Frankfurt
am Main
Sang
surya sore menampakan wajahnya di ufuk barat namun langit biru masih menguasi
kaki langit yang cerah tanpa awan, sore itu ia tergelincir ke tempat
istirahatnya diiringi embusan angin musim gugur bumi belahan utara yang dingin
menyejukan. Aku menerima sebuah pesan
instan dari nomor yang dahulu ku beri emoji hati disamping namanya kala tengah
asyik memandangi langit, kalian pasti ingat kepadanya. Gadis yang pernikahannya
dahulu kudatangi dengan tabah. Gadis yang berhasil mencuri hatiku belasan tahun
silam itu kini tengah megarungi bahtera keluarga yang kuharap bahagia dengan
lelaki pilihannya.
Pesan itu
membuatku tersenyum, sedikit sedih kurasakan namun ada perasaan senang karena
ia masih mengingatku setelah sekian lama. Pesan itu adalah sebuah file foto
yang berisi foto dirinya dengan anaknya,
gadis cantik secantik ibunya sedang mengambangkan senyum kearah kamera, caption
dibawahnya bertuliskan kata-kata yang membuatku terharu. "Haii, hari ini
Acha ulang tahun yang ke empat, lho. Katanya pengen ketemu sama kamu"
Belum
sempat pesan itu kubalas, pesan baru dari nomor yang sama kembali masuk. Kali
ini sebuah video. Aku memutar video itu tidak lama setelah terunduh, isinya
adalah perayaan sederhana ulang tahun putri gadis itu namun tidak kudapati
suamimu didalamnya.
Aku
membalas pesan darinya, “Hai, Acha. Selamat sore, selamat ulang tahun yang ke
empat ya!” pesan bahasa yang amat kaku jika dipikir-pikir namun tetap aja pesan
itu aku kirimkan. Tidak lama status mengetik bertengger dibawah nama kontaknya,
sekilas pesan balasan masuk lagi. “Haha, formal sekali, kamu selama disana
kayaknya makin kaku aja, Kata Acha pengen video call, gak lagi sibuk kan?”
Jantungku
berdebar, ada perasaan gelisah untuk mengiyakan permintaanya namun rasa tidak
enak cenderung menguasai. Aku mengiyakan ajakannya lalu panggilan masuk
berdering. “Hai, pamann” kata gadis itu riang dengan senyuman mengembang
mengingatkanku dengan senyuman ibunya bertahun silam.
Aku membalas
senyumannya, cuaca cerah di sore hari ini membuat tampilanku terselamatkan oleh
cahaya yang menerpa wajahku sehingga wajahku dilayar tidak terlalu pucat
setelah seharian bekerja dibalik kubikel kantor yang menjemukan. “Hai, Acha.
Selamat ulang tahun, ya! Semoga semua yang Acha harapkan terkabulkan!” kataku,
gadis itu tersenyum lagi, senyuman yang amat polos menghiasi layar ponselku.
Obrolan “Paman dan Keponakan” berlangsung
cukup lama sampai akhirnya anak gadis itu menyadari sesuatu, “Paman, kok di
tempat paman langitnya masih cerah?” refleks aku menatap sekelilingku,
langitnya dan dingin khas musim gugur.
“Oh, ini haha” aku tertawa yang semakin membuatnya bingung, “Disini masih sore,
Acha” Aku menatap jam chameleonku, waktu menunjukan pukul 3 sore, “Disini masih
jam 3, Acha. Kalo di Acha, sekarang jam berapa?” tanyaku polos dengan senyuman
yang masih sama, anak gadis itu berbisik kepada ibunya lalu kembali menatap
layar, “Disini sudah jam 8, paman” jawab gadis itu dengan nada kanak-kanaknya
yang amat lucu ditelingaku, “Ah, curang masa nanya ke bunda” kataku dengan
ekspresi cemberut.
Anak
gadis itu tertawa.
Obrolan
yang sangat menyenangkan ini tidak berlangsung lama karena anak gadis itu telah
menguap beberapa kali, sampai akhirnya bundanya mengambil handphone tersebut
“Sebentar ya, jangan dimatiin dulu, aku mau nganterin Acha ke kamarnya” kata
gadis itu diakhiri senyum, aku mengangguk.
Aku
memperhatikan sekelilingku selagi menunggu ia kembali, angin yang berhembus
menyejukan menerpa wajahku, taman tempatku berada tidak terlalu ramai
dikunjungi dan hanya terlihat beberapa orang saja yang berlalu – lalang sejak
aku duduk. Beberapa saat kemudian gadis itu kembali, “Kamu lagi di mana?”
tanyanya penasaran. “Aku lagi di taman Grüneburg, lagi healing” kataku diiringi
tawa ringan. Gadis itu ikut tertawa, “Kamu kapan pulang lagi ke Indonesia?”
tanyanya, aku memutar bola mataku sambil berpikir. “Nggak tau, akhir tahun ini
aku bisa sih ngambil cuti” kataku “Tapi buat apa, kan” lanjutku sambil
mentapnya lagi.
“Liburan
dong, kerja terus kayak romusha, haha” gadis itu tertawa renyah, aku melihat tawa ibu satu anak itu, tawanya
masih sama seperti dulu, menyenangkan sekali bisa berbincang santai lagi
setelah sekian lama. “Gapapa dong, yang penting uangnya banyaaakk” jawabku,
“Huh, iya percaya kok” gadis itu tersenyum “Nanti kalo kamu pulang, ada yang
mau aku ceritain” kalimatnya membuatku penasaran, aku mengerenyitkan dahi
“Kenapa gak sekarang aja, aku belum tentu akhir tahun pulang, sih” kataku,
“Lagi pula, akukan udah bukan warga Indo lagi..”
Entah
mengapa, setelah kalimat terakhir itu kuucapkan, air muka gadis itu nampak
berubah. “Gak bisa, aku mau cerita langsung” gadis itu tidak mau bercerita
lebih jauh, “Pokoknya langsung!” katanya lagi menegaskan “yaudah, deh” aku
mengalah “Tapi aku gak janji bisa pulang akhir tahun ini” kataku “Jadi lebih
baik jangan nunggu” aku menyelesaikan kalimatku, nun jauh diseberang sana gadis
itu tersenyum “Aku tahu kok, kamu pasti akan datang”
Aku
memutar bola mataku “Gak janji, lho” namun gadis itu hanya menganggukan
kepalanya. Tidak lama kemudian ia berpamitan karena malam semakin larut dan
harus menemani Acha di kamarnya, aku melambaikan tangan kepadanya, ia membalas
dan kemudian menutup panggilan video ini.
Aku
kembali merenung memandangi rerumputan hijau didepanku, ruang terbuka hijau
yang terawat amat baik ini memanjakan mata siapapun yang melihatnya. Hembusan
angin sejuk sedikit dingin hawa musim gugur kembali menerpa wajahku, dedaunan
yang menguning menghiasi lanskap taman ini. Akhir tahun masih lama pikirku,
namun apapun yang ingin dibicarakan gadis itu membuatku gelisah dan penasaran.
Musim
dingin dimulai menandakan akhir tahun sudah dekat, rintik-rintik salju turun
memperingatkan bahwa beberapa bulan kedepan lanskap lautan salju akan menguasai
sepanjang mata memandang. Aku menaikan resleting jaket musim dinginku rapat –
rapat demi menyambut musim dingin.
Cuti
sudah kuajukan sebulan yang lalu, karena aku tidak pernah mengambil cuti
sebelumnya maka aku mendapatkanya dengan mudah. Aku melihat keluar dari jendela
pesawat komersial putih berlogo orange yang kutumpangi sore ini, kota Frankfurt
ini tidak lama lagi akan kutinggalkan sampai 20 hari kedepan, memoriku membawa
kembali diriku ke delapan tahun silam
saat pertama kali menginjakan kaki di Flughafen ini, saat di mana
impianku untuk tinggal di negeri ini tercapai dan saat di mana titik balik
dalam hidupku dimulai, benar hidupku berjalan lebih baik di sini, belum lagi
kota ini dapat sedikit mengkikis memori menahunku dengan gadis itu.
18
jam perjalan dengan satu kali transit di Singapura adalah perjalanan terakhir
yang kutempuh delapan tahun silam, entah sekarang berapa lama yang akan ku
tempuh aku tidak memikirkannya, di dalam kepalaku hanya ucapan rahasia gadis
itu yang terus menggema tanpa menghiraukan pramugari yang tengah memeragakan
keselamatan dalam kondisi darurat didepan sana.
Perlahan
namun pasti pesawat mulai bergerak maju, semakin cepat dan akhirnya lepas
landas meninggalkan dataran bersalju yang indah dibawah sana. Lampu sayap
berkedip menembus langit sore yang temaram, aku masih melihat keluar jendela,
melihat bumi yang indah dari atas sini pikirku. Langit diluar jendela perlahan
menggelap seiring perjalananku menuju dunia tenggara, tigapuluh lima ribu kaki
dari daratan dan sepuluh ribu kilometer jarak membentang antar aku dan gadis
itu kini tengah kususuri dengan modal 900 euro.
Semburat
fajar menghiasi jendela, sayap pesawat yang kokoh dengan latar langit keemasan
menyambut mataku yang terbuka setelah tidur hampir spanjang malam, namun
perjalanan belum sampai di ujungnya. Masih beberapa jam lagi hingga tiba di
Singapura, pikirku.
Setelah
berjam-jam perjalanan yang melelahkan, pagi menjelang siang ini aku menginjakan
kaki di tanah air yang bukan lagi tanah airku karena pasportku kini bertuliskan
Deutsch dikolom kewarganegaraannya. Aku berjalan menyusuri koridor dengan
ransel hitam dipunggungku, dan boneka teddy bear yang kujinjing ini
sesekali membuat beberapa anak – anak
menoleh ke arahku, boneka beruang berwarna cokelat yang khusus ku beli di
Jerman untuk kuberikan kepada Acha jika nanti kita bertemu. Aku tidak sabar
ingin segera bertemu dengan gadis kecil itu, apakah senyuman dan mata jeli
ibunya menurun kepadanya, tanpa terasa senyuman terukir di wajahku.
Bus
membawaku melaju menuju timur, ke pusat pemerintahan provinsi yang sudah lama
kutinggalkan, tempat di mana rumah dan kenanganku terletak diatasnya. Udara
dingin yang biasa ku hirup berganti menjadi udara lembab panas, belum lama
keringatku memenuhi kening. Beberapa jam kemudian bus singgah di perhentian
terakhir, terminal Lewipanjang.
“Aku
udah di Bandung” kataku melalui pesan teks, “HAH?” balasnya tidak lama
kemudian, “YANG BENER?” dengan capslock yang mungkin dia lupa matikan. “Serius,
aku lagi nunggu di terminal Lewipanjang, siapa tahu mau jemput” jawabku iseng
padahal aku lupa di mana alamat rumahnya.
Ia
tidak membalas, namun setengah jam kemudian dari dalam sebuah mobil subkompak kuning
kesukaanya ia melambaikan tangannya kearahku dengan ekspresi sumringah dan
seakan tidak percaya bahwa aku benar – benar datang. Aku balas melambai dan
kemudian beranjak menghampiri.
“Astaga,
kamu beneran datang!” gadis itu seakan tidak percaya dengan apa yang ia lihat
ketika aku membuka pintu mobil, ia menyambutku dengan memlukku, aku mematung
sejenak merasakan pelukannya sampai akhirnya ia melepaskan sendiri. “Eh, maaf”
gadis itu tersadar.
Kamu
tahu, nampaknya kata gadis disini sudah tidak relevan lagi, gadis ini kini
tengah menjadi seorang ibu satu anak, usianya akan memasuki kepala tiga, namun
aku tidak peduli, bagiku ia tetap gadis manis di koridor dengan senyuman
menawan itu. Dan tentu saja kata gadis akan terus kugunakan untuk
memanggilnya.
“Gapapa,
kok” aku tersenyum sampai akhirnya menyadari bahwa ia hanya sendiri
menjemputku, “Eh, Acha mana?” kataku setelah melihat kursi belakang sekalian
mengalihkan suasana yang canggung, “Acha lagi tidur, aku mau bangunin tapi gak
tega, lagian kamu gak bilang mau pulang” “Kan surprise” kataku cengingisan sambil
mengacungkan boneka cokelat itu, gadis itu tersenyum “Tuh, kan. Kamu pasti
pulang karena penasaran!” aku menoleh gadis itu yang tengah menyetir, “Huh,
orang aku mau ketemu sama Acha!” aku mengelak namun ia hanya tertawa.
“Jadi,
kamu mau bilang apa, aku udah di sini..” tanyaku, kemudian hening
“Kita
bicarainnya nanti aja ya, kamu pasti lapar, kan? Kita cari resto atau café deh
ya” gadis itu menyarankan, aku mengangguk “Resto aja, aku lapar, hehe” aku
cengingisan, kemudian ia mengubah arah kemudi menuju restoran langganannya yang
aku tidak ingat sama sekali bahwa ada restoran di tempat itu sebelumnya.
Makanan
telah habis, aku kembali menanyakan pertanyaan yang mengantung tadi, namun ada
rasa berat kurasakan dari gadis itu untuk menjawab pertanyaanku, raut wajahnya
mulai tidak nyaman, namun pada akhirnya ia membuka mulutnya.
“Aku
udah cerai”
Deg,
kalimat itu seperti petir disiang bolong bagiku. Seketika semuanya seakan
berhenti dan aku tidak percaya dengan apa yang
baru saja ku dengar.
“Hah,
kamu bercanda, kan?” kataku memastikan, dengan ekspresi yang tidak bisa
kusembunyikan, gadis itu mengangguk.
“Tapi,
kenapa?” tanyaku lagi
Ia
melihat sekeliling restoran dengan mata sembab, sebelum akhirnya mata itu
bertemu dengan mataku yang masih tidak percaya dengan semua ini. “Kamu tahu kan
kalo usia pernikahan aku sama mantan suami aku itu sama dengan lama kepergian
kamu ke Jerman?”
Aku
berpikir sebentar kemudian menganggukan kepala, lalu gadis itu melanjutkan
cerita. “Tahun pertama pernikahan semuanya baik – baik aja, sampai akhirnya
masuk ke tahun ke tiga dan kita masih belum dikaruniai anak, mantan ibu mertua
aku gak tahu kenapa berubah semenjak itu, dia bilang didepan aku katanya aku
wanita mandul dan gak layak buat anaknya. Awalnya emang mantan suami aku gak
peduli sama ocehannya, tapi aku gak bisa nerima itu!” matanya berkaca selagi ia
berbicara
“Masuk
tahun ke empat dan aku masih belum juga hamil, ibu mertua aku makin menjadi –
jadi, iya aku tahu dia pengen nimang cucu, tapi kalo belum dipercayakan Tuhan
kita bisa apa kan selain nunggu?” ia bertanya, aku hanya menganggukan kepala
sebagai respon.
“Dan
akhirnya mantan suami aku tanpa aku sadari berubah, sikap dan kelakuannya
berubah drastis, aku gak tahu kenapa namun ada yang bilang kalo dia selingkuh…”
hening, aku melihat gadis itu berusaha menahan air matanya, aku mengambi
secarik tissue dari box kecil ditengah meja makan dan memberikan kepadanya, ia
menyeka air matanya sebelum kembali bercerita.
“Emang
awalnya aku gak percaya, bisa aja temen – temen aku bohong, kan?” katanya “Tapi
ternyata nggak!” tangisnya kini tak kuasa ia bendung lagi dan tumpah saat itu
juga, aku memperhatikan sekeliling, orang – orang masih sibuk dengan hidangan
mereka tanpa memperhatikan kita berdua, aku beranjak dari kursiku dan berdiri
disampingnya dan mengusap pundaknya untuk sekedar menenangkan gadis itu.
“Aku
nemuin sendiri pesan dia sama selingkuhannya di hpnya, aku gak masalah sama ibu
mertua atau sikap dia yang berubah, tapi aku gak bisa tolerir perselingkuhan!”
katanya tegas.
“Emang
awalnya dia ngelak, tapi pada akhirnya dia ngaku.. Dan kamu tau, saat aku udah
mutusin buat bercerai sama dia, aku hamil”
Hening
lagi, aku kembali ke tempat dudukku sebelumnya, menyimak setiap kata yang ia
ucapkan, “dan?” kataku “Dan mereka semua senang, tapi aku udah mutusin, begitu
lahiran aku bakalan minta cerai sama dia dan aku yang bakal ngasuh anak aku
sendiri”
“Mereka
pasti nolak” kataku menebak, gadis itu mengangguk “tapi aku gak berhenti,
sampai akhirnya kayak gini deh, jadi single parent buat Acha” kali ini ia
tersenyum “Tapi untungnya Acha gak pernah mempertanyakan ayahnya, malah dia
nggak nganggep ayahnya sama sekali, kamu tahu gak, Acha pengen banget ketemu
sama kamu”
Aku
terkejut mendengarnya, belum selesai keterkejutan pertama, ia menabah lagi
kejutan baru. “Eh, kok?” namun gadis itu malah tertawa, “Kamu nyeritain aku?”
kataku lagi dengan ekspresi tak percaya. “Sedikit” gadis itu menutup mulutnya
dengan tangan mencoba menahan tawanya, “Hah, kamu ceritain apa aja, heii”
tanyaku namun ia menolak memberitahu dan mengajakku segera pulang ke rumah
karena hujan nampaknya akan segera turun.
Dan
saat itulah aku menyadari sesuatu, “Eh, aku lupa gak nukerin uang dulu..”
kataku sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal, “Mereka nerima euro, gak?”
seketika wajahku terasa pucat, gadis itu melirik kearahku dan tertawa lagi,
“Udah tenang aja, biar aku yang bayar” jawabnya, aku menghela nafas dan ia
berlaih ke meja kasir membayar.
“Jadi
gimana nih, selama di sana” gadis itu bertanya sambil matanya fokus menyetir,
“Menyenangkan, apalagi waktu musim gugur kaya bulan kemarin” kataku tersenyum
melihat rintik air hujan mulai membasahi
kaca depan, jalanan ramai siang itu dan hujan sebentar lagi akan
mengurai kepadatan jalanan ini pikirku. “Bukan itu, maksudnya udah ada calon
belum, masa mau lajang terus” gadis itu cengingisan. “Eh, kirain nanya suasana”
jawabku kemudian hening
“Hmm, belum ada, sih” jawabku kemudian, gadis
itu menoleh “Sembilan tahunn kamu di sana dan sekarang udah jadi orang Jerman
dan belum dapet pasangan?” pandangan dan nada bicaranya menunjukan
ketidakpercayaan namun aku mengangguk “Aku pernah sih sekali dekat sama teman
kantor, namanya Katherina Schmidt”
“Uhm,
terus?” katanya lagi “Tapi karena satu dan banyak alasan akhirnya bubar”
jawabku, “Schade” gadis itu menjawab. “Eh” aku menengok ke arahnya,
“Bener, kan hehe” gadis itu cengingisan dan aku tertawa.
Kita
sampai saat hujan deras tengah mengguyur, untungnya ia memarkirkan mobilnya di dalam
garasi sehingga tidak harus berlarian dibawah hujan ini. Acha masih terlelap di
kamarnya saat aku lihat, gadis kecil itu amat lucu diselubungi selimut berwarna
merah jambunya.
“Kamu berapa
hari tinggal di sini?” gadis itu bertanya sambil membawakan teh hangat dari
dapur kemudian menyajikannya di meja tempatku duduk disebelahnya “Danke
schön!” kataku, sebelum akhirnya meralat ucapanku “Eh, makasih hehe,
kebiasaan” kataku cengingisan
“Aku cuti
sebulan, sih. Mungkin 2 minggu” kataku melanjutkan, gadis itu mengangguk, “Hmm,
gitu ya” kemudian hening.
Suara hujan di luar
semakin deras, udara yang tadi panas mulai digantikan oleh dingin khas kota
ini, asap mengepul dari cangkir teh manis sudah lama menguap dan Acha nampaknya
masih terlelap dalam tidurnya. “Aku pengen ngajak Acha jalan-jalan besok, boleh
ngga?” tanyaku malu-malu, gadis itu
tersenyum. “Boleh kok, asal aku diajak” katanya. Aku menggelengkan kepala. “Nggak,
aku mau ajak Acha aja, wle” kataku disambut tawa kita berdua.

Komentar
Posting Komentar