Camellia Sinensis - 1

        


      Sore. 

Semburat cahaya redup menyoroti hamparan perkebunan teh. Sang Surya telah bertengger di atas pucuk pepohonan cemara disertai kabut yang mulai menuruni perbukitan. Sore itu seperti sore biasanya, aku duduk sendiri di puncak salah satu bukit yang menjulang tidak terlalu tinggi, menatap alur jalan yang ramai dilalui kendaraan bermotor. Arah mereka pulang pikirku, pasti menyenangkan bertemu keluarga setelah seharian banting tulang.

        Sesaat kemudian ku kecap bibir botol minuman yang asal daunnya banyak ditanam di tanah ini. Tehnya sudah dingin sejak lama. Aliran udara lamat-lamat turun mengikuti arak-arakan kabut tebal yang akan segera mencapai tempatku duduk. Aku bangkit segera dan pulang ke rumah yang jaraknya cukup jauh di bawah bukit, dengan sepeda gunung abu-abu kesayanganku.

        Kayuhan pedal menggerakkan roda belakang, dengan telaten aku mengendalikan agar tidak jatuh terperosok ke luar jalur dan menabrak barisan tanaman teh yang tumbuh rapat. Warga desa sudah hafal kebiasaan aku ini. Mereka menyapa dengan ramah setiap melihatku, pun demikian denganku membalasnya dengan angukan disertai senyuman. 

        Jalan utama masih ramai dilewati kendaraan, cahayanya menerobos kabut tipis yang mulai menebal menghalangi pandangan. Hari mulai gelap dan kayuhan sepeda ku percepat agar sampai tepat sebelum cahaya mentari benar-benar lenyap ditelan kabut. Jalan utama sudah ku lewati, kini aku berbelok ke kiri ke jalan yang lebih kecil memasuki gapura dengan plang nama desa yang terpampang di atasnya. Sudah tidak jauh kataku dalam hati. 

        Udara ini nyaman sekali. Sesekali ku hembuskan keluar dan hembusannya menyerupai asap. Hamparan sawah di pinggir jalan mulai menunduk kuning. Tidak jauh di depan sana, rumah tetanggaku sudah terlihat. Namun, agaknya ada sesuatu yang berbeda saat itu, sebuah mobil sedan berwarna abu metalik terparkir tepat di depan pagar. Lampu hazard masih menyala. Samar-samar dari tempatku mengayuh, siluet figur seseorang tengah hilir mudik mengambil sesuatu dari bagasi mobil yang terbuka. 

        Aku mempercepat kayuhan barangkali tetanggaku membutuhkan bantuan. Namun, janggal. Mobil tetanggaku adalah SUV bukan sedan. Ah, barangkali saudaranya datang kupikir sambil mendekat, lalu menepi di depan depan mobil itu.

    "Butuh bantuan, Om?" Sapaku sambil menuruni sepeda.

Tidak ada jawaban. Figur itu masih berdiri akan tetapi dirinya terhalang pintu bagasi yang menutupi. Aku mendekat agar dapat menyapa lebih jelas. Barangkali ia tidak mendengarku.

    "Eh, maaf aku kira Om" aku salah tingkah, ternyata bukan Om yang ku dapati. Tetapi seorang perempuan muda seumuran denganku. Rambut coklat pendek sebahu ia ikat kebelakang. Wajahnya manis sekali. 

    Ia terkejut dengan kehadiranku. Suasana canggung menyelimuti. Aku salah tingkah karena malu dan tampaknya wajahku memerah saat itu. Untungnya suara yang ku kenal terdengar dari dalam gerbang. 

"Ah kamu kira Om, ya" Om tersenyum. 

"Om yakin kamu baru bertemu lagi sama keponakan Om dari luar kota, dia tinggal disini sekarang." katanya lagi. 

Perempuan itu masih berdiri canggung dan menatapku aneh. Tangannya sedang menggenggam handle koper besar yang masih berada didalam bagasi.

    "Iya, Om. Saya kira Om" aku tidak kalah canggung. Malu, tentunya.

 "Haha, sudahlah mari bantu Om merapihkan barang-barang itu, ponakan Om baru saja tiba." Aku menganggukkan kepala. Perempuan itu menarik koper orange dan menyeretnya masuk ke rumah. 

    Matahari sudah tergelincir ketempat peristirahatannya ketika semua barang bawaan keponakan Om sudah dikeluarkan dari bagasi. Tante menyuguhi teh hangat kesukaanku di meja beranda rumah. 

"Terimakasih, Nak. Kamu selalu baik kepada tetangga." Om keluar dari balik pintu. Ia lalu duduk di kursi sebelahku. 

"Sama-sama, Om. Aku senang bisa membantu." Om menyeruput kopi di cangkir putihnya. 

"Teh kesukaanmu, kan?" Tanya Om sambil tersenyum.

 "Tentu Om, bagaimana Tante bisa tahu?" Aku terkejut.

 "Tentu saja, Om sering melihat tabung air minum di sepedamu itu selalu berwarna seperti teh, jadi Om rasa kamu suka itu." 

    Lamat-lamat ku perhatikan frame sepedaku dan benar memang, di bawahnya botol  tergantung dan selalu aku isi teh. 

"Keponakan Om satu kampus denganmu, tetapi sepertinya berbeda fakultas, Om minta kamu jaga dia ya, orangtuanya baru saja meninggal karena kecelakaan mobil beberapa minggu yang lalu." 

"Ingat tidak? Dia dulu sering main sama kamu, loh." Katanya. Pandnagannya menerawang jauh kedepan.

    "Eh, siapa ya Om? Aku tidak ingat apapun sebelum usia 8 tahun."

     Flashback masa lalu muncul, saat itu usiaku baru 8 tahun sedang duduk di kursi belakang, orang tuaku di depan. Namun nahas, ditengah perjalanan mobil oleng karena jalanan licin setelah diguyur hujan deras. Dari arah berlawanan sebuah truk yang melaju kencang terus membunyikan klakson, truk sarat muatan sehingga tidak bisa berhenti mendadak. Kemudian  terjadilah kecelakaan itu. Aku selamat, satu-satunya yang hidup. Namun, tidak dengan memori masa kecilku. Semuanya seperti terhapus.

    "Om tahu kamu sedang membayangkan 'momen itu' kan." Ia menyadarkanku dari lamunan.

    "Eh sudah sore Om, saya pamit dulu." aku mengalihkan lalu salam dan mencium tangannya kemudian beranjak pergi.

    "Semoga kalian berteman akrab lagi, ya!" Katanya lagi dari jauh.Aku menganggukkan kepalaku lalu menuntun sepedaku masuk ke gerbang rumah yang tidak jauh dari rumah Om.

                                                                                             ***

    Pagi tiba tanpa terasa, dinginnya udara pegunungan membuatku menarik selimut. Tidak ada niat untuk bangun hari ini apalagi temperatur di kamar bertengger di angka 12°. 

    SREK SREK SREK

Suara sapu lidi terdengar dari luar. Suara yang aneh. Karena sedari dulu tidak pernah ada orang yang sudi menyapu halaman sepagi ini. Rasa penasaran menyelimuti. Aku beranjak turun dari ranjang dan mengintip keluar, ke rumah Om. 

"Hei perempuan itu, sepagi ini rajin sekali dia, Aku saja malas turun dari kasur!" Aku keluar dari kamar dan beranjak ke luar menuju beranda rumah. Aa masih sibuk menyapu halaman. 

    "Pagi!" Sapaku, ia menoleh.

 "Pagi juga!" lalu melanjutkan pekerjaannya. Aku berjalan melintasi rumput Jepang yang basah oleh embun, mendekati pagar besi yang membatasi.

"Ku dengar kita satu univ, aku tidak pernah melihatmu." kataku. Ia berhenti lalu menoleh ke kepadaku. 

"Aku juga belum pernah melihatmu." katanya datar, mungkin terganggu dengan kehadiranku.

 "Memangnya, kamu fakultas apa?" Tanyaku lagi.

    "Fakultas Hukum." Katanya singkat. 

"Oh, pantas saja, beda tempat." 

Ia mengangguk.

 "Baiklah selamat melanjutkan, dan selamat UAS juga!" Ia tidak menjawab.

    Hari-hari berlalu suara sapu beradu dengan rumput basah menjadi suara latar yang sering terdengar belakangan ini, aku memanfaatkannya sebagai alarm alami. Tanpa terasa UAS telah selesai dan libur semester tiba. 

Pagi itu aku mengeluarkan sepeda dari garasi setelah memanaskan motor matic yang jarang kupakai selain untuk pergi ke kampus. Tujuanku hari ini adalah bersepeda mengelilingi desa atau lebih jauh lagi. Entahlah, aku tidak punya tujuan pasti. 

Aku memasang botol teh kedalam holder lalu berjalan membuka pagar. 

    Belum sampai tanganku menggapai daun pintu pagar, Om memanggilku. 

"Mau sepedaan, ya, ajak ponakan Om sekalian ya, kasihan dirumah terus." 

Aku mengangguk. Perempuan itu keluar dari garasi sambil menuntun sepeda gunung berwarna hijau putih milik Om. Ia memakai kaos lengan panjang berwarna putih dan training hitam panjang. Kulitnya yang cerah amat cocok dengan outfitnya.

    "Pagi!" Sapaku.

 "Juga" jawabnya singkat seperti biasa. 

Aku keluar dari gerbang, menghampirinya, Om menitip agar kita berhati-hati di jalan, kemudian ku kayuh sepeda. Ia menyusul di belakang dan kita mulai bersepeda.

Komentar