“Dulu
sekali, aku datang ke sini sebagai penjajah. Aku dikirim bukan untuk
memelajari bumi ini melainkan untuk menaklukan dan mencuri apa yang bisa kami ambil. Aku
datang dengan senjata di tanganku, target di catatanku, dan perintah di nadi
genetikku.”
“Lalu aku
melihat mereka dari orbit — makhluk lunak dengan tangan kosong yang menyalakan
api dari batu. Aku menyaksikan mereka jatuh, saling membunuh, menangis. Namun, tetap
menanam gandum di pagi berikutnya.”
”Aku
menyaksikan mereka melukis matahari, jauh sebelum mereka tahu bahwa itu bola
adalah reaktor nuklir raksasa. Aku melihat mereka menyebut angin sebagai dewa,
lalu menyebut dewa sebagai kesalahan, dan akhirnya menyebut kesalahan sebagai
guru.”
Edvin
diam sejenak, menatap aurora hijau kebiruan di langit.
“Dan hari
ini mereka menyentuh matahari itu. Tetapi bukan dengan tangan mereka, dengan keyakinan bahwa mereka bisa mendekat
meski tahu mereka akan terbakar. Dan memang mereka berhasil. Mereka menciptakan
alat untuk mendekati korona — bukan untuk menguasainya, tetapi karena mereka
ingin mengerti.”
“Kaumku
bisa hidup selama 50.000 tahun, tapi tidak pernah punya alasan untuk mendekati
cahaya seperti itu selain untuk memanen energinya. Kami hanya belajar untuk
bertahan, dan merampas jika perlu. Tapi mereka belajar untuk melangkah lebih
dekat, meskipun mereka tahu mereka tidak akan kembali.”
“Apa itu
bukan keabadian?” Edvin bergumam sendiri. “Aku tidak melihat hidup yang panjang
seperti masih di Na’aravarlijyn lagi.”
“Keabadan
bagiku bukan soal berapa lama kau hidup. Tapi sejauh mana kau dapat berjalan
dalam hidup yang singkat.”
“Alina tumbuh
besar di bawah langit ini. Dan aku, yang seharusnya membawa kehancuran ke
tempat ini, justru menutup lorong-lorong itu agar tidak satu pun dari mereka
datang merusak dunia ini.”
“Karena
bagiku dunia ini sudah lengkap. Bukan karena sempurna, tapi karena mereka terus
memilih untuk tumbuh dan bertahan, meski tahu dunia akan berakhir. Atau, mereka
yang berakhir.”
Edvin
menutup matanya, aurora menyinari wajahnya yang tenang,
“Aku
tidak tahu apakah sejarah akan mencatatku sebagai pengkhianat atau pelindung.
Tapi satu hal yang kupelajari dari manusia: kau tidak harus abadi, untuk menciptakan
sesuatu yang bertahan selamanya. Kenangan.”
Komentar
Posting Komentar