Sebuah Cerita - Sementara Bagian Satu (1)



 “Aku bebas mencintai siapa saja,” kataku kala itu. Dengan seragam putih biru yang berantakan. “Bahkan cinta gadis paling cantik di satu sekolah,” lanjutku. Di umur yang menurutku begitu dini, ia adalah gadis tercantik di sekolahku. Ah, sudah berapa kali aku mengucap kata “cantik”? Namun tak masalah, apapun kata “cantik” yang aku sematkan untuknya adalah layak didapatkan oleh dirinya. 


Namanya adalah hari perayaan umat  seluruh dunia, Hatiku terpaut untuknya sejak pertama kali melihatnya. Kala siang meninggi disuatu koridor sekolah menengah pertama ia berjalan dan kita berpapasan, ada senyum yang ia lontarkan kala itu. Aku tahu senyuman itu bukan untukku namun ibarat black hole, pandanganku tertarik menuju keindahan itu, dan sejak saat itu rasa aneh muncul dari lubuk hati bocah ingusan macam aku. 


Bulan berlalu sejak saat itu,  aku memberanikan diriku kepadanya. Bukan untuk menyatakan perasaanku, namun sekedar meminta kontaknya agar kesunyian ini dapat terisi meski hanya sebatas sapaan singkat. Saat itu bel pulang berbunyi, ia tengah berjalan sendirian disaat aku menghampiri lalu menyapanya singkat dan dengan kaki gemetar meminta nomor teleponnya.


 Luar biasa getaran itu hingga tanpa terasa dahiku dipenuhi peluh, aku tahu ia telah biasa dimintai nomor seperti ini, ia hanya tersenyum lalu menuliskan nomornya diatas secarik kertas.


Bahagia, ya aku sungguh bahagia!


Bulan berlalu dan perpesanan kita semakin intens, ia banyak bercerita dan aku mendengarkan seperti lelaki pada umumnya, gadis yang cantik nan menyenangkan. Benih-benih yang dulu pernah tumbuh kini semakin subur bagaikan bibit yang ditanam ditanah yang subur, pesan darinya bagaikan air hujan yang tercurah dari langit, membasahi dan menyuburkan perasaan yang semakin hari semakin bertumbuh besar bersamaan dengan menjelangnya akhir tahun pelajaran masa putih biru ini. 


Beberapa minggu kemudian pengumuman kelulusan, kita berpisah saat itu namun berjanji akan tetap berkomunikasi, aku mempercayainya dan kita berpisah. Tiga tahun berjalan, masa putih abu-abu tidak lain hanya bagai tahun-tahun penuh kesepian tanpa hadirnya namun pesannya adalah teman yang amat akrab meskipun jarang bertukar pesan seintens dulu. Namun karena jarak, ia yang ku kenal dekat dahulu tidak lagi sedekat itu. Bahkan untuk menyapanya di media sosial pun aku tidak berani.


Gadis itu semakin cantik amat sangat cantik, tidak mungkin jika tidak ada lelaki yang tidak tertarik. Sudah pasti aku kalah kali ini, karena bagaimanapun aku tidak pernah menang mendapatkan hatinya. Dahulu pun aku hanyalah sebatas temannya, penyemangatnya, dan tempatnya berkeluh-kesah, sungguh tidak lebih. Perasaanku yang membuncah ruah dahulu tidak dapat ku luapkan karena kesadaran diriku yang tinggi. Ia malaikat, tidak mungkin bersanding dengan kasta sudra sepertiku.


Dan aku bertekad,  berusaha menjadi orang yang layak untuknya. Tahun sekolah menengah atas terlewat tanpa terasa, tahun-tahun kuliah pun demikian. Frekuensi komunikasi antara diriku dengannya tidak seintens dulu karena kesibukan dan banyak hal lain, namun masih hangat.


Usaha panjangku untuk layak bersanding membuahkan hasil, setelah beberapa tahun bekerja kini aku tidak harus berpanas-panasan diatas motor jika ingin kemana-mana, dengan mobilku aku bisa menerobos hujan tanpa takut basah dan menjelajahi siang tanpa harus memanaskan kulit. 


Namun rasa, bagaimanapun masih untuknya. Setelah sekian tahun tidak berjumpa, hatiku tetap ku pasrahkan untuknya meskipun sedetikpun ia tak pernah tersirat bahwa aku menyukainya. 


Disuatu sore, disuatu hari yang akan bersejarah, disuatu kota tempat kita akan bertemu, dikota tempatnya bekerja aku memberanikan diri mengajaknya bertemu. Kali ini tidak ada sekat lagi antara kita, aku telah mapan dan layak bersanding denganya. 


Sore itu ia datang menepati janji pertemuan, ia memakai pakaian yang amat memesona, semakin mempertegas bahwa ia adalah ciptaan Tuhanku yang teramat sempurna.


 Sore itu aku memberanikan diri menyatakan perasanku, menceritakan perjuanganku untuk membuat diriku berani sampai ke tahap ini. Namun ia tak bergeming.


Setelah jeda yang panjang, ia membuka mulut, berganti menceritakan apa yang ia alami. Jawabannya membuatku ingin melompat dari atas gedung tertinggi di kota ini, saat terakhir itu ia menunjukkan cicin tunangan di jari manisnya, suatu hal yang tidak ia ceritakan. Ia berterima kasih untuk kejujuranku lalu beranjak pergi meninggalkanku yang masih berusaha mencerna perkataannya:


"Kamu pasti gak tahu kalo sejak SMP itu, aku juga punya perasaan yang sama kamu, tapi kamu gak pernah berani nyatain itu, sampai saat kita kuliah pun aku masih menyimpan perasan itu berharap kamu bakal menyatakan, tapi kamu terlalu pengecut untuk jujur. Aku nunggu, sekian tahun aku nunggu namun kamu gak pernah sekalipun berani, dan sekarang kamu jujur, sudah terlambat, aku sudah memilih lelaki lain. Andai saja kamu berani mungkin ceritanya bakalan berbeda" 


Aku memandang kursi kosongnya dengan  tatapan nanar, sakit sekali menerima kenyataan yang baru saja ku dengar, andai aku lebih berani dan tidak pernah meremehkan diri sendiri. Kini gadis itu telah bahagia dengan pilihan hatinya, sementara aku terpuruk di ruang tergelap. 


Hati yang terluka dan cinta yang kandas, hancur sudah harapan. 


Selamat tinggal cinta semoga tenang dan berbahagia disana.


Komentar