Aku duduk bersedekap, menunduk memperhatikan garis kuning peron stasiun kereta tempatku dulu biasa menunggumu.
Duduk sendirian sepanjang sore, memperhatikan orang-orang berlalu-lalang dari satu gerbong kereta ke gerbong lain. Aroma roti kesukaanmu merebak memenuhi ruang tunggu, khas paduan kopi dan lembutnya mentega bercampur di dalamnya. Tidak jauh dari tempatku duduk, gerai roti itu berdiri sibuk melayani pelanggan.
Jam di lenganku menunjukkan pukul 5 sore, waktu yang ramai dikunjungi oleh para pekerja yang akan pulang, namun kereta tumpanganmu belum juga terlihat menepi. Aku menaikkan resleting jaket hitamku, bukan karena dingin, namun untuk menutupi kaos lusuh kesukaanku. Takut-takut jika kamu memergokinya. Kamu selalu mengomentari kaos itu dan mengatakan bahwa kaos itu seharusnya dipakai saja untuk tidur. Haha, lucu memang jika mengingat ekspresi itu.
Dari jauh, sepasang besi rel disinari cahaya kuning halogen yang berasal dari kepala ular besi, feeling mengatakan kamu ada di dalamnya. Kereta putih kelas ekonomi menepi lalu pintu otomatisnya terbuka, dan benar saja. Gerombolan manusia keluar dari setiap pintu dan di antara banyaknya manusia itu, sosokmu muncul melambaikan tangan kemudian menurunkan masker, memperlihatkan senyum paling manis di seluruh semesta alam dan mayapada nan fana ini.
Rambut pendek hitam sebahumu tergerai mengikuti alunan langkah kakimu yang menuntunmu ke tempatku duduk di pinggir peron. Kaos merah jambumu menambah kesan manis dirimu. Aku membalas lambaian dan senyumanmu.
Aku berdiri menyambut kedatanganmu. Tidak, tidak ada pelukan, aku sungguh malu jika harus melakukannya. Belum saatnya. Tanganku menyambut tanganmu, berpegang setelah lama tidak bersua dipisahkan pandemi yang melanda negeri. Benar, kita pun terkena imbasnya.
Aroma roti semakin merebak, kembali feeling-ku mengatakan bahwa kamu akan segera menarikku ke gerai itu. Tidak butuh waktu lama, hal itu terjadi. Tanpa kusadari, tarikan tanganmu menuntut kita mengantre di belakang orang-orang yang lebih dulu mengantre di sana. Jika ada lambang dalam setiap hubungan insan manusia, maka roti ini adalah lambang hubungan kita.
Kamu banyak bicara seperti biasa, menurunkan bosan menunggu. Cerita kali ini temanya adalah keseharianmu selama pandemi, mulai dari pertemuan terakhir kita saat SBM sampai saat awal mula pandemi menyebar. Kau bercerita betapa menyeramkannya saat itu, saat di mana kamu terkena flu biasa membuatmu ketakutan setengah mati. Aku hanya tertawa mendengarnya dan kamu cemberut karenanya.
Kita berjalan keluar dari stasiun, kamu menjinjing kantong kertas cokelat berisi roti spesial itu, menjaganya seolah harta karun. Lembayung senja menyambut kita saat menginjakkan kaki di pelataran. Suara kresekan dari kantong terdengar, aku menoleh saat kamu sedang mengambil roti bulat itu. "Gak malu kan kalau aku makan sambil jalan?" katamu cengingisan. Aku hanya tertawa dan meminta roti itu. "Gak papa, ambilin punya aku juga biar kita malu bareng," jawabku, dan kamu tertawa.
Roti sudah terlahap habis saat kita sampai di parkiran. Aku mengeluarkan motorku dan kamu naik di belakangku. Sore itu jalan agak ramai, tujuan kita adalah makan di salah satu tempat favorit kita, tempatnya cukup jauh dari stasiun.
"Aku yang biasa aja deh," kataku setibanya di tempat itu, ramai seperti biasa dan kita memilih duduk di dekat jendela menghadap keluar.
"Kamu tahu gak dulu sebelum kenal kamu, aku ngira kamu orang yang punya rencana jahat tau," katanya disambut tawa khasnya. Ia duduk di depanku. "Hah, kok?" Aku heran mendengarkan.
"Iya, bukan cuma aku yang mikir gitu, loh. Orang-orang lain di sekolah juga," aku memperhatikannya, nadanya kini serius. "Emang aku dulu gimana?" tanyaku. "Ih, sampe sekarang juga masih sama aja tau, haha," ia kembali tertawa.
"Hah?"
"Kamu itu selalu diam, tanpa ekspresi kalo lagi di kelas, jarang bersosialisasi gitu deh, makanya kaya lagi ngerencanain apa gitu," pungkasnya. Aku tertawa mendengarnya. "Dan kalian percaya aku punya niat jahat," kataku. "Tadinya, aku aja awalnya takut deket-deket," jawab gadis itu hanya menambah tawaku. "Iihh, berisik," ia mengeluh. "Lagian kamu cerita aneh-aneh," kataku. "Sekarang menurut kamu, aku gimana?" Kutanya.
"Berisik, urakan, gak bisa diem, nyebelin tau. Kalo bukan manusia udah aku cekek," katanya gemas. Tawaku kembali pecah. "Kok bisa ya aku suka sama kamu," katanya lagi dengan nada yang sama. "Kamu pelet aku ya? Ngaku kamu," katanya lagi. Ah, indah sekali sore itu.
"Hih, fitnah," kataku. "Ayo ngakuu kamu," katanya lagi. "Yah ketauan deh," kataku. "Eh," ia tersentak kaget. "Kamu melet aku?" katanya lagi dengan ekspresi kaget tidak percaya. "Iya," kataku. "Gak percaya?" Ia menggelengkan kepalanya. "Nih aku buktiin," ia memperhatikan, lalu kubuka masker hitam yang menutupi kemudian menjulurkan lidahku dan melet-melet ke arahnya seperti seekor anjing. "Nih aku lagi melet kamu," kataku kemudian tertawa. Ekspresinya berubah dari kaget menjadi kesal. "Ih dasar!" katamu sambil melemparkan secarik tisu. Kemudian pesanan kita datang menghentikan adegan absurd itu.
"Allahuma," kataku. "Diem, bawelll," ia menjawab cepat. "Pesawat mau mendarat," kataku sambil menerbangkan sendok berisi makanan ke arahnya. "Diem dehh, ngeselin," katanya. "Aaa, gadis manis," kataku. Ia menyerah dan membuka mulutnya kemudian aku menyuapkannya. "Nah ini baru anak papa," kataku. Ia tersedak karena tertawa.
Makanan sudah habis, adzan maghrib berkumandang saat ia sedang menenggak air mineral dari gelasnya. "Haus, bund," kataku. "Banget, aku abis disuapin papi tadi," katanya lagi dan kini aku yang tertawa mendengarnya.
"Mau langsung pulang? Atau kemana dulu?" Kutanya. "Sholat aja dulu yuk, abis itu kita ke coffee shop depan stasiun tadi." Aku mengerenyitkan dahi, dan sadar. "Kenapa tadi ga sekalian makan di situ aja heii," kataku, dan ia tertawa. "Kamu bawa mukena?" Tanyaku. Ia mengangkat tas selempang cokelatnya. "Menurut kamu ini isinya bom nuklir kaya isi tas kamu itu, huh." Ia menyunggingkan bibir ke arah tas selempang hitamku. Kita berjalan menuju masjid besar yang tidak jauh dari kedai makanan itu.
Cat coffee shop itu hitam, dari luar kursi-kursi berjajar rapi dengan payung hitam yang menaungi tiap empat kursi dan satu meja. Dari luar coffee shop itu terlihat dibangun dari kaca, dan malam itu selepas isya kita duduk di luar coffee shop, di salah satu meja yang semakin malam semakin banyak orang datang.
"Kamu aja yang mesen," kataku. "Masih trauma?" Katanya dengan senyuman mengejek. "Hehe, aku cappuccino," kataku mengelak. Aku tidak mau memesan kopi sendiri karena pernah suatu peristiwa. Ia beranjak dari kursinya dan berjalan masuk, tidak lama ia kembali. "Udahh, padahal gampang banget astaga, haha," ia tertawa. Aku hanya cemberut mendengarkan. "Iye iye."
Alunan lagu melankolis sayup-sayup terdengar dari pengeras suara di pojok dekat pintu masuk, kamu sedang menguap ketika itu. "Capek banget ya hari ini," kataku saat ia mengatupkan mulutnya. "Hari yang panjang, kamu juga, kan?" Ia mengedipkan matanya, air mata sedikit membasahi garis kelopaknya. "Aku berangkat dari rumah jam 9, sampai jam 2 siang. Tau gak kenapa lama banget?" Ia terlihat berpikir. "Mogok?" Tebaknya.
"Disasarin google maps!" Kataku. "Haha, nyasar mulu," ia tertawa. "Gak tahu deh, google suka banget nyasarin," keluhku. Mengeluh kepadanya adalah salah satu self-healing terampuh, menyenangkan bisa berbagi cerita dengannya.
"Nyasar kemana lagi sekarang?" Ia masih cekikikan.
"Hutan kabupaten, tahu," kataku lagi, dan kini tawanya benar-benar lepas.
Ia menyesap kopi latte pesanannya, aku tersenyum memperhatikannya dari seberang meja. Sesekali matanya melirik ke arahku kemudian membuang pandangan ke tempat lain seakan gugup.
"Apa sih lihat-lihat, malu tahu!" Ia protes.
"Aku bosan lihat kamu dari layar terus, sekarang mumpung ada di depan mata jadi manfaatkan sebaik mungkin," kataku.
"Alasan aja, huh," jawabnya.
Malam semakin pekat, jam tangan digitalku menunjukkan pukul 10:35. Ada perasaan tidak ingin mengakhiri pertemuan ini, namun dari wajah ayumu tercetak jelas bahwa kamu sudah mengantuk karena lelah seharian, dan aku pun harus pulang karena jarak.
"Kita pulang, yuk," kataku. Dia mengiyakan kemudian beranjak berdiri.
"Kamu langsung pulang? Udah malam tahu?" Di atas motor ia bertanya, nada bicaranya menyiratkan kekhawatiran. Memang jarak dari kotaku ke kotanya sejauh 160 km, jarak yang sangat jauh.
"Iya, kayaknya. Aku nggak tahu mau nginep di mana, masjid nampung kali ya?" Tanyaku.
"Nginep di rumah aja, ya. Nanti aku bilang ke Mama," nada bicaranya masih sama.
"Aku nggak enak sama Mama, masa anak perempuannya bawa laki-laki ke rumah, tengah malam lagi. Kan nggak etis," kataku. Aku memang memanggil ibunya dengan panggilan Mama, seperti yang ia lakukan ke ibuku.
"Aku pulang aja, nggak apa-apa..." belum usai ucapanku, ia menutup mulutku dari belakang.
"Diem, aku lagi nelpon Mama!" katanya. Memang benar dari belakang terdengar ia sedang berbicara, namun suara angin dan deru kendaraan lain serta sumbatan helm membuat suaranya tidak jelas. Tidak lama ia menutup ponselnya.
"Kata Mama jangan pulang, nginep aja di rumah. Ada kamar kosong di lantai dua," katanya sambil memasukkan ponsel ke dalam tas kecilnya, menatap spion di mana aku memperhatikannya berbicara.
"Aku pulang aja ya, nggak apa-apa kok," kataku sedikit memaksa. Namun ia melotot.
"Yaudah sana pulang, tapi aku ikut," ia mengancam.
"Nggak bisa, udah malem, takut ada apa-apa di jalan," jawabku. Namun seharusnya kata itu tidak aku ucapkan.
"Nah itu tahu, kenapa maksa pulang, hah? Kalo ada apa-apa gimana?" Nadanya meninggi. Aku hanya menggerutu, menyesal mengatakan itu.
"Kan kalo berdua, kalo sendiri nggak apa-apa, hehe," aku cengengesan.
"Aku males debat," katanya singkat dengan nada ketus. Aku tahu artinya ia sedang serius. Aku menyerah.
"Yaudah deh, kita beli apa buat Mama?" tanyaku.
"Kayaknya nggak usah deh, lagian nggak lama juga Mama tidur," jawabnya. Aku mengangguk.
Laju motor membelah jalan raya yang membentang panjang seperti tak berujung. Malam itu udara dingin menyelimuti kota, kaos yang kamu kenakan tidak dapat menahan dingin, dan tanpa terasa tangannya sudah melingkar di pinggangku, kepalanya bersandar di bahuku.
Setelah beberapa kilometer, motor ku belokkan ke dalam kompleks perumahan. Tidak jauh dari gapura pagar hitam rumahmu terlihat. Aku berhenti tepat di depannya dan kamu tengah terlelap dalam tidurmu.
Di kursi teras rumah, ayahmu tengah duduk menunggu kedatangan kita. Ia segera membuka pagar dan menghampiriku. Aku menyambut dengan mencium tangan kanannya.
"Lagi tidur ya?" Ayahmu tersenyum melihatmu tertidur pulas di belakang, dengan tangan masih memelukku.
Ayahmu masuk ke dalam rumah. Tidak lama kemudian Mama muncul dari balik pintu saat kita memasuki pagar. Mama memakai daster dan jilbab biru lebarnya saat itu. Ia turun menyambut kedatangan kita sama seperti yang dilakukan ayah sebelumnya lalu ia membangunkanmu.
"Pules banget," kata Mama lembut. Kamu refleks bangun dari tidurmu.
"Eh, Mama," katamu sambil melepas pelukan dan kemudian turun dari motor. Mama menengok ke arahku.
"Masuk, Nak. Ibu udah siapin tempat buat kamu istirahat di atas," katanya lembut, selembut suara ibuku di rumah.
"Saya pulang aja ya, Bu," kataku. Seketika itu juga kamu melotot, haha lucu sekali melihat orang ngantuk melotot.
"Heh!" Katamu menyentak. "Jam berapa ini!" nadanya marah.
"Jam sebelas lewat satu menit lima puluh detik," kataku bercanda.
"Gak lucu, udah diem!"
"Yamaap," kataku.
"Maklumin ya, Nak. Dia memang gitu kalau khawatir," Mama tertawa melihatmu marah. Kamu harus tahu bahwa ada dua kondisi terlucu untuk melihatmu selain saat tertawa, yaitu saat marah seperti sekarang dan saat ketiduran di video call.
"Ayo masuk, Nak," Mama mempersilakan kita masuk. Kamu masuk lebih dulu dan aku menyusul kemudian. Aku duduk di sofa ruang tamumu yang luas. Di atas meja, secangkir teh hangat mengepulkan asap tersaji.
"Diminum, Nak, pasti dingin di jalan," aku mengangguk.
Mama duduk di sofa seberang meja. Ia bertanya apa saja yang kita lalui hari ini dan aku menceritakan semuanya. Tidak lama kemudian kamu keluar dari kamarmu memakai baju tidur biru bermotif garis-garis putih kesukaanmu lalu duduk di sebelah Mama, ikut nimbrung bercerita membuat suasana semakin menyenangkan. Ayahmu tidak ikut bergabung karena sudah tidur lebih dulu.
Keluarga yang menyenangkan, kataku dalam hati, berharap suatu hari nanti benar-benar menjadi bagian di dalamnya. Setelah puas mendengar cerita hari kita, Mama mengajakku naik ke lantai dua. Aku menyusul di belakang dan kamu mengikuti.
"Maaf ya, agak berantakan," kata Mama.
"Gak apa-apa kok, Bu. Terimakasih banget malah padahal saya bisa pulang saja," kataku melobi agar bisa pulang. Namun kamu yang berdiri di samping Mama kembali melotot.
"Tadinya sih, Bu. Tapi barusan saya dipelototi lagi," kataku.
"Lagian aneh-aneh aja, jam segini maksain pulang!" katamu kesal. Mama hanya tertawa melihat anak gadis berusia akhir sembilan belas tahun memarahiku, lalu mempersilakan aku beristirahat dan kemudian turun lagi ke bawah.
"Sayang banget kita gak bisa lagi tiap hari ketemu, ya," kataku.
"Iya, gak kayak dulu," katamu.
"Ini kamar gak ada setannya kan?" Tanyaku mengalihkan pembicaraan agar tidak melankolis. Kamu terkejut.
"Gak ada lah, aneh," lalu tertawa.
"Aku tinggal, ya," katamu lalu melambaikan tangan.
"Iya, makasih buat hari ini," kataku.
"Makasih juga," kamu mengalihkan tubuhmu ke arah tangga. Di ujung, kamu berbalik melambaikan tangan.
"Bye, night," aku membalas.
"Bye, sweet dreams," dengan jariku yang ku bentuk simbol love. Kamu tertawa lalu menghilang turun.
"Makasih udah mencintaiku," kataku dalam hati.
***
Adzan subuh berkumandang membangunkanku dari tidur lelap tanpa mimpi. Aku duduk di sisi ranjang mengumpulkan kesadaran sebelum akhirnya membuka pintu dan turun untuk berwudhu. Tepat sebelum menuruni anak tangga, di ujung anak tangga bawah kamu berdiri dengan wajah menatap ke atas.
"Eh udah bangun," katamu.
"Pasti ngiranya aku tidur kayak mayat," jawabku kemudian disusul dengan mulut menguap.
"Haha iya, soalnya tiap pagi on-nya jam 6 terus," aku menutup mulutku kemudian menuruni anak tangga.
"Biar nggak diganggu," kataku.
"Ih dasar," katamu. "Mau ikut Papa subuhan di masjid nggak? Papa belum berangkat," katanya lagi.
"Boleh," lalu kamu menunjukkan jalan ke kamar mandi rumahmu yang tepatnya dekat dapur, tidak jauh dari anak tangga terakhir.
Matahari terbit dari sela-sela rumah warga. Kamu dan ibu tengah membuat sarapan di dapur. Aku duduk di ruang tengah sendirian karena ayahmu tengah menyiram tanaman di luar rumah dengan baju dinas cokelat khasnya. Ayahmu adalah seorang karyawan senior di salah satu instansi pemerintah kota.
Kamu keluar dari pintu dapur lalu memanggilku untuk bergabung ke ruang makan, lalu berjalan keluar untuk memanggil ayahmu. Tidak lama kemudian kita berempat telah berkumpul di ruang makan dengan nasi goreng tersaji.
Kamu tahu, aku sangat gugup saat itu, namun kamu santai saja menghabiskan sarapanmu sementara aku mati-matian menjaga image supaya tidak terlihat urakan.
Sarapan bersama usai, aku membantumu merapikan meja makan meskipun ibumu melarangku. Aku membantumu mencuci piring di dapur sementara itu ayahmu berpamitan berangkat kerja.
"Kamu gak mandi dulu?" katamu di sela-sela mencuci piring. Aku menggelengkan kepala.
"Nggak deh, mau langsung pulang aja," kataku.
"Ih, jorok!" katamu sedikit berteriak.
"Haha, udah kamu aja yang mandi, nanti aku tunggu, takut kamu terlambat juga."
"Alesan aja, kelas aku juga mulai jam 10," katamu.
"Haha males ah, dingin di jalan," kataku lagi.
"IH, JOROK!" kini ia teriak.
Pagi itu diakhiri dengan mencium tangan ibumu, berpamitan pulang ke rumah sekaligus mengantarmu lagi ke stasiun untuk berangkat ke kampusmu. Salah satu kampus swasta yang jauh di provinsi lain.
Di jalan, kamu banyak bicara seperti biasa dan aku mendengarkan seperti biasa, membicarakan rencana pertemuan kita nanti. Aku bersyukur kamu memahami keadaanku untuk tidak sering bertemu bukan karena tidak ingin. Ah, kamu lebih tahu, terima kasih.
Jalan aspal nan panjang ini terasa singkat saat bersamamu. Tidak terasa laju motor telah sampai di tujuan. Kamu turun dengan tatapan murung seolah enggan berpisah, pun demikian denganku. Dengan berat hati, kamu melambaikan tangan, mengucapkan terima kasih lalu berdiri menatapku beranjak pulang.
Maret, 2021

Komentar
Posting Komentar