Sebuah Cerita - Sementara Bagian Tiga (I)

 


Frankfurt am Main

Sang surya sore menampakan wajahnya di ufuk barat namun langit biru masih menguasi kaki langit yang cerah tanpa awan, sore itu ia tergelincir ke tempat istirahatnya diiringi embusan angin musim gugur bumi belahan utara yang dingin menyejukan.  Aku menerima sebuah pesan instan dari nomor yang dahulu ku beri emoji hati disamping namanya kala tengah asyik memandangi langit, kalian pasti ingat kepadanya. Gadis yang pernikahannya dahulu kudatangi dengan tabah. Gadis yang berhasil mencuri hatiku belasan tahun silam itu kini tengah megarungi bahtera keluarga yang kuharap bahagia dengan lelaki pilihannya.

 

Pesan itu membuatku tersenyum, sedikit sedih kurasakan namun ada perasaan senang karena ia masih mengingatku setelah sekian lama. Pesan itu adalah sebuah file foto yang  berisi foto dirinya dengan anaknya, gadis cantik secantik ibunya sedang mengambangkan senyum kearah kamera, caption dibawahnya bertuliskan kata-kata yang membuatku terharu. "Haii, hari ini Acha ulang tahun yang ke empat, lho. Katanya pengen ketemu sama kamu"

 

Belum sempat pesan itu kubalas, pesan baru dari nomor yang sama kembali masuk. Kali ini sebuah video. Aku memutar video itu tidak lama setelah terunduh, isinya adalah perayaan sederhana ulang tahun putri gadis itu namun tidak kudapati suamimu didalamnya.  

 

Aku membalas pesan darinya, “Hai, Acha. Selamat sore, selamat ulang tahun yang ke empat ya!” pesan bahasa yang amat kaku jika dipikir-pikir namun tetap aja pesan itu aku kirimkan. Tidak lama status mengetik bertengger dibawah nama kontaknya, sekilas pesan balasan masuk lagi. “Haha, formal sekali, kamu selama disana kayaknya makin kaku aja, Kata Acha pengen video call, gak lagi sibuk kan?”

 

Jantungku berdebar, ada perasaan gelisah untuk mengiyakan permintaanya namun rasa tidak enak cenderung menguasai. Aku mengiyakan ajakannya lalu panggilan masuk berdering. “Hai, pamann” kata gadis itu riang dengan senyuman mengembang mengingatkanku dengan senyuman ibunya bertahun silam.

Aku membalas senyumannya, cuaca cerah di sore hari ini membuat tampilanku terselamatkan oleh cahaya yang menerpa wajahku sehingga wajahku dilayar tidak terlalu pucat setelah seharian bekerja dibalik kubikel kantor yang menjemukan. “Hai, Acha. Selamat ulang tahun, ya! Semoga semua yang Acha harapkan terkabulkan!” kataku, gadis itu tersenyum lagi, senyuman yang amat polos menghiasi layar ponselku.

 

 Obrolan “Paman dan Keponakan” berlangsung cukup lama sampai akhirnya anak gadis itu menyadari sesuatu, “Paman, kok di tempat paman langitnya masih cerah?” refleks aku menatap sekelilingku, langitnya  dan dingin khas musim gugur. “Oh, ini haha” aku tertawa yang semakin membuatnya bingung, “Disini masih sore, Acha” Aku menatap jam chameleonku, waktu menunjukan pukul 3 sore, “Disini masih jam 3, Acha. Kalo di Acha, sekarang jam berapa?” tanyaku polos dengan senyuman yang masih sama, anak gadis itu berbisik kepada ibunya lalu kembali menatap layar, “Disini sudah jam 8, paman” jawab gadis itu dengan nada kanak-kanaknya yang amat lucu ditelingaku, “Ah, curang masa nanya ke bunda” kataku dengan ekspresi cemberut.

 

Anak gadis itu tertawa.

 

Obrolan yang sangat menyenangkan ini tidak berlangsung lama karena anak gadis itu telah menguap beberapa kali, sampai akhirnya bundanya mengambil handphone tersebut “Sebentar ya, jangan dimatiin dulu, aku mau nganterin Acha ke kamarnya” kata gadis itu diakhiri senyum, aku mengangguk.

 

Aku memperhatikan sekelilingku selagi menunggu ia kembali, angin yang berhembus menyejukan menerpa wajahku, taman tempatku berada tidak terlalu ramai dikunjungi dan hanya terlihat beberapa orang saja yang berlalu – lalang sejak aku duduk. Beberapa saat kemudian gadis itu kembali, “Kamu lagi di mana?” tanyanya penasaran. “Aku lagi di taman Grüneburg, lagi healing” kataku diiringi tawa ringan. Gadis itu ikut tertawa, “Kamu kapan pulang lagi ke Indonesia?” tanyanya, aku memutar bola mataku sambil berpikir. “Nggak tau, akhir tahun ini aku bisa sih ngambil cuti” kataku “Tapi buat apa, kan” lanjutku sambil mentapnya lagi.

“Liburan dong, kerja terus kayak romusha, haha” gadis itu tertawa renyah,  aku melihat tawa ibu satu anak itu, tawanya masih sama seperti dulu, menyenangkan sekali bisa berbincang santai lagi setelah sekian lama. “Gapapa dong, yang penting uangnya banyaaakk” jawabku, “Huh, iya percaya kok” gadis itu tersenyum “Nanti kalo kamu pulang, ada yang mau aku ceritain” kalimatnya membuatku penasaran, aku mengerenyitkan dahi “Kenapa gak sekarang aja, aku belum tentu akhir tahun pulang, sih” kataku, “Lagi pula, akukan udah bukan warga Indo lagi..”

 

Entah mengapa, setelah kalimat terakhir itu kuucapkan, air muka gadis itu nampak berubah. “Gak bisa, aku mau cerita langsung” gadis itu tidak mau bercerita lebih jauh, “Pokoknya langsung!” katanya lagi menegaskan “yaudah, deh” aku mengalah “Tapi aku gak janji bisa pulang akhir tahun ini” kataku “Jadi lebih baik jangan nunggu” aku menyelesaikan kalimatku, nun jauh diseberang sana gadis itu tersenyum “Aku tahu kok, kamu pasti akan datang”

 

Aku memutar bola mataku “Gak janji, lho” namun gadis itu hanya menganggukan kepalanya. Tidak lama kemudian ia berpamitan karena malam semakin larut dan harus menemani Acha di kamarnya, aku melambaikan tangan kepadanya, ia membalas dan kemudian menutup panggilan video ini.

 

Aku kembali merenung memandangi rerumputan hijau didepanku, ruang terbuka hijau yang terawat amat baik ini memanjakan mata siapapun yang melihatnya. Hembusan angin sejuk sedikit dingin hawa musim gugur kembali menerpa wajahku, dedaunan yang menguning menghiasi lanskap taman ini. Akhir tahun masih lama pikirku, namun apapun yang ingin dibicarakan gadis itu membuatku gelisah dan penasaran.

 

Musim dingin dimulai menandakan akhir tahun sudah dekat, rintik-rintik salju turun memperingatkan bahwa beberapa bulan kedepan lanskap lautan salju akan menguasai sepanjang mata memandang. Aku menaikan resleting jaket musim dinginku rapat – rapat demi menyambut musim dingin.

Cuti sudah kuajukan sebulan yang lalu, karena aku tidak pernah mengambil cuti sebelumnya maka aku mendapatkanya dengan mudah. Aku melihat keluar dari jendela pesawat komersial putih berlogo orange yang kutumpangi sore ini, kota Frankfurt ini tidak lama lagi akan kutinggalkan sampai 20 hari kedepan, memoriku membawa kembali diriku ke delapan  tahun silam saat pertama kali menginjakan kaki di Flughafen ini, saat di mana impianku untuk tinggal di negeri ini tercapai dan saat di mana titik balik dalam hidupku dimulai, benar hidupku berjalan lebih baik di sini, belum lagi kota ini dapat sedikit mengkikis memori menahunku dengan gadis itu.

 

18 jam perjalan dengan satu kali transit di Singapura adalah perjalanan terakhir yang kutempuh delapan tahun silam, entah sekarang berapa lama yang akan ku tempuh aku tidak memikirkannya, di dalam kepalaku hanya ucapan rahasia gadis itu yang terus menggema tanpa menghiraukan pramugari yang tengah memeragakan keselamatan dalam kondisi darurat didepan sana.

 

Perlahan namun pasti pesawat mulai bergerak maju, semakin cepat dan akhirnya lepas landas meninggalkan dataran bersalju yang indah dibawah sana. Lampu sayap berkedip menembus langit sore yang temaram, aku masih melihat keluar jendela, melihat bumi yang indah dari atas sini pikirku. Langit diluar jendela perlahan menggelap seiring perjalananku menuju dunia tenggara, tigapuluh lima ribu kaki dari daratan dan sepuluh ribu kilometer jarak membentang antar aku dan gadis itu kini tengah kususuri dengan modal 900 euro.

 

Semburat fajar menghiasi jendela, sayap pesawat yang kokoh dengan latar langit keemasan menyambut mataku yang terbuka setelah tidur hampir spanjang malam, namun perjalanan belum sampai di ujungnya. Masih beberapa jam lagi hingga tiba di Singapura, pikirku.

 

Setelah berjam-jam perjalanan yang melelahkan, pagi menjelang siang ini aku menginjakan kaki di tanah air yang bukan lagi tanah airku karena pasportku kini bertuliskan Deutsch dikolom kewarganegaraannya. Aku berjalan menyusuri koridor dengan ransel hitam dipunggungku, dan boneka teddy bear yang kujinjing ini sesekali  membuat beberapa anak – anak menoleh ke arahku, boneka beruang berwarna cokelat yang khusus ku beli di Jerman untuk kuberikan kepada Acha jika nanti kita bertemu. Aku tidak sabar ingin segera bertemu dengan gadis kecil itu, apakah senyuman dan mata jeli ibunya menurun kepadanya, tanpa terasa senyuman terukir di wajahku.

 

Bus membawaku melaju menuju timur, ke pusat pemerintahan provinsi yang sudah lama kutinggalkan, tempat di mana rumah dan kenanganku terletak diatasnya. Udara dingin yang biasa ku hirup berganti menjadi udara lembab panas, belum lama keringatku memenuhi kening. Beberapa jam kemudian bus singgah di perhentian terakhir, terminal Lewipanjang.

 

“Aku udah di Bandung” kataku melalui pesan teks, “HAH?” balasnya tidak lama kemudian, “YANG BENER?” dengan capslock yang mungkin dia lupa matikan. “Serius, aku lagi nunggu di terminal Lewipanjang, siapa tahu mau jemput” jawabku iseng padahal aku lupa di mana alamat rumahnya.

 

Ia tidak membalas, namun setengah jam kemudian dari dalam sebuah mobil subkompak kuning kesukaanya ia melambaikan tangannya kearahku dengan ekspresi sumringah dan seakan tidak percaya bahwa aku benar – benar datang. Aku balas melambai dan kemudian beranjak menghampiri.

 

“Astaga, kamu beneran datang!” gadis itu seakan tidak percaya dengan apa yang ia lihat ketika aku membuka pintu mobil, ia menyambutku dengan memlukku, aku mematung sejenak merasakan pelukannya sampai akhirnya ia melepaskan sendiri. “Eh, maaf” gadis itu tersadar.

 

Kamu tahu, nampaknya kata gadis disini sudah tidak relevan lagi, gadis ini kini tengah menjadi seorang ibu satu anak, usianya akan memasuki kepala tiga, namun aku tidak peduli, bagiku ia tetap gadis manis di koridor dengan senyuman menawan itu. Dan tentu saja kata gadis akan terus kugunakan untuk memanggilnya.   

 

“Gapapa, kok” aku tersenyum sampai akhirnya menyadari bahwa ia hanya sendiri menjemputku, “Eh, Acha mana?” kataku setelah melihat kursi belakang sekalian mengalihkan suasana yang canggung, “Acha lagi tidur, aku mau bangunin tapi gak tega, lagian kamu gak bilang mau pulang” “Kan surprise” kataku cengingisan sambil mengacungkan boneka cokelat itu, gadis itu tersenyum “Tuh, kan. Kamu pasti pulang karena penasaran!” aku menoleh gadis itu yang tengah menyetir, “Huh, orang aku mau ketemu sama Acha!” aku mengelak namun ia hanya tertawa.

 

“Jadi, kamu mau bilang apa, aku udah di sini..” tanyaku, kemudian hening

 

“Kita bicarainnya nanti aja ya, kamu pasti lapar, kan? Kita cari resto atau café deh ya” gadis itu menyarankan, aku mengangguk “Resto aja, aku lapar, hehe” aku cengingisan, kemudian ia mengubah arah kemudi menuju restoran langganannya yang aku tidak ingat sama sekali bahwa ada restoran di tempat itu sebelumnya.

 

Makanan telah habis, aku kembali menanyakan pertanyaan yang mengantung tadi, namun ada rasa berat kurasakan dari gadis itu untuk menjawab pertanyaanku, raut wajahnya mulai tidak nyaman, namun pada akhirnya ia membuka mulutnya.

 

“Aku udah cerai”

 

Deg, kalimat itu seperti petir disiang bolong bagiku. Seketika semuanya seakan berhenti dan aku tidak percaya dengan apa yang  baru saja ku dengar.

 

“Hah, kamu bercanda, kan?” kataku memastikan, dengan ekspresi yang tidak bisa kusembunyikan, gadis itu mengangguk.

 

“Tapi, kenapa?” tanyaku lagi

 

Ia melihat sekeliling restoran dengan mata sembab, sebelum akhirnya mata itu bertemu dengan mataku yang masih tidak percaya dengan semua ini. “Kamu tahu kan kalo usia pernikahan aku sama mantan suami aku itu sama dengan lama kepergian kamu ke Jerman?”

 

Aku berpikir sebentar kemudian menganggukan kepala, lalu gadis itu melanjutkan cerita. “Tahun pertama pernikahan semuanya baik – baik aja, sampai akhirnya masuk ke tahun ke tiga dan kita masih belum dikaruniai anak, mantan ibu mertua aku gak tahu kenapa berubah semenjak itu, dia bilang didepan aku katanya aku wanita mandul dan gak layak buat anaknya. Awalnya emang mantan suami aku gak peduli sama ocehannya, tapi aku gak bisa nerima itu!” matanya berkaca selagi ia berbicara

 

“Masuk tahun ke empat dan aku masih belum juga hamil, ibu mertua aku makin menjadi – jadi, iya aku tahu dia pengen nimang cucu, tapi kalo belum dipercayakan Tuhan kita bisa apa kan selain nunggu?” ia bertanya, aku hanya menganggukan kepala sebagai respon.

 

“Dan akhirnya mantan suami aku tanpa aku sadari berubah, sikap dan kelakuannya berubah drastis, aku gak tahu kenapa namun ada yang bilang kalo dia selingkuh…” hening, aku melihat gadis itu berusaha menahan air matanya, aku mengambi secarik tissue dari box kecil ditengah meja makan dan memberikan kepadanya, ia menyeka air matanya sebelum kembali bercerita.

 

“Emang awalnya aku gak percaya, bisa aja temen – temen aku bohong, kan?” katanya “Tapi ternyata nggak!” tangisnya kini tak kuasa ia bendung lagi dan tumpah saat itu juga, aku memperhatikan sekeliling, orang – orang masih sibuk dengan hidangan mereka tanpa memperhatikan kita berdua, aku beranjak dari kursiku dan berdiri disampingnya dan mengusap pundaknya untuk sekedar menenangkan gadis itu.

 

“Aku nemuin sendiri pesan dia sama selingkuhannya di hpnya, aku gak masalah sama ibu mertua atau sikap dia yang berubah, tapi aku gak bisa tolerir perselingkuhan!” katanya tegas.

 

“Emang awalnya dia ngelak, tapi pada akhirnya dia ngaku.. Dan kamu tau, saat aku udah mutusin buat bercerai sama dia, aku hamil”

 

Hening lagi, aku kembali ke tempat dudukku sebelumnya, menyimak setiap kata yang ia ucapkan, “dan?” kataku “Dan mereka semua senang, tapi aku udah mutusin, begitu lahiran aku bakalan minta cerai sama dia dan aku yang bakal ngasuh anak aku sendiri”

 

“Mereka pasti nolak” kataku menebak, gadis itu mengangguk “tapi aku gak berhenti, sampai akhirnya kayak gini deh, jadi single parent buat Acha” kali ini ia tersenyum “Tapi untungnya Acha gak pernah mempertanyakan ayahnya, malah dia nggak nganggep ayahnya sama sekali, kamu tahu gak, Acha pengen banget ketemu sama kamu”

 

Aku terkejut mendengarnya, belum selesai keterkejutan pertama, ia menabah lagi kejutan baru. “Eh, kok?” namun gadis itu malah tertawa, “Kamu nyeritain aku?” kataku lagi dengan ekspresi tak percaya. “Sedikit” gadis itu menutup mulutnya dengan tangan mencoba menahan tawanya, “Hah, kamu ceritain apa aja, heii” tanyaku namun ia menolak memberitahu dan mengajakku segera pulang ke rumah karena hujan nampaknya akan segera turun.

 

Dan saat itulah aku menyadari sesuatu, “Eh, aku lupa gak nukerin uang dulu..” kataku sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal, “Mereka nerima euro, gak?” seketika wajahku terasa pucat, gadis itu melirik kearahku dan tertawa lagi, “Udah tenang aja, biar aku yang bayar” jawabnya, aku menghela nafas dan ia berlaih ke meja kasir membayar.

 

“Jadi gimana nih, selama di sana” gadis itu bertanya sambil matanya fokus menyetir, “Menyenangkan, apalagi waktu musim gugur kaya bulan kemarin” kataku tersenyum melihat rintik air hujan mulai membasahi  kaca depan, jalanan ramai siang itu dan hujan sebentar lagi akan mengurai kepadatan jalanan ini pikirku. “Bukan itu, maksudnya udah ada calon belum, masa mau lajang terus” gadis itu cengingisan. “Eh, kirain nanya suasana” jawabku kemudian hening

 

 “Hmm, belum ada, sih” jawabku kemudian, gadis itu menoleh “Sembilan tahunn kamu di sana dan sekarang udah jadi orang Jerman dan belum dapet pasangan?” pandangan dan nada bicaranya menunjukan ketidakpercayaan namun aku mengangguk “Aku pernah sih sekali dekat sama teman kantor, namanya Katherina Schmidt”  

 

“Uhm, terus?” katanya lagi “Tapi karena satu dan banyak alasan akhirnya bubar” jawabku, “Schade” gadis itu menjawab. “Eh” aku menengok ke arahnya, “Bener, kan hehe” gadis itu cengingisan dan aku tertawa.

 

Kita sampai saat hujan deras tengah mengguyur, untungnya ia memarkirkan mobilnya di dalam garasi sehingga tidak harus berlarian dibawah hujan ini. Acha masih terlelap di kamarnya saat aku lihat, gadis kecil itu amat lucu diselubungi selimut berwarna merah jambunya.

 

“Kamu berapa hari tinggal di sini?” gadis itu bertanya sambil membawakan teh hangat dari dapur kemudian menyajikannya di meja tempatku duduk disebelahnya “Danke schön!” kataku, sebelum akhirnya meralat ucapanku “Eh, makasih hehe, kebiasaan” kataku cengingisan

 

“Aku cuti sebulan, sih. Mungkin 2 minggu” kataku melanjutkan, gadis itu mengangguk, “Hmm, gitu ya” kemudian hening.

 

Suara hujan di luar semakin deras, udara yang tadi panas mulai digantikan oleh dingin khas kota ini, asap mengepul dari cangkir teh manis sudah lama menguap dan Acha nampaknya masih terlelap dalam tidurnya. “Aku pengen ngajak Acha jalan-jalan besok, boleh ngga?” tanyaku malu-malu,  gadis itu tersenyum. “Boleh kok, asal aku diajak” katanya. Aku menggelengkan kepala. “Nggak, aku mau ajak Acha aja, wle” kataku disambut tawa kita berdua.

Komentar