Langit - Pengakuan (Bab XI)

 


Cahaya merah meredup dari tangan Tian, menguap hilang seiring dengan tinju yang ia lemaskan. Alvin menyenderkan tubuhnya ke dinding. Rasa lelah membuatnya tidak peduli dengan cahaya di tangan Tian. Napasnya perlahan tenang tidak lagi menderu seperti beberapa saat yang lalu. Kabut menipis, hewan malam kembali bersuara. Tanda bahwa Si Kelam sudah pergi jauh.

“Echa nggak apa-apa?” Tian menyeka darah kering dari pelipis dan bibirnya. Warna darahnya aneh. Ekspresinya menyiratkan jika pemuda itu belum bisa menerima fakta bahwa ia bukanlah manusia.

“Dia aku sembunyiin di gudang. Jangan khawatir.” Alvin menjatuhkan linggis dari gengamannya ke lantai, suara berdenting seketika menggema, menyaingi derik jangkrik.

“Itu tadi makhluk apa...” alvin terdiam,

“Kenapa tangan kamu mengeluarkan cahaya...”

 “Dan aku pasti berhalusinasi. Pintu kamar ini nggak mungkin hancur cuma karena dipukul, kan?” Alvin menengok kongliong pintu yang kini tidak berbentuk. Baru kali ini Alvin banyak bertanya sekaligus.

Ternyata Tian keliru, Alvin memperhatikan cahaya di tangannya.

“Aku juga nggak tahu, Vin.” Jawab Tian singkat. Alvin melihatku dengan seksama kali ini.

“Darah kamu, warnanya biru?” Alvin akhirnya menyadari sesuatu. Ia melihat pelipis Tian yang mengeluarkan darah dari luka yang sobek. Perlahan tapi pasti luka itu menutup dengan cepat – self healing.

“Cukup kamu aja yang tahu.”

“Dan Echa.” Tambah alvin. Tian mengangguk, “Ya, dan Echa.”

“Iya, tapi aku bakal tagih penjelasan buat itu.”

“Kamu akan segera tahu, Vin.”

Alvin mengangguk, ia dapat diandalakan dalam menyimpan rahasia. Tapi Echa, bagaimana pun juga anak itu harus tahu. Ia ikut menjadi korban. Si Kelam tidak bisa memilih waktu lain untuk mengganggu rupanya.

Tian berjalan menghampiri Alvin, mengulurkan tangan.

“Kita temui Echa. Dan luka di tangan itu harus diobati.” Alvin meraih uluran tangannya, ia bangkit berdiri dan berjalan lebih dulu memasuki kamar. Alvin berjalan hati-hati, takut-takut pecahan kaca mengenai kakinya.

“Ternyata aku nggak lagi berhalusinasi.”

“Kenapa?”

“Pintu kamar kamu beneran hancur, dan lihat tangan aku.” Alvin menunjukan kedua tangannya.

Mereka berjalan menuruni tangga, keringat masih mengucur meskipun udara dingin. Tangan Alvin dipenuhi goresan dan darah akibat tertusuk kaca dan serpihan kayu. Darah kering itu memenuhi tangan dan kaos yang ia kenakan.

“Eh, ini handle pintu kamar kamu.” Alvin membungkuk mengambil sesuatu yang tergeletak di dekat anak tangga. Ia memutar-mutar handle, berfungsi normal.

“Masih bisa dipake, nih. Lumayan daripada beli baru.” Alvin mencoba menghibur. Ia memberikan handle pintu itu. Sementara itu, Tian tersenyum kecut menerimanya.

“Seenggaknya ada yang selamat.” Katanya dengan senyuman nanar.

Mereka sampai di lantai dasar, hendak berjalan menuju gudang di belakang rumah.

“Ada kotak P3K di dapur, Vin. Kamu ambil aja, bersihin luka itu, aku mau nemui Echa.” Kata Tian saat membuka pintu dapur.

Alvin terdiam tidak menjawab.

“Tian, aku yang berada dibelakang kamu aja terluka separah ini, sementara kamu yang berdiri percis di depan pintu malah baik-baik saja...” alvin terdiam sesaar

 “Aneh banget.” Alvin melanjutkan.

“Iya aku tahu.”

 “Harusnya emang kita mati, kan.” Jawab Tian langsung ke intinya. Tian tahu apa yang alvin maksud.

“Yep, tepat.” Ia mengangguk.

“Nanti aku jelasin semuanya.”

Alvin mengangguk lagi. Ia berjalan menuju dapur. Di sebelah lemari pendingin ia mengambil kotak P3K dan membersihkan lukanya sendiri. Tian berjalan ke belakang, menuju gudang di belakang rumah yang bersisian dengan Lab Buat Ngapain Aja.

Tian membuka pintu gudang, menatap sekeliling mencari Echa. Alvin sepertinya tidak sempat menyalakan lampu, hebat juga ia bisa menemukan linggis dalam kegelapan begini.

“Echa belum tersadar.” Tian menemukannya tergeletak tak berdaya di balik terpal biru, bekas pembangunan rumah. Alvin menyembunyikannya dengan seksama. Tian menempelkan jari ke urat nadi di lehernya.

“Masih berdenyut.”

Tian membopong Echa, hendak memindahkannya ke kamar bawah.

“Cha, kamu berat amat!” Tian berseru, ia menurunkan tubuhnya, niat Tian membopongnya seperti di film-film perang sirna sudah. Sebagai gantinya, ia memilih cara instan; melompat menuju kamar utama, memindahkan Ech.

 

***

 

Pagi menunjukan diri. Di ufuk timur, perlahan-lahan langit menebarkan warna  keemasan yang indah. Dingin berganti hangat diterpa sinar mentari. Surya disambut oleh iringan suara burung nan merdu saling bersahutan. Alam seakan bersyukur sang sinar pagi masih sudi terbit menyinari bumi dari kegelapan malam. Ayam jantan berkokok jauh dari bawah sana, ikut memeriahkan pagi.

Tian dan Alvin semalaman berjaga di depan kamar, mereka tidak tidur. Berjaga-jaga barangkali Si Kelam kembali datang.

“Ini kali ketiga ketemu makhluk itu.” Tian membuka obrolan, hal yang sangat jarang ia lakukan bahkan saat bersama sahabatnya.

“Kali kedua, dia menyerang aku, sama kayak tadi malam.”

“Aku nggak tahu kenapa dan dari mana asalnya, tapi yang jelas makhuk itu datang setelah aku bisa merasakan keanehan dalam diri aku.”

“Keanehan kayak tadi malam?” tanyanya, ia menatap Tian penasaran.

Aku melihat linggis yang tergeletak di depan kamar. Tanganku terangkat sejajar dengan  linggis yang jauhnya beberapa meter dari kita berdua. Perlahan-lahan linggis itu mulai bergerak, kemudian melesat menuju tanganku. Alvin yang terkejut bukan main terjengkang kebelakang.

“Hah, kok bisa?”

“Percaya deh, aku juga bertanya-tanya akan hal yang sama.” Kata Tian sambil meletakan linggis ke samping tempatnya duduk.

“Jangan cerita kepada siapa-siapa, Vin.”

“Iya, aku nggak akan bilang apa-apa tentang kejadian semalam dan yang barusan.”

“Makasih, aku percaya kamu.”

“Tapi tetep aku masih akan minta penjelasan.”

“Itu kali kesekian kamu bilang gitu, dasar bawel.”

Tiba-tiba Tian teringat Alina, perempuan itu juga bawelnya bukan main. Alvin hanya cengingisan, sepertinya ia sudah mulai rileks.

“Alvin, Tian?” Suara panggilan terdengar dari bawah, sepertinya Echa sudah tersadar. Aku bangkit berdiri hendak menemuinya. Alvin mengikuti Tian dari belakang.

“Kamu baik-baik aja?” tanya Tian. Echa pindah ke ruang tengah, ia duduk di sofa seperti orang linglung.

“Kepala aku pusing banget.” Echa mengusap belakang kepalanya. Benturan tadi malam membuatnya pusing.

“Ada apa tadi malam, aku cuma inget ada ledakan doang?”

Mereka terdiam, pertanyaan Echa mengantung tanpa respon.

“Ada yang harus aku ceritain tentang peristiwa tadi malam.” Tian memecahkan keheningan ruangan. Alvin dan Echa serempak memperhatikan. “Tadi malam kita kedatangan ‘Si Kelam’. Itu sebutan aku buat makhluk hitam bertudung itu.” Ujar Tian.

Alvin mengangguk.

“Si Kelam, apa itu?” sela Echa.

“Aku juga nggak tahu pasti, Cha.” Tian menganggkat kedua bahu.

“Jadi, makhluk itu bukan manusia?”

“Iya.” Jawab Alvin, ia lalu terdiam.

“Beneran, dia bukan manusia?” tanya Echa lagi. Air mukanya berubah panik namun masih tidak percaya.

“Bener. Soalnya tadi malam kepala makhluk itu aku pukul sekuat tenaga pake linggis. Dia sama sekali nggak pingsan dan malah nyerang balik.” Alvin menceritakan kisahnya tadi malam,

“Aneh, pukulan dia kayak mengeluarkan cahaya gitu, Cha.” Alvin melanjutkan. Echa bagaimana pun, ia masih dengan ekspresi yang sama.

“Hah, jadi kita terpental itu karena makhluk hitam?” ekspresinya terkejut.

“Iya.” Jawab Alvin singkat.

“Tapi kok bisa?”

“Tentu bisa.” Kata Alvin lagi.

“Dia bawa bom atau apa, nggak masuk akal.” Echa menggeleng tidak mengerti.

“Bukan, tapi lebih mengerikan.” Kali ini Tian yang menjawab. Ia lantas mengepalkan tangannya. Ekspresinya fokus menyalurkan energi sembari membentuk tinju. Secarik cahaya merah redup keluar dari kepalan tangan – menyelubungi seperti cahaya obor. Echa menatap Tian tidak percaya, Alvin melihatnya biasa saja. Ia  sudah tahu karena ikut melawan Si Kelam tadi malam.

“Kok..” Echa terdiam, ia tidak punya ide untuk menepis lagi.

“Itu cahaya yang aku maksud, tapi milik Si Kelam berwarna biru.” Alvin menunjuk kepalan tangan Tian. Tian mengangguk. Tiba-tiba saja, perutnya terasa mual, serasa hendak memuntahkan sesuatu.

“Aku bukan manusia seperti kalian.” Ucap Tian datar, keheningan seketika menyambut.

 

***

 

Setelah mengatakan itu, kedua rekannya terdiam. Tian segera bangkit, berjalan cepat ke kamar mandi sembari memegangi perutnya. Di atas toilet, ia memuntahkan sesuatu – darah biru bercampur merah. Tian segera membuka baju yang ternyata telah gosong tanpa ia sadari. Di balik baju, kulit perutnya berwarna biru lebam berkat pukulan Si Kelam tadi malam, lebamnya mirip seperti bekas pukulan Alina.

Tian duduk di lantai kering kamar mandi sembari tetap memegangi perutnya. Ia ingat Alina dan Pak Ed pernah berkata jika tubuhnya bisa mengatasinya sendiri.

“Mungkin akan sembuh dengan sendirinya.” Pikirnya.

Sayangnya,  luka itu akan tetap membekas.

Tian berusaha bangkit berdiri, berjalan menuju ruang tamu. Menghiraukan rasa sakit yang kurasakan.

“Kamu kenapa?” Echa bertanya lebih dulu, sebelum ia sempat duduk. “Gak apa-apa.” Jawab Tian singkat mengalihkan.

“Oke, sekarang jelasin semuanya.” Kali ini Alvin nyeletuk, rasa penasarannya sudah tak terbendung lagi.

“Bawel!” mataku menyipit sinis menatap Alvin.

“Cepetan!” Tian berseru.

“Seperti yang aku bilang tadi, aku bukan manusia. Sebenernya agak aneh mengatakan hal itu mengingat dari penampilan fisik ‘kita’ kayak nggak ada perbedaan sama-sekali, bukan?” Tian melemparkan pertanyaan.

Ada rasa yang aneh di lidah Tian ketika ia mengatakan kata ‘kita’, seolah ada jarak yang memisahkan antara ia dengan mereka.

Mereka berdua mengangguk,

“Tapi..” Tian mengangkat tangan kanan,

“Seperti yang kamu lihat barusan, aku bisa mengeluarkan cahaya. Jangan salah paham, itu bukan cahaya yang bersahabat kayak cahaya senter. Cahaya itu adalah tanda bahwa energi telah terkumpul, siap dilepaskan. Seberapa kuat kalau kalian bertanya, kalian bisa melihat pintu sama jendela kamar aku.“

“Bahkan kalian berdua ikut terpental tadi malam.” Lagi-lagi mereka mengangguk setuju.

“Dan juga, jauh di bawah lapisan kulit aku ini, mengalir darah yang sungguh berbeda dari darah kalian. Warna darah aku biru terang, mirip sian bercampur merah. Tapi kedua warna itu nggak menyatu. Cha, tanya aja Alvin kalau nggak percaya. Atau..” Tian menunjukan lengan baju dengan bercak darah mengering bekas menyeka bibir tadi malam.

“Kamu bisa lihat langsung.” Tian menunjukan bekas darah kering di lengan baju. Echa mendekat lebih dulu, ia melihatnya. Alvin sudah tahu, ia diam ditempatnya duduk.

“Satu hal lagi, aku tadinya nggak mau bilang ini sama kalian.” Tian terdiam.

“Apa?” Alvin lebih dulu menjawab, rasa penasaran membuat sifat santainya hilang.

“Aku nemu petunjuk. Entah, aku nggak tahu kemana petunjuk itu akan membawa aku. Awalnya aku akan pergi mencari tahu sendiri. Tapi kejadian tadi malam membuat aku nggak bisa lakuin itu. Bisa jadi sewaktu-waktu saat aku pergi, Si Kelam malah datang dan meneror kalian. Atau lebih buruk. Si Kelam udah terlanjur lihat wajah kalian.”

Alvin menghembuskan nafas berat, ia tahu Si Kelam mustahil dikalahan. Bahkan oleh linggis sekalipun. Belum lagi kekuatanya bukan lawan sebanding baginya.

“Kita harus pergi memastikan petunjuk itu. Siapa tahu, dalam perjalanan kita ada jawaban untuk mengalahkan Si Kelam.”

“Apapun itu, aku ikut.” Alvin mengajukan diri tanpa ragu. Sementara, Echa ragu, tapi Tian percaya ia akan ikut.

“Vin, aku harus ingetin kamu lagi. Aku nggak tahu kemana petunjuk itu akan membawa aku.”

“Masa bodoh, pokoknya aku harus ikut!” pendiriannya teguh.

Heuh, kepala batu.” Tian tersenyum. Kini giliran Echa. Tian dan Alvin menatapnya.

“Aku nggak yakin, sih. Tapi memang kamu yakin kalau itu harus dilakukan?” benar saja, echa ragu.

“Seperti yang aku bilang, aku nggak tahu kemana petunjuk itu akan membawa aku. Tapi yang pasti, diam di sini artinya bunuh diri, Cha. Aku udah 2 kali hampir jadi martabak telor spesial gara-gara Si Kelam itu.” Ucap Tian jujur. Sebenarnya baik Tian maupun echa, keduanya sama-sama dalam keraguan.

“Dan kalau aku nggak ada, bisa jadi Si Kelam malah berbalik buat mencelakakan kalian. Itu sebabnya aku ngajak kalian.”

“Siapa tahu, dengan kita pergi Si Kelam akan kehilangan jejak kita.” Tian menuntaskan rencana yang sebenarnya sudah ia canangkan dengan Alina. Tapi apa mau dikata, keselamatan mereka kini terancam juga.

Oh iya, Alina masih belum tahu tentang Si Kelam.

“Aku ngerti, Tian. Tapi kita nggak bisa selamanya lari, kan?” Echa mengomentari rencana yang Tian paparkan. Tian mengangguk setuju.

“Memang,” jawabnya, “Karena itu aku bilang ‘siapa tahu kita akan menemukan cara mengalahkan Si Kelam’. Kepergian kita hanya sementara, Cha.” Tian berusaha meyakinkan.

“Dan kalau ternyata setelah perjalanan panjang tapi nggak ada caranya?” Echa, biar bagaimana pun tetap pada keraguannya.

“Biar aku yang hadapi Si Kelam.” Kata Tian yakin.

“Kasih aku waktu buat nentuin.” Jawabnya ragu. Aku dan Alvin mengangguk setuju.

“Kasih tahu kita kalau kamu siap, Cha.” Kata Alvin.

“Iya.” Echa menjawab sekadarnya.

Keheningan panjang menyambut setelah jawaban Echa. Mereka tenggelam dalam lamunan masing-masing. Sinar mentari menerobos tirai abu-abu yang belum ia buka. Ppemuda itu beranjak berdiri hendak membuka tirai.

“Kalian mau mie instan?” kata Tian sambil berjalan menuju tirai.

“Ide yang bagus!” Alvin semangat menjawab lebih dulu. ia berjalan mendahului ke dapur, seolah rumahnya. “Stok mie instan kamu masih banyak, kan?” tanya Alvin santai seolah telah melupakan kejadian mendebarkan tadi malam.


Komentar