Memorabillia di Perpustakaan (Bagian I)



 "Wajahmu sekaku kanebo kering!" Umpatnya. 

Pada sebuah pertemuan akhir yang masih ku ingat dengan seksama. Di suatu shelter sore itu. Gerimis turun dengan syahdunya menyambutmu turun dari moda transportasi umum. Aku berjanji menjemputmu sehari sebelumnya, dan kamu datang tepat waktu. 

Ketika hujan turun dengan derasnya. 

Bagaimana kabarmu?
Masihkah suka membaca buku di pojokan perpustakaan kota setiap sore sepulang sekolah?

 
Oh, iya bagaimana dengan studimu?
Berhasil masuk fakultas yang kamu ingin?

Hei aku sampai tidak sadar, sudah lama sekali kita tidak berkirim pesan lagi. Bertahun telah berlalu jika aku tidak salah ingat. Sampai-sampai aku hampir lupa dengan parasmu yang ayu itu. 

Kesibukan sungguh membuat kita nyaris melupakan satu sama lain. 

Mengingat pertemuan terakhir kita, ketika umpatanmu masih sama saja seperti dulu. Menertawai wajahku yang pelit senyum.

Waktu itu kamu bergegas menarik tanganku untuk segera menghindari tetesan air langit yang turun. Padahal, aku menyarankan agar menikmati saja tetesan air itu supaya sedikit luluh rasa canggung yang datang menginvasi. 

Namun, kamu malah mempercepat langkah seperti kesetanan, dan tujuan pertama kita tidak lain adalah perpustakaan kota. Tempat sakral yang dahulu mempertemukan kita di suatu sore yang sama, bertahun sudah berlalu namun tempat itu masih sama. Ruang baca yang nyaman, ditambah hadirnya dirimu membuat ruang itu seperti sekeping nirwana yang tercecer dari langit.

Aku masih ingat bagaimana dahulu kita bertemu. 

Hari itu seperti sore biasa. Cerah, dan sejuk. Aku menelusuri rak demi rak buku-buku tebal yang terpajang rapi. Sampai langkah kakiku tidak sengaja membawaku kepadamu, seorang perempuan di lorong rak buku yang kala itu menggunakan seragam dengan rok kotak-kotak biru khas salah satu sekolah akhir yang populer di kota ini. Kamu tengah sibuk mencari buku yang entah apa yang kamu mau. Instingku mengatakan bahwa kamu membutuhkan bantuan. Aku menghampiri tanpa dapat ku kendalikan, "Lagi cari novel?" tanyaku, kamu menoleh kaget. Ah lucu sekali ekspresimu itu. 

"Eh, iya" jawabmu tanpa berusaha menutupi kekagetanmu. 

Ah aku tidak ingin membahas itu.

Namun kali ini rasanya berbeda, ada rasa aneh yang membayangi pertemuan kita kali ini. Awalnya kamu tersenyum memulai obrolan dengan studimu yang gagal setahun dan terpaksa gap year untuk mematangkan ilmu demi kampus dan jurusan impian. Bukan main memang, masuk kedokteran memang sulit!

Senyuman itu perlahan menghilang, digantikan dengan mata berbinar dan tanpa dikomandoi setitik air menetes dari matamu yang jeli itu, lalu kamu menunduk sambil sesenggukan.

"Hei, ada apa?" 

Hening dan sesenggukan yang menjawab tanyaku, kamu masih menunduk, beberapa pengunjung melihat kita dengan tatapan curiga, aku semakin panik.

"Jika kamu mengira aku menangis karena gagal masuk PTN, kamu salah" ia menyeka air matanya dan berusaha tegar kembali.

Aku tertegun dengan jawabannya, lantas apa?

Ia menyeka air matanya. Namun, tak ia temui tisu atau apapun untuk menyekanya. Perlahan ku buka Hoodie merah maroon yang tengah ku kenakan dan memberikannya kepadanya.

 "Nih, pake aja sampe kering" Aku mencoba menghibur. 

"Awas aja kalo sampe dipake nyeka ingus!" Kataku lagi dengan nada bergurau

"Kamu sama sekali gak berubah" Ia tersenyum, sedikit tertawa sambil menyeka air matanya. Namun, kali ini dengan raut wajah yang sama sekali baru, tertawa dibalik kesedihan yang kurasa sudah menahun ia tahan. Bendungan air mata itu sudah tidak dapat menahan, lagi dan luruh sudah ketegaran yang ia pertahankan.

"Mendingan?" Tanyaku, ia mengangguk pelan. 

"Keluarin aja semuanya, gapapa kok kita dilihatin banyak orang." Kataku lagi.

Ia kembali menunduk dan menangis, Aku mengulurkan tangan kananku mengelus pundaknya. mencoba menyalurkan ketenangan sebisaku, "Keluarin aja semuanya, biar lega"

Ruang baca yang lega itu terasa menyempit, dan waktu seolah melambat, orang yang tengah khusyuk membaca satu persatu menoleh ke ujung meja panjang tempat kita duduk berhadapan. Mereka entah heran atau terganggu dengan isak tangis. Aku menolehkan wajahku kepada mereka dan menempelkan jari telunjukku ke bibirku, sebuah isyarat agar mereka menghiraukan kita.

"Sebenernya..." Ia bicara perlahan dibalik tundukan kepalanya, "Ada satu hal yang harus kamu tahu." Katanya. Aku kembali tertegun, menyimak dengan seksama kata-kata yang akan keluar berikutnya. Entahlah perasaanku mendadak tidak enak.

"Kamu tahu alasan kenapa kita nggak chatan lagi seperti dulu?" Ia bertanya, "Yang aku tau, kamu pengen belajar tanpa diganggu dan aku ngerti" Ku jawab perlahan sambil mengingat untaian kalimat yang kugunakan dulu saat ia meminta untuk tidak menghubunginya lagi.

"Masuk kedokteran kan susah, jadi aku rasa kamu mau ketenangan belajar tanpa aku ganggu." Tambahku, ia mengangkat wajahnya, seraut wajah muram tercetak jelas diwajahnya.

"Sebenernya bukan itu alasannya." wajah muramnya masih menyertai. 

"Aku gak pernah ngerasa terganggu sama chat-chat kamu, aku senang ada kamu." Katanya, aku tersenyum membayangkan tiap chat aneh bin out of topic yang sering ku layangkan kepadanya seriap hari dulu. 

"Lantas?" tanyaku

"Aku gak pernah berusaha jujur sejak pertama kita ketemu, kamu gak heran kenapa aku selalu disini setiap sore?" Belum selesai kebingungan pertama, kini ia menambahkan kebingungan lain, aku sangat ingin memintanya langsung ke intinya agar tidak berbelit, namun demi melihat wajah muram dengan mata sembabnya aku urungkan niat itu. 

"Alasan aku kesini adalah buat menghindari pacar aku, supaya dia ngira kalo aku udah pulang duluan, kamu pasti baru tahu, kan."

"Sampai akhirnya kita ketemu." katanya lagi

Hujan turun semakin deras saat kata demi kata itu terucap, suaranya masih sengau dan terdengar gemetar. Udara dingin dari pendingin ruangan semakin menusuk kulitku, ditambah tusukan aneh yang kini menusuk kedalam lubuk hatiku. Rasanya semakin aneh.

"Dia tunangan aku, dulu." katamu lagi. Tusukan itu terasa semakin dalam. Rasanya semakin aneh. Sakit? 

Entahlah.

Aku masih memasang ekspresi tertegun dengan wajah dibuat-buat supaya terlihat bingung, padahal jauh di dalam sini kacau balau sekali. Ah aku mengerti mengapa orang-orang menyukai kebohongan, ia lebih manis daripada kenyataan. 

"Lalu, apa yang membuatmu menangis?" dengan polosnya aku bertanya, "Karena ia mengetahui aku dekat denganmu, dan dia gak suka itu."

"Loh, hubunganya denganku apa?" tanyaku masih dengan ekspresi yang sama. 

"Kamu sama sekali nggak ngerti." air mukanya sedikit kesal, aku hanya menggelengkan kepala, merasa bahwa jawaban terbaik hanyalah itu.

"Aku menyukaimu, rasanya selalu nyaman berada didektmu meskipun kamu sering melakukan hal konyol." Suaranya kembali bergetar.

"Dan ia melarangku dekat-dekat denganmu." pungkasnya

"Dan kamu menurut.." Kataku, sebenarnya aku tidak tahu ingin menjawab apa, pernyataanya membuat lidahku kelu seketika, dan bertanya-tanya 'dia bilang begitu secara sadar, kan?'. 

"Nggak, sama sekali!" ia menggeleng, rambut lurus kecoklatan dengan potongan pendek itu bergelombang mengikuti alur gelengan pelan kepalamu.

"Kamu lupa hampir tiap hari kita ketemu, bahkan kita jalan ke depan sekolah dia!" 

Deg, jantungku berdegup.

"Eh, tapi kenapa pacarmu, eh tunanganmu tidak datang saat itu?"

"Karena seragam yang kamu pakai dulu, ia segan mendatangimu apalagi sampai ribut denganmu." Aku teringat seragam biru langitku, seragam kebanggan SMK favorit di kota ini, pantas ia tidak berani mendekat. Keributan besar sudah pasti akan terjadi jika ia berani menghajarku.

"Eh, berarti dia lihat kita dong..." Suaraku tercekat, kamu mengganguk.

"Bukan hanya sekali, hampir setiap kita sedang jalan." Mata sembabmu perlahan kembali cerah, sepertinya kamu sudah berhasil menguasai dirimu lagi. 

"Tapi, kenapa?" Tanyaku tidak kalah heran

"Supaya ia memutuskan aku!" katamu tegas.

"Eh." Aku terkejut mendengar ucapanmu. 

"Itu artinya kamu memanfaatkan.." belum usai lisanku berucap, kamu menjawab dengan sigap .

"Aku sudah menduga kamu akan berpikir begitu. Namun, kenyataannya apa yang kamu pikirkan tidaklah benar."

"Eh." aku semakin bingung. 

"Aku benar-benar ingin bersamamu kali itu." Aku mengernyitkan dahiku, aneh sekali jawaban gadis di depanku ini. 

"Tapi kenapa? bukannya ia tunanganmu?"

"Aku sudah tidak mencintainya, ia terlalu berkuasa atas diriku dan pikiranku. Hubungan apa yang kamu harapkan dari otoriter seperti itu?" Katamu.

"Karena itu aku ingin selesai dengannya." yang aku tahu itu jujur sekali.

 "Tapi aku menemukan sesuatu yang lain darimu, yang nggak aku dapat dari dia, aku nyaman." Katanya lagi.

"Sesimpel itu? hei aku menyebalkan loh." kataku sedikit protes, namun ia malah tersenyum dan menganggapku sedang bergurau. 

"Iya, simpel kan, kamu aja nggak sadar, kamu emang nyebelin tapi itu yang aku suka." Mata cokelat jelinya kembali cerah berbinar. 

"Jadi karena itu kamu mengajak ketemuan hari ini." Kataku, kali ini dengan sedikit senyuman, 

"Kamu masih saja pelit senyum." ia memeperhatikan lekung bibirku yang hanya naik sedikit saat tersenyum. 

"Sama sekali tidak berubah." Katamu lagi.

"Haruskah?" tanyaku, dan ia tertawa.

"Jangan deh, nanti makin aneh." Kini seluruh pengunjung menengok ke arah kita karena terkejut dengan suara tawamu, kita tertawa terlalu lepas sampai lupa jika larangan berisik tertempel besar sekali di tembok dekat kita duduk. 

"Suut!" kataku.

"Mereka akan menganggap kita aneh." ia menutup mulut untuk menahan tawa dengan tangan kanannya. 

"Kamu kan manusia anehnya, bukan kita." kali ini tawanya benar-benar diluar kendali, sampai-sampai penjaga perpustakaan berdiri dari tempat duduknya dan mengisyaratkan kita untuk tenang.

"Aku tidak ingin hari ini berakhir." Katamu, ia mengalihkan pandangan ke luar jendela, hujan mulai mereda, matahari senja muncul perlahan dari balik arakan awan hitam tebal yang perlahan menjauh. 

"Kenapa harus berakhir?" ku bilang. 

"Malam masih lama, akan ku antar kamu pulang." ia memeluk Hoodie maroonku dengan erat, 

"Jika hari ini berakhir, pertemuan kita juga berakhir."

"Kita masih bisa ketemu besok, dan besok lagi, dan besok lagi atau kita bisa ketemu selamanya." Kataku, ia tersenyum lagi, senyuman yang sangat indah di momen yang aneh ini. 

"Sayangnya, kita ngga bakal bisa lagi."

Ia membuka tas kecilnya, tangannya tertahan di dalam sana seperti menggengam sesuatu. wajahnya terlihat berpikir apakah harus memberikanya atau tidak. 

"Aku tidak pernah ingin seperti ini, tapi aku mau kamulah orang pertama yang ku beri tahu."

Perasaan tidak enak itu kembali datang, ia mengeluarkan secarik kertas yang terbalut plastik tipis berwarna putih dengan corak merah jambu yang indah, menyerahkannya kepadaku. Aku menerimanya dengan nanar. Tercetak jelas di atasnya adalah surat undangan dengan namamu dan nama seseorang yang tidak kukenal.

Aku masih melihat dengan seksama surat undangan itu. Rasanya sungguh seperti mimpi, mimpi yang tidak pernah ingin ku impikan. Tanpa ku sadari ia telah beranjak pergi dari hadapku dan ketika aku memutar tubuhku ke belakang, yang dapat ku lihat untuk kali terakhir adalah punggungmu perlahan menghilang, menjauh pergi dariku tanpa sepatah katapun.

Ku rasa mengucap perpisahan itu terlalu tabu untuk kita, kini kau pergi untuk yang kedua kalinya. Tanpa sepatah pun kata, dan untuk yang terakhir, benar-benar akhir.

Ah, sayang sekali.

Komentar

Posting Komentar