Cita-cita ku seumur hidup hanya satu, kalian mungkin sudah tahu, kerja di NASA. Aku tahu dan silahkan tertawa. Ah, tidak mengapa mempunyai mimpi tinggi bukan? Mengingat motto hidupku adalah "No Dream Is Too High" terdengar masuk akal, bukan?
Namun agaknya motto itu terdengar tidak masuk akal ketika aku dihajar kenyataan bahwa menjadi pegawai NASA harus pandai berhitung, dan kamu tahu sendiri aku selalu berpindah kebelakangmu sewaktu hendak membayar di kasir. Bukan, aku bukan hendak menyuruhmu membayar dengan uangmu, namun berhitungku bisa dibilang selevel anak Playground.
Aku pernah berdiri lama di depan kasir menunggu kembalian padahal uangnya pas.
Aku tidak dengan sengaja mengarahkan diriku ke sekolah kejuruan, atau fakultas teknik. Aku bahkan tidak dapat memahami segabut apa Coulomb waktu itu hingga kepikiran untuk menghitung jumlah muatan dalam arus listrik. Kenapa sih mereka tergila-gila dengan hitungan yang njilimet sekali itu? Aku bahkan lebih suka duduk di burjoan atau tempat bernama Gramedia. Aku bahkan lebih suka fakta bahwa alien itu nyata ketimbang memahami kalkulus yang rumit itu.
"Lantas, kamu mau jadi apa?"
Pertanyaan template itu sering sekali terlontar, sering sekali bahkan aku merasa tidak perlu menjawabnya saking bosannya. Jika kamu ingin tahu, aku suka sastra seperti aku juga menyyukai fotografi. Aku suka kepenulisan meskipun tulisanku ini jauh dari kaidah kebahasaan. Kamu tahu saat SBMPTN dulu aku bahkan berniat memasukan sastra Indonesia dan psikologi sebagai cadangan ke dalam kolom pilihan jurusan yang ingin ku ambil. Belum sempat tombol tetikus kuketuk, aku segera mengubah pilihan. Saat itu pemikiran ku jauh menerawang kedepan, dan kemudian pemikiran:
"Akan jadi apa aku jika lulus dengan gelar sarjana sastra?"
Iya benar, aku adalah manusia yang hidup dalam ketakutan akan masa depan yang sejatinya telah terbentang untuk dijalani. Aku takut kelak tidak sekaya Raditya Dika yang sukses karena karyanya, aku takut menjadi penulis yang buruk, aku takut menghasilkan tulisan yang buruk pula. Karena itu sejatinya aku tidak pernah berani mendatangi penerbit untuk sekedar menyerahkan tulisanku. Kemudian tulisan-tulisan itu mengendap dalam folder terdalam, menjadi artefak digital bersamaan dengan file cache yang mengkerak membuat laptop bututku menjadi semakin berat, sudah cukup file pekerjaanku memberatkannya tidak perlu ditambah tulisan buruk ku yang lain. Bahkan aku tidak berani mempublikasikannya di blog ini.
Aku tahu bila menjadi penulis aku dapat menjadi pegawai NASA atau bahkan astronot yang bebas terbang di angkasa luas dengan budget negara, meskipun hanya dalam imaji berbentuk tulisan. Ah, aku bahkan tidak tahu jika akan ada yang menyukai tulisanku di blog receh ini. Peduli setan lah, setidaknya apa yang ingin ku tuliskan dapat terabadikan di dalam blog sepi bernama aneh ini.
Hidup dalam ketakutan tidaklah menyenangkan. Aku selalu dihantui oleh sesuatu yang seharusnya tidak ku takuti. Terkadang aku minder dengan kakak perempuan ku yang selalu jauh lebih beruntung daripadaku, sudah cantik, kuliah di kota impianku, belum lagi ia aktif dan belum lulus saja sudah banyak dosen yang merekomendasikan kakak ku untuk bekerja ke rumah sakit. Sedangkan diriku?
Aku tidak seberuntung itu. Meskipun pada akhirnya aku tahu jika segala sesuatu sudah diatur, tetap saja aku mempertanyakannya. Aku lebih banyak mengurung diri di kamar, berkutat dengan eksperimen aneh atau paling banter ngobrol dengan kucing-kucing kesayanganku.
Benar, kalian tidak salah baca. Tulisan ini memang bertujuan untuk menampung keluh kesah ku yang agaknya tidak etis jika ku ceritakan pada siapapun. Jadi jika kalian tidak berniat menambah beban hidupmu yang sudah menumpuk itu dengan membaca keluhan orang asing, berhenti saja disini.
Saat usiaku 14 tahun dan sesuatu yang aneh mulai terjadi. Aku mulai merasakan sesuatu yang tidak seharusnya ku lihat, terkadang bayangan, terkadang sosok nyata. Namun yang lebih sering adalah bisikan, tapi untungnya lama kelamaan aku dapat beradaptasi dengan bisikan itu. bahkan sampai sekarang pun jika kamu memperhatikan, aku sering sekali bicara sendiri. Malah aku merasa terbantu dengan bisikan itu, karena aku tidak merasa sendiri.
Ngomong-ngomong, ada hal yang menarik dari hidup ini. Meskipun terkadang aku takut setengah mati menjalaninya, ada tiga momen dimana aku sangat amat menikmatinya, pertama adalah saat melihat hamparan langit maha luas di atas sana bertaburan bintang gemintang. Kedua adalah saat tengah duduk sendiri di atas bentangan padang rumput atau perbukitan berkabut yang dipenuhi tumbuhan konifera, dan ketiga adalah saat aku meminum matcha latte.
Bicara tentang padang rumput dan hutan, dua tempat itu adalah tempat favoritku. Aku selalu berandai-andai dapat membuat rumah kayu sederhana ditengah padang rumput berbukit atau dipinggiran hutan sub-ekuator yang dipenuhi tumbuhan konifera seperti pinus atau cemara, atau mapel pun tidak masalah. Kemudian menikmati sore dengan berjalan-jalan mencari jamur disela-sela pepohonan atau sekedar menghangatkan diri didekat api unggun sambil meminum teh hangat di depan kemah musim gugur.
Sungguh hidup yang amat menyenangkan jika hal diatas dapat terlaksana, tapi sebelum sampai disana ada banyak rintangn dan tantangan yang harus ku hadapi, ada ketakutan yang harus aku kalahkan dan ada diri sendiri yang harus aku kuatkan.
Sebagai penutup, aku ingin mengucapkan banyak terima kasih untuk diriku sendiri, terimakasih sudah berjuang bersama sejauh ini meskipun ketakutan itu tidak dapat kita pungkiri.
Dan untuk kalian, pembaca yang telah rela membaca tulisan ini sampai akhir, terimakasih sudah menyempatkan waktu untuk membacanya.
Terimakasih untuk kebaikan kalian!
Mntaps👌
BalasHapus