Maret - Sebelum Ramadhan

  





Angin menderu menerpa tubuhku yang tengah melaju melawan arah angin menuju kotamu yang berada di pusat provinsi barat Pulau Jawa, pagi tadi gadis itu mengabari bahwa ia akan pulang ke Bandung untuk suatu urusan yang tidak dapat aku ceritakan disini, dan tepat seperti yang dapat ku tebak, ia mengajakku bertemu nanti sore.

“Aku lagi di stasiun, nih” katanya pagi tadi, aku yang baru membuka mata yang masih lekat oleh kantuk terperenjat membaca pesan itu dari bar notifikasi ponselku.

“Eh, mau ke mana?” tanyaku tanpa lama setelah membuka ruang chatnya yang selalu penuh oleh obrolan aneh bin absurd. “Mau pulang, dong. Kamu lagi di kosan kan?” tanya gadis itu, aku menekan icon telfon di sebelah namanya, tidak lama kemudian ia mengangkatnya, dari jauh suara sapaannya yang lembut sedikit cempreng namun manis masuk dengan sopan ke dalam indera pendengaranku yang masih loading.

“Bangunn, heii” sapanya yang dapat kurasakan bahwa ia mengucapkanya sambil tersenyum dengan senyumannya yang manis itu. “Iya ini udahh, bawel” kataku, gadis itu tertawa pelan, “Kamu beneran lagi di stasiun?” tanyaku lagi, aku menatap jam di sudut ruangan, waktu menunjukan pukul 7.34, masih sangat pagi pikirku.

“Iya, tapi katanya ada delay, jadi nunggu agak lama, deh” katanya. Aku dapat menderngarnya menghela nafas, “Eh, aku lagi makan roti itu loh, haha” lanjutnya sebelum aku menjawab, tidak lama kemudian ia mengirimkan gambar roti yang telah tergigit setengahnya. “Beliin satu, dong” pintaku dengan nada manja yang amat menjijikan jika ku ingat.

Gadis itu tertawa lagi, “Nanti deh ya, udah lama juga kita ga makan roti bareng - bareng lagi, terakhir tuh kapan ya..” sejenak ia berpikir, “Bulan Maret tahun kemarin” jawabaku, “Oh, iya.. udah mau setahun” kemudian hening, “Udah mau dua tahun, hei!” Ia mengingatkan, aku menatap langit-langit kamar mencoba mengingat “Eh, iya deg udah mau dua tahun,” jawabku diiringi cengingisan. “Huh, gitu aja lupa,” gadis itu menggerutu. Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal karena malu..

 

“Mau ketemuan gakk?” kembali gadis itu bertanya dengan nada mengagetkan seperti interrogator Polres saat menangkap pengedar narkoba. “Mau dong, aku tahu kok kamu kangen aku!” kataku penuh percaya diri, gadis itu tertawa sejenak, “Kamu kali, aku sih engga!” jawabnya dengan nada yang dipaksakan ketus. “Oh, gitu, jadi ga kangen, nih?” tanyaku menjawab drama dadakan kita. “Dih, kenapa juga aku harus kangen kamu, huu!” kali ini nadanya mengejek, pagiku yang masih lekat oleh kantuk kini diwarnai oleh suaranya yang cempreng namun manis itu.

“Aku tahu kok kamu Cuma mengelak” kataku menyela ejekannya dengan percaya diri, “Nanti sore kita ketemu!” lanjutku, gadis itu diam. Namun yang aku percaya ia pasti tersenyum, “Beneran?” tanyanya penasaran, aku mengangguk meskipun ia tak akan tahu, “Ia beneran, aku berangkat jam 12-an deh ya, kamu beresin aja dulu urusan itu” jawabku.

“Oiya, kamu berapa lama di Bandungnya” tanyaku sesaat sebelum jariku terlanjur menekan tombol merah diponsel, “Gak lama, paling nanti malam pulang lagi”, suaranya menyiratkan kekecewan. Namun biar bagaimanapun setidaknya ada waktu untuk kita bertemu pikirku,

Aku mematikan telfon tidak lama setelah perpisahan dan mewanti-wantinya agar tetap berhati – hati dan tidak lupa membaca doa agar perjalannya lancar, meskipun aku tahu jarak Jakarta – Bandung amat singkat apabila ditempuh menggunakan kereta.

Jam yang terikat ditangan kananku menunjukkan pukul 2.30 siang, perjalanan kali ini tidak terlalu jauh karena hanya separuh jalan daripada perjalanan dari rumahku di kotaku, karena sekarang aku tengah berada di kota rantau tempatku menuntut ilmu disalah satu universitas negeri yang ada di Jawa Barat.

***

 

 

 

 

“Kamu di rumah?” tanyaku singkat setelah menepikan motorku di pinggir jalan tidak terlalu jauh dari depan gapura perumahnnya yang mirip gapura kraton Majapahit. Pesanku menggantung dengan ceklis satu di room chatnya. Aku mengadahkan pandanganku ke langit biru dengan udara panas yang sesekali sejuk ditiup angin. Deru kendaraan yang berlalu – lalang meramaikan aspal jalanan daerah Coblong. Aku membuka kait helm merahku yang warnanya telah memudar,kemudian menyisir poni rambut hitamku ke arah kiri karena poninya telah menutupi dahi namun tidak lama kemudian poni itu turun lagi menutupi.

“Pantesan gue dikatain poni lemper khatulistiwa!” kataku sambil melirikkan bola mataku ke potongan poni yang sedikit menutupi mata. “Kayaknya gue harus pangkas, deh!” gerutuku sembari menyisir poni ke kiri lagi dengan tangan kananku. Dering handponeku berdenting tanda pesan masuk, dering khas yang sengaja ku bedakan dengan dering lain agar aku tahu bahwa gadis itu mengirim pesan.

“Aku udah di rumah nih, kamu udah sampai mana?” ketik gadis itu yang kulihat dari bar notifikasi. Aku membuka pesannya dan membalas, “Depan gapura, by” kataku singkat. “EH SERIUS” pesan dengan capslock jebol khas setiap kali dia kaget atau marah atau apalah suasana hatinya yang terkadang tidak jelas kembali masuk ke handphone, aku membalas dengan emoji tertawa sebelum mengirim pesan penjelas, “Serius, aku ke rumah, ya?”

“Iya sini, aku di atas, jadi masuk aja ya gak aku kunci” balasnya, aku segera memasukan handphone kedalam tas selempang hitamku dan melaju perlahan memasuki gapura.

Jalan komplek senggang dan sepi, komplek cluster perumahan orang kaya memang berbeda dengan desa tempatku tinggal yang selalu ramai. Jarak dari gapura Majapahit itu ke rumahnya tidak terlalu jauh. Aku hanya harus melewati sebuah masjid besar di kanan jalan kemudian lurus terus sekitar 200 meter sebelum sampai di depan rumah dua tingkat dengan model minimalis elegan berwarna abu-abu.

 

 

Aku memarkirkan motorku dibawah teduh kanopi beranda rumahnya yang luas. Di pinggir kanopi rumahnya atau tepat didepan kaca lebar ruang tamu rumah terdapat halaman yang ditumbuhi rumput Jepang, dan sebuah tiang dengan ring basket di ujung dekat pagar alami yang berupa pepohonan bambu Jepang. Di bawah ring basket itu adalah tempat gadis semitomboiku bermain basket sendirian, begitu katanya karena sangat sulit mencari teman disini.

Alasan saja.

Aku memutar grande pintu kaca yang berada di sebelah kanan rumah, pintu yang langsung menuju lorong dapur rumahnya karena pintu utama berada di sebelah kiri pintu garasi geser. Hawa dingin khas rumah yang jarang ditinggali terasa seketika aku memasuki lorong padahal cahaya matahari siang yang panas menerangi lorong menerobos masuk dari atap lorong yang sengaja didesain menggunakan kaca tebal agar lorong mendapat pencahayaan alami disiang hari.

Di ujung lorong terdapat pintu kayu jati berwarna cokelat yang terlihat amat berat, dibalik pintu itu dapur rumah gadis yang lebih besar dari ruang keluargaku berada, aku memutar grande pintu itu dan;

 

“WAAAHH” gadis itu mencoba mengagetkan dengan kedua tangan terangkat ke atas dan mulut mengangga lebar menakutiku begitu pintu terbuka, aku yang tidak terkejut hanya mentapnya heran sambil mengerenyitkan dahi sampai kemudian menyadari, “Eh, kamu ngagetin?” gadis itu menatapku kemudian mata sipitnya semakin bertambah sipit mulai menyerigai, “Eh, haha. AAAA aku kaget!!” kataku sambil tertawa puas sekali melihatnya bertingkah bodoh.

“Ih apaan sih,” gadis itu kesal lalu berusaha mencubit pinggangku, aku mengelak dan menghindar berjalan mundur kembali ke lorong sambil tetap tertawa, “Haha, maaf byy aku gak tahu kamu ngagetin” kataku  beringsut mundur menjauhinya yang bertambah kesal, “Namanya juga ngangetin, ih masa aku ngasih tahu dulu!” jawabnya kesal sambil mengejarku.

 

“Maaaaaaf!!” Aku berteriak sembari menutup mata karena punggungku tanpa kusadari telah menyentuh pintu kaca, tanpa ampun gadis manis itu bertubi-tubi mencubiti pinggangku, aku yang menahan geli hanya bisa tertawa lemas tanpa bisa melawan.

“Ngeselin aja!” kata gadis itu setelah puas mencubiti pinggangku, “Lagian pake acara ngagetin segala, sih” kataku memprotes namun gadis itu meleos lebih dulu berjalan memasuki pintu jati tadi, aku mengikuti langkahnya menuju tempat sepatu yang terdapat disebelah kiri lorong sebelum pintu jati lalu melepas sepatu yang tengah kukenakan sebelum masuk ke dalam.

Dapur rumahnya terang benderang dengan lampu neon berwarna putih, dinding bercat krem menambah suasana sejuk. Aku menghampirinya yang tengah membuat sesuatu diatas meja granit hitam tempat kita dulu memasak, “Latte aja ya, by?” tanya gadis itu sambil mengaduk minuman berwarna cokelat didalam mug porselen, suara sendok dan dinding mug berdenting menghalau sunyi rumah ini. "Kayanya gak harus ditanya juga pasti kamu udah tahu sih, by” aku memegang dagu seperti seperti sedang berpikir, gadis itu tertawa renyah melihatku, “Formalitas aja sih hahaha”.

“Nih, kopi buatan calon istri masa depan!” katanya sambil menyodorkan kopi latte hangat itu kepadaku, aku membungkuk seperti orang Jepang yang tengah memberi hormat, “Terimakasih, calon istriku!” seraya kedua tanganku mengambil mug kopi yang asapnya mengepul tipis itu, “Haha, ada – ada aja!” gadis itu tertawa lagi, “Kedepan, yuk?” ajaknya, gadis itu berjalan lebih dulu sementara tangan kanannya memegang mug yang juga mengepulkan asap tipis.

Aku berjalan menyusulnya dari belakang mengikuti, “Urusan kamu udah selesai?” tanyaku selagi kita berjalan, “Udah, kok” jawabnya “Tadi pagi waktu keluar dari stasiun aku langsung ke tempat itu” lanjutnya, aku hanya menganggukan kepala tanda mengerti.

 

 

Gadis itu terus berjalan melewati ruang keluarganya yang nyaman menuju ruang tamu, ia behenti didepan meja kaca lalu meletakan gelas mug di atasnya, kemudian duduk di sofa panjang berwarna cokelat cerah yang nampak empuk. Aku melakukan hal yang sama kemudian duduk di sebelahnya. “Nanti malam aku udah pulang lagi ke Jakarta…” wajahnya murung, aku yang tidak tahu harus berbuat apa hanya menatapnya dengan wajah datar, “Coba kalo dulu aku nurut aja kuliahnya di Bandung aja..” sesi mengeluh pun dimulai, aku semakin bingung harus mengatakan apa untuk mengalihkan pembicaraan suram ini.

“Gapapa kok, bukan salah kamu” kataku menenangkan, “Maaf ya, gara-gara ini kita jarang ketemu..” sial, suasana semakin menyedihkan saja..

“Kitakan sering ketemu dulu waktu masih sekolah, anggap aja ini latihan supaya kita kuat!” kataku menyemangati, “Iya kamu kuat, tapi aku?” gadis itu memalingkan wajahnya kearahku. Wajah manis nan lucu itu terlihat muram, “Ini bukan kali pertama, by, cup – cup jangan nyalahin diri sendiri lagi ya” kataku sambil mengusap pipi kanannya yang tembem itu, lalu segaris senyuman manis terukir di wajahnya yang sudah manis.

“Aaaa” kataku sembari tangan kananku memegang dada kiri seperti orang yang terkena serangan jantung dadakan, gadis itu terkejut, “kamu kenapa??” katanya panik, “Kayanya aku kena sweet smile attack, deh!”, gadis itu mengerenyitkan dahi, “Hah?” ucapnya spontan dengan wajah kaget bercampur heran, “Gak jadi!” kataku lalu kembali ke posisi duduk semula, “Ih aneh banget, haha” gadis itu tertawa.

“Jadi, kita mau ke mana nih?” tanyaku setelah menyeruput kopi buatanya, gadis itu berpikir sebentar, “Kemana, ya?”

“Aku ga menerima kata ‘terserah’ btw” kataku mengingatkan, “Hehe, baru aja mau jawab itu” gadis itu tertawa cengingisan, “Heleh”

“Oiya, kam udah pesen tiket buat pulang, kan?” tanyaku lagi, “Udah dari tadi pas berangkat, soalnya takut tiketnya habis” jawabnya, “Jam berapa?” tanyaku lagi, “6.30 sore” jawabnya singkat, aku berpikir sejenak, “Artinya kamu bakal nyampe Jakarta jam 9-an, kan?” ia menganggukan kepalanya, “Gapapa ko, jangan khawatir, by, aku udah ngabrin Om aku supaya jemput jam segitu..”

Aku mengendurkan kecemasan yang kusembunyikan namun seperti biasa, gadis itu seakan tahu pikiranku, “Uuuuu yang khawatir, pacarnya gak bakal kenapa-kenapa kok, haha” ia tertawa, “Dih, geer banget, huh” dan tawa gadis itu semakin menjadi.

“ya udah deh, yuk kalo mau keluar sekalian bawa juga barang kamu supaya nanti kita langsung ke stasiun” kataku sambil menatap jam tangan yang terikat di tangan kananku, “Waktu kita tinggal 3 jam kurang” aku menatap jarum pendek jam yang melebihi angka tiga dengan perasaan sedih akan berpisah lagi dengannya untuk waktu yang lama, “Aku siap-siap dulu, ya?” gadis itu lalu beranjak meninggalkanku menuju kamarnya di lantai atas.

Aku mengedarkan penglihatanku ke seluruh sudut ruangan, beberapa ornamen khas keluarga Tionghoa serta foto keluarga kecilnya dengan figura besar berukiran sederhana menghiasi salah satu sisi dinding. Dalam potret gadis itu tengah tersenyum manis menghadap kamera, ia mengenakan cheongsam merah bermotif bunga diapit oleh kedua orangtuanya yang juga turut tersenyum. Sementara di dinding kanan terdapat lukisan ka'bah besar, lebih besar dari milik keluargaku di rumah.

“Nanti difoto itu ada gue gak, ya?” seketika khayalku terbuai jauh menuju masa yang entah kapan akan tiba. “Hei, malah ngelamun!” ucap gadis itu mengagetkanku dari lamunan, aku menatap kepalanya yang tengah mengadah melihat kearahku memandang, “Lagi lihat itu, ya?” wajahnya tersenyum kearahku, aku mengangguk pelan. “Aku udah siap, yuk?” gadis itu mengulurkan tangannya seakan mengalihkan suasana.

Aku menyambut uluran tangannya lalu bangkit berdiri dan berjalan dibelakangnya sementara tangan kami masih bertaut. Gadis itu mengenakan celana levis dan kemeja hijau kotak-kotak dengan kancing yang ia biarkan terbuka, sementara baju dalamnya adalah kaos putih polos outfit yang ia gunakan sama seperti yang aku kenakan, hanya saja aku memakai celana chinos krem kesukaanku.

“Jadi, kita mau ke mana?” tanyaku setelah memakai helm, gadis itu mengunci pintu lorong dapur rumahnya karena setelah ini ia akan langsung pulang ke rumah bibinya di Jakarta.

“Makan, yuk?” gadis itu berjalan menghampiri sementara aku tengah membuka pengunci helm bogo cokelat miliknya yang kuambil dari garasi sebelum keluar dari rumah, “Boleh, kamu belum makan, kan?” tanyaku sembari menodorkan helm kepadanya, “Belum, hehe” gadis itu cengingisan tanpa mengambil helm dariku, “Ini, helm kamu, by” kataku lagi seraya menyodorkan helm, gadis itu tersenyum manja, “Pakein” dengan ekspresi yang amat menggemaskan jika kamu melihatnya, haha

“Heuh, si manja” kataku lalu memakaikan helm itu kepadanya, ia tersenyum lagi, “Hehe,”

Aku menyisirkan rambut hitam lurus sebahunya ke samping agar tidak menutupi dahinya kemudian memakaikan helm itu perlahan dan mengunci tali strap agar helm yang ia kenakan aman dari hembusan angin. “Duh anak aku gemesin banget sih,” kataku sambil mencubit kedua pipinya yang tembem dengan kedua tanganku, gadis itu tersenyum lebar sekali yang membuat pipinya semakin kenyal untuk dicubiti.

Jam menunjukan pukul 3.45 ketika kita keluar dari kompleks perumahannya, aku melajukan motor sedikit cepat dari biasanya, lima belas menit berlalu dan halaman depan rumah makan langganan kita sudah nampak dari seberang jalan. Lalu lintas ramai sore itu karena sudah memasuki jam pulang kerja, aku membelokan motorku dengan hati-hati sebelum akhirnya memasuki area parkir yang tidak terlalu luas di depan rumah makan itu.

“Biasa, kan?” gadis itu bertanya sekilas lalu segera masuk ke dalam, ia nampak buru-buru tidak seperti biasanya. Aku mengangguk sambil membuka helm lalu beranjak masuk setelah mengunci kendaraanku. Di dalam gadis itu melambaikan tangan kearahku dari tempatnya duduk, meja dekat jendela yang sering kita pakai untuk makan setiap ali bertemu. Aku menghampirinya setelah mencuci tanganku yang warnanya nampak semakin belang karena terlalu sering terekspos sinar matahari.

Sesi makan berlangsung cepat dan waktu di jam tanganku menunjukan pukul 4.15, beberapa jam lagi jadwal keberangkatnya akan tiba dan karena itu ia nampak panik meskipun tidak menunjukannya kepadaku.

“Jadi, mau kemana nih?” tanyaku setelah keluar dari rumah makan itu. Gadis itu memalingkan wajahnya kearahku dengan tatapan sedikit murung, “Kemana aja asal bisa ngabisin waktu sama kamu!” jawabnya, “Ke Asia Afrika aja, yuk?” aku memberi masukan, namun ia menggeleng, “Pengen, tapi kan jauh dari stasiun..”

Aku berpikir sejenak, “Langsung ke stasiun aja?” tanyaku singkat, namun tetap gelengan kepalanyalah yang aku dapat, “Kita jalan-jalan aja yuk, keliling Bandung, nanti jam 5 baru ke stasiun, kan kita mau makan roti itu loh, inget?”

Aku menganggukan kepalaku lalu mengeluarkan motor dari parkiran, ia naik di belakang dan kedua tanganya melingkari pinggang dan memelukku tidak lama setelah ia duduk. Aku tersenyum melihat tangannya melingkari pinggangku seakan tidak ingin melepaskan, lalu mengusap tangannya dengan tangan kiriku sementara tangan kanan menghidupkan motor.

Kita berkeliling Bandung di sore yang cerah itu, ia bercerita banyak hal sepanjang perjalanan sementara aku seperti biasa menjadi pendengar setianya yang baik mendengarkan setiap ocehan manis yang keluar dari lisannya yang terhalang masker putihnya. Sesekali aku menatapnya dari spion kiriku dan terkadang ia menyadari bahwa aku tengah memperhatikannya lalu mencubitku supaya fokus melihat jalanan yang semakin ramai sementara lembayung senja semakin memerah. Jalan Asia Afrika ramai, tidak ada tempat untuk duduk waktu itu, aku menjalankan motorku dengan pelan sementara gadis itu tidak juga melepas pelukannya.

Pukul 4.50, aku melajukan motor agak cepat, kali ini tujuan menuju akhir, stasiun kereta.

Tanpa terasa waktu berlalu, dan seperti biasanya Einstein benar dengan teori waktunya, satu hal yang sering kukutuk karena benar adanya. Aku benci kepada waktu yang selalu berputar lebih cepat dikala kita sedang bersama.

Aroma roti bercampur kopi yang khas seakan-akan memenuhi ruang tunggu stasiun ini, kereta berlalu – lalang setiap beberapa menit, terkadang berhenti untuk menaikan atau menurunkan penumpang. Kita duduk berdua dibangku panjang, hanya kita berdua yang duduk dibangku itu padahal pengunjung sedang ramai-ramainya, mungkin mereka memahami bahwa kita sebentar lagi akan berpisah sehingga tidak berani menganggu.

Aku menggenggam tangan kanannya, sementara ia memeluk tanganku dengan erat seperti tidak ingin berpisah lagi. Menit demi menit berlalu, puluhan cerita ringkas dan memulai tiada habisnya seakan gadis itu mempunyai 1001 stok cerita untuk diceritakan sampai akhirnya pengumuman kereta tujuan Jakarta akan tiba dlam lima menit, aku menatap jam besar yang menggantung di langit-langit stasiun, pukul 6.25 dan seketika mengeluh, “Kok mereka tumben ontime disaat kita lagi ga pengen berpisah!” gerutuku, gadis itu hanya tersenyum kecut, “Coba kalo delay-nya sekarang, kan?” jawabnya tanda kecewa

Lima menit berlalu, kereta diesel putih yang menarik rangkaian gerbong penumpang tujuan Jakarta berhenti, ia menatapku dengan tatapan yang tidak dapat aku tebak. Kita berdiri serentak dan berjalan menuju pintu kereta yang telah terbuka. Didepan pintu aku berhenti, ia berjalan memasuki gerbong, tepat di depan pintu ia berbalik dan melambaikan tangan kepadaku dengan tatapan murung sebelum akhirnya memsuki gerbong. Gadis itu berjalan di dalam kabin kemudian duduk di kursinya yang berada dekat jendela, aku menatapnya dari luar jendela, pun demikian dengannya menatapku juga dari sana.

Aku mengangkat kedua tanganku sejajar dengan dada kemudian kedua jari jempol dan telunjukku membentuk tanda love seperti anak alay kearahnya, gadis itu tertawa tanpa memperhatikan penumpang disebelahnya, tidak lama kemudian ia melakukan hal yang sama, aku mengembangkan senyuman dan tertawa seperti orang bodoh sementar orang – orang yang berlalu lalang mentap kita dengan tatapan aneh, hah persetan.

Perlahan namun pasti kereta beranjak meninggalkan aku yang masih menatapnya di dalam kabin, ia melambaikan tangannya lagi tanda perpisahan sampai akhirnya aku tidak dapat melihatnya lagi.

Pesan masuk berdenting dari ponselku, aku mengeluarkannya dari tas selempang dan menghiraukan semua pesan masuk lain kecuali pesannya yang baru saja masuk;

 

 

“Hati-hati di jalan, ya by, jangan ngebut-ngebut pulangnya. Aku tunggu kabar kamu kalo kamu udah nyampe kosan, dan nanti kau kabarin kalo kau udah sampe Jakarta. Terima kasih buat hari ini, by, makasih udah luangin waktu buat ketemu. Aku sayang kamu 

Segaris senyum terukir di bibirku, stasiun semakin ramai sementara hatiku kembali terasa hampa jauh darinya.

Komentar