Aku berdiri dihadapan cermin dengan tatapan kosong, menerawang jauh menembus lensa kacamata kedalam bola mata hitam kebiruanku yang kini terlihat pucat. Hari demi hari telah berlalu semenjak pertemuan semi istimewa kita sore itu. Sore yang biru, sore yang kelabu. Dimana gadis pujaanku ternyata sudah dilamar pria lain.
Perlahan aku memakai kemeja putih bersih yang semalam telah kusetrika agar tidak terlalu kusut, dengan pandangan yang sama aku mengancingkan kemeja itu. Tidak jauh dari tempatku berdiri, aku menyambar perlahan dasi hitam polos yang kugantungkan dilengan handle lemari jati kamarku dan memakainya.
Setelan kemeja dan celana bahan hitamku membuat penampilanku nampak elegan, namun mata kosong dan wajah yang muram akan menghapus imej elegan itu. Aku menolehkan kepalaku ke sandaran kursi kerjaku, tergantung disana jas hitam yang tadi malam kusetrika juga agar penampilanku kian rapi. Tidak lama aku memakainya. Rambutku nampak berantakan namun tidak ku hiraukan.
Aku meraih secarik kertas putih yang masih dibalut plastik tipis bertuliskan nama dan alamatku dilabel putih plastik itu. Kertas pilu bertuliskan "The Wedding" yang ia berikan dipertemuan itu kuletakan begitu saja di atas meja dan tak ku sentuh sama sekali seminggu belakangan ini, kali ini aku beranikan mengambilnya, memutarnya lalu peta letak lokasi pernikahan terpapang jelas, sebuah gedung pertemuan.
Aku berjalan menuruni tangga perlahan, pagi hari yang dingin ini aku keluar dari rumahku menuju garasi yang letaknya tidak bersandingan dengan rumah utama. Lalu sebentar menyalakan mobilku. Aku menatap jam chameleon yang kubeli sewaktu ke pameran dahulu bersama gadis itu, jika tidak salah, jam ini sudah di tanganku sejak 7 tahun yang lalu, setiap detik waktu yang berlalu ada kenangan yang terukir bersama gadis itu terabadikan dalam detik demi detik putaran jam ini. Dan kini, putaran jam itu akan merekam momen terakhir aku melihatnya, setidaknya momen itu membahagiakan untuknya, ucapku dalam hati.
"Masih jam 7" gumamku didalam kabin mobil sedan keluaran perusahaan Jepang itu. Prosesi akad paling lambat akan diadakan pukul 9 pagi, semantara untuk sampai lokasi hanya membutuhkan waktu 15 menit dari rumahku.
Namun aku memutuskan untuk meluncur leluar dari garasi, tidak bukan untuk menuju lokasi pernikahan itu. Setidaknya aku ingin membuang pikiran mumet dan kenangan bersamanya dahulu agar tidak terlihat terlalu sedih nanti dengan berjalan-jalan sebentar mengelilingi kota ini.
Nahas, putaran roda kendaraan yang kutumpangi hanya semakin mengingatkanku kepadanya, setiap momen bersama dahulu semakin jelas teringat. Dan pada akhirnya penyesalan adalah teman yang paling setia menemani, aku menyesal tidak pernah berani menyatakan cintaku kala itu, andai saja aku tidak meremehkan diriku sendiri. Jika tidak, bisa saja pengantin lelaki itu adalah aku.
Pikiranku kalut saat itu juga, tanpa terasa jarum merah speedometer mobil ini menunjukkan kecepatan nyaris 120km/jam. Aku terhentak kaget dan segera menurunkan kecepatan, tidak pernah sekalipun aku melaju secepat ini sebelumnya. Ternyata benar kata teman-temanku: seorang laki-laki yang patah hati tidak memperdulikan dirinya sendiri. Seperti yang kulakukan saat ini, aku hanya tidak tahu saja kapan mobil ini akan kutabrakan ke pohon asam.
Aku mengambil undangan itu lagi, peta undangan itu memudahkanku mencapai lokasi dengan cepat. Aku melemparkan undangan itu keluar jendela mobilku sembarangan, aku tidak ingin melihatnya lagi, pikirku.
Tidak butuh lama aku telah sampai ditempat parkir gedung pertemuan yang kini telah berubah menjadi lokasi hajat mewah. Aku kesulitan mencari tempat parkir yang kosong karena banyaknya tamu undangan.
Aku berjalan seorang diri melewati muka gedung itu, disepanjang langkahku karangan bunga bertuliskan selamat dengan nama gadis itu dan nama sang mempelai pria terpampang indah dihiasi bunga, nama yang seharusnya adalah namaku. Namun tidak, kini aku menundukan kepala menahan penyesalan yang datang lagi.
Meja resepsionis diisi oleh dua orang perempuan sebayaku, aku mengenal keduanya. Mereka adalah teman SMP ku dulu dan salah seorang dari mereka tahu sedikit tentang kedekatanku dengan gadis itu, semoga kuharap perempuan itu sudah melupakan kisa masa lalu kita, harapku.
"Eh, kamu kan?" Kata perempuan berkebaya merah jambu itu, aku mengangguk "Iya, kita teman dulu" kataku singkat, ia ngeuh lalu mengucap namaku. "Heh, aku kira.." katanya namun tidak sempat ia mengucapkan aku memotong pembicaraannya, "Iya gitu deh, semuanya gak berjalan baik" kataku cepat-cepat mengisi daftar tamu, ia menatapku sebentar, "Maaf ya" katanya, aku hanya mengangguk dan berjalan menuju kursi yang telah disediakan.
Ramai, begitulah suasana ruangan luas ini seketika aku duduk, keluarga mempelai perempuan sudah datang lebih dulu, namun tidak kulihat ia sama sekali, mungkin sedang di ruang rias pikirku. Tamu undangan telah memenuhi sebagian besar kursi kosong, mereka semua nampak bahagia, aku adalah satu-satunya manusia yang bersedih ditengah lautan kebahagiaan mereka.
Alunan melodi melankolis hilir-mudik di telingaku, aku mentap kosong kedepan, ke kursi pelaminan yang kosong sementara di meja akad ayahnya tengah berbincang dengan beberapa orang. Sayup-sayup dari belakang tempat pintu masuk, terdengar bahwa mempelai pria sudah datang, begitu kata MC melalui pengeras suara, aku menoleh kebelakang. Seorang pria yang tidak kukenal berperawakan atletis tampan dengan balutan pakaian pengantin putih berjalan dengan gagah memasuki gedung disusul keluarganya dibelakang. Setidaknya kamu mendapat orang yang lebih baik penampilannya daripadaku, saat itu dengan senyum kecut.
Ia duduk di kursi akad, aku hanya memperhatikan dari jauh sementara MC sibuk berbicara panjang lebar tanpa kuhiraukan. Sampai akhirnya gadis itu keluar dari salah satu ruangan, mataku tertuju padanya, gadis anggun dengan gaun pengantin putih itu mengoyak hatiku yang telah ku kuatkan sebelumnya. Aku menatapnya, seolah gerak dunia melambat saat itu, ia tersenyum begitu melihat sang mempelai, lalu mengalihkan pandangannya kearah para tamu undangan dengan senyuman yang sama sampai akhirnya mata kita bertemu, senyuman yang sama dengan seyuman dikoridor itu kembali terbayang dalam ingatanku seolah baru terjadi kemarin. Dengan cepat ia mengalihkan pandangannya lalu duduk disebelah sang mempelai.
Doa-doa dipanjatkan dengan penuh kesungguhan, momen sakral seumur hidup sekali itu berlangsung khidmat. Tatapanku masih tertuju padanya meski malu-malu, kuharap ia tidak menyadarinya. Sampai saat akad tiba dan ijab diucap. Pria itu melafalkannya dengan mantap, disambut sah serentak dari para tamu undangan, aku hanya diam mematung tanpa sepatah katapun. Ketika sah yang terucap bersama itu melambung bersamaan dengan doa sakinah yang dipanjatkan penghulu telah selesai, saat itulah perjuanganku resmi berakhir. Meskipun hatiku sesak bukan main melihatnya namun doa terbaik tetap kupanjatkan untuknya agar ia selalu bahagia menjalani bahtera rumah tangga dengan pria pilihannya itu.
Prosesi telah selesai, ia dan sang mempelai duduk di pelaminan. Satu-persatu keluarganya dan keluarga mempelai pria berfoto dan bersalaman mengucap selamat. Sampai tibalah giliranku. Ada perasaan enggan untuk melangkah mendekat, namun tidak elok rasanya jika aku pulang tanpa mengucap kata selamat meski hanya sepatah kata.
Aku berjalan menuju pelaminan mereka berdua, ia dan suaminya tengah berdiri saat itu. Demi melihatku mendekat ia tersenyum, senyuman yang amat kusukai. Aku bersalaman dengan sang mempelai pria, lalu menyalami gadis itu, "Selamat, ya. Semoga bahagia!" Kataku dengan senyuman yang dipaksakan. "Kamu masih aja pelit senyum" dengan sedikit tertawa, "Makasih udah datang, btw" katanya lagi. Percakapan singkat terakhir antara aku dengannya setalah lima belas tahun berusaha berjuang untuknya, namun jodoh ternyata tidak berada dipihakku, aku beralih dan berdiri disebelah mempelai pria yang ternyata sepantaran denganku, lalu mentap juru kamera tanpa senyuman hingga ia memberi aba-aba. Ketika hitungan sampai tiga, cahaya blitz dari lampu memancar menyinari pose foto kaku kita bertiga.
"Nanti aku kirim fotonya" kata gadis itu ketika aku hendak turun, "Makasih" kataku singkat, saat kakiku mencapai lantai gedung, ia berseru "Jangan lupa buka undangan yang kemarin aku kasih, ya!"
Aku tersentak, undangan itu telah aku buang entah dimana tanpa sesekalipun membukanya membalikan badan lalu mengacungkan jempol dengan sedikit senyuman "Oke!" Kataku, lalu ia kembali berfoto dengan tamu yang lain.
Aku berjalan keluar dari hingar bingar pernikahan ini dengan hati yang hampa dan perasaan yang remuk hancur, sebelum tepat kakiku melangkah keluar kembali kubalikan badanku untuk melihatnya terakhir kali sebelum benar-benar berakhir, ia tengah tersenyum menyambut tamu yang lain, senyuman yang dulu membuatku jatuh cinta kepadanya kini terasa menyakitkan.
Terbesit dikepalaku untuk mencari undangan yang kubuang entah dimana, aku menyusuri jalan yang tadi kulalui dengan mataku awas memandang sekitar barangkali kertas putih itu ada di trotoar jalan. Aku teringat bahwa kertas itu masih dibalut plastik pembungkusnya, ditambah warnanya putih pasti akan memantulkan cahaya mentari yang sedang panas-panasnya. Aku melambatkan laju kendaraanku tampak dari jauh dipinggir trotoal yang sepi seebuah benda memantulkan cahaya, aku menepikan mobilku lalu berjalan menghampiri benda itu, benar itu adalah undangan yang tadi kubuang. Aku membungkuk memungutnya lalu berjalan kembali kedalam mobil. Didalam aku membuka plastik pembungkusnya, begitu lipatan undangan terbuka, secarik kertas yang lebih kecil jatuh kebawah pedal kopling, aku membungkuk untuk mengambilnya namun nahas kepalaku terbentur setir kemudi dengan keras.
Aku memegang kertas berbentuk polaroid itu sambil tangan kananku memegang dahiku yang sakit. Amu menatap kertas itu dengan seksama, tertanggal di bawah kertas itu bulan Maret tanggal 24 tahun 2014, tepat lima belas tahun yang lalu saat kita masih SMP, foto berdua kita pertama dan satu-satunya yang ternyata ia simpan sekian lama hanya untuk dikembalikan lagi.
Aku membalikan kertas itu, saat itu tulisan tangannya yang rapi memenuhi ruang kosong kertas polaroid yang mulai menguning ini;
"Dear sahabatku,
Terimakasih sudah berjuang untukku, mungkin saat kamu membaca ini aku telah menjadi milik orang lain sampai hayat aku nanti. Namun aku mau tahu kamu satu hal, aku selalu berharap bahwa pengantin pria itu adalah kamu.
-sahabatmu"
Aku merenungi foto itu, sebuah selfi aku dengan gadis itu sewatku kita masih bocah SMP, lalu flashback memori kenangan kembali terbayang satu-persatu mulai dari pertemuan di koridor sekolah hingga sore kelabu itu, lima belas tahun yang panjang. Tanpa terasa air mata menetes dari ekor mataku, aku menyekat mataku dan menyimpan foto itu di dasbor lalu kembali melaju menuju tempat dulu sewaktu SMP kita sering bersama, sebuah danau yang terletak didekat sekolah SMP kita dulu.
Aku duduk melamun dipinggir danau itu, hingga matahari tanpa terasa telah berada ditempat peristirahatannya sampai akhirnya aku melangkah kembali kedalam mobilku untuk pulang ke rumah, namun perasaan hampa masih menguasai relung hatiku. Dengan pandangan kosong aku menyalakan mobilku lalu pulang ke rumah untuk segera tidur melupakan apa yang telah terjadi.
Komentar
Posting Komentar