Langit senja menyambut saat cahaya terang
menyilaukan itu pudar. Udara lembab panas menggantikan udara sejuk pengunungan.
Pandangan mereka terbatas oleh polusi. Mereka sedang berdiri di puncak suatu
gedung pencakar langit. Tian mengangkat tangan kiri. Alina benar, angka detik
pada stopwatch bahkan belum menyentuh 1 detik saat mereka sampai. Sementara,
GPS tracker mencatat perpindahan yang mendadak.
“Kalau agen FBI memata-matai kita, dia pasti
terkejut banget!” seru Tian sambil menunjuk tracker di jam tangan digitalnya
kepada Alina.
“Tuh, apa kata aku.” Alina tersenyum puas.
“Kita di mana, Na?” Tian melihat sekeliling, udara
yang panas ini sebenarnya familiar di kulitnya.
Alina melepas gengaman tangan Tian.
“Kita sedang berada di kota tempat kamu lahir dan
besar.” Alina berjalan menuju sisi gedung. Tian mengikutinya. Di bawah sana
jalanan kota yang dipenuhi kendaraan yang sedang terjebak kemacetan memenuhi
lanskap bundaran yang ikonik.
“Eh tapi, Na. Kita nggak bawa baju ganti.” Tian menyadari sesuatu.
“Untuk apa?” ia bertanya. “Oh, haha.” Perempuan itu
sekarang malah tertawa, berhasil membaca pikiran Tian.
“Tenang saja, nggak akan ada yang sadar kalau kita
berasal dari tempat jauh.” Ujar Alina percaya diri.
“Iya juga, sih.” Tian mengangguk, “Lagian siapa juga
yang akan peduli, kan?” tanya Alina.
Tian mengangguk. Orang kota cenderung lebih apatis
ketimbang orang-orang di desa. Tapi belakangan ini, keduanya hampir-hampir sama
saja.
Alina menatap sekeliling. Pemadangan kota ini
sesungguhnya sangatlah indah, apalagi jika sore hari tiba. Bayangkan
gedung-gedung yang menjulang tinggi seperti sedang menantang langit. Tetapi
sayangnya polusi yang pekat seakan menelan gedung-gedung itu dari kejuahan. Di
bawah sana, kendaraan yang mengular sedang merayap menuju tempatnya berlabuh.
“Kita berada ratusan kilometer dari rumah, Na.” Tian
masih menatap kendaraan di bawah sana. Di sisinya, gadis berambut cokelat itu menatap
hal yang sama.
“Begitu tujuan pesan rahasia itu terungkap,
sepertinya kita tidak hanya akan berada ratusan kilometer dari rumah.” Katanya.
“Tetapi bisa saja ribuan…” Alina lalu terdiam.
“Kamu bisa kok tetap tinggal, Na.” Kata Tian mencoba
menghiburnya.
“Lagian aku udah ada teman, Echa dan Alvin.” Ucap Tian
lagi.
“Sementara aku tertinggal hanya untuk menunggu dan
berharap cemas?” Alina menjawab pelan. Terdengar seperti bisikan.
“Kita nggak tahu apa yang akan kita temui.”
“Tian, kita pernah bahas ini!” Pungkas Alina,
wajahnya menyiratkan agar Tian diam. Tian mengangguk, ia tidak ingin mengulangi
pembahasan retroris ini. Tian mengalihkan pandangnya dari menatap mata Alina.
Suara klakson kendaraan bersautan saat lampu lalu lintas berubah warna menjadi
hijau.
“Jadi, apa nama toko kamu itu?” Alina mengalihkan
pembicaraan.
“AdvenTain,” Tian tersenyum demi menyebut nama toko
itu. Seolah kenangan yang indah terlintas begitu ia mengingatnya. “Toko
peralatan olahraga dan outdoor, Na.” Jawab Tian.
Alina mengangguk, ia kemudian menggengam tangan
kanan Tian. seketika Tian mentap wajah Alina dengan kebingungan.
“Yuk?” katanya.
“Oh, okay.” Tian telat memahami maksudnya.
Tian mencoba mengingat jalan sepi terdekat sebagai
acuan lompatan. Namun, di ibukota seperti ini tidak ada jalanan sepi. Apalagi
pada jam sibuk seperti sekarang. Tian kembali menatap Alina yang sedang menuggu
Tian melakukan lompatan.
“Na, kita naik transportasi umum aja, yuk?”
“Kenapa memang? Kamu tiba-tiba nggak bisa melompat?”
Alina menatap keheranan.
“Nggak, bukan. Tapi kita nggak mungkin melompat dan
tiba-tiba muncul di tengah kerumunan orang, kan?”
“Oh, iya, sih.”
“Yasudah kita naik kendaraan umum aja kalau begitu.”
Alina nampak setuju. Ia melepas gengaman tangannya.
“Tapi, gimana caranya kita turun dari gedung ini?”
pertanyaan baru malah muncul. “Dan, kamu bawa kartu tap, kan?” tanya Tian
lagi. Alina menatap pemuda yang dipenuhi kebingungan itu, membautnya ikut
bingung.
“Kita pulang dulu, deh.” Alina pasrah.
***
Bus berhenti tepat di halte.
Tian berusaha keluar dari kerumunan penumpang yang
penuh sesak memenuhi bus khusus ini. Alina juga sama, ia berulang kali
mengucapkan permisi sambil menerobos kerumunan orang-orang.
“Kasihan sekali mereka.” Alina menghembuskan nafas
berat setelah berhasil keluar dari kerumunan. “Setiap pagi dan sore mereka
harus berdiri berdesakan di dalam kendaraan umum.” Ucapnya lagi. Tian berjalan
beriringan di sebelahnya mengangguk setuju, kasihan memang.
“Mau bagaimana lagi, mereka tidak ada pilihan lain,
Na.” Ujar Tian, kali ini Alina yang mengangguk.
Toko milik ibunya Tian tidak jauh dari halte bus
tempat mereka turun tadi. Letaknya
strategis, tepat di pusat kota yang selalu ramai. Dari kejauhan, pemuda
itu dapat melihat toko yang memancarkan cahaya kuning nan sejuk. Hari sudah
gelap, toko peralatan olahraga serta outdoor itu sedang ramai dikunjungi.
Mereka berdua memasuki toko, pintu kaca otomatis
terbuka saat hendak masuk. Salah seorang karyawan magang yang mengenali Tian
segera meninggalkan pekerjaanya menata barang. Dengan sigap, ia menghampir
mereka berdua.
“Selamat malam, Tuan.”
“Tuan tidak mengabari jika hendak datang?” sapa
pemuda seumurannya itu dengan ramah.
Alina di samping melirik seketika saat Tian disapa
‘tuan’. Senyumanya menahan tawa setelah mendengar sapa pemuda itu.
“Maaf ya, Han. Tapi ini bukan kunjungan seperti
biasa, kok.”
“Baik, Tuan. Ada yang bisa saya bantu kalau begitu?”
tanyanya lagi.
“Pak Herga masih di ruangan atau sudah pulang?”
tanya Tian ke intinya.
Pak Herga atau yang biasa disapa Pak Herr adalah
seorang manager yang ditunjuk langsung oleh ibunya untuk mengelola toko
sekaligus kantor pusat. Sebenarnya, Ibunya Tian memiliki banyak cabang toko di
beberapa kota berbeda.
“Pak Herga masih ada di ruangan, Tuan. Beberapa hari
ini beliau lembur. Penjualan kita sedang naik tajam.”
“Syukur sekali, ya. Aku ikut senang.” Kataku
tersenyum puas.
Obrolan Tian dengan Yohan membuatnya lupa dengan
tujuan awal mereka datang. Sampai Alina menyikut pinggang kanan Tian,
membuatnya tersadar.
Aduh, Tian mengaduh pelan
setelah Alina telak menyikutnya.
“Oh, iya Han. Tolong kasih tahu Pak Herr kalau aku
ingin bertemu, ya!”
“Siap, Tuan. Saya permisi.” Han balik badan tanpa
disuruh dua kali.
“Kebiasaan suka nyikut!”sergah Tian setelah yohan
pergi.
“Uh, Tuan Tian.” Ucap Alina bercanda. Tidak
mengidahkan sergahan Tian.
“Sut, jangan bilang-bilang ke anak-anak lain, ya.”
Kataku menempelkan jari di depan bibir.
“Echa dan Alvin harus tahu, sih.” Katanya dengan
nada yang sama.
“Heii, apalagi mereka berdua.”
“Haha, hanya bercanda, Tuan.” Alina semakin
menyebalkan. Ia menyikut pinggang Tian lagi. Membuatnya mengaduh sekali lagi.
“Tapi, Na. kamu yakin Pak Herr orangnya?” Tian
mengalihkan.
“Aku yakin!” Alina percaya diri. Tian tidak melihat
keraguan sedikitpun dari tatapan matanya. Alina percaya jika orang yang
disebutkan dalam puisi aneh itu adalah Pak Herr.
“Petunjuknya jelas, Tian.”
“Aku bertempat di timur”
“Pada suatu kota pusat”
Alina membacakan lagi pesan lontar itu, ia sudah
hafal di luar kepala sepertinya.
“Kota ini berada di timur dari rumah kamu. Tepat di
mana pesan itu pertama kali ditemukan. Dan kalau kamu lupa, kota ini adalah
kota pusat. Ibu kota.” Ucap Alina mantap. Ekspresi percaya dirinya masih sama.
”Benar juga. Mari berharap Pak Herr adalah orang
yang pesan itu tujukkan.”
Alina mengangguk, “Semoga, ya.”
“Mau berkeliling toko ini, nggak?” tawar Tian
mengalihkan.
“Hmm, boleh.” Alina mengiyakan ajakannya. Menunggu
Yohan kembali sepertinya akan lama.
Tian berjalan lebih dulu. Alina mengikuti dari
belakang. Ia asyik melihat-lihat bermacam barang. Toko ini terdiri dari lima lantai. Lantai
pertama penuh oleh peralatan outdoor seperti ransel, tenda dan peralatan
mendaki. Lantai kedua khusus diisi oleh peralatan olahraga. Sementara itu
lantai tiga khusus diperuntukan sebagai kantor, sales, dan human resource.
Lantai empat adalah mes tempat tinggal karyawan yang ingin tinggal di toko.
terakhir lantai paling atas adalah rumah tinggal Tian sebelum pindah ke desa.
“Aku dulu tinggal di lantai lima gedung ini, Na.”
Alina sedang melihat tenda yang dipasang sebagai
display. Ia masuk ke dalam tenda, penasaran dengan bagian dalamnya. Ia tidak
menjawab.
“Tenda ini, berapa harganya, Tian?” Alina tidak
menggubris ucapannya, malah bertanya hal lain.
“Kamu mau, Na?”tanya Tian. Ia segera mengambil price
tag yang terpapang tidak jauh dari tenda, menyembunyikannya supaya Alina
tidak tahu harga tenda itu.
“Enggak, aku hanya penasaran. Bahan dan desainnya
bagus. Aku suka.” Jawabnya dari dalam. “Dan Tuan, tag harganya tolong
jangan disembunyikan, ya!” Ucap Alina lagi, tiba-tiba. Ia tahu aku
menyembunyikan tag. Padahal, kanvas tenda ini tebal sekali. Mustahil seseorang
dapat melihat dari dalam.
“Gak ada harganya, kok. Hehe.” Tian cengingisan.
“Huh,” dengusnya dari dalam.
“Kalo mau, kamu bisa bawa satu, kok.” Tawar Tian
lagi.
“Heh, nggak boleh, nanti kamu rugi!” sergah Alina
dengan cepat.
“Gak apa-apa, stoknya banyak.”
“Iya kan, Han?” tanya Tian kepada Yohan yang baru
kembali dari ruangan Pak Herr. Kebetulan ia baru saja mulai membereskan display
sepatu gunung sambil sesekali melayani pembeli. Yohan yang akrab disapa Han itu
menghentikan pekerjaanya lagi. Ia datang menghampiri.
“Wah, kebetulan kita harus restok tenda itu, Tuan.
Peminatnya banyak sekali.” Jawab Han di luar dugaan.
“Dan ngomong-ngomong. Display itu tenda terakhir
kita, Tuan.”
“Waduh, segera restok deh, Han.”
“Tuh, kan. Apa kata aku.” Alina keluar dari dalam
tenda, menyela pembicaraan bisnis dengan Yohan. Han megangguk menjawab Alina.
“Baik, Tuan, tendanya sedang dalam perjalanan.”
Tian mengangguk, “Kerja bagus!” katanya sambil
mengacungkan jampol kanan.
“Han, aku ambil tenda ini, yaa. Buatin invoicenya
segera supaya nggak dibayarin Tuan Tian.”
“Gak boleh itu buat display, Na!” Tian berubah pikiran setelah mengetahui tenda
itu adalah tenda terakhir.
“Terserah aku, kan aku yang mau beli.” Alina tidak
mau mengalah. Sepertinya, tenda berwarna abu-abu itu memikat perhaTiannya.
“Gak bisa, nanti display tenda aku kosong!”
“Kamu sebaiknya nggak usah nampilin display
kalau barangnya aja nggak ada, Tuan!” sergah Alina. Han yang mendengar Alina
yang tidak mau kalah terus menerus manggut-manggut, tanda setuju.
Aku tercekat. Alina memang benar.
“Tapi kan..”
“Pokoknya, Han. Aku beli, ya!” Alina lebih dulu
menyela ucapan Tian.
“Siap, Nona!” Han mengangkat tangan tanda hormat,
lalu dengan cepat ia pergi ke kasir.
“Han, jangan mau dibayar!” Tian berseru kepada
yohan, ia kini bimbang antara merelakan display terakhir itu atau memberikannya
kepada Alina.
“Jangan dengerin, Han!” Alina tidak mau kalah.
“Han!” Tian berlari mengejar Han. Alina tertawa
melihatku berlari.
Pak Herr keluar dari ruangan saat aku sedang berlari
mengejar Han. Tian menghentikan lari saat Pak Herr menyapa.
“Wah, lihat siapa yang datang!” Pak Herr menyapa
dari ambang pintu. Ia berjalan menghampiri Tian berdiri.
“Wah, lihat siapa yang membuat penjualan meningkat
drastis!” sapanya tidak kalah. Tian menyalami Pak Herr. Pria paruh baya itu
tersenyum lebar.
“Ah, aku hanya bekerja seperti biasa. Ini semua
terjadi berkat kerja keras kita semua, Tuan.” Pak Herr tersenyum.
“Siapkan aja bonus buat anak-anak, Pak. Bilangin ke
bagian finance. Tapi rahasiakan sampai akhir bulan, ya.” Pak Herr mengangguk setuju.
“Terimakasih, Tuan.” Pak her tersenyum.
“Oh, iya. Pak Herr perkenalkan, Alina temanku di
sekolah.” aku memperkenalkan Alina. Sebenarnya, aku lupa tujuan awal datang,
sampai Alina kembali menyikutnya.
Alina menyalami Pak Herr. Namun, aku merasakan ada
sesuatu yang berbeda dari tatapan Pak Herr semenjak awal melihat Alina.
“Ngomong-ngomong, ada apa Tuan tiba-tiba datang.
Malah masih memakai seragam?”
“Aku punya sesuatu, Pak Herr. Tapi mari kita
bicarakan di ‘rumah’ saja.” Aku mengisyaratkan atap rumah menggunakan kedua
jari telunjuk.
Pak Herr mengangguk.
“Baiklah, tapi jika mau, ruang rapat sedang tidak
digunakan, Tuan.”
“Tidak, ini penting sekali dan sebaiknya tidak ada
lagi yang tahu.”
Pak Herr mengangguk lagi, “Hanya Tuan yang mempunyai
akses ke lantai lima.” Pak Herr mengangguk. Aku berjalan lebih dulu menuju lift
di ujung ruangan. Diikuti oleh Alina dan Pak Herr.
Alina melihat ke belakang,
“Han, jangan lupa tendanya, ya!” Alina berseru,
ternyata ia serius ingin membeli tenda itu
“Han, jangan mau dibayar!” aku menimpali seru Alina.
Sementara itu, Han terlihat bingung.
***
Pak Herr menerima lembar lontar berisi puisi aneh
yang Tian temukan di ruang bawah tanah. Matanya meneliti. Ia, aku yakin sama
herannya denganku dan Alina pada saat pertama kali melihatnya.
“Ini… apa?” ucap pria baruh baya itu sedikit
terjeda. Wajah dan raut mukanya bingung. Matanya mengerenyit seakan sedang
memikirkan sesuatu.
Tian menatap Alina, seolah mengatakan “Eh,
bagaimana sih?”
Ia kembali menatap Pak Herr, “Artinya tidaklah
penting. Namun, apakah Pak Herr pernah melihat tulisan seperti ini dulu sewaktu
ibu masih hidup?” tanya Tian.
“Mungkin ibu pernah tidak sengaja memperlihakan
sesuatu seperti ini?” ia menambahi.
“Aku tidak ingat.” Pak Herr menggeleng. “Ibumu tidak
pernah memperlihatkanku tulisan semacam ini, tuan. Tapi jika tidak salah ingat,
aku pernah tidak sengaja melihat ibu sedang berbicara dengan orang asing, di
sini. Di ruang ini. Kulitnya sepucat Nak Alina.” Pak Herr perlahan menatap Alina.
Kini tatapan mencurigakannya di awal tadi terjawab. Alina mengingatkannya kepada
seseorang.
Untuk diketahui, warna kulit Alina jauh lebih pucat
daripada Tian.
“Mungkin supplier kita, Pak?” tanya Tian.
Pak Herr menggeleng. “Aku mengenal semua supplier kita baik dari
luar maupun dari dalam negeri, Tuan. Mereka tidak akan bisa menemui ibu tanpa
menemuiku terlebih dahulu.” Pak Herr menjelaskan. Namun, Tian menangkap
sesuatu, ada yang aneh dari nadanya bicara. Ia seperti sedang menyembunyikan
sesuatu.
Entahlah.
Alina sepertinya mengetahuinya. Ia menyadari jika
ada sesuatu yang disembunyikan oleh Pak Herr. Meskipun ia bisa membaca pikiran,
Alina tidak dapat mengendalikan pikiran orang lain untuk berbuat mengikuti
kemauannya.
“Kapan orang asing itu datang, pak?” tanyaku.
“Seminggu sebelum ibu meninggal, tuan.”
“Aku, baru tahu…”
Jawaban Pak Herr membuat kemaTian ibu terkesan
misterius. Memang, ibu Tian meninggal secara mendadak pada suatu malam. Dokter
mengatakan jika ibu meninggal akibat serangan jantung. Padahal, ibu tidak punya
riwayat penyakit jantung. Bahkan, aku tidak pernah mendengarkan ibu batuk
ataupun bersin, meskipun hanya sekali.
“Aneh sekali.” Aku bergumam sendiri. Alina masih
diam menyimak, ia tahu sesuatu, aku yakin sekali.
Tian menatap Alina, bergumam dalam hati mencoba
mengirim sinyal telepati. Ada yang aneh?
Alina mengangguk. Seolah mendengar gumamnya.
“Tapi, bisa saja hanya kebetulan, bukan?” Pak Herr
memecahkan hening gumamannya dengan Alina. Seolah ia juga mencoba mengalihkan
fokus. Tian mengangguk.
“Bisa, saja, pak.”
Dering telfon tiba-tiba memenuhi ruang keluarga. Pak
Herr izin permisi untuk mengangkat telfon. Tian menatap Alina lagi. Perempuan
itu mengangguk meyakinkan, ada yang Pak Herr sembunyikan. Itu arti anggukannya.
“Tuan, kiriman tenda sudah datang. Saya izin pamit
dahulu.” Pak Herr menundukan kepala tanda hormat, Tian melakukan hal yang sama,
pun Alina. Pak Herr balik kanan menuju lift.
Meninggalkan mereka.
Lift turun meninggalkan rumah. Alina mentapa Tian.
“Pak Herr menyembunyikan sesuatu, Tian.”
“Iya, aku juga merasa begitu, Na.”
“Tapi, menurutmu apa yang ia sembunyikan?”
“Pak Herr, dia sepertinya mempunyai perjanjian
rahasia dengan ibumu.” Ucapan Alina membuat sosok ibunya semakin misterius. Bahkan bagi Tian sendiri.
“Kamu bisa membacanya?”
“Sayangnya tidak semua, hanya itu yang bisa aku tcari
tahu.”
“Pak Herr seperti tahu pikirannya sedang diusik.
Untung bagi dia, telfon berdering. Membuat konsenterasiku terganggu.”
“Ah, sayang sekali.” Tian merebahkan punggung di
sofa.
Alina berdiri mengelilingi rumah. Mata abu-abunya
awas melihat sekeliling, seperti mencari sesuatu. “Kalau kamu penasaran dengan
orang aneh yang ditemui ibu, kamu bisa lihat di CCTV, kan?” ucap Alina di ujung
ruangan. Ia meihat foto-foto yang terpajang satu persatu. Tatapanya menyiratkan
harapan akan suatu petunjuk. Satu petunjuk terkecil sekalipun.
“Benar juga, aku bisa akses di handphone malah!” Tian
bangkit sambil berseru seketika.
“CCTV kamu dilengkapi perekam suara, kan?” Alina
sumeringah.
Tian tidak menjawab, euforia memenuhi dirinya, ia hanya
mengangguk mengiyakan.
Alina dengan cepat melompat ke sebelahnya, “Ayo kita
lihat!” tak kalah semangat.
Tian membuka handphone. Mengulir menu untuk mencari
aplikasi CCTV. Folder arsip rekaman seminggu sebelum ibunya meninggal
kemungkinan masih ada di database. Ia membuka folder itu. Jantung mereka
berdebar cepat. Alina menanti loading layar seperti Tian dengan penuh
harap. Diam-daim, ia mencuri lihat mata abu-abu Alina itu berbinar memantulkan
cahaya ponsel.
Folder Kosong
Kita saling tatap, tidak percaya. Folder rekaman
kosong melompong.
***
“Pak Herr bertingkah aneh, CCTV sengaja dihapus, dan
orang aneh itu, aku yakin semua ini terjadi karena sesuatu, Na. terlalu naif
jika semuanya hanya kebetulan.” Tian kembali menyandarkan punggung ke kursi.
Lampu dari gedung-gedung yang menjulang menghiasi
lanskap kemerahan langit malam kota. Indah sekali melihatnya dari balik kaca.
Tetapi, dalam hatinya ia lebih merindukan taburan bintang dari atas rumahnya di
desa. Pikirannya kembali membayangkan malam bersama Alvin dan Echa sebelum Si
Kelam datang menyerang. Bayangan malam yang indah buyar seketika.
“Memang, orang asing itu sepertinya membawa pesan
penting, Tian.”
“Eh…” Alina tercekat, ia seperti menyadari sesuatu
yang luput dari perhaTiannya.
“Ibumu, aku baru ingat, ia berkulit pucat juga,
kan?” Alina berdiri menatap dari depan sofa. Ia menyadari sesuatu.
“Kamu baru sadar, Na, aku kira kamu lebih teliti
melihat foto…” Tian belum menyelesaikan bicara tetapi Alina segera melompat, ia
muncul di depan salah satu foto dan mengambilnya.
“Mata ibu kamu, abu-abu cerah…” Alina menunjuk wajah
ibu di foto, lalu menoleh menatap Tian, tatapanya penuh kejutan.
Tian balik menatapnya, menyadari sesuatu.
“Eh…” lidahnya kelu. Sesaat ia menyadari bahwa ia
tidak pernah memperhatikan bagaimana rupa ibunya. Seperti sesuatu sengaja
terhapus dari memori. Tetapi berkat Alina, Tian menyadarinya.
“Itu artinya..” Alina terdiam, ia menggantungkan
ucapannya. Ruangan seketika sunyi.
“Apa, Na...” Tian memicingkan mata.
Sebenarnya Tian tahu apa yang hendak ia katakan. Clue-nya
jelas sekali. Warna mata, kulit pucat, kedua hal itu hanya mengarah kepada satu
hal; ibunya bukan bagian dari dunia ini, mustahil ia terkena serangan jantung.
“Ibumu, dia belum meninggal…”
Komentar
Posting Komentar