echa, ia malah membuka bungkus cokelat dari keresek, memberi satu ke Alvin dan Alina.

“Kamu mau gak, Tian?” tanya Echa menyela sambil menyodorkan sebungkus makanan.

“Boleh deh.” Tian terdistraksi.

“Gampang banget diacaukan konsentrasinya.” Alvin menggeleng.

“Hehe,”

“Aku lapar, Vin.” Jawab Tian cengengesan.

“Aku dan Alina menemukan clue yang mengindikasikan ke mana pesan misterius itu sepertinya mengarah.” Tian melanjutkan pembicaraan, sesekali tanganya berusaha membuka bungkus cokelat tadi, sulit dibuka.

“Kamu ikhlas nggak, sih, ngasihnya, Cha!” Tian berseru kesal karena bungkusnya sulit dibuka.

“Enak saja, ikhlas, lah. Kan yang beli itu Alvin!” ucap Echa sama-sama ngegas. Alvin hanya menggelengkan kepalanya. Kedua temannya itu pasti akan menjadi bocah jika disatukan.

“Heh, aku kira ini punya kamu, Cha?!” Alina berseru kali ini. Ia menyodorkan cokelat yang sudah dimakan setengah kepada Alvin.

“Sudah makan aja. Memang sengaja aku beli banyak, kok.” Kata Alvin santai.

“Parah banget Echa.” Kata Alina lagi.

“Hehe...” Echa hanya cengengesan sebagai jawaban. Wajahnya memerah. Entah karena malu, atau karena berada dekat Alina.

“Jadi, bagaimana, ini?” Alvin kembai bertanya. Karena memang dari antara Echa dan Alvin, dialah yang paling antusias dengan rencana perajalanan ini.

“Ada clue, seperti yang kubilang tadi, dan clue itu mengarah ke gunung yang berada di belakang rumahku, tahu, kan?” Tian melempar pandangan ketiga teman di depannya. Alvin mengangguk, tetapi wajahnya seperti sudah dipenuhi banyak pertanyaan, padahal Tian baru mulai berbicara.

“Clue itu mengatakan jika ada sesuatu yang berada di suatu gunung yang dapat membawa ‘kita’ pulang.” Tangan Tian mengutip kata kita itu seolah memberi penekanan bahwa ‘kita’ berarti hanya dia sendiri.

“Kenapa gunung itu?” Alvin tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.

“Tahan sebentar, Vin.” Jawab Tian, “Kalian tahu, kan, aku bukan sepenuhnya manusia, aneh tidak jika orang tuaku, yang juga bukan manusia secara random membuat rumah di dekat sesuatu yang kemudian disebutkan dalam puisi berbahasa aneh?”

“Masuk akal.” Jawab Alvin singkat.

“Lagipula, Cha, memang kamu mau ikut?” tanya Tian menguji, ia sudah tahu apa yang akan Echa jawab. Lebih-lebih setelah tahu Alina ikut. Echa tidak akan bisa diam saja.

“Tentu saja!” Echa berseru lantang.

“Aku tidak bisa membiarkan kalian pergi tanpa aku.” Jawabnya penuh percaya diri.

“Dia nggak pernah peduli kita, Tian.” Celetuk Alvin.

“Enak saja!” sergah Echa menyerigai Alvin.

“Iya, aku ngerti kok.” Tian dan Alvin serempak tertawa. Alina yang sendari tadi diam hanya terseyum. Menyisakan Echa dengan wajah memerah.

“Diem kalian!” sergah Echa lagi. Wajahnya semakin memerah, ia menahan malu di depan Alina.

“Baiklah mari kembali serius.” Kata Tian lagi, “Tapi kali ini Alina yang akan mejelaskan.” Tian menatap Alina, “Alina, silahkan paparkan plan kita nanti.”

“Eh?” Alvin heran,

“Kok?” ucapnya lagi. Tian hanya mengangkat kedua bahu.

“Dengerin saja.” Tian menjawab santai.

“Okay, teman-teman.” Alina mengawali, suaranya manis terdengar di telinga ketiga temannya itu.

“Maaf sebelumnya jika aku nggak ngasih tahu kalian sejak awal.” Ucapnya hangat, “Aku dan Tian sudah berhasil memecahkan pesan rahasia yang ia temukan beberapa bulan lalu.” Alina berhenti sejenak

“Seperti yang Tian katakan di awal, akan aneh bukan jika orang tuanya membangun rumah di dekat sesuatu yang akhinya di ungkit dalam pesan misterius?”

Ketiga pemuda di depan Alina mengangguk. Echa menyimak dengan seksama seperti sedang mendengar ceramah dosen.

“Dan aku...” Alina berhenti lagi, ada keraguan dalam hatinya untuk melanjutkan. Mata abu-abunya melirik Tian sebentar. Tian mengerti, ia mengangguk. Katakan saja.  Tian menjawab lewat telepati.

“Aku merasakan hal aneh ketika mendaki gunung itu...”

“Seperti?” Alvin menyela cepat, Echa menyikut pinggang Alvin, membuat Alvin meringis, “Gak sopan!” seru Echa.

“Seperti gema yang bertumpuk.” Jawab Alina, ia tersenyum sedikit. Alcin mengangguk, mengerti.

“Maksudnya?” Echa bertanya, tidak maksud Alina.

Alvin mengambil buku catatan Tian, membuka halaman terakhir. Ia mengambarkan dua titik kemudian membuat lingkaran di salah satu titiknya, lalu, ia membuat lingkaran lain di luar ingkaran pertama, semakin ke luar, semakin besar lingkarannya. Alvin menunjuk titik yang ia lingkari.

“Anggap ini adalah orang atau suasana yang Alina rasakan. Normal dan tenang.” Sembari bicara, ia membuat lingkaran lain di titik kedua, lingkaran kedua titik itu akhirnya saling beririsan seolah-olah menumpuk.

“Ini yang ia maksud sebagai gema bertumpuk.” Kata Alvin. Tian mengangguk, “Yap, begitu.”

Echa menggeleng. “Entahlah apa yang kamu gambar, Vin.”

Alvin menyipitkan mata, “Yang benar saja!”

“Jadi sederhananya begini, Cha.” Kali ini Tian yang menjelaskan. “Misal air danau yang tenang, lalu aku melempar satu batu, kita tahu akan ada gelombang yang tercipta, kan?”

 Echa mengangguk.

“Nah, sekarang bayangkan jika aku melempar banyak batu sekaligus, apa yang akan terjadi?”

“Gelombangnya bertabrakan...” Echa terdiam, “Oh, begitu.” Jawabnya singkat setelah mengerti.

“Ini anak memang menyebalkan.” Celetuk Alvin.

“Makannya ngajarin orang yang bener!” Echa membalas Alvin.

Alvin mendengus pelan, “Jadi, Na, itu yang kamu rasakan?” tanya Alvin mengalihkan, ia sudah malas berdebat dengan Echa sepertinya.

Alina mengangguk.

“Tapi, bagaimana mungkin kamu dapat merasakan hal semacam itu, Na?” kini Alvin yang bertanya. “Bisa jadi, itu hanya perasaan kamu saja?” tanyanya lagi, Alina menggeleng.

“Bukan, aku tahu itu bukan sekadar perasaanku.” Jawabnya, “Karena, hal yang ku alami waktu itu, dan waktu-waktu lain, sungguh berbeda dari semua hal yang pernah aku alami.”

“Berbeda?” tanya Echa.

“Iya.”

“Rasanya, seperti sesuatu memanggilku pulang.”

“Tapi, kamu bilang itu seperti interferensi, gema, Na?” tanya Alvin penuh rasa penasaran. “Dan, bukankah kamu sudah di ‘rumah’?”

Alina mengangguk, “Iya, gema itu terasa seperti kamu mendengar lonceng tanda pulang sekolah. Dan saat itu aku tidak bisa mengerti apa yang orang-orang bicarakan, seperti suara mereka tertimpa oleh sesuatu yang lain. Tetapi, di saat yang sama seolah-olah pikirannku diajak kembali ke rumah, tetapi bukan di sini, entah di mana...”

“Aku makin tidak mengerti.” Jawab Alvin, “Sama, vin.” Echa juga sama tidak mengerti.

“Aku sama seperti Tian.” Jawab Alina kini, jujur. Seketika pernyataanya mengagetkan ketiga temannya.

“Na...” Tian terbata.


Komentar