Bel
sekolah berdering nyaring sore itu, suatu
tanda yang ditunggu bahwa jam-jam pelajaran membosankan telah berakhir. Aku berjalan
menelusuri koridor bersama ratusan siswa-siswi bermuka lelah lainnya, warna
biru langit mendominasi seragam kami
dengan balok di pundak dan lambang vidya kelas
bermotif nomor romawi menyesuaikan dengan kelas kita duduk menempel
di lengan baju kanan dan lambang sekolah yang cukup populer di kota ini terjahit di
lengan kiri.
Sore itu
adalah sore musim kemarau pukul 3 yang menyenangkan. Bukan hanya karena bel pulang, tapi juga karena langit biru dan awan yang jarang kesukaanku. Angin berhembus pelan saat aku tiba di parkiran kendaraan, daun pepohonan cemara yang berbentuk jarum menguning berserakan memenuhi hamparan tempat parkir membuatnya terlihat seperti musim gugur di benua Eropa. Aku mengeluarkan motor matic
lawasku dan meluncur keluar dari gerbang.
Entah
dorongan dari mana, dalam
perjalanan pulang terbesit keingin mengunjungi perpustakaan
sekali lagi, sudah lama rasanya
dari kali terakhir aku mengunjunginya. Jika tidak salah ingat, saat itu adalah
saat-saat aku mengerjakan tugas laporan PKL yang memusingkan, terjebak dalam ruang
membaca yang luas nan dingin aku mengetik tanpa henti lembar demi lembar
laporan dengan deadline yang mengejar bak cheetah
memburu rusa yang malang.
Gedung perpustakaan kota sudah terlihat, bangunan itu lebih mirip rumah ukuran
menengah yang dimodifikasi sedemikian rupa jika dilihat dari kejauhan,
hanya plang nama perpustakaan dan mobil perpus keliling yang menyelamatkan
tampilannya. Aku memarkirkan
motorku dilahan parkir, dibawah pokok pohon palem botol dan masuk kedalamnya setelah
mengisi daftar pengunjung digital di aula pintu masuk. Udara
sejuk dari pendingin ruangan yang familiar menerpa
kulit kuning langsatku.
Didalamnya ternyata ramai pengunjung dari sekolah lain berlalu-lalang
diantara rak-rak buku yang menjulang tinggi, mereka sibuk memilih buku yang
akan mereka baca atau mencari buku untuk mengerjakan tugas mereka. Sebagian sedang duduk di meja baca, tenggelam
dalam bacaan mereka yang bermacam, sebagian lagi asik berbincang dengan temannya di gazebo yang terlihat dari dalam ruangan. Aku datang tanpa tujuan dan mungkin
satu-satunya anak SMK teknik yang sudi mampir ke perpustakaan daripada nongkrong tidak jelas.
“Semoga aku tidak dianggap alien” harapku, untungnya
mereka tidak mengidahkan kehadiranku. Karena yang aku tahu perpustakaan ini
terletak dekat dengan salah satu SMA musuh bebuyutan sekolahku, entah aku tidak
tahu bagaimana awal permusushan itu karena aku sendiripun tidak mau tahu. Aku berjalan
menelusuri rak deretan rak buku mulai
dari bagian fiksi remaja karena aku menyukai bacaan ini. Yap aku memang tidak
seharusnya masuk SMK.
Ribuan buku tertata rapi di depanku, disebelah rak
terdapat computer katalog untuk membantu mencari judul buku yang diinginkan. Aku
memilih secara acak buku-buku yang tertata, sampai mataku melihat sebuah buku bersampul putih
dengan huruf Hangeul tipe serif tercetak dipunggungnya. Aku menarik dan
memutarnya, sampulnya juga berwarna putih dengan sepasang karakter kartun mini khas
korea yang lucu dengan latar biru langit pucat dan awan putih dibelakang karakter, “Ceritanya tentang kisah masa sekolah” gumamku membaca sinopsis dibelakang sampulnya.
“kayaknya menarik” kataku, Aku membawanya lalu berjalan menuju meja baca sambil tetap membaca synopsisnya.
Ada yang menarik
saat aku menurunkan buku itu dari pandangan, tepat di ujung deret rak fiksi seorang
perempuan sedang berdiri tertegun memperhatikan buku-buku didepannya. Ia memakai
rok biru kotak-kotak khas salah satu sekolah menengah akhir negeri dekat
perpustakaan dan baju seragam yang ia masukkan kedalam roknya, rambutnya cokelat
pendek sebahu dengan poni lucu didahinya.
Hening kala itu, aku terpaku menatapnya dan tanpa
kusadari langkah kakiku terhenti hampir didekatnya, ia tidak menyadari
kehadiranku dan kurasa akan aneh jika ia sadar. Bayangkan saja kamu sedang
memilah buku dan didekatmu ada orang asing diam mematung memperhatikan tanpa
berkedip. Aku kembali menguasi diriku
lalu dengan cepat berputar mengalihkan pandangan ke hadapan buku-buku seperti yang
perempuan itu lakukan, namun jarak kita ternyata semakin mendekat karena
perempuan itu ternyata bergeser seperti kepiting sedikit demi sedikit tanpa
memperhatikan jalan.
Rasa gugup luar bisa menguasaiku saat itu, entah
mengapa rasanya aneh sekali padahal aku tidak mengenal perempuan itu, pun ini
kali pertamaku melihatnya. Dengan tubuh yang gemeter tanpa ku sadari, Aku menoleh kepada perempuan itu untuk
menyapanya, namun apa daya lidahku seketika kelu. Aku tidak tahu harus berkata
apa, setidaknya perkataan awal yang tidak mengejutkan atau aneh tidak terucap
dari mulutku ku harap.
Aku membuang pandangan dan saat mataku melihat novel
yang kubawa naluri berkenalan muncul kembali, kini aku mendapat susunan kata
yang tepat untuk diucapkan!
“Suka baca novel juga?” sapaku dengan nada sedikit gemetar yang dipaksakan agar terdengar gentle, kemudian menoleh kearahnya lalu tersenyum simpul, ia terkejut dengan sapaan dan kehadiranku yang tiba-tiba. Aku dapat melihatnya dari raut wajahnya yang berubah.
“Eh, nggak kok. Kebetulan lagi cari bacaan aja, hehe” iapun tak kalah gugup
sepertiku. Ia membalas senyumanku namun dengan cara yang aneh, mungkin karena
bertemu dengan orang asing, senyumanya tampak mencurigakan namun tanpa menghilangkan
garis wajahnya yang ayu itu.

Komentar
Posting Komentar