Cahaya merah meredup dari tangan Tian, menguap
hilang seiring dengan tinju yang ia lemaskan. Alvin menyenderkan tubuhnya ke
dinding. Rasa lelah membuatnya tidak peduli dengan cahaya di tangan Tian.
Napasnya perlahan tenang tidak lagi menderu seperti beberapa saat yang lalu.
Kabut menipis, hewan malam kembali bersuara. Tanda bahwa Si Kelam sudah pergi
jauh.
“Echa nggak
apa-apa?” Tian menyeka darah kering dari pelipis dan bibirnya. Warna darahnya aneh.
Ekspresinya menyiratkan jika pemuda itu belum bisa menerima fakta bahwa ia
bukanlah manusia.
“Dia aku
sembunyiin di gudang. Jangan khawatir.” Alvin menjatuhkan linggis dari
gengamannya ke lantai, suara berdenting seketika menggema, menyaingi derik
jangkrik.
“Itu tadi
makhluk apa...” alvin terdiam,
“Kenapa tangan kamu mengeluarkan cahaya...”
“Dan aku
pasti berhalusinasi. Pintu kamar ini nggak mungkin hancur cuma karena dipukul,
kan?” Alvin menengok kongliong pintu yang kini tidak berbentuk. Baru kali ini
Alvin banyak bertanya sekaligus.
Ternyata Tian keliru, Alvin memperhatikan cahaya di
tangannya.
“Aku juga
nggak tahu, Vin.” Jawab Tian singkat. Alvin melihatku dengan seksama kali ini.
“Darah kamu,
warnanya biru?” Alvin akhirnya menyadari sesuatu. Ia melihat pelipis Tian yang
mengeluarkan darah dari luka yang sobek. Perlahan tapi pasti luka itu menutup
dengan cepat – self healing.
“Cukup kamu
aja yang tahu.”
“Dan Echa.” Tambah alvin. Tian mengangguk, “Ya, dan
Echa.”
“Iya, tapi aku
bakal tagih penjelasan buat itu.”
“Kamu akan segera tahu, Vin.”
Alvin mengangguk, ia dapat diandalakan dalam
menyimpan rahasia. Tapi Echa, bagaimana pun juga anak itu harus tahu. Ia ikut
menjadi korban. Si Kelam tidak bisa memilih waktu lain untuk mengganggu
rupanya.
Tian berjalan menghampiri Alvin, mengulurkan tangan.
“Kita temui
Echa. Dan luka di tangan itu harus diobati.” Alvin meraih uluran tangannya, ia
bangkit berdiri dan berjalan lebih dulu memasuki kamar. Alvin berjalan
hati-hati, takut-takut pecahan kaca mengenai kakinya.
“Ternyata aku
nggak lagi berhalusinasi.”
“Kenapa?”
“Pintu kamar
kamu beneran hancur, dan lihat tangan aku.” Alvin menunjukan kedua tangannya.
Mereka berjalan menuruni tangga, keringat masih
mengucur meskipun udara dingin. Tangan Alvin dipenuhi goresan dan darah akibat
tertusuk kaca dan serpihan kayu. Darah kering itu memenuhi tangan dan kaos yang
ia kenakan.
“Eh, ini
handle pintu kamar kamu.” Alvin membungkuk mengambil sesuatu yang tergeletak di
dekat anak tangga. Ia memutar-mutar handle, berfungsi normal.
“Masih bisa
dipake, nih. Lumayan daripada beli baru.” Alvin mencoba menghibur. Ia
memberikan handle pintu itu. Sementara itu, Tian tersenyum kecut menerimanya.
“Seenggaknya
ada yang selamat.” Katanya dengan senyuman nanar.
Mereka sampai di lantai dasar, hendak berjalan
menuju gudang di belakang rumah.
“Ada kotak P3K
di dapur, Vin. Kamu ambil aja, bersihin luka itu, aku mau nemui Echa.” Kata Tian
saat membuka pintu dapur.
Alvin terdiam
tidak menjawab.
“Tian, aku
yang berada dibelakang kamu aja terluka separah ini, sementara kamu yang berdiri
percis di depan pintu malah baik-baik saja...” alvin terdiam sesaar
“Aneh
banget.” Alvin melanjutkan.
“Iya aku tahu.”
“Harusnya
emang kita mati, kan.” Jawab Tian langsung ke intinya. Tian tahu apa yang alvin
maksud.
“Yep, tepat.”
Ia mengangguk.
“Nanti aku
jelasin semuanya.”
Alvin
mengangguk lagi. Ia berjalan menuju dapur. Di sebelah lemari pendingin ia
mengambil kotak P3K dan membersihkan lukanya sendiri. Tian berjalan ke
belakang, menuju gudang di belakang rumah yang bersisian dengan Lab Buat
Ngapain Aja.
Tian membuka pintu gudang, menatap sekeliling
mencari Echa. Alvin sepertinya tidak sempat menyalakan lampu, hebat juga ia
bisa menemukan linggis dalam kegelapan begini.
“Echa belum
tersadar.” Tian menemukannya tergeletak tak berdaya di balik terpal biru, bekas
pembangunan rumah. Alvin menyembunyikannya dengan seksama. Tian menempelkan
jari ke urat nadi di lehernya.
“Masih
berdenyut.”
Tian membopong Echa, hendak memindahkannya ke kamar
bawah.
“Cha, kamu
berat amat!” Tian berseru, ia menurunkan tubuhnya, niat Tian membopongnya
seperti di film-film perang sirna sudah. Sebagai gantinya, ia memilih cara
instan; melompat menuju kamar utama, memindahkan Ech.
***
Pagi
menunjukan diri. Di ufuk timur, perlahan-lahan langit menebarkan warna keemasan yang indah. Dingin berganti hangat
diterpa sinar mentari. Surya disambut oleh iringan suara burung nan merdu
saling bersahutan. Alam seakan bersyukur sang sinar pagi masih sudi terbit
menyinari bumi dari kegelapan malam. Ayam jantan berkokok jauh dari bawah sana,
ikut memeriahkan pagi.
Tian dan Alvin semalaman berjaga di depan kamar,
mereka tidak tidur. Berjaga-jaga barangkali Si Kelam kembali datang.
“Ini kali
ketiga ketemu makhluk itu.” Tian membuka obrolan, hal yang sangat jarang ia
lakukan bahkan saat bersama sahabatnya.
“Kali kedua,
dia menyerang aku, sama kayak tadi malam.”
“Aku nggak
tahu kenapa dan dari mana asalnya, tapi yang jelas makhuk itu datang setelah
aku bisa merasakan keanehan dalam diri aku.”
“Keanehan
kayak tadi malam?” tanyanya, ia menatap Tian penasaran.
Aku melihat
linggis yang tergeletak di depan kamar. Tanganku terangkat sejajar dengan linggis yang jauhnya beberapa meter dari kita
berdua. Perlahan-lahan linggis itu mulai bergerak, kemudian melesat menuju
tanganku. Alvin yang terkejut bukan main terjengkang kebelakang.
“Hah, kok
bisa?”
“Percaya deh,
aku juga bertanya-tanya akan hal yang sama.” Kata Tian sambil meletakan linggis
ke samping tempatnya duduk.
“Jangan cerita
kepada siapa-siapa, Vin.”
“Iya, aku
nggak akan bilang apa-apa tentang kejadian semalam dan yang barusan.”
“Makasih, aku
percaya kamu.”
“Tapi tetep
aku masih akan minta penjelasan.”
“Itu kali
kesekian kamu bilang gitu, dasar bawel.”
Tiba-tiba Tian teringat Alina, perempuan itu juga
bawelnya bukan main. Alvin hanya cengingisan, sepertinya ia sudah mulai rileks.
“Alvin, Tian?”
Suara panggilan terdengar dari bawah, sepertinya Echa sudah tersadar. Aku
bangkit berdiri hendak menemuinya. Alvin mengikuti Tian dari belakang.
“Kamu
baik-baik aja?” tanya Tian. Echa pindah ke ruang tengah, ia duduk di sofa
seperti orang linglung.
“Kepala aku
pusing banget.” Echa mengusap belakang kepalanya. Benturan tadi malam
membuatnya pusing.
“Ada apa tadi
malam, aku cuma inget ada ledakan doang?”
Mereka terdiam, pertanyaan Echa mengantung tanpa
respon.
“Ada yang harus aku ceritain tentang peristiwa tadi
malam.” Tian memecahkan keheningan ruangan. Alvin dan Echa serempak
memperhatikan. “Tadi malam kita kedatangan ‘Si Kelam’. Itu sebutan aku buat
makhluk hitam bertudung itu.” Ujar Tian.
Alvin mengangguk.
“Si Kelam, apa
itu?” sela Echa.
“Aku juga
nggak tahu pasti, Cha.” Tian menganggkat kedua bahu.
“Jadi, makhluk
itu bukan manusia?”
“Iya.” Jawab Alvin,
ia lalu terdiam.
“Beneran, dia
bukan manusia?” tanya Echa lagi. Air mukanya berubah panik namun masih tidak
percaya.
“Bener.
Soalnya tadi malam kepala makhluk itu aku pukul sekuat tenaga pake linggis. Dia
sama sekali nggak pingsan dan malah nyerang balik.” Alvin menceritakan kisahnya
tadi malam,
“Aneh, pukulan dia kayak mengeluarkan cahaya gitu,
Cha.” Alvin melanjutkan. Echa bagaimana pun, ia masih dengan ekspresi yang
sama.
“Hah, jadi kita
terpental itu karena makhluk hitam?” ekspresinya terkejut.
“Iya.” Jawab
Alvin singkat.
“Tapi kok
bisa?”
“Tentu bisa.”
Kata Alvin lagi.
“Dia bawa bom
atau apa, nggak masuk akal.” Echa menggeleng tidak mengerti.
“Bukan, tapi
lebih mengerikan.” Kali ini Tian yang menjawab. Ia lantas mengepalkan tangannya.
Ekspresinya fokus menyalurkan energi sembari membentuk tinju. Secarik cahaya
merah redup keluar dari kepalan tangan – menyelubungi seperti cahaya obor. Echa
menatap Tian tidak percaya, Alvin melihatnya biasa saja. Ia sudah tahu karena ikut melawan Si Kelam tadi
malam.
“Kok..” Echa
terdiam, ia tidak punya ide untuk menepis lagi.
“Itu cahaya
yang aku maksud, tapi milik Si Kelam berwarna biru.” Alvin menunjuk kepalan
tangan Tian. Tian mengangguk. Tiba-tiba saja, perutnya terasa mual, serasa
hendak memuntahkan sesuatu.
“Aku bukan
manusia seperti kalian.” Ucap Tian datar, keheningan seketika menyambut.
***
Setelah mengatakan itu, kedua rekannya terdiam. Tian
segera bangkit, berjalan cepat ke kamar mandi sembari memegangi perutnya. Di
atas toilet, ia memuntahkan sesuatu – darah biru bercampur merah. Tian segera
membuka baju yang ternyata telah gosong tanpa ia sadari. Di balik baju, kulit
perutnya berwarna biru lebam berkat pukulan Si Kelam tadi malam, lebamnya mirip
seperti bekas pukulan Alina.
Tian duduk di lantai kering kamar mandi sembari
tetap memegangi perutnya. Ia ingat Alina dan Pak Ed pernah berkata jika tubuhnya
bisa mengatasinya sendiri.
“Mungkin akan
sembuh dengan sendirinya.” Pikirnya.
Sayangnya,
luka itu akan tetap membekas.
Tian berusaha bangkit berdiri, berjalan menuju ruang
tamu. Menghiraukan rasa sakit yang kurasakan.
“Kamu kenapa?”
Echa bertanya lebih dulu, sebelum ia sempat duduk. “Gak apa-apa.” Jawab Tian
singkat mengalihkan.
“Oke, sekarang
jelasin semuanya.” Kali ini Alvin nyeletuk, rasa penasarannya sudah tak
terbendung lagi.
“Bawel!”
mataku menyipit sinis menatap Alvin.
“Cepetan!” Tian
berseru.
“Seperti yang
aku bilang tadi, aku bukan manusia. Sebenernya agak aneh mengatakan hal itu
mengingat dari penampilan fisik ‘kita’ kayak nggak ada perbedaan sama-sekali,
bukan?” Tian melemparkan pertanyaan.
Ada rasa yang
aneh di lidah Tian ketika ia mengatakan kata ‘kita’, seolah ada jarak yang
memisahkan antara ia dengan mereka.
Mereka berdua mengangguk,
“Tapi..” Tian
mengangkat tangan kanan,
“Seperti yang
kamu lihat barusan, aku bisa mengeluarkan cahaya. Jangan salah paham, itu bukan
cahaya yang bersahabat kayak cahaya senter. Cahaya itu adalah tanda bahwa
energi telah terkumpul, siap dilepaskan. Seberapa kuat kalau kalian bertanya,
kalian bisa melihat pintu sama jendela kamar aku.“
“Bahkan kalian berdua ikut terpental tadi malam.”
Lagi-lagi mereka mengangguk setuju.
“Dan juga,
jauh di bawah lapisan kulit aku ini, mengalir darah yang sungguh berbeda dari
darah kalian. Warna darah aku biru terang, mirip sian bercampur merah. Tapi
kedua warna itu nggak menyatu. Cha, tanya aja Alvin kalau nggak percaya.
Atau..” Tian menunjukan lengan baju dengan bercak darah mengering bekas menyeka
bibir tadi malam.
“Kamu bisa
lihat langsung.” Tian menunjukan bekas darah kering di lengan baju. Echa
mendekat lebih dulu, ia melihatnya. Alvin sudah tahu, ia diam ditempatnya
duduk.
“Satu hal
lagi, aku tadinya nggak mau bilang ini sama kalian.” Tian terdiam.
“Apa?” Alvin
lebih dulu menjawab, rasa penasaran membuat sifat santainya hilang.
“Aku nemu
petunjuk. Entah, aku nggak tahu kemana petunjuk itu akan membawa aku. Awalnya
aku akan pergi mencari tahu sendiri. Tapi kejadian tadi malam membuat aku nggak
bisa lakuin itu. Bisa jadi sewaktu-waktu saat aku pergi, Si Kelam malah datang
dan meneror kalian. Atau lebih buruk. Si Kelam udah terlanjur lihat wajah
kalian.”
Alvin
menghembuskan nafas berat, ia tahu Si Kelam mustahil dikalahan. Bahkan oleh
linggis sekalipun. Belum lagi kekuatanya bukan lawan sebanding baginya.
“Kita harus
pergi memastikan petunjuk itu. Siapa tahu, dalam perjalanan kita ada jawaban
untuk mengalahkan Si Kelam.”
“Apapun itu,
aku ikut.” Alvin mengajukan diri tanpa ragu. Sementara, Echa ragu, tapi Tian
percaya ia akan ikut.
“Vin, aku
harus ingetin kamu lagi. Aku nggak tahu kemana petunjuk itu akan membawa aku.”
“Masa bodoh,
pokoknya aku harus ikut!” pendiriannya teguh.
“Heuh,
kepala batu.” Tian tersenyum. Kini giliran Echa. Tian dan Alvin menatapnya.
“Aku nggak
yakin, sih. Tapi memang kamu yakin kalau itu harus dilakukan?” benar saja, echa
ragu.
“Seperti yang
aku bilang, aku nggak tahu kemana petunjuk itu akan membawa aku. Tapi yang
pasti, diam di sini artinya bunuh diri, Cha. Aku udah 2 kali hampir jadi
martabak telor spesial gara-gara Si Kelam itu.” Ucap Tian jujur. Sebenarnya
baik Tian maupun echa, keduanya sama-sama dalam keraguan.
“Dan kalau aku nggak ada, bisa jadi Si Kelam malah
berbalik buat mencelakakan kalian. Itu sebabnya aku ngajak kalian.”
“Siapa tahu, dengan kita pergi Si Kelam akan
kehilangan jejak kita.” Tian menuntaskan rencana yang sebenarnya sudah ia
canangkan dengan Alina. Tapi apa mau dikata, keselamatan mereka kini terancam
juga.
Oh iya, Alina masih belum tahu tentang Si Kelam.
“Aku ngerti, Tian. Tapi kita nggak bisa selamanya
lari, kan?” Echa mengomentari rencana yang Tian paparkan. Tian mengangguk
setuju.
“Memang,” jawabnya, “Karena itu aku bilang ‘siapa
tahu kita akan menemukan cara mengalahkan Si Kelam’. Kepergian kita hanya
sementara, Cha.” Tian berusaha meyakinkan.
“Dan kalau ternyata setelah perjalanan panjang tapi
nggak ada caranya?” Echa, biar bagaimana pun tetap pada keraguannya.
“Biar aku yang hadapi Si Kelam.” Kata Tian yakin.
“Kasih aku waktu buat nentuin.” Jawabnya ragu. Aku
dan Alvin mengangguk setuju.
“Kasih tahu kita kalau kamu siap, Cha.” Kata Alvin.
“Iya.” Echa menjawab sekadarnya.
Keheningan panjang menyambut setelah jawaban Echa. Mereka
tenggelam dalam lamunan masing-masing. Sinar mentari menerobos tirai abu-abu
yang belum ia buka. Ppemuda itu beranjak berdiri hendak membuka tirai.
“Kalian mau mie instan?” kata Tian sambil berjalan
menuju tirai.
“Ide yang bagus!” Alvin semangat menjawab lebih
dulu. ia berjalan mendahului ke dapur, seolah rumahnya. “Stok mie instan kamu
masih banyak, kan?” tanya Alvin santai seolah telah melupakan kejadian
mendebarkan tadi malam.

Komentar
Posting Komentar