Sebuah Cerita - Dimensi

 

Lubang itu gelap nan suram, katamu suatu ketika ketika datang menghampiri dan membangunkanku dari tidur lelapku. Aku yang tengah bermimpi indah harus tabah mendengarkan ocehanmu.

"Lubang itu memancarkan sinar keemasan disetiap sudutnya namun dengan pola lingkaran yang aneh," lanjutmu.

Aku sudah jengah dengan ruang tiga dimensi ini yang semu, namun kamu bersikeras menolak keinginanku untuk bergabung denganmu. Kamu berkata makhluk dimensi rendahan sepertiku tidak layak bersama dimensimu yang katanya melampaui ruang dan waktu.

"Ah, kau mengingatkanku pada mekanika kuantum saja. Aku tidak akan mencoba merubah aliran waktu jika kalian izinkan, sungguh, aku tidak akan menyentuhnya sama sekali."

Meski begitu, aku selalu penasaran bagaimana rasanya mengacaukan lintasan waktu yang mapan, membuat paradoks tentang waktu menjadi nyata. Aku ingin melakukannya, sungguh!

Namun kau yang telah jengah mendengar rengekanku bilang bahwa sekalipun aku mencoba, waktu akan tetap bergeming pada lintasannya, maju melibas semua yang tidak siap. Bahkan makhluk dimensi tinggi sepertimu pun bertekuk lutut di hadapan sang waktu, katamu.

Namun, kau yang ku lihat enak sekali berjalan-jalan melintasi waktu, maju mundur menyusuri bahkan menonton periode sejarah tanpa kendala berarti! Kau berbohong, kataku pada saat itu, namun seperti guru yang digertak muridnya, kau membela dirimu.

"Aku memang berkuasa melintasinya namun tak pernah sedikitpun merubahnya seperti yang aku inginkan. Ibarat dirimu sedang menonton siaran ulang namun secara langsung."

"Persetan, kau sama sekali tidak membolehkan aku ikut!" desahku.

"Baiklah, jika sesulit itu, bawa saja aku ke tempat asalmu," kataku lagi. Namun lagi dan lagi, kau menggelengkan kepala, mengingatkan tentang derajatku sebagai makhluk dimensi ketiga. Kau menjelaskan bahwa aku sekali-kali tidak akan bisa memasuki dimensimu, bahkan sekedar melihat pun tidak bisa.

"Omong kosong lagi!" kataku, "sekarang aku bisa melihatmu secara langsung dengan mata telanjang!" Emosiku memuncak.

Namun, kau kembali mengingatkanku tentang mekanika kuantum, bahwa makhluk dimensi kedua tidak dapat melihat makhluk dimensi ketiga, ia hanya bisa merasakan kehadirannya. Seperti aku tidak dapat melihat angin namun dapat merasakannya. Dan dalam hal ini, katamu, aku dapat melihatnya karena ia menginginkan agar aku dapat melihatnya.

"Kau sama sekali tidak bisa melihat dimensiku karena realitasnya sungguh berbeda. Kau harus sehalus atom untuk dapat memasukinya," katamu.

"Apa itu artinya aku harus mati dahulu?" tanyaku.

Ia mengangguk.



Komentar