Puisi itu dengan gamblang mengatakan jika petunjuk
yang mereka harus temukan berada di sebelah timur. Di suatu kota. Tetapi, bukannya
petunjuk yang mereka temukan, malah
misteri lain yang membuat kepala Tian nyaris meledak.
“Semuanya seperti...” ia bergumam, lalu berhenti
sejenak.
“Semakin tidak masuk akal.” Ucapnya
Alina diam, melirik sekilas, lalu kembali menatap
jauh ke depan. Pikirannya juga dipenuhi oleh pertanyaan yang sama.
“Aku semakin bingung. Apa yang harus aku lakukan
sekarang?” Tian bergumam, setengah berbisik.
“Kamu nggak harus memikirkannya sendiri, Tian.” Alina
mendengar gumaman pemuda itu. Tian melirik sebentar,
“Aku tidak bisa hanya pasrah, Na.” Tian menatap
wajah Alina.
“Ada petunjuk lain di puisi itu, kan?” ujar Alina
mengingatkan..
“Selain sosok asing, puisi itu juga berbicara
tentang tempat, sih, Na.” Tian mencoba mengingat bait puisi itu lagi. Ia ingat
betul ada frasa ‘paku’ di salah satu baitnya.
“Iya, puisi itu membicarakan tentang pasak.”
“Tapi, pasak apa?”
“Gunung, Tian. Pasak yang dimaksud itu gunung.”
“Aku tahu, Na.” Tian terdiam sebentar, ia memandangi
gelap langit malam dari atas gedung random yang mereka datangi setelah pergi
dari adventain.
“Tapi, gunung apa.” Lanjutnya.
“Rasanya, itu inti dari puisinya, kan?” tanya Tian
lagi.
Alina yang biasanya selalu mempunyai jawaban pun,
kini ikut terdiam. Ia menggeleng pelan. Rambutnya yang pendek sebahu bergerak
mengikuti hembusan angin yang terasa hangat di kulit pucatnya.
Suara hembusan angin mengisi kekosongan obrolan
mereka. Tian memandangi jalanan di bawah. Jalan lebar itu masih dipenuhi
kendaraan meskipun waktu telah menunjukkan pukul 2 dini hari. Mereka belum
pulang ke rumah, pertemuan dengan pak Herr menyisakan perasaan yang mengganjal.
“Kamu pernah merasa aneh nggak, Tian.” Ucap Alina
memecahkan kekosongan.
“Apa yang aneh, Na?”
Alina kini melihat Tian, matanya yang cerah diterpa
cahaya samar dari bawah mereka.
Ia tersenyum seperti mendapat jawaban.
“Tentang mengapa Ibu kamu membangun rumah di dekat
gunung itu...” Alina terdiam sebentar,
“Sama seperti ayahku yang juga melakukan hal yang
sama.”
“Aku tidak pernah kepikiran, sih, Na.” Tian nampak
berpikir.
“Tapi, bukankah memang kaum kita menyukai tempat
tinggi, ya?”
“Mungkin,” Alina mengangkat kedua bahunya, “Aku
tidak tahu banyak tentang ‘kita’, Tian.”
“Tapi, aku rasa pasti ada alasan yang kuat mengapa
dua Elyjisierlijen secara random membangun rumah di tempat yang
nyaris sama.” Kata Alina. Ia memalingkan wajahnya ke angkasa. Bulan tertutup
sempurna oleh awan dan polusi yang menggantung.
“Iya juga, sih, Na..”
“Terlalu aneh untuk dikatakan kebetulan.”
“Nah, kan!” Alina berseru.
“Menurutmu, ada apa di atas sana?” ucap Alina lagi.
Tian mendongakkan kepalanya, menatap arah yang sama
dengan Alina.
“Entahlah, yang ku lihat di sini adalah kegelapan,
Na.”
“Karena kita belum mencari tahu, makanya semua
terlihat gelap.” jawab Alina cepat. Ia mengerti maksud jawaban Tian.
“Gunung itu juga agak aneh sebenarnya.” Lanjutnya.
Tian menatap Alina kini, “Maksudnya?”
“Kamu tidak pernah merasakannya, ya?” tanya Alina,
mereka kini saling tatap.
Tian menggeleng pelan. Tidak tahu. Itu
jawabnya.
“Aku menjadikan gunung itu sebagai tempat berlatih
beberapa tahun yang lalu.”
“Kamu tahu,” Alina mulai bercerita, “Ada hal aneh
yang kurasakan kali pertama mendakinya...” katanya, “Seperti ada sesuatu yang
bersembunyi di balik hutan lebatnya.” Alina bercerita.
“Seperti sesuatu memanggilku.” Tatapan Alina kosong,
pikirannya terbang melayang menyusuri memori beberapa tahun yang lalu.
“Tapi, bukankah gunung itu ramai didaki, Na?” tanya Tian.
Memang, gunung tertinggi di provinsi itu ramai didaki oleh banyak petualang
karena puncaknya yang eksotis dan treknya yang menantang. Keindahan dan
kengerian dalam satu tempat.
“Iya, memang.” Jawab Alina memyetujui, “Tapi ada
satu sisi yang tidak pernah bisa terjamah.” Alina tersenyum sebentar sebelum
matanya menatap Tian perlahan.
“Dan itu bukan kali pertama aku merasakannya.”
“Tempat kita latihan?” tanya Tian pelan. Alina
menggeleng, “Bukan, tempat kita berlatih jauh di bawah.”
“Tapi kurasa perasaan aneh itu berasal dari sisi
belakang gunung, deh.” Alina menerka. “Sisi yang tidak pernah dijamah pendaki
lain sebelumnya,,.”
Tian terdiam, ia nampak berpikir, “Lantas, bagaimana
kamu tahu adanya tempat itu, Na?”
“Seperti sesuatu berusaha menarik aku ke sana waktu
itu.”
“Kapan dan bagaiman bisa?”
“Kamu tahu, Tian. Gunung itu sangat memikat.” Alina tidak
langsung menjawab.
“Kali pertama aku dan ayah pindah ke desa. Aku sudah
berencana untuk mendaki gunung itu.” Gadis itu mulai bercerita.
“Aku pergi sendiri, awalnya. Kemudian di gerbang
pemberangkatan, aku bertemu dengan sekelompok orang yang juga hendak mendaki.” Alina
mengingat momen beberapa tahun itu.
“Seperti dugaanku, mereka mengajakku mendaki
bersama.”
“Kita sampai di pos keempat pada malam hari.
Orang-orang yang kutemui itu hendak mendirikan tenda, aku membantu mereka tentu
saja. Aku tahu mengapa mereka mengajakku, hanya ada satu orang perempuan dalam
rombongan itu. Jadi kurasa akan lebih aman jika ada perempuan lain untuk
menemaninya.”
“Di sana, pada malam itu,, aku merasa sesuatu
seperti memanggilku dari kejauhan.” Alina terdiam, tatapannya kembali kosong.
“Sesuatu yang terasa seperti... ‘rumah’.” Kata Alina.
“Perasaan aneh itu terus menggangguku, terlebih pada
saat kita sedang membuat makan malam. Obrolan rombongan itu terasa seperti terganggu
ssuatu yang aneh.”
“Aneh seperti apa, Na?” tanya Tian penasaran.
“Suara mereka seperti ‘terganggu’.”
“Hah?” Tian hanya bisa ber-hah seperti orang
kepedasan.
“Iya, aku dapat melihat mulut mereka berceloteh,
tetapi suara mereka seperti bergema ganda dan bertabrakan.” Alina menjelaskan.
“Aku mengira itu kebetulan, atau aku hanya sedang
kelelahan.”
“Kamu tidak mungkin lelah,” ucap Tian menyela.
“Nah, kan!” Alina berseru.
“Perasaan aneh itu terus terasa sepanjang malam,
membuatku tidak bisa tidur. Aku keluar dari tenda, beberapa orang masih asyik
mengobrol di sekitar api unggun yang kita buat tadi. Mereka mengajakku
bergabung, tetapi, hal yang sama terjadi lagi. Ucapan mereka seperti
bertabrakan.”
“Ada sesuatu yang aneh, aku yakin ada sesuatu yang
aneh di tempat itu.” Ujar Alina.
“Memangnya, kamu tidak pernah mengalami hal semacam
itu sebelumnya?” tanya Tian.
“Selama ribuan tahun, tidak.” Alina menggeleng.
“Tapi, kita berlatih di tempat yang sama, bukan?
Apakah hal yang sama masih terjadi?”
“Tidak, kita berlatih di sisi lain, Tian.” Tian
terdiam. Ia lupa.
Jalanan lenggang di bawah sana, kehidupan mulai
berkurang sebelum nanti subuh akan kembali ramai.
“Ayo kita selidiki, Na!” Tian mengajak. “Siapa tahu,
itu adalah gunung yang puisi itu maksud.” Lanjutnya.
Alina mengangguk, ia mengiyakan ajakan Tian.
“Mungkin saja, sih.”
Langit malam semakin pekat. Tian melihat sekilas jam
tangan di lengannya. Pukul 3 pagi, sebentar lagi subuh. “Kapan kita akan ke
sana, Na?” tanya Tian. Alina mengeluarkan ponsel dari saku baju seragamnya, ia
melihat kalender.
“Libur sekolah masih beberapa minggu, sih.” Alina
menatap layar ponselnya, “Kita berangkat nanti ketika libur.” Kata Alina
memutuskan.
“Noted, aku akan mempersiapkan hal yang perlu dibawa
nanti.”
“Aku akan bantu kamu nanti, Tian.” Alina tersenyum.
“Eh, bagaimana dengan Echa dan Alvin, Na?”
Alina terdiam sebentar, menimbang-nimbang. “Aku
sebenarnya tidak ingin ada orang lain yang ikut...” katanya.
“Tapi mereka secara nggak langsung sudah terlibat,
sih...” Alina agak terpaksa.
“Karena Si Kelam...” Tian terdiam kemudian. Nama itu
selalu berhasil membuatnya merinding.
“Datangnya Si Kelam itu tidak pernah karena salah
kamu, Tian.” Alina menyentuh punggung tangan Tian, sekilas, tetapi suatu energi
hangat seolah mengalir ke seluruh tubuhnya sesaat tangan mereka bersentuhan.
“Ajak mereka, ya.” Alina tersenyum.
“Baiklah, Na.” Tian mengangguk mengiyakan.
***
Libur sekolah sudah di depan mata. Ujian semester
pertama selesai hari ini. Tian masih duduk di bangkunya setelah ujian terakhir
selesai. Murid lain bergegas keluar dari kelas. Alina berdiri dari mejanya di
depan. Karena selama ujian, meja mereka dipisah dan duduk sendiri-sendiri. Alina berjalan menghampiri Tian di mejanya. Ia
sedang menyusun daftar barang yang hendak mereka bawa.
“Main gear” tulis Tian, ia mengambil penggaris tanpa
menghiraukan kehadiran Alina. Tian lalu membuat tabel. Mata cokelatnya teliti
meniti garis.
“Aku akan butuh backpack ukuran besar, tenda, dan
alat masak.” Tian bicara sendiri. Alina yang sedang berdiri di sampingnya masih
tidak dihiraukan. Ia tersenyum melihat pemuda itu serius menulis.
“Backpack aku butuh lima buah, tenda ukuran
besar untuk empat orang dan satu tenda ukuran sedang untuk dua orang, jadi aku
bawa dua tenda. Alat masak portabel satu, beberapa canister gas untuk
memasak...” Tian menulis.
“Kamera jangan lupa, sleeping bag, baju ganti, solar
panel portable, filter air..”
“Ah, apa lagi, ya?”
“Haruskah aku membawa pisau? Atau kapak sekalian?” Tian
bicara sendiri lagi.
“Air, Tian.” Alina akhirnya bicara. Tian tersentak
kaget, ia tidak menyadari Alina telah berdiri sepanjang ia mencatat.
“Astaga, Na. Sejak kapan kamu berdiri di sebelahku?”
Tian menoleh, ia kaget dengan mata melotot dan mulut sedikit mengangga.
“Sejak kamu membuat garis itu.” Jawabnya santai.
Alina menarik kursi kosong dari sebelah meja, lalu duduk di samping pemuda itu.
“Sepertinya list ini belum selesai, ya?”
tanya Alina menunjuk notepad Tian.
Tian mengangguk, “Iya, Na, aku sedang memikirkan apa
saja yang seharusnya aku bawa.”
“Peralatan utama sepertinya sudah kamu tulis..” jari
Alina mengurut tiap-tiap peralatan yang sudah Tian tulis.
“Bawa beberapa botol air, itu pasti. Kompas dan bawa
GPS lebih baik, sih.” Jawab Alina, ia ikut membantu.
“Aku sudah punya GPS dan kompas portabel, selalu aku
bawa.” Tian mengangkat tangan kanannya, menunjukkan jam tangan. Alina memutar
bola matanya,
“Iya, deh.” Ia tertawa.
“Bercanda, Na.” Ucap Tian cengengesan. “Aku masukkan
kompas dan GPS juga, ya.” Katanya.
“Bawa senter, baterai cadangan, emergency blanket
untuk jaga-jaga, first aid kit, bawa lightweight harness kalau
ada sekalian dengan tali dan karabiner juga, water purification kit itu harus,”
Alina menyebutkan peralatan satu per satu, “Eh kamu sudah tulis water filter, deh.”
Alina meralat. “Alat makan dan makanan,” Alina menambahkan,
“Bawa makanan yang banyak!” Alina berseru antusias
kali ini. Tian tertawa mendengar gadis itu berseru renyah.
“Tenang,” ujar Tian santai sambil mengipaskan tangan
ke udara. “Kita serahkan bagian makanan kepada Echa, Na.” katanya, ia mengingat
Echa, temannya itu hobi sekali makan.
“Oh, iya...” Tian teringat sesuatu, “Echa akan
datang sebentar lagi kayaknya, dia ke kantin bareng sama Alvin tadi.”
“Baiklah...” Alina seperti tidak tahu harus menjawab
apa.
“Okay, semuanya sudah beres!” Tian akhirnya berseru.
Ia memberikan daftar barang bawaan itu kepada Alina supaya gadis itu bisa
melihatnya. Padahal, Alina sudah tahu sejak tadi, ia ikut membaca. Tetapi tetap
saja gadis itu menerimanya dengan senang hati.
“Aku rasa sudah semua, deh.” Alina kembali
menyerahkan kertas itu kepada Tian.
“Ahh, syukurlah.” Tian merentangkan kedua tangan ke
udara, “Aku akan ke AdvenTain malam ini untuk mengambil semua yang kita
butuhkan...” Tian belum sempat menyelesaikan ucapannya ketika dari ambang pintu,
Echa dan Alvin menyelonong masuk. Echa datang membawa satu kantong plastik
penuh makanan.
Tian dan Alina serempak menoleh ke pintu,
“Tuh, kan, Na. Kita nggak usah khawatir soal
makanan.” Ucap Tian, Alina tersenyum mengiyakan.
“Wah, lagi pada ngomongin apa ini?” Echa seketika
bertanya setelah ia menaruh kantong plastik itu di atas meja, di sebelah
catatan Tian. Alvin melihat sekilas catatan itu, dengan sigap ia mengambil dan
membacanya,
“Main gear?” Alvin membaca setengah bergumam, “Untuk
apa semua ini?” tanyanya. Matanya eliti membaca list yang Tian tulis.
“Untuk mencari tahu tujuan dari pesan rahasia itu.”
Jawab Tian singkat, ia menyenderkan tubuhnya ke kursi sementara kedua temannya
menarik kursi lain, ikut bergabung. Mereka duduk melingkari meja.
“Eh, ada Alina...” Echa mencoba mengingatkan, tentu
saja Echa belum tahu jika sejak awal Alina akan ikut dalam perjalanan ini.
“Aku sudah tahu, Cha.” Jawab Alina,
“Nggak aneh, Tian telalu sentimentil buat nggak
cerita hal subtil kayak kemarin ke Alina.” Celetuk Alvin tiba-tiba.
“Ah, bener juga.” Echa mengangguk setuju.
“Alina akan ikut, aku sengaja nggak ngasih tahu
kalian sebelumnya.” Jawab Tian meluruskan celetuk Alvin tadi. Echa tersenyum
sebentar sambil melirik Alvin, anehnya mereka berdua melirik satu sama lain secara
bersamaan.
“Jadi, bagaimana plan-nya?” tanya Alvin
langsung ke intinya.
Tian menatap Alina sebentar, Alina lalu menganggukan
kepalanya seolah memberi izin Tian untuk meneruskan plan perjalanan itu kepada
kedua temannya.
“Okay, jadi begini plannya teman-teman.” Tian
membuka pembicaraan. Echa, ia malah membuka bungkus cokelat dari keresek,
memberi satu ke Alvin dan Alina.
“Kamu mau gak, Tian?” tanya Echa menyela sambil
menyodorkan sebungkus makanan.
“Boleh deh.” Tian terdistraksi.
“Gampang banget diacaukan konsentrasinya.” Alvin
menggeleng.
“Hehe,”
“Aku lapar, Vin.” Jawab Tian cengengesan.
“Aku dan Alina menemukan clue yang mengindikasikan
ke mana pesan misterius itu sepertinya mengarah.” Tian melanjutkan pembicaraan,
sesekali tanganya berusaha membuka bungkus cokelat tadi, sulit dibuka.
“Kamu ikhlas nggak, sih, ngasihnya, Cha!” Tian
berseru kesal karena bungkusnya sulit dibuka.
“Enak saja, ikhlas, lah. Kan yang beli itu Alvin!”
ucap Echa sama-sama ngegas. Alvin hanya menggelengkan kepalanya. Kedua temannya
itu pasti akan menjadi bocah jika disatukan.
“Heh, aku kira ini punya kamu, Cha?!” Alina berseru
kali ini. Ia menyodorkan cokelat yang sudah dimakan setengah kepada Alvin.
“Sudah makan aja. Memang sengaja aku beli banyak,
kok.” Kata Alvin santai.
“Parah banget Echa.” Kata Alina lagi.
“Hehe...” Echa hanya cengengesan sebagai jawaban.
Wajahnya memerah. Entah karena malu, atau karena berada dekat Alina.
“Jadi, bagaimana, ini?” Alvin kembai bertanya.
Karena memang dari antara Echa dan Alvin, dialah yang paling antusias dengan
rencana perajalanan ini.
“Ada clue, seperti yang kubilang tadi, dan clue itu
mengarah ke gunung yang berada di belakang rumahku, tahu, kan?” Tian melempar
pandangan ketiga teman di depannya. Alvin mengangguk, tetapi wajahnya seperti
sudah dipenuhi banyak pertanyaan, padahal Tian baru mulai berbicara.
“Clue itu mengatakan jika ada sesuatu yang berada di
suatu gunung yang dapat membawa ‘kita’ pulang.” Tangan Tian mengutip kata kita
itu seolah memberi penekanan bahwa ‘kita’ berarti hanya dia sendiri.
“Kenapa gunung itu?” Alvin tidak bisa menahan diri
untuk tidak bertanya.
“Tahan sebentar, Vin.” Jawab Tian, “Kalian tahu, kan,
aku bukan sepenuhnya manusia, aneh tidak jika orang tuaku, yang juga bukan
manusia secara random membuat rumah di dekat sesuatu yang kemudian disebutkan
dalam puisi berbahasa aneh?”
“Masuk akal.” Jawab Alvin singkat.
“Lagipula, Cha, memang kamu mau ikut?” tanya Tian
menguji, ia sudah tahu apa yang akan Echa jawab. Lebih-lebih setelah tahu Alina
ikut. Echa tidak akan bisa diam saja.
“Tentu saja!” Echa berseru lantang.
“Aku tidak bisa membiarkan kalian pergi tanpa aku.”
Jawabnya penuh percaya diri.
“Dia nggak pernah peduli kita, Tian.” Celetuk Alvin.
“Enak saja!” sergah Echa menyerigai Alvin.
“Iya, aku ngerti kok.” Tian dan Alvin serempak
tertawa. Alina yang sendari tadi diam hanya terseyum. Menyisakan Echa dengan
wajah memerah.
“Diem kalian!” sergah Echa lagi. Wajahnya semakin
memerah, ia menahan malu di depan Alina.
“Baiklah mari kembali serius.” Kata Tian lagi, “Tapi
kali ini Alina yang akan mejelaskan.” Tian menatap Alina, “Alina, silahkan
paparkan plan kita nanti.”
“Eh?” Alvin heran,
“Kok?” ucapnya lagi. Tian hanya mengangkat kedua
bahu.
“Dengerin saja.” Tian menjawab santai.
“Okay, teman-teman.” Alina mengawali, suaranya manis
terdengar di telinga ketiga temannya itu.
“Maaf sebelumnya jika aku nggak ngasih tahu kalian
sejak awal.” Ucapnya hangat, “Aku dan Tian sudah berhasil memecahkan pesan
rahasia yang ia temukan beberapa bulan lalu.” Alina berhenti sejenak
“Seperti yang Tian katakan di awal, akan aneh bukan
jika orang tuanya membangun rumah di dekat sesuatu yang akhinya di ungkit dalam
pesan misterius?”
Ketiga pemuda di depan Alina mengangguk. Echa menyimak
dengan seksama seperti sedang mendengar ceramah dosen.
“Dan aku...” Alina berhenti lagi, ada keraguan dalam
hatinya untuk melanjutkan. Mata abu-abunya melirik Tian sebentar. Tian mengerti,
ia mengangguk. Katakan saja. Tian
menjawab lewat telepati.
“Aku merasakan hal aneh ketika mendaki gunung itu...”
“Seperti?” Alvin menyela cepat, Echa menyikut
pinggang Alvin, membuat Alvin meringis, “Gak sopan!” seru Echa.
“Seperti gema yang bertumpuk.” Jawab Alina, ia
tersenyum sedikit. Alcin mengangguk, mengerti.
“Maksudnya?” Echa bertanya, tidak maksud Alina.
Alvin mengambil buku catatan Tian, membuka halaman
terakhir. Ia mengambarkan dua titik kemudian membuat lingkaran di salah satu
titiknya, lalu, ia membuat lingkaran lain di luar ingkaran pertama, semakin ke
luar, semakin besar lingkarannya. Alvin menunjuk titik yang ia lingkari.
“Anggap ini adalah orang atau suasana yang Alina
rasakan. Normal dan tenang.” Sembari bicara, ia membuat lingkaran lain di titik
kedua, lingkaran kedua titik itu akhirnya saling beririsan seolah-olah
menumpuk.
“Ini yang ia maksud sebagai gema bertumpuk.” Kata Alvin.
Tian mengangguk, “Yap, begitu.”
Echa menggeleng. “Entahlah apa yang kamu gambar,
Vin.”
Alvin menyipitkan mata, “Yang benar saja!”
“Jadi sederhananya begini, Cha.” Kali ini Tian yang
menjelaskan. “Misal air danau yang tenang, lalu aku melempar satu batu, kita
tahu akan ada gelombang yang tercipta, kan?”
Echa
mengangguk.
“Nah, sekarang bayangkan jika aku melempar banyak
batu sekaligus, apa yang akan terjadi?”
“Gelombangnya bertabrakan...” Echa terdiam, “Oh, begitu.”
Jawabnya singkat setelah mengerti.
“Ini anak memang menyebalkan.” Celetuk Alvin.
“Makannya ngajarin orang yang bener!” Echa membalas
Alvin.
Alvin mendengus pelan, “Jadi, Na, itu yang kamu
rasakan?” tanya Alvin mengalihkan, ia sudah malas berdebat dengan Echa
sepertinya.
Alina mengangguk.
“Tapi, bagaimana mungkin kamu dapat merasakan hal
semacam itu, Na?” kini Alvin yang bertanya. “Bisa jadi, itu hanya perasaan kamu
saja?” tanyanya lagi, Alina menggeleng.
“Bukan, aku tahu itu bukan sekadar perasaanku.” Jawabnya,
“Karena, hal yang ku alami waktu itu, dan waktu-waktu lain, sungguh berbeda
dari semua hal yang pernah aku alami.”
“Berbeda?” tanya Echa.
“Iya.”
“Rasanya, seperti sesuatu memanggilku pulang.”
“Tapi, kamu bilang itu seperti interferensi, gema, Na?”
tanya Alvin penuh rasa penasaran. “Dan, bukankah kamu sudah di ‘rumah’?”
Alina mengangguk, “Iya, gema itu terasa seperti kamu
mendengar lonceng tanda pulang sekolah. Dan saat itu aku tidak bisa mengerti
apa yang orang-orang bicarakan, seperti suara mereka tertimpa oleh sesuatu yang
lain. Tetapi, di saat yang sama seolah-olah pikirannku diajak kembali ke rumah,
tetapi bukan di sini, entah di mana...”
“Aku makin tidak mengerti.” Jawab Alvin, “Sama, vin.”
Echa juga sama tidak mengerti.
“Aku sama seperti Tian.” Jawab Alina kini, jujur. Seketika
pernyataanya mengagetkan ketiga temannya.
“Na...” Tian terbata.
Komentar
Posting Komentar