Apotek



Hari ini adalah hari pertamaku tinggal di kota kecil tempatku lahir 16 tahun yang lalu. Kota asal ibuku, sang primadona yang kecantikannya tak terkalahkan. Di kota ini juga ia akhirnya dipertemukan dengan ayahku. Eh, aku tidak akan menceritakan kisah cinta mereka, kok. Hehe.

Namaku Marsheilla Marshaselina Sheila. Jika ingin tahu, namaku cukup panjang dan ribet. Jadi ada baiknya kamu cukup memanggilku Sheila saja atau Sella. Asal jangan memanggilku Sheily, itu khusus panggilan darinya, hehe.

Ia yang kumaksud adalah seonggok daging berjenis kelamin laki-laki yang diberi nyawa, bernafas dengan kedua paru-paru. Itu katanya saat kutanya:

"Lagi apa?" tanyaku dengan kesungguhan. "Lagi nafas nih, pakai kedua paru-paru, loh! Bersamaan, dan otomatis. Kamu jangan lupa bernafas juga, ya. Percuma cantik kalau nggak nafas," katanya. Ia selalu bisa membuatku tertawa dengan guyonan tidak jelasnya, haha.

Eh, jadi melantur, hehe.

Petang hari itu memancarkan cahaya lembayung yang menggantung di langit-langit barat kota kecil dengan julukan kota Kuda. Aku membuka pintu mobil subkompak putih milik ibuku, sementara ayahku masih duduk di kursi kemudi kemudian meregangkan otot-ototnya yang kaku karena perjalanan jauh.

Oh iya, walaupun keluargaku tinggal di kota Kembang, ayahku bekerja di salah satu pembangkit listrik yang terletak di ujung barat pulau Jawa, sementara ibuku bekerja di perusahaan milik negara yang linear dengan ayahku. Namun bedanya, ibuku berkantor di kota Rebon. Sehingga aku tinggal sendiri di rumah. Oleh karenanya, orang tuaku memutuskan agar aku pindah ke kota asal ibuku dengan alasan agar dekat dengan keluarga ibu sehingga aku tidak terlalu sendiri.

Aku mengeluarkan koper oranye dari bagasi belakang sementara ayah dan ibuku telah lebih dahulu membawa barang-barangku yang lain masuk ke dalam rumah.

Rumah ibuku merupakan rumah warisan dari kakek yang sudah meninggal bertahun-tahun lalu. Rumah itu kemudian dibongkar habis sampai ke dasarnya untuk dibangun ulang dengan sentuhan minimalis dengan pekarangan yang cukup luas namun hanya ditumbuhi rumput.

Dari tiga kamar yang ada di rumah ini, aku memilih kamar di lantai dua. Pemandangannya keren ketika sunset, loh. Namun menyebalkan saat hujan turun, lagipula aku tidak pernah menyukai hujan biarpun ia bilang bau hujan itu enak. Ah, dia itu kotoran jempol kaki pun enak dicium katanya, jorok memang.

Kamarku sudah tertata rapi ketika malam tiba. Ayah memanggilku dari bawah, ia mengajakku keluar untuk membeli makanan di pusat kota. Aku yang saat itu tengah bermalas-malasan segera bangun dengan antusias karena ingin melihat-lihat kota ini di malam hari.

"Kita mau ke mana, Yah?" kataku sambil memasang sabuk pengaman.

"Mama pengen makan seafood taman kota katanya, kayaknya Mama ngidam deh." Aku tahu ayah sedang bercanda. "Yah, kalau beneran kayaknya Sella bakalan jadi kakak yang tua banget deh," ayah tertawa mendengarnya.

"Nggak kok, sayang. Ayah bercanda, kamu mau beli apa?" Ia balik bertanya. "Samain aja deh, Sella pengen cumi-cumi aja."

Ayah mengangguk kemudian menginjak pedal gas dengan lembut, mobil meluncur keluar dari garasi.

Jam menunjukkan pukul setengah sembilan malam, namun kehidupan di sini jauh lebih sepi daripada di kotaku. Jalanan agak renggang, namun begitu memasuki jalan utama yang diberi nama berdasarkan salah satu nama raja Pajajaran yang terkenal itu, jalanan mulai ramai.

Di sebelah kiri dan kanan jalan dipenuhi oleh kios dan angkringan pedagang kaki lima. Dari situ ayah terus melaju menuju bundaran taman, dulunya taman itu berbentuk seperti bola lampu dengan patung kuda menghadap barat di tengahnya, namun sekarang yang aku tahu, taman kotanya sudah dibangun ulang dengan lanskap yang berbeda.

Ayah menghentikan laju mobil di depan sebuah kedai seafood bercat hitam dan merah kemudian keluar dari mobil. Tidak menunggu waktu lama ia sudah kembali dengan beberapa keresek berisi makanan. Sepertinya ayah mengenali pemilik toko karena dilihat dari jumlah pengunjung, toko ini ramai tapi ayah dilayani lebih dulu. Dasar curang, haha.

"Cepet amat, Yah?" Aku terheran. "Haha, makannya banyak-banyak berteman, sayang," katanya sambil memasang sabuk pengaman lagi. "Kita mau ke mana sekarang, Yah?" Aku kembali bertanya. "Ke apotek dulu, yuk. Ayah mau beli obat nyeri otot." Jawabannya ramah. "Tuh kan encok, kata aku juga jangan punya adik lagi, nanti Ayah malah disebut kakek daripada Ayah, haha," aku tertawa. "Haha, kamu bisa aja, kalau gitu kamu dong yang dipanggil mamahnya," ia balas menjawab. "Maaf ayah aku baru aja lulus SMP," kataku dengan senyuman meledek.

"Oh iya, masalah sekolah kamu..." Ayah tercekat membicarakannya. "Gapapa yah di SMK juga, lagian kan ada jurusan arsitektur," kataku pasrah.

"Maaf ya, sayang. Ayah telat ngirim berkasnya, coba aja kalau nggak." "Gapapa kok, Yah. Udah ya aku nggak mau bahas," kataku menutup obrolan.

Tidak lama kemudian, kita sampai di depan bangunan apotek yang terletak di dekat pertigaan. Tepatnya di depan rumah sakit umum kota dan tidak jauh dari gerbang rumah sakit terdapat pos polisi di dekatnya. Ayah memarkirkan mobilnya di sebelah motor bebek putih yang di atasnya tengah duduk seorang laki-laki dengan helm merah dan sweater berwarna abu-abu. Aku melihatnya sekilas, ia memakai kacamata dengan frame berwarna hitam dan tengah menatap layar handphonenya. Setelah itu, ayah keluar dari mobil dan masuk ke dalam apotek.

"Ketoconazole, ketoconazole, ketoconazole!" kata laki-laki itu berulang-ulang sambil tetap menatap layar handphonenya. Kemudian ia menutup handphonenya.

"Ketoconaprozole, ketoconaprozole!" katanya. Aku yang terkejut karena ia salah melafalkan hampir tertawa mendengarnya, kemudian aku melihatnya lagi.

"Ketoconazole, oke sip, saatnya masuk!" Kali ini ia melafalkan dengan benar kemudian melepas helm merahnya dan meletakan di atas spion motornya lalu berjalan memasuki apotek. Aku yang penasaran ikut turun dari mobil, kemudian berjalan mengikutinya.

"Teh, beli ketoconapronazole-nya satu lembar tablet!" katanya mantap. Teteh kasir melongo dibuatnya, sementara aku menutup mulut menahan tawa melihat ekspresi mereka berdua sementara ayah yang tengah membuka handphone sambil duduk di ruang tunggu tidak melihatku.

"Eh, apa ya namanya?" ia menggaruk kepalanya. "Itu da, obat buat jamur, Teh," katanya lagi. "Kucing saya kena jamur gara-gara main sama kucing liar, susah dibilangin, sih," katanya polos.

"Eh serius, malah curhat kucingnya, haha," kataku dalam hati. Aku yang tengah berdiri di belakangnya hanya bisa menahan tawa sebisaku.

"Ohh, ketoconazole tablet," si Teteh kasir ngeuh kemudian berjalan ke belakang untuk mengambil pesanan lelaki itu.

“Ieu nu masihan ngaran saha sih, hese pisan dieja!” (Ini yang ngasih nama obat siapa sih, susah amat dieja!) terdengar jelas ia menggerutu. Namun, tidak lama kemudian teteh kasir sudah muncul sambil membawa selembar tablet obat itu. "Nah, ini Teh, hehe," ia cengengesan, kemudian membayar dan beranjak keluar toko.

Teteh kasir yang melihatku tengah memperhatikan lelaki itu menyapaku, "Tehada yang bisa saya bantu?" kata kasir itu ramah. 

Aku yang tengah memperhatikannya terkejut karena sapaan itu. "Eh, nggak Teh. Saya mau nyusul ayah saya," kataku sambil menunjuk bangku tempat ayah duduk tadi tanpa melihat ke arah bangkunya. Mbak kasir mengerenyitkan dahi, 

"Teh, nggak ada siapa-siapa di situ," katanya.

Deg, aku menoleh ke arah kiri di mana bangku berada dan benar saja, bangku itu sudah kosong. "Eh haha, kok ngilang," kini gantian aku yang cengengesan. Tanpa komando aku menolehkan pandangan ke arah kanan, keluar toko di mana ayah tengah duduk di kursi kemudi sambil melambaikan tangannya ke arahku. "Ayah saya sudah di mobil, Teh, maaf ya," kataku lalu berjalan keluar dengan cepat.

Saat berjalan, aku berpapasan dengan lelaki itu. Ia tengah duduk di atas motornya tanpa helm dan sedang fokus melihat table of contents obat itu. 

Rambutnya hitam kecokelatan jika aku tidak salah lihat, lurus dengan poni yang berantakan. Ada keinginan kuat untuk menyapanya, namun sepertinya itu bukan ide yang tepat. Lagipula, aku seorang perempuan, rasanya tidak etis untuk menyapa seorang anak laki-laki seumuran yang asing.

"Apa yang kamu beli tadi di dalam apotek?" tanya Ayah ketika aku membuka pintu mobil. "Ngga ko, aku ga beli apa-apa," kataku sambil duduk di kursi depan. "Oh, ayah kira kamu beli obat juga, makannya ayah biarin," katanya lagi. Aku yang sedang memperhatikan laki-laki itu dari balik kaca hitam mobil tidak menjawab. Lagipula, kacanya hanya bisa melihat dari dalam, jadi ia tidak akan tahu bahwa aku memperhatikannya.

Mobil melaju perlahan meninggalkan apotek, aku masih memperhatikannya dari balik spion mobil. Ia masih berada di tempat yang sama, fokus membaca sesuatu dari ponselnya sampai pandangannya terhalang oleh jarak.

"Dia gak ganteng-ganteng amat, sih," gumamku. "Tapi kenapa rasanya ada yang aneh, ya?" Kini aku tersenyum sendiri seperti orang gila. Untung ayah sedang fokus menyetir mobilnya, jadi tidak perlu curiga anak gadisnya sedang bertingkah aneh.

"Haha, cowok aneh. Ngapain curhat masalah kucing nakalnya ke teteh kasir!"

Makan malam telah usai, tetapi dalam selimut malam itu aku tidak bisa tidur karena dua hal. Pertama, aku tidak terbiasa tidur di tempat selain kamarku. Kedua, aku penasaran dengan laki-laki itu. Namun, secara logika, sepertinya kemungkinan bertemu dengan orang itu sangat kecil, satu dari sejuta pertemuan mungkin...

Aku menutup seluruh tubuhku dengan selimut, mencoba tidur, namun nihil. Semakin aku berusaha, justru semakin tidak bisa tidur.

"Ahh, penasaran!"


*Tulisan ini ditulis oleh admin magang :')

-Admin magang apaan, nulis yang bener hei!

*Bodo amatt

Komentar