Memorabillia di Perpustakaan (Bagian II)





Bel sekolah berdering nyaring sore itu, suatu tanda yang ditunggu bahwa jam-jam pelajaran membosankan telah berakhir. Aku berjalan menelusuri koridor bersama ratusan siswa-siswi bermuka lelah lainnya, warna biru langit mendominasi seragam kami dengan balok di pundak dan lambang vidya kelas bermotif nomor romawi menyesuaikan dengan kelas kita duduk menempel di lengan baju kanan dan lambang sekolah yang cukup populer di kota ini terjahit di lengan kiri.

 

Sore itu adalah sore musim kemarau pukul 3 yang menyenangkan. Bukan hanya karena bel pulang, tapi juga karena langit biru dan awan yang jarang kesukaanku. Angin berhembus pelan saat aku tiba di parkiran kendaraan, daun pepohonan cemara yang berbentuk jarum menguning berserakan memenuhi hamparan tempat parkir membuatnya terlihat seperti musim gugur di benua Eropa. Aku mengeluarkan motor matic lawasku dan meluncur keluar dari gerbang.

 

Entah dorongan dari mana, dalam perjalanan pulang terbesit keingin mengunjungi perpustakaan sekali lagi, sudah lama rasanya dari kali terakhir aku mengunjunginya. Jika tidak salah ingat, saat itu adalah saat-saat aku mengerjakan tugas laporan PKL yang memusingkan, terjebak dalam ruang membaca yang luas nan dingin aku mengetik tanpa henti lembar demi lembar laporan dengan deadline yang mengejar bak cheetah memburu rusa yang malang.

Gedung perpustakaan kota sudah terlihat, bangunan itu lebih mirip rumah ukuran menengah yang dimodifikasi sedemikian rupa jika dilihat dari kejauhan, hanya plang nama perpustakaan dan mobil perpus keliling yang menyelamatkan tampilannya. Aku memarkirkan motorku dilahan parkir, dibawah pokok pohon palem botol dan masuk kedalamnya setelah mengisi daftar pengunjung digital di aula pintu masuk. Udara sejuk dari pendingin ruangan yang familiar menerpa kulit kuning langsatku.

Didalamnya ternyata ramai pengunjung dari sekolah lain berlalu-lalang diantara rak-rak buku yang menjulang tinggi, mereka sibuk memilih buku yang akan mereka baca atau mencari buku untuk mengerjakan tugas mereka.  Sebagian sedang duduk di meja baca, tenggelam dalam bacaan mereka yang bermacam, sebagian lagi asik berbincang dengan temannya di gazebo yang terlihat dari dalam ruangan. Aku datang tanpa tujuan dan mungkin satu-satunya anak SMK teknik yang sudi mampir ke perpustakaan daripada nongkrong tidak jelas.

“Semoga aku tidak dianggap alien” harapku, untungnya mereka tidak mengidahkan kehadiranku. Karena yang aku tahu perpustakaan ini terletak dekat dengan salah satu SMA musuh bebuyutan sekolahku, entah aku tidak tahu bagaimana awal permusushan itu karena aku sendiripun tidak mau tahu. Aku berjalan menelusuri rak deretan rak  buku mulai dari bagian fiksi remaja karena aku menyukai bacaan ini. Yap aku memang tidak seharusnya masuk SMK.

Ribuan buku tertata rapi di depanku, disebelah rak terdapat computer katalog untuk membantu mencari judul buku yang diinginkan. Aku memilih secara acak buku-buku yang tertata, sampai mataku melihat sebuah buku bersampul putih dengan huruf Hangeul tipe serif tercetak dipunggungnya. Aku menarik dan memutarnya, sampulnya juga berwarna putih dengan sepasang karakter kartun mini khas korea yang lucu dengan latar biru langit pucat dan awan putih dibelakang karakter, “Ceritanya tentang kisah masa sekolah” gumamku membaca sinopsis dibelakang sampulnya.

“kayaknya menarik” kataku, Aku membawanya lalu berjalan menuju meja baca sambil tetap membaca synopsisnya.

 Ada yang menarik saat aku menurunkan buku itu dari pandangan, tepat di ujung deret rak fiksi seorang perempuan sedang berdiri tertegun memperhatikan buku-buku didepannya. Ia memakai rok biru kotak-kotak khas salah satu sekolah menengah akhir negeri dekat perpustakaan dan baju seragam yang ia masukkan kedalam roknya, rambutnya cokelat pendek sebahu dengan poni lucu didahinya.

Hening kala itu, aku terpaku menatapnya dan tanpa kusadari langkah kakiku terhenti hampir didekatnya, ia tidak menyadari kehadiranku dan kurasa akan aneh jika ia sadar. Bayangkan saja kamu sedang memilah buku dan didekatmu ada orang asing diam mematung memperhatikan tanpa berkedip.  Aku kembali menguasi diriku lalu dengan cepat berputar mengalihkan pandangan ke hadapan buku-buku seperti yang perempuan itu lakukan, namun jarak kita ternyata semakin mendekat karena perempuan itu ternyata bergeser seperti kepiting sedikit demi sedikit tanpa memperhatikan jalan.

Rasa gugup luar bisa menguasaiku saat itu, entah mengapa rasanya aneh sekali padahal aku tidak mengenal perempuan itu, pun ini kali pertamaku melihatnya. Dengan tubuh yang gemeter tanpa ku sadari,  Aku menoleh kepada perempuan itu untuk menyapanya, namun apa daya lidahku seketika kelu. Aku tidak tahu harus berkata apa, setidaknya perkataan awal yang tidak mengejutkan atau aneh tidak terucap dari mulutku ku harap.

Aku membuang pandangan dan saat mataku melihat novel yang kubawa naluri berkenalan muncul kembali, kini aku mendapat susunan kata yang tepat untuk diucapkan!

“Suka baca novel juga?” sapaku dengan nada sedikit gemetar yang dipaksakan agar terdengar gentle, kemudian menoleh kearahnya lalu tersenyum simpul, ia terkejut dengan sapaan dan kehadiranku yang tiba-tiba. Aku dapat melihatnya dari raut wajahnya yang berubah. 

“Eh, nggak kok. Kebetulan lagi cari bacaan aja, hehe” iapun tak kalah gugup sepertiku. Ia membalas senyumanku namun dengan cara yang aneh, mungkin karena bertemu dengan orang asing, senyumanya tampak mencurigakan namun tanpa menghilangkan garis  wajahnya yang  ayu itu.

 "Aku nemu buku ini" kataku lalu mengangkat buku ditangan kananku "Kayanya sih menarik, barangkali kamu suka novel korea?" kemudian menyodorkan buku itu kepadanya. ia memeprhatikan sejenak kemudian menerimanya "Terimakasih" katanya lalu membalikan sampul agar dapat membaca sinopsis.

"Ehh, aku lagi cari buku iniiii!" Senyumamnya merekah sambil berseru antusias. "Eh, masa sih?" Aku menyela namun tak dihiraukan, ia malah asyik membuka halaman bab pertama buku itu. "Ahh, bener novel iniii!" katanya lagi dengan ekspresi yang masih sama, Aku yang keheranan hanya bisa tersenyum melihatnya.

"Kamu tau gak sih aku nyari novel ini udah lama bangett" ucapnya tanpa menoleh sedikitpun dari bacaanya, "Hehe, Aku gak tahu" Aku cengigisan sampai akhirnya ia sadar "Eh maaf, kita baru ketemu" kali ini ia menoleh namun dengan cepat kembali ke bacaanya. 

"Gapapa kok, bawa aja kalo kamu suka" kataku,  ia tersenyum dan mengalihkan pandangannya kepadaku, matanya berbinar "Beneran??"

 "Ia beneran, ambil aja" 

 "Makasihh  yaa" katanya lagi lalu berjalan meninggalkanku menuju meja namun pandangannya tetap kepada bacaan novel itu. "Eh kok ditinggal gini aja" gumamku sambil menatap punggungnya menjauhi, "Yaudah deh, kayanya dia suka banget novel itu" Aku tersenyum lalu berjalan keluar tanpa ada niatan mendekatinya meskipun aku sungguh penasaran dengan namannya.

"Namanya siapa ya, gak etis banget kalo aku liat papan namanya. Yang ada bakal dikira mesum"

"semoga ketemu lagi lain kali, perempuan tanpa nama!" Gumamku melihatnya tengah duduk membelakangi sambil khusyuk membaca, aku berjalan keluar dari perpustakaan dan melaju lagi, kali ini menuju gerai seafood, perutku sudah keroncongan sedari tadi.

Komentar